The Queen's Destiny

The Queen's Destiny
3. Ruang Hampa



Lanhua membuka matanya yang merasa silau. Di lihatnya, ia berada di sebuah tempat, entah di mana ia tak tahu. Ia mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya.


Hanya pepohonan tinggi yang membuat sekitarnya menjadi rindang, yang Lanhua temukan. Lanhua kemudian bangkit dari posisi tidurnya. Ia menepuk-nepuk pelan bajunya yang mungkin kotor.


"Selamat datang, nona"sebuah suara nyaring khas suara anak kecil mengalun di indra pendengaran Lanhua. Ia memutar tubuhnya guna melihat siapa di belakangnya.


Di lihatnya, seorang gadis kecil tengah tersenyum ke arahnya. Lanhua menaikkan salah satu alisnya. Gadis kecil itu tampak melebarkan senyumannya.


"Nona, ini di sebut Ruang Hampa. Nona bisa berlatih dan berkultibasi di sini"jelas si gadis kecil itu dengan suara indahnya. Lanhua menganggukkan kepalanya.


'Ini seperti yang di novel-novel itu. Tapi, ini ruang hampa' batin Lanhua dengan senyuman tipis. Ia mendadak murung mengingat tentang keluarganya di dunia modern.


"Nona, ada apa? "Tanya gadis itu lagi. "Tidak. Tidak apa apa. Oh ya, siapa namamu? Aku malah belum mengetahui namamu"ucap Lanhua dengan tawa kecil di akhirnya.


Gadis itu menundukkan kepalanya. "Nona. Bisa memberiku nama"balas gadis itu membuat Lanhua berfikir sejenak. "Namamu, adalah Yuna. Aku akan memanggilmu Yu. Kau, panggil aku kakak"ucap Lanhua dengan senyum indah.


Yuna hanya mengangguk sambil tersenyum menjawab perintah Lanhua. "Jadi, apa yang harus aku lakukan terlebih dahulu? "Tanya Lanhua penasaran. "Kembali dulu ke pavilium -mu, kak. Pelayanmu akan membangunkanmu. Kau kesini nanti saja. Untuk keluar, kakak hanya perlu membayangkan tempat yang ingin kakak tuju. Untuk masuk, kakak hanya perlu membayangkan tempat ini"jelas Yuna di angguki Lanhua. Lanhua kemudian membayangkan kamarnya, kemudian mengjilang dari Ruang Hampa.


Di dunia luar, Lanhua membuka matanya. Di lihatnya, Yin sedang membuka tirai yang menutupi sinar matahari menuju kamar yang Lanhua tempati. Lanhua kemudian mendudukkan dirinya.


Yin yang selesai membuka tirai jendela kemudian membalikkan badannya, menghadap ke arah Lanhua yang tadi masih tertidur. Di lihatnya Lanhua sudah bangun dari tidurnya, dan saat ini sedang duduk di kasurnya.


Yin berjalan mendekat ke arah Lanhua. "Putri, anda ingin makan dahulu atau membersihkan diri dulu? Nubi akan menyiapkannya"ucap Yin sopan. Lanhua kemudian memutar kepalanya, menatap Yin. "Aku ingin membersihkan diri dulu. Aku ingin aroma melati"balas Lanhua dengan senyumannya. Yin hanya mengangguk patuh kemudian pergi menyiapkan air untuk Lanhua.


Setelah selesai menyiapkan air, Yin kemudian kembali ke kamar Lanhua untuk menjemput sang junjungan. Lanhua kemudian menuju ke ruang berendam di pandu oleh Yin.


Lanhua menyelupkan kakinya ke dalam air setelah berada di ruang berendam. Air di ruang berendam sedikit berwarna jingga karena cairan aroma yang Yin campurkan, dengan banyak taburan kelopak bunga melati di atasnya.


Lanhua sedikit penasaran, kenapa bunga melati yang berwarna putih malah mengeluarkan ekstrak berwarna jingga. Entahlah, Lanhua tidak tahu.


"Yin, tinggalkan aku sendiri. Mulai saat ini, kau tidak akan membersihkan tubuhku lagi. Sebaiknya sekarang kau siapkan makanan untukku. Tanpa bantahan"ucap Lanhua tegas ketika melihat Yin hendak melawan. Yin hanya pasrah dan mengikiti perintah sang junjungan.


