The Man Who Loves Pastry

The Man Who Loves Pastry
Acht (8): Peri Kue (Bagian 1)



Happy reading yaa 😆


.


.


.


Jam menunjukkan pukul enam sore. Di musim dingin langit masih terang berderang seolah masih pukul satu siang. Aara duduk di kursi dapur sambil memperhatikan bibinya yang sedang membuat kue. Dia terlihat memikirkan sesuatu. Hari ini hari Jumat. Biasanya di pagi hari Nabil akan mengunjungi toko untuk melakukan pemesanan besar-besaran melalui Aara. Kemudian di siang hari, asistennya yang bernama Aldarich akan menjemput pesanan. Tetapi hari ini berbeda. Nabil tidak datang. Sebagai gantinya, Aldarich yang melakukan keduanya. Ketika ditanya oleh Bibi Farida, Aldarich hanya menjawab bahwa Nabil sedang sibuk. Sebuah perasaan kecewa menyusup ke dalam hatinya. Akhir-akhir ini tanpa sadar Aara selalu menghitung hari dan menunggu-nunggu hari Jumat. Hari dimana laki-laki itu muncul di pintu toko, menyapa dan memanggil namanya sambil tersenyum dengan tatapan teduhnya. Berhadapan dengan Nabil selalu membuat kedua pipinya terasa memanas. Dadanya terasa mengembang dan jantungnya berdetak lebih cepat. Laki-laki itu selalu berhasil membuatnya merasa salah tingkah. 


Aara tidak pernah dekat dan berbicara secara langsung dengan laki-laki manapun. Ayahnya adalah satu-satunya laki-laki dalam hidupnya. Tentu saja melakukan kontak lansung dengan pembeli laki-laki di toko adalah hal yang berbeda. Karena itulah setiap kali berhadapan dengan Nabil dia merasa gugup untuk alasan yang tidak dia mengerti. Ketika sekolah dulu, banyak lawan jenis yang menaruh perasaan dan menyatakan cinta padanya. Tetapi Aara tidak pernah berpikir untuk jatuh cinta lagi dan dia belum siap untuk menikah, setidaknya setelah kejadian itu terjadi. Selama ini kehidupan Aara hanya tentang keluarga dan kuliahnya, dan dia merasa cukup dengan semua itu. Aara belum siap untuk mengizinkan seorang laki-laki asing masuk kembali ke dalam kehidupannya. Dia merasa bahwa hubungannya dengan Nabil bukan lagi hanya sebatas sebagai penjual dan pembeli. Laki-laki itu memperlakukannya dengan baik seolah mereka berteman dekat. Dan sekarang dia mulai merindukan orang itu...


"Bibi tampaknya sangat akrab dengan tuan muda yang bernama Nabil itu. Dia itu jelas bukan orang biasa yang memiliki waktu senggang." Ujar Aara sambil menyipitkan matanya, memandang dengan curiga ke arah bibinya yang sedang sibuk mengaduk adonan tersebut.


"Dia itu dokter di rumah sakit milik Keluarga Pasha. Rumah sakit itu tidak jauh dari sini, jadi dia sering datang ke sini. Kadang-kadang dia menghabiskan jam makan siangnya di sini dan kami mengobrol banyak hal. " Balas Bibi Farida tanpa menghentikan gerakannya.


"Dia pasti kaya sekali. Setiap hari Jumat membagi-bagikan makanan untuk orang-orang di rumah sakit." Ujar Aara dengan nada merenung.


Kali ini Bibi Farida menghentikan gerakannya dan menatap ke arah Aara sambil tersenyum lembut. "Kaya atau miskin itu bukan alasan untuk tidak berbagi. Yang penting adalah ketulusan hati seseorang. Bahkan semiskin dan semelarat apapun seseorang, jika dia hanya mampu memberikan sebuah senyuman pada orang lain, itu juga bisa disebut berbagi. Berbagi kebahagiaan. Tersenyum itu terdengar sangat mudah, tetapi sulit untuk dilakukan. Apalagi senyum penuh ketulusan."


Bibi Farida kemudian mengambil sebuat cetakan cookies dan mulai menuangkan adonan yang tadi diaduknya.


Aara menganggukkan kepalanya, membenarkan perkataan bibinya.


