
Happy reading yaa 😆
.
.
.
Sepulang dari rumah sakit Nabil menyempatkan dirinya mengunjungi Toko Rainbow Cakes. Dia merasa ingin menikmati makanan yang manis-manis di lidahnya. Sejak melakukan order di toko tersebut, setiap kali memiliki waktu luang Nabil akan mengunjungi toko tersebut. Bisa dikatakan dia sudah mulai cukup akrab dengan bibi pemilik toko itu, Bibi Farida. Hanya saja setiap kali dia datang ke toko itu, Aara selalu tidak ada di tempatnya. Entah itu Aara sedang kuliah atau sudah pulang duluan. Sayang sekali...
"Guten Abend (selamat sore), Aara." Sapa Nabil ketika dia menemukan gadis itu sedang berada di balik etalase toko sambil mengatur letak beberapa pastry. Kejutan. Hari ini dia menemukan Aara di toko.
Gadis itu mendongak dan memasang sebuah senyuman di bibirnya. "Herzlich wilkommen, Herr. Wie geht es Ihnen? (selamat datang, Tuan. Bagaimana kabarnya?)" Tanyanya dengan nada basa-basi. Hijab berwarna rose yang membungkus kepalanya membuat kulit wajahnya yang tidak terpoles make up jadi tampak lebih pucat dan cantik. Dada Nabil tiba-tiba berdesir aneh.
Nabil yakin dia melihat gadis itu sempat memanyunkan bibirnya walau sedetik saat tahu Nabil lah yang muncul di hadapannya. Aara pasti masih menyimpan rasa kesal karena dia mengerjai gadis itu beberapa waktu yang lalu. Memikirkan itu membuat Nabil mengulum sebuah senyum di bibirnya. "Aku baik. Kau juga tampaknya baik-baik saja." Ujarnya dengan ramah.
Ada sebersit perasaan gembira yang tidak bisa diungkapkan saat Nabil melihat kedua pipi gadis itu merona karena perkataannya.
"Namaku Nabil. Aku minta maaf padamu karena sudah membuatmu ketakutan atas perkataanku tempo hari. Kau harus tahu aku tidak bersungguh-sungguh dengan perkataanku itu. Pastry buatanmu benar-benar lezat dan aku datang untuk membelinya lagi." Kata Nabil dengan nada penuh penghargaan.
"Eh, terima kasih banyak. Saya senang Anda menyukainya. Jadi Anda ingin memesan apa?" Tanya Aara dengan kikuk.
Nabil tersenyum lagi sambil menyebutkan pesanannya yang lain.
"Oh, Tuan. Selamat datang. Senang melihatmu kembali di sini." Bibi Farida tiba-tiba muncul dari arah dapur. Dia tersenyum lebar saat menyadari kehadiran Nabil di sana.
Nabil terkekeh "Jam kerjaku baru saja selesai. Jadi aku memutuskan untuk mampir ke sini sebelum pulang ke rumah." Sudut matanya mencuri pandang ke arah Aara yang sudah selesai menyiapkan pesanannya. Gadis itu terlihat menatap bingung ke arahnya dan bibinya, merasa aneh dengan interaksi mereka yang tampak akrab sekali. Aara membungkukkan badannya, mengisyaratkan dengan sopan bahwa dia akan meninggalkan ruangan itu menuju dapur.
"Silahkan duduk dulu, Nak. Kebetulan sekali aku baru aja menyeduh biji kopi yang baru aku tumbuk. Tunggu di sini sebentar ya." Ujar Bibi Farida dengan nada yang tidak bisa dibantah. Nabil mengangguk patuh. Dia berjalan ke salah satu meja dan duduk di sana. Tidak lama kemudian Bibi Farida mungkul dengan sebuah nampan berisi dua cangkir kopi di atasnya. Dia meletakkan secangkir kopi hadapan Nabil dan meletakkan cangkir lainnya di depannya.
"Minumlah." Bibi Farida mempersilahkan Nabil menikmati kopi tersebut.
"Terima kasih, Bibi." Balasnya. Tangannya meraih cangkir tersebut. Menghirup aromanya yang nikmat sambil kemudian menyesapnya dengan pelan. Rasa kopi ini berhasil membuat kelelahan di tubuhnya berkurang.
"Pekerjaanmu di rumah sakit lancar? Kau tampak letih sekali." Tanya Bibi Farida dengan perhatian.
