The Man Who Loves Pastry

The Man Who Loves Pastry
Sechzehn (16): Samirah



Pagi itu suasana rumah besar itu sudah riuh. Semua penghuni rumah sudah bersiap.


Aara dan Lucy sedang bersiap-siap berpakaian untuk menyambut perayaan. Aara sendiri menggunakan sebuah long dress berwarna cokelat susu dengan hiasan bunga-bunga berwarna hitam di kedua lengannya yang dipadukan dengan kerudung berwarna hitam juga.



“Biasanya, kami, para perempuan menggunakan pakaian kabyle pada saat perayaan. Kemudian antara laki-laki dan perempuan berada di tempat yang berbeda dan terpisah. Tetapi tahun ini perayaan Yanayir diganti menjadi acara makan bersama. Karena kami kedatangan tamu istimewa, yaitu kalian.” Itu yang dikatakan Ayza pagi ini ketika dia mengunjungi kamar Aara dan Lucy secara khusus untuk mengantarkan manisan.


            Bibi Farida, Ayza, Aara, Lucy, dan Jihan sudah terlebih dahulu duduk di meja makan besar yang sudah dihidangkan berbagai macam masakan. Mereka menunggu Tuan Fahad Pasha yang baru akan kembali dari perusahaan bersama dengan Nabil dan Ikram. Sejak kemarin mereka bertiga tidak berada di rumah karena ada masalah serius yang terjadi di perusahaan.


            Beberapa menit kemudian terdengar bunyi suara mobil di depan. Tuan Fahad muncul di ruang makan diikuti oleh kedua putranya. Aura wibawa dari Tuan Fahad segera memenuhi ruang makan. Mereka mengambil posisi masing-masing di meja makan.


            Kemarin Ayza memang sudah memberitahu bahwa suaminya itu mendadak mendapat telepon dari perusahaan dan segera berangkat ke kantor sehingga dia tidak sempat untuk menyambut tamu-tamunya.


            “Maaf aku terlambat. Selamat datang Nyonya Farida dan anak-anakku, Aara dan Lucy. Maaf aku tidak bisa menyambut kalian kemarin. Ada urusan mendadak di perusahaan yang harus aku selesaikan.” Ujar Tuan Fahad sambil tersenyum hangat. Tuan Fahad dan istrinya benar-benar pasangan yang memiliki hati yang baik dan rendah hati. Meskipun mereka adalah keluarga terkaya di dunia akan tetapi sama sekali tidak tampak sifat sombong dalam diri mereka. Sifat-sifat inilah yang diwariskan kepada ketiga anaknya.


            “Tidak apa-apa, Tuan. Kami sangat senang bisa berada di tengah-tengah keluarga ini. Terima kasih sudah mengundang kami.” Balas Bibi Farida.


             Tuan Fahad menganggukkan kepalanya dan mempersilahkan semuanya menyantap hidangan yang disiapkan oleh para maid.


            Ayza mengambil sepotong roti dan mengarahkannya pada suaminya. “Lihat, ini adalah buatanku. Dibantu oleh Farida. Rasanya sangat lezat.” Tuan Fahad mengambil roti itu dan menggigitnya. Bibirnya tersenyum penuh penghargaan kepada istrinya. Kedekatan pasangan tersebut membuat siapapun yang melihatnya akan iri. Entah kenapa Aara menjadi salah tingkah dan tanpa sengaja dia menatap ke arah Nabil yang duduk di seberang meja sedang menyantap sarapannya dengan perlahan. Seolah terhubung, laki-laki itu kemudian menatap juga ke arahnya sambil tersenyum cepat dan segera menundukkan kepalanya ke arah makanannya.


            Para orang tua sibuk bercengkrama bersama begitu juga dengan Nabil, Ikram, Jihan, Aara, dan Lucy. Mereka berbicara banyak hal sambil sesekali tertawa bersama. Semua orang bergembira. Di tengah-tengah acara sarapan pagi, terdengar bunyi mobil di depan rumah.


