
Aara mengetuk-ngetuk meja dengan pena yang ada di tangannya. Liburan semester tinggal dua minggu lagi dan sedari tadi dia mencoba untuk membaca buku dari mata kuliah yang akan dia ikuti di semester baru nanti. Bibi Farida seperti biasa sedang sibuk di dapur untuk menyiapkan adonan. Aara menghela napas sambil menutup bukunya saat dia merasa bahwa dia tidak bisa fokus lagi dalam membaca. Dia mengambil sebuah cream cheese danish kesukaannya dan mengunyahnya dengan pelan. Matanya menatap salju yang masih turun di luar kaca jendela tetapi dia tampak sedang memikirkan sesuatu.
Sudah hampir lewat dari dua minggu sejak kejadian Aara marah besar pada Nabil di toko hari itu. Tapi laki-laki itu masih belum menunjukkan batang hidungnya sampai sekarang. Membuat Aara menjadi uring-uringan sendiri. Padahal dia sudah tidak marah lagi pada Nabil dan dia ingin memperbaiki lagi komunikasi mereka yang sempat rusak karena Aara sudah terbawa emosi. Meskipun Aara tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Nabil, tetapi seharusnya waktu itu Aara harus lebih bisa mengendalikan dirinya dan bersikap tenang tanpa harus berlebihan seperti itu. Nabil pasti menganggapnya perempuan aneh yang bertemperamental tinggi. Tapi mau bagaimana lagi, semuanya sudah terjadi dan tidak perlu disesali lagi. Tiba-tiba dia teringat sesuatu. Aara melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul satu siang. Dia kemudian bergerak ke arah etalase toko dan mengambil sebuah kotak kemudian mulai menyusun beberapa cream cheese.
“Apa yang sedang kau lakukan, Aara?” Tanya Bibi Farida ketika melihat kegiatan Aara tersebut. Rupanya Bibi Farida telah muncul dari dapur sambil membawa sebuah nampan berisi pie susu yang baru selesai dibuatnya.
Aara tampak gugup sebelum menjawab pertanyaan dari bibinya. “Aku…eh, aku memutuskan ingin mengirimkan sekotak cream cheese untuk Nabil ke kantornya. Eh, sebagai permintaan maafku karena aku sudah berlaku tidak sopan padanya waktu itu.” Katanya sambil menunduk. Aara tampak benar-benar menyesali perbuatannya. Mendengar itu Bibi Farida tersenyum kecil. “Syukurlah kau menyadari kesalahanmu. Di lain waktu kau harus lebih berhati-hati dalam bertindak. Meskipun kau tidak menyukai perkataan atau perbuatan seseorang, kau harus bisa mengendalikan dirimu. Sebaiknya kau telepon Aldarich sekarang dan minta dia datang ke sini selagi ini jam makan siang. Jadi kau tidak perlu menganggunya bekerja nanti.” Bibi Farida menepuk pundak Aara dengan pelan sebelum kembali ke dapur. Aara mengangguk kemudian dia meneruskan kegiatan menyusun pastry dalam kotak itu. Setelah agak lama dia kemudian menelepon Aldarich. Tidak butuh waktu lama hingga asisten setia Nabil tersebut muncul di toko.
“Terima kasih sudah datang, maaf karena sudah merepotkan Anda.” Ujarnya Aara sambil menyodorkan kotak kue tersebut.
Aldarich memasang senyum singkat. “Tidak apa-apa, Nona. Saya akan menyerahkan ini pada Tuan Nabil segera. Kalau begitu saya permisi dulu.” Ujar Aldarich sambil berjalan ke luar toko.
***
Nabil sedang membaca beberapa berkas ketika Aldarich masuk ke ruangannya sambil membawa sebuah kotak. Asistennya itu meletakkan kltak tersebut di depannya. Nabil sangat mengenali kotak itu.