Nabil tersenyum "Sejauh ini lancar, Bi. Aku hanya kurang tidur." Bibi Farida memang mengetahui bahwa dirinya bekerja sebagai salah satu dokter di rumah sakit milik Keluarga Pasha. Tapi hanya sebatas itu. Nabil tidak berniat memberi tahu identitasnya yang sebenarnya. Tidak ada gunanya. Lagipula pekerjaannya memang hanyalah sebagai dokter, bukan sebagai pemilik perusahaan.
"Kau harus menjaga kesehatanmu selalu, Nak. Terlebih di musim dingin seperti ini." Ujar Bibi Farida lagi. Terlihat sekali dia memperlakukan Nabil seperti anaknya sendiri. Setahu Nabil juga Bibi Farida tidak memiliki seorang anak dari suaminya yang telah meninggal.
"Terima kasih atas perhatiannya, Bi." Balas Nabil dengan tulus.
Setelah berbincang agak lama, Nabil memutuskan untuk berpamitan dan pulang ke apartemennya. Tidak lupa dia membawa paper bag berisi pastry pesanannya. Dia melajukan mobilnya dan meraih ponselnya hendak menelepon Ikram.
"Kenapa kau tidak memberi tahuku bahwa kau mengunjungi Munich? Memangnya seberapa sibuk dirimu itu hingga tidak menyempatkan diri hanya untuk sekedar menyapaku? Sombong sekali kau." Nabil berkata dengan nada provokatif pada adiknya di telepon. Begitu tahu adiknya, Ikram telah mengunjungi Munich dia segera menghubungi anak nakal itu. Tadi Bibi Farida bercerita bahwa Ikram menjadi pembicara di acara workshop di kampus Aara.
"Dasar anak nakal. Padahal aku mau mengajakmu ke sebuah toko kue yang lezat di sini. Tapi ya sudahlah. Sepertinya kue-kue lezat itu memang tidak ditakdirkan untuk bertemu denganmu." Ujar Nabil.
"Hei, apa maksudmu kak? Aku tidak sempat mengunjungimu karena aku harus segera terbang kembali ke Berlin. Ada sebuat rapat yang harus aku hadiri. Aku akan terbang ke Munich minggu depan dan menagih janjimu tentang kue-kue yang lezat itu. Kau sudah mencoba kue-kue itu?" Tanya Ikram dengan nada jengkel.
Nabil menyeringai. Tidak percaya adiknya yang kalem itu tertarik dengan kue-kue lezat tersebut. "Sudah, tentu saja. Kue-kue itu sangat lezat dan manis. Sama seperti yang membuatnya." Katanya tanpa sadar.
"Apa?" Tanya Ikram, berusaha memastikan pendengarannya.
"Tidak ada. Sudah ya. Aku sedang menyetir. Sampai nanti." Ujar Nabil sambil memutuskan sambungan telepon dan kembali fokus menyetir.
Sudah gila ya? Apa yang dia katakan tadi?
***
...
...
"Selamat pagi, Nyonya Beatrice." Sapa Nabil saat memasuki ruang rawat wanita itu bersama seorang perawat. Tapi yang disapa terlihat tidak merespon. Beatrice tampak sedang duduk meringkuk dengan kepala yang bersandar di lututnya di sudut kamarnya. Dia memakai pakaian rawat pasien. Rambut pirangnya yang panjang acak-acakan, tidak terurus. Nabil menghela napas panjang. Pemandangan yang tidak asing baginya setiap kali memasuki kamar Beatrice. Nabil melangkah mendekati Beatrice dan berlutut di depan perempuan itu. Tangannya menyentuh pelan siku Beatrice, membuat perempuan itu mengangkat kepalanya dan terkesiap. Kedua matanya yang hitam dan cekung melotot ketakutan dan tubuhnya makin merapat ke dinding. Wajahnya sangat pucat dan kedua pipinya terlihat sangat tirus. Hal yang wajar ditemukan pada seseorang yang menderita gangguan mental.
"Siapa kau? Apakah kau akan membunuhku? Tolong jangan bunuh aku." Ujar Beatrice dengan ketakutan. Suaranya terdengar seolah tercekik. Yang dia alami sekarang adalah delusi. Perlu dicatat bahwa antara halusinasi dan delusi adalah dua hal yang berbeda. Halusinasi adalah kesalahan persepsi pada indra perasa. Seperti mencium atau mendengar sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Sedangkan delusi lebih seperti bersikeras untuk mempercayai sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan.