            “Sayang, apa kau mengundang rekan kerjamu?” Tanya Ayza pada suaminya. Tuan Fahad mengerutkan dahinya. Dia menggelengkan kepalanya, “Aku tidak mengundang siapapun.” Tepat setelah Tuan Fahad berkata begitu tiba-tiba saja muncul seorang gadis cantik berambut hitam menggunakan gaun panjang di ruang makan tersebut.


            “Selamat tahun baru semuanya. Apa aku terlambat?” ujar gadis itu. Seketika suasana di meja makan menjadi hening. Semua mata tertuju pada gadis itu.


            “Selamat datang, Samirah. Silahkan duduk, Nak.” Ayza yang pertama kali bersuara. Perempuan paruh baya tersebut segera memerintahkan para maid-nya untuk menghidangkan makanan untuk Samirah. Gadis cantik bernama Samirah itu mengambil tempat duduk di samping Jihan yang terlihat separuh hati menerima kedatangannya. Semua orang menyapa Samirah tidak terkecuali Aara yang bertanya-tanya tentang siapa Samirah. Gadis itu menyapa para penghuni rumah dengan akrab seolah dia sudah sering melakukannya.


            “Ngomong-ngomong, paman, bibi, orang tuaku menitipkan salam. Mereka meminta maaf karena tidak bisa datang kemari.” Ujar Samirah.


            “Tidak apa-apa, Nak. Lagipula kau juga sudah mewakili mereka dan datang kemari.” Balas Tuan Fahad.


            “Ah paman, aku datang dengan keinginanku sendiri. Lagipula sudah lama juga aku tidak berkunjung kemari.” Samirah berkata dengan nada manja. Pandangan matanya mengarah pada Nabil yang terlihat tidak memperdulikan kehadirannya.


            Aara tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menyipitkan kedua matanya. Entah kenapa dia merasa terganggu dengan gadis cantik ini.


            “Oh, aku baru sadar kita punya tamu baru di sini.” Tiba-tiba saja Samirah berseru sambil menatap ke arah Bibi Farida, Aara, dan Lucy.


            “Cih, tamu baru apanya. Kau lah tamu yang tidak diundang di sini.” Dari tempatnya Aara bisa mendengar Jihan yang mendesis pelan tanpa didengar oleh yang lainnya.


            “Yah, mereka tamu istimewa dari Munich. Bibi ini adalah pembuat kue paling lezat di seantaro kota. Kau harus mencobanya.” Kali ini Ikram yang mengangkat suara.


            Bibi Farida menunduk malu mendengar pujian dari Ikram, “Kau sangat berlebihan, Nak. Perkenalkan, namaku Farida dan ini keponakanku, Aara juga sahabatnya, Lucy.”


            “Senang bertemu dengan kalian.” Balas Samirah sambil tersenyum manis. Kepalanya mengangguk sopan sebagai pengganti dari bersalaman. Kali ini Aara merasakan tatapan menyelidik dari Samirah kepadanya meskipun gadis itu masih memasang senyum manisnya. Aara berusaha memaksakan sebuah senyuman di bibirnya.


            Sarapan pagi itu berlangsung dengan suasana canggung yang aneh.


Setelah sarapan, semua penghuni rumah berkumpul di halaman belakang rumah. Para laki-laki memainkan alat musik tradisional dan menari. Sementara yang perempuan mengiringi musik dengan tepukan tangan.


“Siapa dia? Dari tadi aku perhatikan gadis itu sibuk menempel pada Nabil.” Bisik Lucy disela-sela tepukan tangan yang mereka lakukan. Dia dan Aara duduk di kursi yang berhadapan dengan para laki-laki yang sedang sibuk bermain alat musik. Dan yah, dari posisi mereka saat ini, mereka bisa melihat Samirah yang dengan berani memilih duduk di sebelah Nabil yang sedang sibuk memainkan alat musik bersama ayah, adik, juga penghuni rumah lainnya.