“Silahkan dinikmati, Tuan.” Ujar Aldarich sambil pamit keluar dari ruangan Nabil. Sementara Nabil menatap kotak itu dengan raut wajah bingung. Dia membuka kotak itu dan menemukan pastry kesukaannya di sana. Senyumnya mengembang, terlebih dia sudah tahu siapa pengirimnya. Sudah tentu Aara. Entah mengapa Nabil yakin sekali gadis itu mengirimkan ini untuk menyampaikan permintaan maaf padanya walaupun secara tidak langsung. Aara-nya sudah tidak marah lagi padanya. Ah, manis sekali.
Ponsel Nabil tiba-tiba berdering. Dari ibunya. Nabil segera mengangkatnya.
“Ya Ibu?” Nabil menjawab panggilan tersebut masih dengan senyuman lebar di bibirnya. Nabil segera menjauhkan ponsel dari telinganya saat dia mendengarkan teriakan ibunya dari seberang sana.
“Anak nakal. Ibu sudah mendengar semuanya dari Jihan. Kau harus segera kembali ke Berlin dengan membawa gadis itu dan memperkenalkannya pada ibu saat hari Yanayir[1] nanti. Ibu tidak mau tahu. Bulan depan kau sudah harus berada di sini. Apa kau dengar ibu?” Aiza, ibu Nabil mengomel dengan sangat panjang.
Nabil memanyunkan bibirnya. “Ibu, tidak bisa begitu. Aku harus bertanya dulu padanya apakah dia ingin ikut denganku atau tidak. Aku tidak bisa memaksanya dan memintanya ikut denganku begitu saja.”
“Kalau begitu lakukan berbagai cara supaya dia mau datang ke sini. Demi Tuhan, ibu sudah sangat tidak sabar untuk bertemu dengannya. Mendengar bagaimana Jihan bercerita tentang gadis itu dengan antusias, ibu yakin dia gadis yang sangat cocok denganmu- siapa namanya?” Aiza berbicara tanpa henti membuat Nabil memijat-mijat keningnya, merasa pening mendengar ibunya berbicara tanpa jeda.
“Aara. Ibu a-”
“Ah ya, namanya saja bahkan sudah terdengar indah. Dia pasti gadis yang sangat cantik. Kalau ibu dan ayah sudah bertemu dengannya kita bisa segera menentukan tanggal pernikahan.” Aiza memutuskan dengan cepat. Membuat Nabil terkejut mendengar perkataan ibunya. Dia bahkan belum melakukan persiapan apapun misalnya seperti bertemu dengan kedua orang tua Aara.
“Ibu, tidak bisa secepat itu. Aku bahkan belum bertemu dengan kedua orang tuanya. Apa ibu tahu kalau kedua orang tuanya tidak tinggal di Jerman, mereka berdua tinggal di Beirut.” Nabil menyuarakan pikirannya. Bicara tentang kedua orang tua Aara membuat Nabil seketika menjadi gugup dan jantungnya berpacu dengan cepat.
“Sayang, ibu tahu. Karena itu, ibu dan ayah akan menemanimu untuk bertemu dengan kedua orang tuanya dan melamarnya. Kita akan terbang ke Beirut. Kosongkan jadwalmu segera. Kalau kau bertemu dengannya, sampaikan salam ibu padanya. Baiklah, Anakku. Ibu harus segera memasak. Ini sudah lewat waktu makan siang, ibu belum memasak untuk ayahmu. Jaga dirimu. Sampai nanti.” Aiza segera memutuskan sambungan telepon.
Nabil menghela napas setelah ibunya mengakhiri sambungan telepon. Membawa Aara ke Berlin memang hal yang sudah dia pikirkan sejak lama. Tapi Nabil tidak tahu apakah Aara akan bersedia ikut dengannya atau tidak. Tentu saja mereka tidak akan pergi berdua saja. Mereka akan pergi dengan ditemani oleh Bibi Farida.
Bibi Farida….itu dia! Sebuah ide tiba-tiba saja muncul dalam kepala Nabil. Setelah jam kerja nanti dia akan segera menemui mereka.
