
Selamat membaca 😊.
.
.
.
Keesokan harinya Nabil benar-benar kembali ke toko pastry itu. Kali ini bukan Aara yang menyambutnya melainkan seorang wanita paruh baya berwajah ramah yang mengingatkannya pada wajah ibunya. Nabil mengarahkan pandangannya ke seluruh bagian dalam toko tapi sama sekali tidak ada tanda-tanda keberadaan gadis itu.
"Selamat pagi, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya wanita itu.
"Ya, kemarin sore saya membeli beberapa potong cream cheese danish dan croissant di sini. Keduanya rasanya lezat sekali, terutama yang cream cheese. Apakah itu Anda yang membuatnya?" Tanya Nabil dengan nada penuh rasa ingin tahu.
Wanita paruh baya di depannya tersenyum kecil. "Saya senang Anda menyukainya, Tuan. Seluruh pastry di sini saya yang membuatnya dibantu oleh keponakan saya. Tetapi khusus untuk cream cheese danish, keponakan saya yang membuatnya. Dia benar-benar menyukai itu."
Sesuatu terasa menggelitik di perut Nabil mendengar perkataan wanita di depannya. Bayangan wajah Aara yang memucat kemarin sore karena ketakutan akan perkataannya menari-nari di dalam benak Nabil. Tanpa sadar senyum yang sedari tadi berusaha di tahannya berubah menjadi tawa panjang yang terdengar riang. Tubuhnya bergetar karena tawanya. Nabil pasti sudah membuat Aara ketakutan setengah mati karena candaannya. Bagaimana mungkin Aara tidak akan memucat, itu karena pastry tersebut adalah buatannya. Gadis itu pasti ketakutan memikirkan Nabil yang benar-benar akan menuntutnya karena rasa pastry-nya yang tidak enak. Laki-laki itu menyeka sudut matanya yang berair karena tawanya. Entah dimana letak lucunya dengan kejadian kemarin sore. Orang lain mungkin akan menganggapnya konyol karena hal ini. Nabil sadar wanita di depannya menatapnya dengan heran meski senyuman masih tidak lepas dari bibirnya. Laki-laki itu berdehem untuk membersihkan tenggorokannya.
"Maafkan aku. Tolong bungkuskan aku satu strawberry shortcake yogurt parfait." Dengan cekatan wanita paruh baya itu bergerak menyiapkan pesanan Nabil.
Daleela pasti akan menyukai ini.
Aara pasti sedang bersembunyi ketakutan sekarang ketika tahu bahwa Nabil memang datang kembali ke toko ini. Memikirkan itu membuat Nabil tanpa sadar menyeringai kecil.
Nabil menerima pesanannya "Terima kasih, Nyonya. Dan tolong sampaikan pada keponakanmu aku hanya bercanda dengan perkataanku kemarin sore. Cream cheese buatannya memang benar-benar sangat lezat. Aku mungkin akan menjadi pelanggan tetap di toko ini." Ujar Nabil.
***
"Apa yang kau lakukan hingga kau bersembunyi seperti seekor kelinci yang ketakutan begitu? Kenapa kau menghindarinya? Apa kau mengenalinya?" Tanya Bibi Farida setelah melayani Nabil. Aara bertingkah aneh tadi. Ketika dia melihat laki-laki muda itu keluar dari mobilnya, keponakannya itu langsung berlari berhamburan ke arah dapur, seolah baru saja melihat hal yang mengerikan.
Aara menggeleng pelan. Dia terlalu malu untuk menjelaskan segalanya pada bibinya. "Apa dia mengatakan sesuatu pada bibi, misalnya tentang akan menuntutku?"
"Menuntutmu? Mengapa dia harus menuntutmu?" Tanya Bibi Farida tidak mengerti.
Aara menghela napas panjang. Dia menyerah dan memberi tahu bibinya perihal kejadian kemarin sore.
"Jadi dia bilang dia akan menuntutmu jika cream cheese yang kau buat itu rasanya tidak enak?" Tanya Bibi Farida sambil tersenyum geli.
Aara menganggukkan kepalanya dengan bibir manyun.
Sebelah tangan Bibi Farida bergerak mengelus lembut kepala Aara. "Sayangku, dia tadi bilang dia hanya bercanda. Jadi jangan takut. Dia tidak benar-benar akan menuntutmu. Malahan dia memuji cream cheese lezat buatanmu."
Bercanda? Jadi laki-laki itu hanya bercanda? Kurang ajar. Laki-laki itu sudah berhasil membuanya sulit tidur semalaman karena ketakutan akan ancamannya.
Tiba-tiba saja Bibi Farida terdiam dengan raut wajah bingung. Otaknya sedang berusaha menggali-gali ingatannya.
Menyadari itu, Aara bertanya dengan nada cemas pada bibinya. "Ada, Bibi?"
