
“Ayo anak-anak, waktunya makan malam.” Ujar Bibi Farida sambil menghidangkan sup ayam yang tampak mengepul di atas meja makan. Lucy dan Aara yang sedang berbaring asal-asalan di atas ranjang Aara segera keluar kamar dan mengambil posisi masing-masing di meja makan. Sudah beberapa hari ini Lucy memang menginap di rumah Bibi Farida. Dia paham benar Aara sedang butuh ditemani, Bibi Farida juga memintanya untuk menemani Aara di rumah apalagi ketika beliau sedang sibuk di toko siang hari. Lagipula Aara dan Lucy juga baru saja memulai liburan semester mereka.
“Aah…sup ayam yang hangat sangat cocok di musim dingin seperti ini.” Kata Lucy setelah menyeruput kuah sup di mangkuknya. Bibi Farida hanya terkekeh. Selama kurang lebih lima belas menit mereka menikmati hidangan makan malam yang disiapkan oleh Bibi Farida. Setelah mereka selesai makan, mereka tidak segera beranjak dan tetap duduk di meja makan sambil berbincang ringan, hingga akhirnya Bibi Farida tiba-tiba teringat sesuatu.
“Ada apa, Bi?” Tanya Aara. Bibi Farida tidak segera menjawab, melainkan beliau masuk ke kamarnya dan kemudian keluar dengan membawa sebuah kotak berukuran sedang. Aara dan Lucy menatap dengan penuh tanya ke arah Bibi Farida.
“Ini untukmu.” Kata Bibi Farida sambil mengangsurkan kotak itu pada Aara.
“Hei, kita buka di kamarmu saja, supaya lebih leluasa.” Ujar Lucy saat melihat Bibi Farida yang mulai sibuk membereskan piring sisa makan malam mereka. Mereka berdua kemudian berpindah ke kamar Aara.
Aara hanya terdiam sambil menatap ke arah kotak berwarna silver di tangannya. Dia sama sekali tidak memiliki ide siapa pengirim kotak ini, karena Bibi Farida bahkan tidak mengatakan apa-apa soal kotak ini. Lagipula tidak banyak yang dia kenal dekat di kampus selain Lucy. Sudah pasti dia tidak mempunyai penggemar rahasia. Lucy yang duduk di sebelah Aara akhirnya tidak bisa lagi menahan penasarannya, “oh ayolah, Aara. Ayo cepat buka kotaknya, apa kau tidak penasaran apa isi dalam kotak itu?”
Tentu saja Aara penasaran. Tangannya kemudian bergerak membuka tutup kotak tersebut. Rahangnya menganga saat mendapati isi kotak itu yang ternyata adalah sepasang flat shoes yang selama ini dia idam-idamkan. Aara mengeluarkan satu sepatu itu dan mematut-matutnya di tangannya. Dia hampir saja menjerit karena saking senangnya tapi Lucy sudah melakukannya lebih dulu. “Oh My God! Sepatu ini sangat indah. Kau harus mencobanya.” Ujar Lucy. Dia mengambil sepatu yang satunya di dalam kotak dan melihatnya dengan penuh takjub kemudian menyodorkannya ke arah Aara agar dia segera memakainya. Aara menurut dan memakai sepatu itu. Ukurannya sangat pas.
“Bagaimana?” Tanyanya pada Lucy. Sahabatnya itu hanya nyengir sambil mengacungkan kedua jempolnya.
Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari yang buruk, Aara akhirnya bisa tersenyum. Hanya saja pikirannya sekarang dipenuhi satu pertanyaan. Siapa pengirim sepatu ini? Aara yakin tidak ada satupun yang tahu bahwa dia sangat mengidam-ngidamkan sepatu ini, bukan Lucy, bukan juga Bibi Farida. Sepatu ini harganya mahal sekali sudah pasti yang mengirimkannya seseorang yang memiliki uang banyak. Aara mengerjapkan kedua matanya saat melihat sebuah surat yang terselip di dalam kotak sepatu tersebut. Dia segera mengambil surat itu dan membacanya.
Aku harap kau menyukai sepatu ini. Aku melihat sepatu ini saat tidak sengaja melewati tokonya beberapa hari yang lalu. Aku langsung berpikir bahwa sepatu ini akan terlihat sangat cocok jika kau yang memakainya.
Ngomong-ngomong soal kejadian tempo hari, aku minta maaf kalau ada perkataanku yang membuatmu sakit hati. Aku sama sekali tidak pernah berniat untuk menyakitimu.Tapi aku tidak akan menarik ucapanku yang memintamu untuk menikah denganku. Tidak perlu terburu-buru untuk memutuskan, aku tidak keberatan untuk menunggu hingga kau siap memberikan jawaban padaku melalui Bibi Farida.