***
“Halo.” Aara merasa jantungnya hampir keluar dari dadanya ketika dia mendapati Nabil menyapanya sambil tersenyum lebar. Entah sejak kapan laki-laki itu masuk ke dalam toko.
“Bibi Farida ada?” Tanya Nabil sambil melirik ke arah dapur.
“Ada. Sebentar. Akan aku panggilkan.” Ujar Aara sambil berlalu ke arah belakang. Tampaknya Nabil memiliki hal yang penting untuk dibicarakan dengan Bibi Farida. Pikir Aara.
Lonceng di pintu berbunyi disusul dengan Lucy yang masuk ke dalam toko dengan gerakan cepat.
“Oh Tuan Nabil.” Sapa Lucy dengan nada formal.
Nabil tersenyum, “halo Lucy. Apa kabar?” Tanyanya dengan ramah.
“Saya baik. Bagaimana dengan Anda?” Tanya Lucy lagi dengan sopan.
Nabil terkekeh, “jangan terlalu formal. Kau boleh memanggil namaku saja. Nabil. Teman Aara adalah temanku juga. Sudah berapa lama kau berteman dengan Aara?”
Lucy tersenyum sambil mengangguk. “Sudah tiga tahun.”
Nabil mengangguk-anggukkan kepalanya. “Bagus sekali. Kalau begitu tolong jaga dia ya.” Kata Nabil dengan nada rendah dan tersenyum manis.
Lucy tertawa kecil sambil mengepalkan salah satu tangannya dengan penuh tekad. “Pasti.” Melihat itu Nabil juga ikut tertawa.
Bibi Farida dan Aara muncul dari arah dapur. Nabil dan Bibi Farida kemudian saling menyapa satu sama lain hingga kemudian Bibi Farida mempersilahkan Nabil untuk duduk di salah satu kursi. Sementara Lucy dan Aara duduk di kursi yang lain.
“Ibuku tadi menelepon, mengingatkanku bahwa perayaan Yanayir akan segera tiba dan hanya tinggal seminggu lagi. Bibi tentu tahu tentang perayaan ini bukan?” Ujar Nabil dengan perlahan.
“Tentu saja bibi tahu, Nak. Apakah ada yang bisa bibi bantu?” Tanya Bibi Farida.
“Biasanya setiap tahun kami sekeluarga akan pulang ke Maroko dan merayakannya bersama keluarga yang lain. Tapi tahun ini ibu dan ayah memutuskan untuk merayakannya di rumah saja dan mengundang beberapa teman dekat. Adik perempuanku bercerita banyak tentang toko kue bibi. Jadi ibuku juga mengundang bibi untuk ikut merayakannya di rumah. Beliau sangat ingin mencicipi kue buatan bibi.” Ujar Nabil.
Aara yang mendengarkan perkataan Nabil merasa gugup seketika. Ke Berlin dan bertemu dengan kedua orang tua Nabil? Oh my.
“Jadi maksudmu ibumu mengundangku dan Aara untuk ke Berlin?” Tanya Bibi Farida.
Nabil menganggukkan kepalanya. “Lucy juga boleh ikut kalau mau. Tidak usah memikirkan biayanya. Aku yang akan mengurus itu.”
“Benarkah aku boleh ikut?” Tanya Lucy dengan antusias.
“Tentu saja.” Ujar Nabil sambil terkekeh pelan.
Bibi Farida tersenyum, “dengan senang hati kami menerima undangan itu.”
Sementara Aara terlihat sibuk dengan pikirannya. Dia menjadi sangat gugup. Apa yang harus dia lakukan? Bagaimana jika kedua orang tua Nabil tidak menyukainya? Bagaimana ini?
[1] Awal bulan dari kalender Suku Berber yang diperingati setiap tanggal 13 Januari. Biasanya pada hari perayaan, Suku Berber akan memasak berbagai jenis hidangan tradisional