Bibi Farida tidak langsung menjawab. Dahinya berkerut, terlihat jelas dia sedang berpikir keras. Setelah beberapa lama, barulah bibinya bersuara. "Rasanya bibi pernah melihatnya. Wajahnya terasa tidak asing. Tapi bibi tidak ingat dimana pernah melihatnya."
Aara menatap Bibi Farida dengan tatapan tidak mengerti.
"Kita harus bergegas, Aara. Pemuda itu memesan 200 cream cheese buatanmu untuk dibagikan. Kita harus menyelesaikannya sebelum pukul satu siang."
Kedua mata Aara membulat mendengar perkataan bibinya. Banyak sekali. Sudah dia duga. Laki-laki ini pasti bukan orang biasa.
Pukul setengah satu siang, sebuah mobil berhenti di depan toko mereka. Seorang lelaki Jerman berwajah kaku turun dan segera masuk ke dalam toko.
"Perkenalkan. Saya Aldarich. Saya ditugaskan Tuan Nabil untuk mengambil pesanan 200 cream cheese danish dari toko ini." Ujarnya dengan singkat.
"Silahkan. Kami sudah selesai mengaturnya. Aara, bantu tuan ini untuk memasukkan seluruh pesanan ke dalam mobilnya." Perintah Bibi Farida. Aara segera bergerak cepat menyusul Aldarich ke mobil sambil membawa beberapa plastik besar berisi pastry itu.
"Maaf, kalau boleh saya tahu...akan dibawa kemana 200 cream cheese ini?" Tanya Aara dengan nada penasaran setelah mereka selesai memindahkan seluruh pesanan ke bagasi mobil.
Aldarich bergerak menyerahkan sebuah kartu nama pada Aara. "Silahkan hubungi saya ketika Anda telah menyiapkan seluruh pesanan. Saya akan melakukan transfer pembayaran. Saya permisi dulu." Tanpa mendengarkan jawaban dari Aara, laki-laki itu kemudian masuk ke dalam mobilnya dan bergerak menjauhi toko Rainbow Cakes.
Aara mengerutkan dahinya. Nabil. Sekarang dia tahu siapa nama laki-laki yang sudah mengerjainya kemarin sore itu.
Siapa sebenarnya laki-laki itu dan apa pekerjaannya?
***
Pukul dua siang Nabil sampai di rumah keluarga Daleela. Pembantu rumah itu membukakan pintu untuknya dan menyuruhnya menunggu di ruang tamu. Sambil menunggu, Nabil memutuskan untuk menelepon Aldarich.
"Saya sudah mengambil pesanan Anda, Tuan." Ujar Aldarich di telepon.
"Baiklah. Terima kasih banyak atas bantuanmu. Lakukan seperti biasa dan jangan lupa ambil bagianmu. Sampai jumpa hari Senin." Balas Nabil.
"Terima kasih banyak, Tuan."
Klik. Nabil memutuskan sambungan telepon.
Membagi-bagikan makanan setiap hari Jumat adalah kegiatan rutin yang dilakukan oleh Nabil dibantu oleh asistennya, Aldarich. Biasanya sebelum pergi ke Al Salam Mosque di Bavaria untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang laki-laki Muslim, dia akan memesan makanan dari sebuah restoran ataupun kafe yang dia lewati. Kemudian Nabil memerintahkan Aldarich untuk membagi-bagikannya kepada seluruh staf rumah sakit, dokter-dokter dan perawat, pasien, serta seluruh petugas cleaning service di gedung rumah sakit milik keluarganya tersebut. Selain kegiatan rutin berbagi makanan di hari Jumat, Nabil juga rutin mengunjungi beberapa panti asuhan di setiap akhir bulan. Dia juga tidak segan-segan untuk mengunjungi tempat-tempat dimana obdachlos (tunawisma) berkumpul. Biasanya dia akan datang bersama Aldarich dengan membawa sebuah van yang berisi kebutuhan pokok yang bisa dia salurkan pada para tunawisma tersebut.
Nabil menyadari ada kebahagiaan tersendiri yang dia dapatkan ketika dia bisa membuat orang lain tersenyum karenanya. Mungkin bagi dokter dan perawat di rumah sakit, mereka menganggap bahwa pembagian makanan ini hanya sebuah hadiah kecil karena mereka mampu membelinya. Tetapi bagi para petugas cleaning service yang tidak semampu mereka tentu saja ini adalah karunia yang sangat besar. Ada banyak orang yang hidup serba kekurangan di dunia ini dan Nabil sangat beruntung karena terlahir dalam keluarga yang kaya raya. Karena itulah sebagai wujud rasa syukurnya pada Sang Pencipta, dia akan berusaha untuk berbagi sebanyak mungkin apa yang dia punya pada orang-orang yang tidak mampu.