Lanhua mulai menanggalkan pakaiannya satu per satu, hingga meninggalkan pakaian paling dalam. Lanhua kemudian memasuki bak berendam dengan perlahan. Ia kemudian membasahi rambutnya dengan air beraroma melati itu. Lanhua kemudian berjalan mendekati tepi bak, untuk duduk bersandar. Ia amat menyukai aroma bunga melati.


Lanhua kemudian duduk bersandar di bak berendam. Ia kemudian menundukkan kepalanya ke arah air untuk menyiduk air, kemudian ia lemparkan air di tangannya ke udara, menciptakan banyak percikan air di udara.


Lanhua kembali menundukkan kepalanya. Ia menatap manik matanya yang berkilau kekuningan. Ia hanya mengacuhkan hal itu, karena ia menganggap itu adalah efek dari warna air berendamnya.


Lanhua kembali mengambil air di telapak tangannya, kemudian melemparkan air di tangannya ke udara hingga beberapa kali. Setelah selesai bersenang senang, Lanhua kemudian kembali bersandar dengan tenang di pinggir bak.


Pikirannya saat ini melayang ke arah sosok yang melayaninya, Yin. Apakah ia akan membeti tahukan rahasianya pada Yin? Tapi apakah Yin akan menerimanya? Jika Yin tidak percaya kemudian melapor pada raja kemudian kepalanya di penggal?


Aahh.. Lanhua menggelengkan kepalanya pelan, berusah mengusir pikirannya itu. Ia kemudian segera bangkit dari pinggir bak, kemudian bergegas mengganti pakaiannya.


Setelah selesai berpakaian, Lanhua kemudian bergegas pergi ke riang makan, di mana Yin sudah menyiapkan makanan untuknya. Lanhua kemudian duduk di kursi dengan santai, kemudian menciduk makanan di hadapannya ke atas piring yang akan ia gunakan.


"Kakak, kemarilah, makan bersamaku"ucap Lanhua sembari menepuk nepuk salah satu kursi di sampingnya. Yin yang mendengar apa yang Lanhua katakan tersentak kaget. Cepat cepat ia membungkukkan badannya dengan sopan ke arah Lanhua.


"Mohon ampun putri. Nubi tidak berani "ucap Yin dengan nada takut. Lanhua menaikkan salah satu alisnya.


"Ini perintah, tak boleh di bantah"ucap Lanhua tegas. Yin tak bisa berkutik akhirnya hanya mengikuti perintah sang junjungan.


Setelah acara makan selesai, Lanhua kemudian bersiap pergi ke ruang hampa. Yin sudah pergi dari kamar Lanhua untuk membersihkan peralatan makan yang tadi di pakai. Dan mungkin tidak akan kembali ke kamar Lanhua karena tadi Lanhua berkata ingin istirahat.


Lanhua kemudian tiduran di kasur, kemudian menutup matanya. Ia kemudan membatangkan ruang hampa.


&-----------------


Di ruang hampa, Lanhua langsung berjalan mencari Yuna yang entah berada di mana. Gadis kecil itu belum menunjukkan batang hidungnya ke hadapan Lanhua.


"Dari mana saja kau? Benar benar membuatku lelah"ucap Lanhua kesal. "Ee, nganu tadi Yuna dari kebun"balas Yuna dengan cengirannya. Lanhua memutar bola matanya malas.


"Baiklah, lupakan itu. Sekarang, apa yang harus aku lakukan? "Tanya Lanhua penasaran. "Pergilah ke perpustakaan di sana. Bacalah buku yang menurut kakak penting. Setelah itu, kembalilah ke sini. Yuna akan membantu kakak menyerap energi qi"balas Yuna dengan ekspresi lucu.


Lanhua tertawa pelan kemudian mencubit hidung Yuna pelan. "Baiklah, tunggu aku di sini. Aku pergi dulu,, daah"Lanhua pergi meninggalkan Yuna menuju perpustakaan.


Saat Lanhua masuk ke perpustakaan, ia audah di sambut dengan banyaknya rak rak buku yang tersusun rapi. Di atas rak-rak tersebut buku buku berjejer dengan rapi.


Lanhua melangkahkan kakinya ke salah satu rak yang ada. 'Yang benar saja, bagaimana caraku membaca ini semua? Mencari buku yang penting? Aku bahkan tak tahu judulnya' batin Lanhua mengeluh.