"Oh Ya Tuhan!" Tiba-tiba saja Bibi Farida terkesiap. Dia menutup mulutnya ketika sebuah ingatan masuk ke dalam kepalanya. Perempuan paruh baya itu merutuki dirinya sendiri sambil berkata "Bodohnya aku ini, kenapa aku tidak menyadarinya."


"Ada apa, Bibi? Apa yang terjadi?" Tanya Aara dengan nada khawatir. Bibi Farida cepat-cepat mengendalikan ekpresi wajahnya. Dia menggelengkan kepalanya. "Tidak ada apa-apa. Kau pergilah ke depan dan cek berapa banyak sisa croissant yang kita punya. Aku akan membuatnya lagi."


Aara menganggukkan kepalanya dengan patuh dan berjalan ke arah etalase toko di ruang depan dengan perasaan bingung. Sama sekali tidak menyadari kebenaran apa yang baru saja diingat oleh bibinya.


***


Nabil mendecakkan lidahnya saat kegiatan membaca bukunya terganggu. Bel apartemennya tidak berhenti berbunyi disertai dengan ketukan pintu yang terus menerus. Ini hari Sabtu dan waktunya bagi Nabil untuk bersantai. Nabil menyeret tubuhnya dengan malas ke arah pintu.


"Siapa?" Tanyanya lewat interkom.


"Kakak. Cepat buka pintunya. Aku kedinginan." Terdengar suara bernada kesal dari balik luar pintunya. Nabil mengernyitkan dahinya mendengarkan suara yang sangat dia kenali itu. Dia segera membuka pintunya.


"Jihan?" Ujarnya dengan nada terkejut. Adik bungsu kesayangannya itu tiba-tiba saja sudah muncul di depan pintu apartemennya sambil menarik sebuah koper berukuran sedang di tangannya. Nabil segera mengambil alih koper tersebut dari tangan adiknya dan mendorong pelan tubuh adiknya ke dalam ruangan untuk mendapatkan kehangatan dari penghangat ruangan yang sedang menyala. Dia kemudian menutup pintunya dan berjalan menyusul Jihan yang sudah duduk di sofa ruang tamu.


"Adikku yang manis, sekarang katakan pada kakak apa yang kau lakukan dan bagaimana kau bisa sampai kemari?" Nabil merasa heran karena selama ini adiknya tidak pernah sendirian berpergian untuk mengunjunginya di Munich. Biasanya Jihan akan datang dengan Ikram atau dengan ibu mereka. Jihan adalah anak bungsu perempuan satu-satunya. Jadi sudah pasti mereka semua bersikap protektif pada Jihan demi melindunginya. Tetapi kali ini entah bagaimana dia bisa mendapatkan izin dari ayah dan ibu untuk berpergian sendirian. Lagipula Ikram akan datang mengunjunginya jadi kenapa mereka tidak berpergian bersama saja?


Jihan menyandarkan kepalanya ke bahu kakaknya. "Oh ayolah, Kak. Aku merasa sangat bosan di rumah. Semua orang sangat sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Bahkan Kak Ikram juga sangat membosankan. Aku mengajaknya menonton film baru minggu lalu, tetapi dia malah sangat sibuk dengan kameranya yang menyebalkan itu. Butuh waktu tiga hari tiga malam bagiku untuk membujuk ayah dan ibu agar mengizinkanku datang kemari." Ujarnya dengan nada menggerutu.


Nabil terkekeh sambil mengacak-ngacak kepala adiknya yang tertutup hijab berwarna hitam. Adiknya pasti bosan sekali. Tiba-tiba saja Nabil teringat sesuatu. Bibirnya mengulas sebuah senyuman.


"Jihan." Panggilnya. Jihan hanya bergumam tidak jelas sambil memejamkan matanya menikmati posisinya yang menyandar di bahu kakaknya.


"Mau bertemu peri kue?" Tanya Nabil sambil tersenyum lebar. Kali ini Jihan mengangkat kepalanya dan menatap kakaknya dengan pandangan bingung. Sesaat kemudian dia terbahak. "Kakak pikir aku ini masih balita. Aku ini sudah dua puluh tahun. Mana ada hal yang seperti itu di dunia ini. Peri kue. Ada-ada saja." Ujarnya tidak percaya.


"Ada. Peri kue itu ada. Besok aku akan membawamu padanya. Kau pasti akan menyukainya." Nabil berkata dengan nada penuh misteri.


Bersambung


Jangan lupa vote dan komen yaa, biar aku makin semangat buat update 😃


Terima kasih sudah membaca 😆