"Tidak. Aku tidak akan melukaimu. Aku Dokter Nabil." Ujar Nabil sambil mengangkat kedua tangannya ke depan dada, menunjukkan bahwa dia tidak berniat menyakiti perempuan itu.
"Dasar pembohong. Jangan dekati aku. Siapa yang mengirimmu padaku? Sebelum kau berhasil membunuhku, aku yang akan membunuhmu lebih dulu." Beatrice berteriak histeris. Kali ini dia meloncat ke arah Nabil, mencoba untuk mencakar laki-laki itu. Kedua matanya masih melotot dan urat-urat di lehernya terlihat dengan jelas karena jeritan histerisnya. Tapi Nabil berhasil menahan gerakannya dan memegangi kedua lengan Beatrice erat-erat. Perawat yang tadi datang bersamanya juga berusaha menahan tubuh Beatrice. "Nyonya. Sadarlah. Ini aku, Dokter Nabil dan aku akan merawatmu." Nabil berkata dengan nada agak tinggi, berusaha mengembalikan kesadaran Beatrice. Perempuan itu masih memberontak, menolak untuk disentuh. Butuh waktu agak lama untuk mengembalikan kesadaran Beatrice. Cengkraman di lengannya dan nada tinggi dari Nabil perlahan menghapuskan kabut delusi dari kedua matanya. Tubuhnya akhirnya jatuh terduduk lemas, seolah tenaga kuatnya untuk memberontak tadi telah hilang. Nabil meminta perawat untuk memapah tubuh Beatrice ke arah ranjangnya. Kali ini perempuan itu menurut dan tidak memberontak bahkan saat perawat menyelimutinya.
"Dokter." Panggil Beatrice dengan nada lemah. Kedua matanya yang cekung terlihat sayu. Tubuh ringkihnya yang dibalut selimut tampak rapuh di atas ranjang rumah sakit. Nabil tersenyum mengangguk sambil menunggu kalimat selanjutnya dari perempuan itu.
"Tolong ambilkan itu." Pinta Beatrice pada Nabil dengan tatapan memohon. Nabil segera paham dengan apa yang dimaksud oleh Beatrice. Dia bergerak ke arah meja kecil di samping ranjang dan membuka salah satu lacinya. Tangannya mengeluarkan sebuah kertas lusuh yang kusut karena remasan tangan. Nabil menyerahkan kertas itu ke arah Beatrice yang diterima perempuan itu dengan kedua tangannya. Beatrice memejamkan kedua matanya dan mendekap kertas itu di dadanya seolah itu adalah harta yang paling berharga dalam hidupnya. Benda itulah penyelamatnya, obat penenangnya ketika kadang kala ketidak warasan merengut akal pikirannya. Nabil tahu itu kertas apa. Itu adalah gambar yang dilukis oleh putri Beatrice yang masih berusia enam tahun. Putrinya itu menggambar keluarganya. Ada ayah dan ada ibu yang sedang menggandeng kedua tangan seorang anak kecil. Beatrice merindukan keluarganya. Dia merindukan putri kecilnya yang manis.
Perempuan itu membuka kedua matanya dan kemudian memandangi kertas itu dengan tatapan sayang. Dia mengelus-ngelus kertas itu dengan pelan seolah sedang menyentuh anaknya sendiri. Bibirnya tersenyum lembut dan seketika aura keibuannya menguar memenuhi ruangan itu. Kali ini dia tampak seperti seorang ibu yang normal. Berbeda sekali dengan sosok perempuan yang tadi menjerit-jerit dengan penampilan yang acak-acakan. Nabil tersenyum sendu. Begitulah dasyatnya cinta seorang ibu. Meskipun gangguan mentalnya telah mengambil alih tubuh dan pikiran Beatrice, tetapi kasih sayangnya sebagai seorang ibu kepada anaknya tidak pernah memudar dan hilang dari hatinya.
Nabil menarik kursinya ke arah ranjang dan duduk di sana sambil menatap Beatrice. Dia akan memulai sesi terapinya. Nabil bertekad untuk menyembuhkan perempuan itu.
Demi keluarganya.
Demi putri kecilnya.
Bersambung
Jangan lupa vote dan komennya yaa, biar aku makin semangat buat update ^^
Terima kasih sudah membaca :D