Nabil
“Apa yang akan kau lakukan?” Tanya Lucy. Rupanya sahabatnya itu juga ikut membaca surat yang ditulis oleh Nabil tersebut. Aara hanya terdiam.
Melihat itu Lucy kembali bersuara, “Dia terlihat sangat serius dengan perkataannya. Nabil tidak se brengsek itu untuk mengajakmu menikah begitu saja. Aku rasa dia juga tidak berniat untuk mengasihanimu dengan penyakitmu itu.” Oh ya perihal penyakit, Aara akhirnya memberitahukan tentang gangguan kecemasan yang dialaminya pada Lucy beberapa hari yang lalu. Sahabatnya itu marah besar mengetahui hal itu karena merasa dikhianati dan sedih. Padahal Aara sangat dekat padanya tetapi dia tidak mengetahui tentang apa yang dialami oleh Aara.
“Kau lupa? Nabil itu adalah laki-laki dewasa. Dia tidak akan bermain-main dengan perkataannya. Dia tampak tulus dan bersungguh-sungguh dengan apa yang telah diucapkannya padamu. Lagipula kau tidak melihat bagaimana matanya saat berbicara padamu. Tatapan matanya itu sangat lembut dan penuh cinta saat memandang ke arahmu. Tentu saja kau tidak menyadarinya. Tapi aku melihatnya dengan sangat jelas ketika insiden ditempo hari itu terjadi.” Sambung Lucy. Membuat kedua pipi Aara bersemu merah, “Benarkah?” Tanyanya dengan nada tidak yakin.
Lucy mengangguk cepat. “Dia adalah laki-laki yang baik. Aku akan merestui kalian berdua untuk menikah.” Katanya dengan sok bijak.
“Dan…” Lucy menggantung kalimatnya.
“Dan?”
“Hei hentikan perkataanmu.” Ujar Aara sambil berusaha melepaskan diri dari rangkulan Lucy sebelum akhirnya dia mengambil sebuah bantal dan menimpuk sahabatnya itu. Tetapi Lucy hanya tertawa-tawa saja.
Aara terlalu malu untuk memikirkan masa depannya dan Nabil sejauh itu. Tapi yang dia tahu dia tidak lagi marah pada laki-laki itu. Bagaimana bisa dia tetap marah ketika lagi-lagi pesona Nabil masuk menembus relung-relung hatinya, membuat kupu-kupu berterbangan di dalam perutnya.
***
“Bibi, terima kasih sudah mau datang ke sini.” Ujar Nabil sambil menghidangkan secangkir teh hangat ke arah Bibi Farida. Tadi siang Nabil memerintahkan Aldarich untuk menjemput Bibi Farida di tokonya dan membawanya ke kantornya. Nabil ingin mengobrol dengan Bibi Farida, tapi dia khawatir Aara akan melihatnya dan gadis itu akan semakin marah karena kehadirannya.
“Tidak masalah, Nak. Lagipula aku tidak sedang sibuk. Apakah ada yang mengganggu pikiranmu?” Tanya Bibi Farida sambil tersenyum. Nabil terlihat lebih baik dari terakhir kali mereka bertemu. Setelah kejadian di toko tersebut, Nabil memang tidak datang lagi ke tempatnya. Tetapi beberapa hari kemudian Nabil muncul secara diam-diam di tokonya ketika Aara sedang kuliah. Nabil muncul untuk memberi tahu Bibi Farida bahwa dia akan mengirimkan hadiah untuk Aara sekaligus menanyakan ukuran sepatu gadis itu. Bibi Farida hampir tidak mempercayai penglihatannya saat dia melihat Nabil yang biasanya selalu tampil rapi dan bersinar muncul dengan keadaan menggenaskan di hadapannya. Kedua matanya hitam karena kurang tidur dan jambang di sekitar wajahnya tidak dicukur, seolah dibiarkan tidak terurus. Bibi Farida berpikir bahwa Nabil pasti sangat terpuruk karena Aara benar-benar marah padanya.
Nabil terlihat sangat gugup sebelum menjawab pertanyaan Bibi Farida, “apa dia menyukai hadiahnya, Bi?”
Bibi Farida tersenyum lebar. “Ya. Lucy bilang Aara sangat menyukai hadiahnya. Sebenarnya sudah sejak lama dia menginginkan sepatu itu, tapi kau tahu harganya cukup mahal baginya. Aku sebenarnya bisa saja membelikan sepatu itu untuknya. Tapi aku sangat mengenali sifat Aara. Dia tidak akan mau menerima pemberian dariku dan merepotkan orang lain. Aara lebih memilih untuk mendapatkannya dengan usahanya sendiri.”
