The Man Who Loves Pastry

The Man Who Loves Pastry
Elf (11): Aara, The Apple of My Eyes



Aara tengah berusaha memejamkan matanya. Dia merasa mengantuk sekali dan memutuskan untuk tidur siang. Anehnya dia merasa sangat sulit untuk tidur. Ketika akan mengubah posisi tidurnya menjadi menghadap ke kanan, tiba-tiba saja ponselnya berdering di meja kecil di samping ranjangnya.


“Hei Aara. Apa kau punya waktu luang sore ini? Ayo kita pergi ke J&J. Sudah lama sekali kita tidak pergi ke luar.” Ujar Lucy dengan nada riang. Yang dimaksudnya dengan J&J adalah nama salah satu department store terbesar di Munich. Memang sudah lama sekali mereka tidak keluar. Lagipula ini akhir pekan dan Bibi Farida memang selalu memaksanya untuk tidak bekerja di hari Sabtu. Aara sudah cukup sibuk dengan kuliahnya dan Bibi Farida sama sekali tidak ingin membebani keponakan kesayangannya itu dengan urusan toko. Setelah menimbang-nimbang sejenak perkataan Lucy barusan, akhirnya Aara menerima ajakan sahabatnya itu.


“Baiklah. Ayo kita keluar.” Ujarnya.


“Yes! Aku akan menjemputmu di rumah Bibi Farida pukul empat. Sampai nanti.” Lucy segera memutuskan sambungan telepon.


Aara tersenyum kecil tapi kemudian dia teringat sesuatu. Semoga saja mal besar itu tidak ramai. Aara sungguh tidak bisa bertahan di tempat yang dipenuhi dengan banyak orang. Dia bisa terserang gangguan panic secara tiba-tiba ditambah lagi obatnya hilang dan dia belum sempat untuk meminta kembali dari dokter kenalannya. Ya, semoga ke khawatirannya tidak terjadi.


Namun ternyata Aara salah. Sore harinya ketika dia dan Lucy masuk ke pintu kedatangan mal, mal itu sudah sangat ramai dan dipenuhi oleh pengunjung yang datang bersama keluarga mereka. Aara berusaha menenangkan dirinya dan menarik napas dalam-dalam. Lucy sama sekali tidak mengetahui gangguan yang dideritanya dan Aara tidak ingin membuat sahabatnya itu khawatir dengan keadaannya. Sekarang pun dia tidak ingin mengecewakan Lucy, jadi dia harus bertahan.


“Kau ingin kemana dulu?” Tanya Lucy padanya ketika mereka menaiki escalator.


“Aku belum memikirkannya. Kita bisa pergi dulu ke toko yang kau inginkan.” Balas Aara.


Lucy hanya mengangguk dan menggandeng tangannya. Mereka kemudian masuk ke sebuah toko tas. Sahabatnya itu segera berjalan ke arah rak tas di dekat pintu. Aara memutuskan untuk mengelilingi toko itu dan melihat rak berisi tas-tas itu dengan hati-hati. Sekilas saja Aara tahu bahwa tas-tas di sini pasti dijual dengan harga yang sangat mahal dan Aara sudah tentu tidak sanggup membelinya. Bagi Lucy tentu saja harga tas-tas di sini tidak seberapa dengan uangnya yang banyak itu. Tetapi bagi Aara butuh waktu bertahun-tahun menabung uang untuk membeli sebuah tas baru dari toko ini. Aara menunduk memandang tas salempangnya yang berwarna hitam dengan jahitan tambalan kecil-kecil pada sisi-sisi di sekitar resletingnya. Dengan pencahayaan toko yang sangat terang, tasnya terlihat sangat menyedihkan dengan warna yang sudah lusuh. Tas ini dulu dia beli di toko dekat rumahnya sebelum berangkat ke Jerman. Sudah tiga tahun usia tas ini. Aara sudah menggunakan tas ini untuk kuliah dan berpergian keluar. Tasnya memang terlihat menyedihkan dan sudah seharusnya diganti. Tetapi Aara lebih memilih untuk menabung uangnya dan menggunakannya untuk memenuhi keperluan kuliahnya. Kalau boleh jujur, Aara lebih memilih untuk memiliki sepasang sepatu baru yang cantik. Ada sepasang flat shoes yang sudah lama diincarnya di toko sepatu di depan Rainbow Cakes. Flat shoes itu berwarna cokelat terang dengan hiasan pita besar di atasnya. Sangat sederhana, tetapi sudah menarik perhatian Aara sejak pertama kali melihatnya. Meskipun modelnya sangat simple tetapi harganya cukup menguras isi kantongnya, yaitu 100 Euro[1].