"Selamat siang, Dokter. Maaf membuat Anda menunggu lama. Saya Deniz. Ayah Daleela. Istri dan putri saya akan turun sebentar lagi." Nabil mendongak saat mendengar sebuah suara menyapanya. Dia mendapati seorang pria Turki berusia awal empat puluhan menyodorkan sebelah tangannya mengajak Nabil untuk bersalaman. Nabil membalas uluran tangan tersebut.
Pria bernama Deniz itu duduk di salah satu kursi di hadapan Nabil. "Terima kasih sudah datang jauh-jauh kemari. Saya yakin Anda pasti sibuk sekali." Ujarnya sambil melemparkan senyum meminta maaf.
Nabil tersenyum ramah. "Tidak apa-apa, Tuan. Sudah menjadi tanggung jawab saya sebagai dokter untuk membantu pasien saya sebisa mungkin."
Tidak lama kemudian Zeyneb dan Daleela sudah muncul di ruang tamu.
"Kakak!" Jerit Daleela dengan riang saat dia mengenali sosok Nabil yang sedang duduk di ruang tamu bersama ayahnya. Gadis kecil itu berlari ke arah Nabil sambil merentangkan kedua tangannya. Rambutnya yang dikuncir dua bergerak karena berlarian. Ingin memeluk laki-laki itu. Nabil terkekeh kecil. Dia membalas pelukan Daleela dengan penuh rasa sayang. Sungguh, Daleela benar-benar mengingatkannya pada adiknya, Jihan yang sangat manja padanya. Deniz dan Zeyneb hanya tersenyum. Mereka tidak mengerti dengan pembicaraan antara Nabil dan Daleela karena dua orang itu berkomunikasi menggunakan bahasa ibu Daleela. Walaupun begitu, Deniz dan Zeyneb merasa takjub dengan nuansa persaudaraan yang diciptakan oleh Nabil.
"Apa kabarmu?" Tanya Nabil sambil meletakkan Daleela di salah satu pangkuannya.
"Aku baik-baik saja." Balas Daleela sambil lalu. Kedua matanya fokus pada bungkusan strawberry shortcake yogurt parfait di depannya.
"Apakah dia masih bermimpi buruk dan berteriak-teriak?" Kali ini Nabil mengalihkan pandangannya pada orang tua angkat Daleela. Pertanyaan itu membuat wajah Deniz dan Zeyneb yang tadinya dipenuhi dengan senyum sontak berubah menjadi murung.
Zeyneb yang menjawab pertanyaan Nabil. "Ya. Sepulang dari rumah sakit dua hari yang lalu dia kembali bermimpi buruk. Berteriak-teriak meminta tolong dalam tidurnya. Aku...aku tidak sanggup melihatnya begitu tersiksa..." Zeyneb tidak sanggup meneruskan kata-katanya. Dia terisak kecil. Suaminya merangkulnya mencoba menenangkannya.
"Apakah Daleela tahu bahwa kedua orang tua kandungnya telah meninggal dunia dan dia diadopsi?"
Deniz menganggukan kepalanya. Tidak bisa berkata apa-apa karena sibuk menenangkan istrinya.
Wajah Nabil berubah serius. Seharusnya...seharusnya tidak begini. Terlalu dini bagi Daleela untuk mengetahui bahwa kedua orang tua kandungnya telah meninggal dan orang tuanya yang sekarang bukanlah orang tuanya yang asli. Melihat kedua orang tua angkat Daleela yang benar-benar menyayanginya, bisa dipastikan bahwa Daleela mengetahuinya dari orang yang merawatnya di kamp pengungsi dulu. Tapi memang begitulah faktanya. Anak-anak korban peperangan dipaksa untuk mengetahui kebenaran yang menyakitkan. Mereka dipaksa untuk menjadi dewasa sebelum waktunya.
Nabil menatap Daleela yang duduk di pangkuannya. Gadis kecil itu terlihat fokus menatap bungkusan yang Nabil bawa dari Toko Rainbow Cakes tadi. Sejenak Nabil mengambil napas dan mengubah ekspresi wajahnya menjadi kembali ceria. Tangannya mengambil bungkusan tersebut dan menyerahkannya pada Daleela.
"Ini namanya strawberry parfait. Kakak membelinya khusus untukmu. Daleela boleh memakannya sepuasnya. Kau bisa memakannya sambil kita bercerita." Ujar Nabil sambil tersenyum lebar.
"Itu untukku? Benarkah?" Tanya Daleela dengan nada tidak percaya.
Nabil menganggukkan kepalanya dengan cepat sambil menyodorkan pastry itu ke tangan Daleela.
Bersambung
Jangan lupa vote dan komennya yaa, biar aku makin semangat buat update ^^
Terima kasih sudah membaca :)