Nabil menyentuh leher belakangnya tanpa bisa menyembunyikan senyum lebarnya. Dadanya terasa mengembang dipenuhi perasaan lega dan gembira yang besar. Untuk pertama kalinya setelah seminggu dia merasa perasaannya lebih baik dan satu beban di pundaknya terlepas begitu saja. Saran dari Aldarich ternyata berhasil, ingatkan dia untuk memberikan bonus pada asistennya yang pintar itu nanti.
“Soal Aara, bibi yakin dia sudah tidak marah lagi padamu. Kau hanya perlu memberinya waktu untuk menerima perkataanmu. Aku mengatakan ini karena aku melihat kesungguhan dalam perkataan dan perbuatanmu. Aara pernah bertunangan dengan seseorang.” Bibi Farida menghembuskan napas setelah berkata begitu.
Nabil terperangah untuk beberapa detik. “Aara…pernah…bertunangan?” Tanyanya berusaha memastikan pendengarannya barusan. Sebuah fakta baru yang mengejutkannya.
Bibi Farida mengangguk. “Aara bertunangan dengan seorang laki-laki tiga tahun yang lalu, sebelum dia datang ke Jerman. Mereka berencana akan menikah setelah Aara selesai kuliah. Tapi sayangnya anak muda itu tidak bisa menjaga dirinya dan berselingkuh dengan gadis lain ketika dia sedang bertugas di Beirut. Mantan tunangan Aara adalah anggota angkatan udara. Begitu mengetahui hal itu, ayah Aara marah besar dan memutuskan tali pertunangan mereka. Setelah kejadian itu ayah Aara yang merupakan kakak iparku sangat berhati-hati dalam menjaga Aara. Kau pasti tahu bagaimana beratnya menjadi Aara ketika dia harus menghadapi itu semua di usianya yang masih terbilang muda. Apalagi itu adalah cinta pertamanya.”
Nabil menganggukkan kepalanya sambil berusaha menekan perasaan cemburu yang tiba-tiba saja memenuhi dadanya. Dia iri pada mantan tunangan Aara tersebut yang ternyata adalah cinta pertama dari gadis yang dia sukai. Tapi Nabil berusaha memahami apa yang dikatakan oleh Bibi Farida sambil membayangkan bagaimana perasaan Aara saat itu. Itulah sebabnya Aara marah besar padanya. Pasti sangat sulit bagi Aara untuk kembali mempercayai dan membiarkan seorang laki-laki masuk dalam hidupnya. Tapi Nabil, dia berbeda dengan mantan tunangan Aara. Nabil bersungguh-sungguh dengan perasaannya pada Aara dan dia tidak akan pernah meninggalkan gadis itu.
“Kau harus menyiapkan dirimu untuk bertemu dengan orang tua Aara, terlebih dengan ayahnya. Aara adalah satu-satunya anak mereka, anak perempuan yang harus mereka jaga dengan sangat hati-hati. Kakak iparku itu tidak akan semudah itu melepaskan Aara untukmu. Aah, satu hal lagi. Kau harus ingat, jika kau ingin menikahi Aara maka mau tak mau seluruh dunia akan mengetahuinya karena kau adalah putra sulung dari Keluarga Pasha yang terkenal dan hal itu sudah tentu akan mengubah sebagian besar dari kehidupan Aara.” Ujar Bibi Farida dengan panjang lebar.
Nabil menarik napas dalam-dalam sebelum membalas perkataan Bibi Farida, “aku mengerti, Bi. Aku pastikan Aara akan bahagia hidup bersamaku.” Katanya dengan nada mantap.
Itu benar. Nabil sudah memiliki segalanya. Dia memiliki uang dan kekayaan dengan hasil jerih payahnya sendiri dan bukan bermaksud untuk menyombongkan diri, tetapi Nabil juga memiliki rupa wajah yang tampan. Nabil sudah sampai di titik kehidupan di mana dia membutuhkan seorang perempuan untuk melengkapi hidupnya dan Aara lah perempuan yang dia inginkan. Bibi Farida mengatakan secara tersirat bahwa jalan yang akan dilalui Nabil ke depannya untuk mendapatkan Aara adalah tidak mudah. Tapi Nabil sama sekali tidak merasa ragu dan takut akan hal itu, malahan dia merasa tertantang untuk melakukannya. Karena Nabil sangat yakin bahwa Aara adalah seorang perempuan yang sangat berharga dan Aara memang pantas untuk dia diperjuangkan.