
Lanhua melangkahkan kakinya memasuki paviliun miliknya, ralat, milik Putri Yanhua. Bibirnya komat kamit tidak jelas menggerutu sedari tadi. Luna yang sedang membersihkan meja yang ada di paviliun, memutar kepalanya, menatap Lanhua yang sedang menggerutu.
"Ada apa? "Tanya Luna heran. "Kau tahu? Mereka hanya membuang-buang waktuku saja. Bicara tidak jelas, dan malah memojokkanku. Sebenarnya mereka ingin bicara sesuatu, mempermalukan diriku, atau malah memojokkanku? Dasar tidak jelas"oceh Lanhua panjang lebar. Luna terkikik pelan.
"Duduk dulu. Ceritakan apa yang terjadi" Luna kemudian menarik lembut pergelangan tangan Lanhua, kemudian duduk di atas kasur. "Ada apa? "Tanya Luna sambil menatap Lanhua.
"Kau tahu? Tadi ada pria yang berteriak keras sekali di depan pintu, mengumumkan kedatanganku. Telingaku sakit kau tahu? Apa dia tidak bisa berteriak pelan? Kau tahu d-"
"Pfftt,, hei, yang benar saja. Apa kau benar benar tidak tahu? Itu memang tugas seorang kasim, memberitahu kedatangan orang yang memasuki aula istana. Agar bisa di dengar semua orang, maka dia berteriak. Lagi pula kau juga aneh, bagaimana bisa berteriak pelan? Yang benar saja" Luna memotong ucapan Lanhua dengan menahan tawa. "Itu sama saja. Dasar kasim si*alan"ucap Lanhua pelan.
Tempat lain...
Kasim : hachuu, siapa yang mengataiku di belakangku?
Kembali ke Lanhua...
"Baiklah, lanjutkan ceritanya"ucap Luna sambil membenarkan posisi duduknya. "Eum. Kau tahu? Tadi ada wanita yang mengaku dia ibunda putri Yanhua. Padahalkan, permaisuri sudah wafat bukan? Dia benar benar aneh. Kemudian, kau tahu? Ada seorang pria tua yang berani menilaiku. Bukan aku tak terima, tapi seharusnya dia bisa intropeksi pada dirinya sendiri. Dia bilang, kepada raja harus sopan. Apakah dia denganku sopan? Tentu saja tidak. Dasar pria tua. Apa perlu aku berikan cermin untuk dia intropeksi diri? Benar benar menyebalkan"Lanhua mengatakan semuanya dengan nada menggebu-gebu.
"Siapa mereka? "Tanya Luna penasaran. "Emm, jika tidak salah tadi.. Selir agung? "Balas Lanhua ragu ragu. "Ooo, jadi mereka? Pantas saja. Jika mereka aku tak heran. Sebelum kau masuk ke tubuh putri Yanhua, memang dua selir itu selalu menyiksa putri. Tapi karena putri tidak memiliki kekuatan, beliau hanya diam saja" Luna mengedikkan bahunya.
"Begitukah? Haha, kau tahu? Pria tua itu berkata, jika selir agung selalu merawat putri Yanhua dengan baik. Huuuh,, merawat apanya" cibir Lanhua kesal. "Ha? Merawat dengan baik? Benar, baik di permukaan, busuk pada kenyataan" ucap Luna dengan nada mengejek.
"Sudahlah. Aku mau berlatih lagi, kau mau ikut? "Ajak Lanhua pada Luna. Luna terdiam sebentar, membayangkan mata Yuna. "Tidak, aku ingin tidur di sini saja. Aku sedang lelah"bohong Luna kemudian tampak menguap.
Lanhua hanya menganggukkan kepalanya, kemudian pergi dari pendangan Luna. Luna menatap kepergian Lanhua dengan ekspresi rumit.
Ruang Hampa
Yuna berlari ke arah Lanhua yang baru saja muncul di ruang hampa. "Kakak, ayo berlatih lagi. Aku ingin kakak segera berlatih memakai pedang"ucap Yuna sambil menggoyang-goyangkan tangan Lanhua.
Lanhua menghela nafas pelan. "Baiklah. Tapi aku masih perlu berlatih jangan ganggu aku dulu ya? "Balas Lanhua sambil mencubit pipi Yuna. "Baiklah "balas Yuna dengan bibir sedikit manyun. Lanhua tersenyum sekilas kemudian pergi ke arah lapangan yang biasa ia gunakan berlatih.
Lanhua melakukan olahraga seperti hari kemarin. Ia berlari lari, kemudian push up, sit up, dll.
••••••••••••
"Apakah dia sudah datang? "Seorang gadis cantik berpakaian ungu, bertanya kepada anak buahnya. "Benar nona, dia sudah datang. Dia belum tahu identitas sebenarnya"balas si anak buah dengan posisi berlutut.
"Tapi... "Sang anak buah mengatakan dengan ragu. "Tapi apa? Jangan buat aku penasaran. Katakan yang sebenarnya "mata gadis itu tampak melirik anak buahnya.