Lanhua kemudian meraih salah satu buku, kemudian ia buka. Kepalanya menggeleng pelan. Ia kemudian beralih ke buku lainnya. Di bukanya buku itu, kemudian ia menggeleng kepalanya lagi.


Kaki Lanhua bergerak maju lagi. Tangannya tak henti hentinya mengambil buku yang tersusun di atas rak rak itu. Iris matanya juga tak berhenti ke sana kesini membaca sedikit dari buku yang ia ambil.


"Ketemu! "Serunya keras. Ia menemukan buku tentang dunia yang kini ia tempati. Ia kemudian mengambil posisi duduk bersila di dekat dinding perpustakaan. Setelah itu, Lanhua membaca buku dengan khidmat.


•••••••••••••••••••


Lanhua keluar dari ruang perpustakaan dengan sedikit menguap. Hmm, ia sudah selesai membaca 2 buku tebal selama setengah hari. Pencapaianmu cukup bagus, Nak!


Lanhua menghentikan langkahnya melihat Yuna sedang berlari ke arahnya. Ia kemudian bersandar di pohon di sebelahnya.


"Kakak, berapa buku yang kau baca? "Tanya Yuna dengan mata berbinar. "Hm? Hanya dua. Aku belum berniat membaca banyak buku. Ajarkan aku berkultivasi dulu"balas Lanhua dengan mata sipit.


Yuna menatap sang kakak. "Baiklah, ayo ikuti Yuna"ucap Yuna kemudian kemudian berjalan ke arah sebuah danau.


Pada danau tersebut terdapat air mancur yang tinggi. Air danau tersebut berwarna hijau. Di sekitarnya tampak di tumbuhi pepohonan membuat suasana danau begitu sejuk.



Lanhua menatap danau tersebut dengan takjun. "Indah sekali"gumamnya pelan. Yuna kemudian membalikkan badannya menatap Lanhua. "Nah, kakak bisa berkultivasi di danau ini. Nanti, kakak akan berkultivasi di sebuah batu berwarna hitam. Cari sendiri kak, semoga berhasil" Yuna kemudian berlari meninggalkan Lanhua sambil melambaikan tangannya.


Lanhua mengerjapkan matanya beberapa kali. Ekspresi wajahnya kemudian menjadi cemberut. Ia kemudian melompat ke danau kemudian menyelam mencari batu yang Yuna maksud.


Lanhua melihat batu berwarna hitam di dalam danau. Dengan cepat, Lanhua menggerakkan tangan dan kakinya agar bisa cepat mendekati batu itu. Ia tak kesulitan mencari batu yang Yuna maksud, karena memang di dalam danau ini hanya ada kerikil saja.


Lanhua kemudian mendudukkan tubuhnya di atas batu tersebut dengan posisi bersila. Kedua lengannya ia luruskan, matanya kemudia terpejam.


Lanhua merasa setiap inci dari tubuhnya merasa panas. Dahi Lanhua sedikit berkerut. Lama kelamaan, rasa panas di tubuhnya berubah menjadi rasa sakit yang tak dapat di ucapkan dengan kata kata.


Matanya ingin terbuka, tapi tak bisa ia buka. Ia ingin mengerakkan kedua lengannya memegangi tubuhnya yang sakit, namun ia tak bisa.


Hanya dahinya yang sedari tadi tak bisa berhenti berkerut, menandakan bahwa ia merasa kesakitan. Seluruh tubuhnya berwarna kemerahan. Wajah nya tertutupi oleh air yang berwarna kehitaman.


Air danau bergejolak kecil, menciptakan gelombang pantai yang kecil karena Lanhua. Tubuh Lanhua terasa mati rasa. Samar samar, terlihat sebuah tanda di dahi Lanhua yang kini mengeluarkan cahaya kecil, tanpa ada yang mengetahui.


Sedangkan di luar danau, Yuna sibuk mengunyah apel di tangannya. Yuna juga menatap air danau yang bergelombang kecil. Sesekali ia mengangguk-anggukkan kepalanya.


'Hmm, rupanya kakak cepat juga dalam berkultivasi. Bagus,, bagus,, aku puas' batinnya masih sambil dengan mengunyah apel di mulutnya. Ia kemudian membalikkan badannya membelakangi danau yang Lanhua gunakan untuk berkultivasi, yang kini mengeluarkan sedikit cahaya....


-------------------


**TBC..


Typo bertebaran**..