“Entahlah, mungkin Samirah itu teman perempuan Nabil.” Balas Aara dengan nada singkat. Entah kenapa dia merasa kesal dengan kedekatan yang dipaksakan oleh Samirah pada Nabil.


“Tidak mungkin. Dia bertingkah posesif seolah-olah dia yang berhak atas Nabil. Mungkin saja Samirah itu adalah kekasih Nabil. Mana ada istilah pertemanan antara laki-laki dan perempuan? Hei hei dia kemari.” Lucy berseru pelan tetapi heboh.


Aara melihat Samirah yang melangkah anggun mendekati tempat duduknya dan Lucy.


“Hai. Apakah kalian menikmati acaranya?” Sapa Samirah dengan ramah pada Aara dan Lucy.


“Oh yeah tentu saja. Ini sangat menyenangkan.” Balas Lucy sementara Aara hanya membalasnya dengan sebuah senyuman kecil. Dari dekat Aara bisa melihat wajah Samirah. Gadis itu sangat cantik. Rambut hitam legamnya yang bergelombang seolah dia adalah dewi kecantikan yang baru saja turun ke bumi. Siapapun pria yang melihatnya akan langsung jatuh hati pada kecantikan Samirah. Tidak terkecuali dengan Nabil. Laki-laki itu juga pasti tertarik dengan kecantikannya. Kalau dilihat-lihat mereka berdua memang pasangan yang sangat serasi. Yang satu tampan dan yang satu lagi cantik. Fakta bahwa mereka berdua mungkin sudah saling mengenal sejak lama mungkin akan membuat Aara merasa buruk sekali. Jika begitu, maka dia hanya orang asing yang masuk dalam kisah kedua orang ini.


“Aku dengar dari bibi bahwa kau dan Nabil saling mengenal.” Ujar Samirah. Pernyataan itu tentu saja ditujukan kepada Aara.


“Ah iya benar. Nabil adalah pelanggan setia toko kue milik bibiku.” Kata Aara dengan nada ramah yang dipaksakan. Dia sendiri tidak paham dengan apa yang dia rasakan. Mengapa dia harus merasa kesal tanpa alasan pada Samirah?


“Yah, Nabil memang sangat menyukai makanan yang manis-manis. Aku selalu mengkhawatirkan kesehatannya karena kadang dia suka lupa diri kalau sudah makan makanan itu.” Ujar Samirah dengan raut wajah khawatir yang bagi Aara entah kenapa terasa dibuat-buat. Lagipula dari cara berbicara Samirah barusan menyiratkan bahwa hubungan mereka berdua lebih dari sekadar berteman dan dia yang paling berhak untuk khawatir pada laki-laki itu. Menyebalkan sekali…


“Aku lupa memberi tahumu. Ayahku dan Paman Fahad adalah rekan kerja yang sudah berteman sejak lama. Jadi aku juga jadi lebih sering menghabiskan banyak waktu bersama keluarga ini. Tapi sejak Nabil pindah ke Munich kami jarang bertemu karena dia sangat sibuk sekali. Meskipun begitu keluarga kami sudah memutuskan bahwa kami akan bertunangan.”


“Oh begitu.” Balas Aara singkat. Dia sungguh tidak tahu harus berkata apa. Meskipun otak Aara percaya bahwa kalimat barusan terdengar seperti sebuah kebohongan akan tetapi hatinya berteriak untuk mempercayai perkataan Samirah tersebut.


“Kalimatnya barusan terdengar seperti orang yang sedang berhalusinasi. Dia cantik tapi gila.” Ujar Lucy ketika Samirah pamit untuk kembali mengambil posisinya di samping Nabil yang baru selesai memainkan alat musik itu. Aara merasa sedikit terhibur dengan perkataan Lucy barusan. Namun ketika matanya melihat Samirah yang tampak mengatakan sesuatu pada Nabil yang dibalas anggukan kepala oleh laki-laki itu, seketika mood-nya menjadi rusak kembali.