Setiap kali melewati toko itu, Aara akan berhenti di depan kaca toko yang memajang sepasang sepatu impiannya itu sambil berdoa sepatu itu akan tetap disitu hingga dia mampu memilikinya suatu hari nanti.


“Aku sudah siap. Ayo kita pergi. Apa kau lapar? Aku lapar sekali dan aku tahu tempat makan yang enak di sini.” Aara menoleh ketika mendengar suara Lucy. Tangannya memegang sebuah tas kertas berisikan tas pilihannya. Ternyata hanya dengan memandangi satu persatu tas-tas di sini membuat waktu terasa berlalu dengan cepat.


“Iya, aku lapar.” Ujar Aara. Mereka berdua kemudian berlalu meninggalkan toko tersebut menuju ke arah food court. Untuk urusan makan, Aara tidak pernah meragukan Lucy. Sahabatnya itu paham betul apa yang bisa dimakan dan tidak bisa dimakan oleh Aara. Sungguh beruntung Aara bisa memiliki sahabat baik seperti Lucy yang sangat pengertian dengan dirinya.


Aara menggigit bibirnya saat mendapati keadaan food court ternyata lebih buruk daripada yang dia kira. Tempat makan ini dipenuhi oleh lautan manusia. Ramai sekali. Seketika Aara merasakan perutnya bergolak dan dia merasa ingin muntah. Kepalanya berdenyut-denyut dan kedua tangannya mulai bergemetaran. Oh tidak.


“Astaga, ramai sekali di sini. Kau ingin kita mencari tempat makan yang lain?” Tanya Lucy tiba-tiba.


Aara menggeleng. Sebenarnya dia ingin makan di rumah saja, tetapi dia tidak tega membuat Lucy kelaparan sampai di rumah. “Tidak apa-apa. Aku ingin ke toilet sebentar. Kau duluan saja dan carilah tempat yang kosong.” Ujarnya pada Lucy.


“Baiklah, aku akan masuk duluan. Telepon aku jika kau tidak bisa menemukanku, ya?” Setelah Aara mengangguk barulah Lucy melangkah masuk ke dalam food court itu.


Aara segera berbalik dan mencari toilet terdekat secepat yang dia bisa. Dia hanya perlu masuk ke sana dan berdiam diri sebentar hingga serangan paniknya mereda. Aara memaksakan diri untuk melangkah mendekati toilet yang tinggal beberapa jengkal.


Tunggu? Apakah baru saja terjadi gempa bumi? Mungkinkah Munich baru saja diguncang gempa? Untuk beberapa detik Aara merasakan sekelilingnya berputar dan dia hampir saja jatuh ke belakang jika saja tidak ada sebuah tangan yang menahan sikunya.


“Kau baik-baik saja, Non-Aara?” Sebuah suara berat menyapa pendengarannya.


Aara tidak menjawab tapi dia bersumpah bahwa dia sangat mengenali siapa pemilik suara berat itu. Itu suara Nabil. Sebuah kejutan dia bisa bertemu dengan laki-laki itu di tempat selain di Rainbow Cakes.


“Kau tampak tidak baik-baik saja. Ayo ke situ.” Nabil menunjuk sebuah kursi panjang yang berseberangan dengan pintu toilet. Aara tidak punya tenaga untuk menolak, dia menurut dan melangkahkan kakinya dengan pelan. Nabil berjalan di sampingnya tanpa menyentuhnya. Tapi sikap tubuh laki-laki itu terlihat sangat waspada dan antisipasi kalau-kalau Aara tiba-tiba saja jatuh tidak sadarkan diri.


Setelah memastikan Aara duduk dengan posisi yang aman, Nabil kemudian melangkah pergi entah kemana. Aara memejamkan kedua matanya saat dia sudah duduk di kursi itu. Perutnya masih terasa bergejolak dan kepalanya masih berdenyut-denyut, tapi tidak seburuk yang tadi.


