
“Hiks…hiks...”
Aara menyeka air matanya dengan saputangan di genggamannya. Sementara Lucy berusaha menenangkannya dengan memberikannya sebuah pelukan. Sudah tiga hari sejak kejadian di kafe itu terjadi dan Aara masih belum bisa melupakannya. Hatinya terasa sakit sekali dengan lamaran Nabil tersebut. Membuatnya menangis sepanjang waktu. Apa yang ditakutkannya terjadi. Dia terluka kembali.
“Sst, tenanglah. Kau sudah banyak menangis, Aara. Apa kau tidak lelah menangis terus? Istirahat lah, ya? Aku tidak tega melihatmu seperti ini.” Bujuk Lucy. Apa yang dikatakan Lucy memang benar. Aara terus menangis tidak kenal waktu bahkan dalam tidurnya pun dia menangis. Membuat Bibi Farida dan Lucy kewalahan dalam membujuknya. Kedua matanya bahkan sudah membengkak karena kebanyakan menangis. Tapi mau bagaimana lagi? Aara masih tidak habis pikir mengapa Nabil berkata seperti itu padanya? Apakah laki-laki itu memang benar-benar mengasihani penyakitnya? Tapi bukannya penyakitnya tidak seberbahaya itu? Mengapa Nabil mengajaknya untuk menikah dengan semudah itu? Apakah selama ini kebaikan hati Nabil padanya itu hanya pura-pura? Semata-mata karena Nabil membutuhkan seseorang untuk mendampinginya di usianya yang sudah sepantasnya untuk menikah? Apakah laki-laki itu menganggap Aara hanya sebagai sebuah mainan yang tidak memiliki perasaan sehingga laki-laki itu bahkan tidak peduli pada perasaannya. Menikah sudah tentu bukan hal yang main-main. Tidak bisa diputuskan dan dilakukan dengan mudah, semudah membalikkan telapak tangan. Ditambah lagi Aara sama sekali tidak tahu banyak tentang Nabil. Fakta tentang Nabil yang merupakan putra sulung dari Keluarga Pasha yang terkenal itu cukup mengejutkannya. Tidak pernah terlintas dalam benaknya bahwa dia akan mengenal laki-laki dari kalangan atas itu. Nabil memang terlihat seperti orang kalangan atas, tapi yang Aara tahu adalah karena profesinya sebagai dokter, bukan sebagai anak dari keluarga milyuner dunia. Nabil pandai sekali menutupi identitas aslinya yang sebenarnya.
“Aku masih tidak percaya bahwa kau mengenal dan cukup akrab dengan putra sulung dari Keluarga Pasha. Tapi ya tidak heran karena kau bahkan tidak tau Keluarga Pasha itu siapa.” Ujar Lucy dengan nada merenung.
Aara tidak menjawab dan masih sesengukan. Tangisnya hampir mereda karena dia sudah tidak punya tenaga lagi untuk menangis,
“Apa dia orang yang kau sukai?” Tanya Lucy tiba-tiba.
Mendengar itu Aara kembali terisak.
***
Nabil meneguk air putihnya dengan terburu-buru dan menghempaskan botolnya dengan agak kasar ke atas meja di dapur. Setelah pulang dari tempat Daleela dia merasa agak lega karena tidak perlu lagi memaksakan untuk memasang sebuah senyuman di bibirnya. Kondisi hatinya memburuk dalam dua hari terakhir. Kalau saja Nabil tidak mengingat dia harus profesional dalam bekerja, dia pasti sudah mengurung diri saja di kamarnya. Karena dia tidak bisa melakukan itu maka Aldarich adalah sasaran empuk untuk kekesalannya. Tentu saja Nabil tahu penyebab dia bertingkah senewen belakangan ini. Aara. Gadis itulah penyebabnya. Menyadari bahwa Aara marah padanya dan tidak ingin bertemu dengannya lagi membuat segalanya menjadi buruk bagi Nabil. Sebenarnya Nabil bisa saja datang dan menghampiri Aara untuk menjelaskan semuanya. Tapi dia yakin gadis itu pasti sama sekali tidak ingin bertemu dengannya. Nabil masih ingat tepat ketika Aara berlari ke dapur setelah menyemburkan kemarahannya pada Nabil, Bibi Farida menatapnya dengan pandangan menyesal, “Pulanglah, Nak dan datanglah dilain waktu. Aara sedang membutuhkan waktu untuk menenangkan dirinya.” Begitu yang dikatakan oleh Bibi Farida. Mau tak mau Nabil harus menuruti perkataan bibi itu. Dia tidak ingin semuanya menjadi lebih buruk dan Aara semakin membenci dirinya.