"Tapi, sepertinya ada yang mengetahui masa depannya. Menurutku, nona akan sedikit sulit bertindak, karena-"
Braakk,,
"Bagaimana bisa seperti itu?! "Gadis tadi menggebrak meja di hadapannya. Terlihat jika ia merasa marah dengan apa yang ia dengar. Anak buahnya menundukkan kepalanya dalam dalam, tak ingin melihat kemarahan nona-nya.
"Pergi, cari tahu kembali tentangnya"ucap gadis tadi dengan nada rendah. Anak buahnya merasakan bahaya mendengar suara rendah nona-nya. "B-baik. Hamba pamit"anak buah gadis itu kemudian menghilang dari ruangan tadi, seolah tidak pernah ada di sana.
Gadis tadi menatap dinding di hadapannya dengan dingin. 'Bagaimanapun caranya, aku akan tetap melakukan apa yang aku inginkan. Bahkan jika ada orang yang mengetahui masa depannya, aku tak peduli ' batin gadis itu dengan tatapan dingin.
•••••••••••••
Sebelumnya, ia sudah memberitahu Yuna dan Luna jika ia akan melakukan kultivasi, mungkin dengan waktu yang cukup lama. Lanhua tak tahu berapa lama ia akan menaikkan tahap kultivasinya, tapi ia akan berusaha semaksimal mungkin.
Selesai mengucapkan kata-kata perpisahan, Lanhua kemudian langsung memasuki danau kemudian berenang menuju batu hitam di dasar danau. Setelah menemukan batu hitam di dasar danau, Lanhua kemudian duduk di atas batu itu dengan posisi bersila. Kedua tangannya ia luruskan, dan kedua matanya terpejam.
•••••••••••••••
Lianjun dan Fanchen kembali menyelesaikan pekerjaan mereka membangun rumah dengan peralatan seadanya. Meskipun rumah yang mereka bangun tidak terlalu bagus, tapi cukup untuk tempat mereka tinggal.
Selesai membangun gubuk untuk mereka tinggali, keduanya kemudian duduk bersandar di bawah pohon besar. Keduanya menyeka peluh mereka yang menetes dari dahi mereka masing masing.
"Akhirnya, selesai juga"gumam Fanchen pelan. Lianjun hanya melirik sekilas ke arah Fanchen. "Hm, Fanchen" panggil Lianjun pelan.
"Ya? "
"Kau tahu di mana adik? "Tanya Lianjun sambil menatap ke atas langit. Fanchen terdiam, tak menjawab pertanyaan Lianjun.
Lianjun menepuk pelan pundak Fanchen. "Dia ada di sini"ucap Lianjun membuat Fanchen membelalakkan matanya. Fanchen langsung memutar kepalanya menatap sang kakak.
"Jangan bercanda"ucap Fanchen dengan dahi berkerut. Lianjun tersenyum kepada Fanchen. "Aku tidak bercanda saat ini. Aku jujur. Lanhua kita ada di sini. Dia sedang melakukan sebuah tugas"ucap Lianjun membuat Fanchen kembali mengerutkan dahinya.
"Apa malsudmu kak? "Tanya Fanchen tak paham. Lianjun kembali menatap langit. "Mungkin tidak akan lama lagi, kita akan bertemu dengannya "ucap Lianjun dengan ekspresi buruk. Lagi-lagi apa yang Lianjun membuat Fanchen kembali mengerutkan dahinya.
"Kak, jangan bicara yang berbelit-belit. Jangan membuatku pusing"ucap Fanchen dengan ekspresi rak suka. Lianjun bangkit dari duduknya, kemudian menepuk pelan pakaiannya. "Ayo tingkatkan kekuatan kita. Setelah itu, kita pasti bisa menemui Lanhua "ucap Lianjun kemudian pergi meninggalkan Fanchen.
Mata Fanchen mengikuti arah kepergian kakaknya. 'Apa jangan jangan, kami bertiga berasal dari dunia ini? Itu.. Tidak. Tidak mungkin. Kami pasti berasal dari dunia modern, dan terdampat di sini' batin Fanchen dengan ekspresi buruk. Ia kemudian bangkit dari duduknya kemudian berjalan ke arah Lianjun.
••••••••••••••••••••
"Sepertinya mereka sudah datang"seorang wanita duduk di sebuah ranjang kecil dengan posisi bersandar pada pria di sampingnya. Ia menerawang jauh, dengan tatapan mata penuh kerinduan.
Sang pria yang menjadi tempat bersandar pria tadi tersenyum kecil. "Benar. Aku harap, dia tidak kesulitan melakukan tugasnya. Meskipun dua pria lainnya akan melindungi dirinya, itu tak menjamin kesuksesannya dalam melaksanakan tigas"balas pria tadi, ikut menerawang jauh. Tatapan matanya menyiratkan kerinduan dan kekhawatiran.
Wanita tadi mengelus pipi suaminya sayang. "Doakan saja, semoga ia bisa melakukan tugasnya "ucap si wanita tadi dengan menatap mata suaminya
•••••••••••••••••••••
Yuuuy, akhirnya update.
Muehehe, disini ada 4 tempat yang berbeda, yang aku bicarakan.
Ikuti kelanjutannya, agar tahu apa hubungan antara ke-enam orang dan empat tadi.
TBC
typo bertebaran
Saran dan komentar di butuhkan 🙏🙏