“Minum ini.” Aara mendongak saat mendapati Nabil telah berdiri di sampingnya sambil menyodorkan sebotol air mineral dengan segel yang separuh terbuka, memudahkan Aara untuk minum. Aara menerima botol air itu dan segera meneguk isinya.


“Kau yakin tidak ingin ke rumah sakit? Kau tampak sangat pucat.” Ujar Nabil saat Aara selesai meminum airnya. Dada Aara berdesir mendengar nada perhatian dalam suara Nabil. Terlebih ketika dia melihat raut wajah Nabil. Tidak ada senyum di bibirnya seperti yang selalu dilakukannya setiap kali mereka bertemu. Hanya ada raut wajah yang khawatir dan cemas di sana. Sekali lagi hal itu membuat dada Aara dipenuhi oleh perasaan bahagia yang membuncah.


Aara menggeleng, “Tidak perlu. Ini sudah biasa terjadi padaku dan aku bisa mengatasinya. Aku akan baik saja dalam beberapa menit.” Aara bisa melihat Nabil yang mengernyitkan dahinya saat mendengar perkataanya barusan. Demi apapun, Aara sungguh tidak ingin memberitahukan apa yang dideritanya pada orang-orang dikenalnya terlebih pada laki-laki yang sekarang berdiri di sampingnya. Tidak ada gunanya, karena yang mengalami itu hanya dirinya sendiri.


"Apakah kau ke sini sendirian?” Tanya Nabil.


Aara lagi-lagi menggeleng, “Aku datang bersama dengan temanku. Dia sedang menunggu di food court.”


“Kau ingin aku mengantarkanmu pada temanmu? Aara, aku sungguh khawatir kau akan pingsan tiba-tiba di tengah jalan.” Kata Nabil dengan nada cemas yang tidak ditutup-tutupi.


Kedua pipi Aara terasa memanas dan dia merasa ingin menutupinya dengan kedua tangannya. Kalau Nabil terus menerus memberikan perhatiannya seperti ini, lama-lama Aara akan semakin jatuh cinta padanya. Sementara Aara sendiri tidak tahu bagaimana perasaan Nabil padanya.


“Aku baik-baik saja, sungguh. Terima kasih sudah membantuku.” Ujar Aara sambil tersenyum menenangkan.


Nabil masih tampak tidak yakin, tapi kemudian dia menyerah, “Baiklah, aku akan pergi dulu. Hati-hati ya.” Ujarnya dengan berat hati.


Aara hanya mengangguk dan tersenyum. Matanya memandang punggung Nabil yang melangkah semakin menjauh. Ponselnya kemudian berdering.


“Ya Lucy?”


“.…”


“Maafkan aku terlalu lama. Tadi aku bertemu dengan seorang teman. Aku akan segera ke sana.”


***


Lucy meniup-niup kedua tangannya yang terasa nyaris membeku karena udara dingin. “Hei, berhentilah menghela napas. Kau membuat suasana menjadi semakin buruk. Ada apa sebenarnya?” Lucy mendecakkan lidahnya dan bertanya dengan nada kesal pada Aara. Bagaimana tidak? Dalam beberapa menit terakhir ketika mereka berjalan pulang dari kampus, Aara sudah menghela napas sebanyak tiga kali, entah apa yang ada di dalam pikiran sahabat mungilnya yang berhijab itu. Biasanya ketika sedang berjalan di pedestrian seperti ini mereka akan membahas banyak hal atau bergosip tentang dosen-dosen menyebalkan yang masuk ke dalam kelas mereka. Tapi sekarang mereka berdua hanya berjalan berdampingan tanpa mengeluarkan suara sepatah katapun.


Aara menghela napas sekali lagi. Menimbang-nimbang apakah dia perlu menanyakan hal yang sudah mengganggu pikirannya belakangan ini.


“Astaga.” Lucy yang berjalan di sampingnya memutar kedua bola matanya, kesal melihat tingkah laku Aara yang menyebalkan.


“Lucy.” Panggil Aara akhirnya. Ya sudahlah, dia akan bertanya pada Lucy, siapa tahu Lucy bisa memberikannya jawaban atas pikiran yang mengganggunya selama ini.


Lucy menolehkan kepalanya ke arah Aara “Ya, ada apa?” Heran dengan nada suara Aara yang terdengar bingung.