Sebenarnya apa yang tidak dimengerti oleh Nabil adalah mengapa Aara begitu marah padanya. Nabil yakin tidak ada yang salah dalam ucapannya. Menikah. Bukankah itu yang diinginkan oleh setiap perempuan di dunia ini? Sebuah kepastian, bukan hanya janji-janji manis di bibir. Nabil menyukai Aara dan menemukan bahwa Aara adalah satu-satunya gadis yang cocok untuk menjadi isterinya. Setidaknya itulah firasat yang selalu dia rasakan setiap kali berhadapan dengan Aara. Meskipun dia dan Aara tidak saling mengutarakan perasaan satu sama lain, tapi sudah jelas bahwa gadis itu juga menyukainya. Kalau sudah begitu, bukankah menikah adalah jalan yang terbaik untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan? Lagipula ketika dia mengetahui Aara yang mengalami gangguan psikologis membuat hasrat melindungi dalam diri Nabil begitu kuat. Itulah salah satu alasan yang mendorongnya untuk melamar Aara secara mendadak. Nabil sudah pernah melihat Aara yang berjuang melawan sakit ketika gangguan kecemasan itu tiba-tiba melandanya. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana Aara menghadapi ini sendirian. Aara mungkin mempunyai Bibi Farida dan Lucy yang bisa menenangkannya. Tapi dalam hal ini Nabil lebih berpengalaman daripada mereka. Nabil ingin membantu Aara untuk sembuh. Bukan hanya sebagai dokter yang membantu, tetapi juga sebagai pasangan yang selalu ada untuk gadis itu. Nabil ingin ada di samping Aara setiap kali gadis itu merasa kesakitan. Dia ingin berkata pada Aara bahwa dia akan terus berada di samping Aara dan semuanya akan baik-baik saja karena mereka akan melewatinya bersama-sama. Tapi sekarang Aara bahkan tidak ingin melihatnya. Nabil sama sekali tidak mengerti apa yang sebenarnya ada dalam pikiran Aara. Perempuan sangat sulit untuk dimengerti.
Nabil mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. Telinganya kemudian mendengar pintu apartemennya yang terbuka kemudian ditutup. Nabil menyandarkan kepalanya di tangannya yang terlipat di atas meja. Dia tidak peduli siapa orang yang tiba-tiba saja bertamu di saat yang menyebalkan seperti ini.
“Tuan.” Aldarich melangkah ke arah dapur sambil menenteng beberapa kantong plastik.
Aldarich yang tidak siap dengan semburan kemarahan Nabil reflek mundur sambil mencengkram erat kantong-kantong plastik di tangannya. “Bukankah Tuan tadi memintaku untuk membeli makanan? Ini aku sudah bawakan.” Katanya dengan takut-takut. Aldarich menelan ludahnya dengan susah payah. Nabil tadi memang meneleponnya dan memintanya untuk membeli beberapa makanan seperti ayam goreng kentucky, beberapa kebab, dan dua botol air soda. Selama bekerja dengan Nabil dia tidak pernah menghadapi kondisi buruk seperti ini. Nabil yang dia kenal adalah sosok yang dengan mudah bisa mengontrol diri serta suka tersenyum. Tapi saat ini, Nabil yang ada di hadapannya benar-benar terlihat kacau dan tampak berbeda. Atasannya itu terlihat mudah emosi, stress, dan selalu menumpahkannya padanya. Seolah seperti seekor beruang grizzly ganas yang dibangunkan secara paksa dari tidur hibernasinya. Aldarich sebenarnya tahu apa yang menyebabkan Nabil seperti itu. Tentu saja itu karena nona yang ada di toko kue itu.
Nabil tidak menjawab dan melangkah ke arah ruang tengah yang memiliki sofa. Dia mendudukkan dirinya di atas karpet hitam tebal yang lembut. Aldarich menyusul dan kemudian duduk di samping Nabil. Tangannya dengan cekatan mengeluarkan makanan-makanan itu dari kantong plastik dan menghidangkannya di hadapan Nabil yang menyandarkan kepalanya ke sofa di belakangnya. Tidak lupa dia menuangkan air soda ke dalam gelas plastik kecil yang tadi dia beli dan menyodorkannya ke arah Nabil.