“Aku akan ke dalam dan mengambil air.” Sahutnya pada Lucy. Aara melangkah masuk ke dalam dan mengambil segelas air putih di atas meja makan. Dia meneguknya dengan sedikit terburu-buru.


“Aara.” Sebuah suara berat memanggil namanya. Dia menoleh dan mendapati Ikram yang sedang bersandar di daun pintu sambil tersenyum ke arahnya.


“Tuan. Ada yang bisa saya bantu?” Tanya Aara dengan tergagap. Dia merasa sedikit tidak nyaman karena hanya hanya ada dia dan Ikram yang ada di ruangan itu meskipun para maid masih sibuk berlalu lalang.


“Panggil namaku saja. Sungguh sebuah kejutan yang menyenangkan mendapatimu ada di rumah ini.” Ujar Ikram.


“Terima kasih kepada nyonya besar yang sudah mengundang kami untuk menghadiri perayaan ini.” Balas Aara sambil tersenyum kecil.


Ikram mengangkat kedua bahunya dengan santai sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. “Ngomong-ngomong aku tadi melihatmu berbicara dengan Samirah.”


“Dia menyapaku dan kami hanya berbincang singkat.” Balas Aara dengan bingung. Sedikit tidak mengerti mengapa Ikram tertarik untuk berbicara tentang dia dan Samirah.


“Well, aku hanya memperingatkanmu. Samirah mungkin sudah menganggapmu sebagai saingannya. Yah, aku tidak tahu bagaimana naluri wanita bekerja tapi aku yakin dia berpikir seperti itu. Tapi kau tidak perlu memikirkan apapun yang dikatakan oleh Samirah. Dia hanya ingin mengatakan apa yang ingin dia katakan.” Ujar Ikram dengan nada santai.


Aara hanya terdiam memikirkan kalimat Ikram barusan. Menyadari itu, Ikram meneruskan kalimatnya. “Orang tua kami dan orang tua Samirah adalah rekan kerja sejak lama. Oleh karena itu mereka sempat menyetujui untuk menikahkan kakak dan Samirah. Hanya saja, Samirah berbuat satu kesalahan. Dia berselingkuh dengan bawahan ayahnya di perusahaan tepat ketika acara pertunangan akan diadakan. Ibu dan ayah sangat kecewa dan kakakku….saat itu terjadi dia tidak berkata apa-apa. Sikapnya sangat dingin. Dia sangat ingin memutuskan hubungan dengan keluarga Samirah, tetapi dia menahannya karena ayah dan ibu yang memintanya. Gadis itu menyesal dan ingin memperbaiki kembali hubungannya dengan kakak. Tentu saja kakak menolaknya. Samirah menjadi terobsesi untuk mendapatkan kakak kembali.”


Seharusnya Aara tidak perlu terkejut dengan cerita Ikram barusan. Laki-laki seperti Nabil memang adalah idaman para wanita. Tapi obsesi Samirah terhadap Nabil terasa sangat mengerikan sekarang.


“Mengerti kan? Samirah itu hanya sedikit…” Ikram menghentikan kalimatnya. Sebagai gantinya dia menggerakkan telunjuknya ke arah pelipisnya dan memutarnya untuk mengisyaratkan bahwa gadis itu ‘kurang waras’. Ekspresi Ikram saat melakukannya sangat lucu sehingga mau tidak mau Aara menjadi tertawa pendek dibuatnya. Membuat Ikram diam-diam terpana melihatnya. Bagi Aara, Ikram telah berhasil memperbaiki suasana hatinya sehingga menjadi lebih baik. Akan tetapi dia sama sekali tidak menyadari bahwa dari kejauhan ada seseorang yang menatap mereka berdua dengan pandangan cemburu.