“Tuan, kau bisa bercerita apa saja padaku. Aku tidak keberatan dengan hal itu, siapa tahu aku juga bisa membantumu.” Kata Aldarich dengan hati-hati, takut mendapatkan semburan kemarahan lagi dari Nabil. Meskipun status Aldarich hanya sebatas asisten pribadi Nabil, tapi ada kalanya dia bisa menjadi teman diskusi Nabil di saat tertentu. Karena memang begitulah cara Nabil memperlakukan Aldarich, bukan sebagai seorang asisten melainkan sebagai teman dekat.
Nabil tidak menjawab dan hanya meneguk air soda dalam gelas plastiknya. Suasana hatinya benar-benar buruk dan dia ingin melampiaskannya pada sesuatu. Nanti malam dia akan menghabiskan waktu untuk melakukan workout di gym pribadinya. Hal yang biasa dia lakukan ketika merasa sedang bosan dan suntuk.
Aldarich masih menunggu dengan setia sampai atasannya itu mengeluarkan suara. Setelah agak lama barulah Nabil bersuara, “aku melamarnya beberapa hari yang lalu dan dia marah padaku.” Nabil menghela napas kasar saat ingatan ekpresi wajah Aara yang marah padanya kembali muncul di kepalanya. Sementara Aldarich ternganga mendengar ucapannya barusan. Tentu saja Aldarich tau siapa ‘nya’ yang dimaksud oleh Nabil. Nona Aara. Sebenarnya sejak bertemu dengan Nona Aara, Nabil sudah bertingkah aneh. Atasannya itu sering tersenyum sendiri dan selalu bertingkah posesif setiap kali membeli pastry favoritnya itu dari toko itu. Aldarich pikir Nabil hanya sebatas menyukai Nona Aara tapi tidak disangka Nabil bahkan seserius itu pada nona muda itu hingga memutuskan untuk menikahinya. Karena memang selama ini Nabil tidak pernah terlihat dekat dengan gadis-gadis manapun. Bahkan di saat nyonya besar dengan gencar menjodohkan Nabil, atasannya itu selalu menolak dan melarikan diri dari perjodohan tersebut. Jadi sudah pasti Nona Aara adalah sosok penting yang istimewa untuk Nabil. Nona Aara memang benar-benar hebat, dalam sekejap saja dia bisa membuat Nabil menjadi kacau dan kehilangan kendali diri untuk bersikap tenang.
“Saya rasa Nona Aara hanya terkejut karena lamaran Anda sangat tiba-tiba dan terkesan terburu-buru.” Ujar Aldarich menyuarakan pikirannya.
“Aku tahu, aku tahu. Aku sudah berulang kali memikirkan tentang ini. Tapi apalagi yang perlu ditunggu, kami berdua saling menyukai.” Nabil lagi-lagi menghembuskan napasnya dengan kasar. Tangannya mengambil sebuah kebab dan mengunyahnya tanpa selera.
“Bukan itu maksud saya.” Aldarich jeda sejenak, kemudian melanjutkan, “sebesar apapun wanita menyukai laki-laki, tetapi mereka akan berlari menjauh jika laki-laki tersebut bertindak terburu-buru seperti itu. Mereka akan ketakutan. Jadi menurut saya Nona Aara mungkin tidak siap menghadapi lamaran Anda tersebut. Saran saya, tunggulah sampai Nona Aara terlihat siap. Saya yakin itu tidak akan memakan waktu yang lama. Yang penting Anda harus tetap bersabar dan tidak memaksakan segalanya padanya. Sebaiknya Anda juga harus bersiap, karena Anda juga perlu bertemu dengan kedua orang tua Nona Aara.” Kata Aldarich dengan panjang lebar. Dalam hati dia sama sekali tidak menyangka, Nabil yang terlihat sempurna dengan wajah yang tampan, kepribadian yang baik, serta memiliki kecerdasan yang tinggi ternyata sama sekali tidak memiliki pengalaman yang bagus dalam masalah percintaan.
“Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang? Dia sangat marah padaku dan tidak ingin melihatku lagi.” Ujar Nabil dengan nada putus asa. Memikirkan Aara yang mungkin tidak ingin melihatnya lagi sampai waktu yang tidak ditentukan seketika membuat tubuhnya terasa lemas.
Aldarich tersenyum kecil, “sudah menjadi kodratnya wanita sangat menyukai hadiah. Tuan bisa mengirimkan Nona Aara hadiah. Dia pasti akan luluh. Hadiahnya tidak harus sebuket bunga mawar. Anda bisa mengirimkan apapun yang menurut Anda Nona Aara akan menyukainya.”
Nabil terdiam memikirkan kalimat Aldarich barusan. Hadiah ya…apa yang akan dia berikan untuk Aara?