“Misalnya kalau kau menyukai seseorang, tetapi kau tidak tahu bagaimana perasaan orang itu padamu. Apa yang akan kau lakukan?” Tanya Aara. Jantungnya tiba-tiba terasa berdegub kencang hanya dengan memikirkan sosok Nabil.


Lucy terkesiap dan hampir menjerit mendengar perkataan Aara barusan. “Astaga, astaga. Apa kau sedang naksir seseorang?” Tanyanya dengan heboh.


Aara mendelik ke arah Lucy yang berbicara dengan nada tinggi. Lucy sepertinya punya masalah dalam mengatur volume suaranya yang besar itu. Tapi sepertinya Lucy tampak tidak peduli dengan hal itu, dia terlalu histeris mengetahui Aara sedang menyukai seseorang. Memang suatu hal yang mengejutkan mengingat tiga tahun pertemanannya dan Lucy, Aara bahkan tidak pernah menyebutkan bahwa dia sedang menyukai seseorang dan menyebutkan nama laki-laki manapun.


Aara hanya menutup kedua wajahnya dengan tangannya seraya mengangguk pelan. “Siapa orang itu? Mengapa kau tidak memberitahuku sebelumnya? Apa dia Ben? Atau Jeremy?” Tanya Lucy sambil menyebutkan nama-nama senior mereka dari jurusan lain.


Aara menggelengkan kepalanya, “Sudahlah, kau jawab saja pertanyaanku barusan. Apa yang akan kau lakukan jika kau ada di posisi itu?”


“Apa dia baik hati?” Tanya Lucy, mengabaikan ucapan Aara barusan.


Aara menganggukkan kepalanya.


“Apa dia tinggi?”


Aara mengangguk lagi. Nabil memiliki tubuh yang tinggi menjulang membuatnya harus sedikit membungkuk setiap kali berbicara dengan Aara.


“Apa dia tampan?”


“Hei, apakah itu ada hubungannya dengan pertanyaanku?”


“Tentu saja ada. Nah, sekarang jawab aku, apa dia tampan?”


Aara menganggukkan kepalanya dengan malu-malu.


“Perfect! Dia baik hati, tinggi, dan tampan. Dia pasti dikelilingi oleh banyak wanita.” Ujar Lucy tanpa ragu-ragu. Seketika membuat wajah Aara menjadi murung. Berarti dia tidak ada kesempatan untuk…pikiran Aara terputus saat mendengar suara Lucy.


“Kalau aku ada di posisi itu, aku akan datang padanya mengakui perasaanku padanya. Kemudian aku akan bertanya padanya tentang perasaannya padaku. Jika dia tidak menyukaiku akan aku buat dia menyukaiku. Laki-laki yang baik hati, tinggi, dan tampan, di mana lagi kita bisa menemukan orang yang seperti itu? Kau harus mengenalkannya padaku, Aara. aku penasaran siapa laki-laki yang sudah berhasil menarik perhatianmu itu.”


Aara hanya terdiam memikirkan kalimat Lucy barusan. Haruskah dia melakukan seperti apa yang dikatakan Lucy? Tapi…itu memalukan…


Mereka sudah sampai di toko kue Bibi Farida. Lucy yang membuka pintu duluan sambil menyapa Bibi Farida. Tapi kemudian dia tiba-tiba berhenti, membuat Aara yang sedang melangkah di belakangnya menabrak punggung Lucy.


“Apa yang kau lakukan?” Bisik Aara sambil mengusap-ngusap dahinya yang terasa sakit. Tapi Lucy tidak menjawab karena sekarang sahabat Aara tersebut berdiri mematung dengan tatapan lurus ke depan.


Aara mengikuti arah pandangan Lucy dan…oh my…


***


“Kak, kau masuk saja duluan, aku akan mengangkat telepon ini lebih dulu.” Ujar Ikram sambil menyentuh ponselnya dan meletakkannya di telinganya.


Nabil hanya mengangguk dan segera turun dari mobilnya. Dia melangkah masuk ke dalam toko yang sudah dia hafal itu dan mendapati Bibi Farida yang sedang mengelap meja.


“Halo, Bibi.” Sapa Nabil dengan ramah. Bibi Farida berbalik dan menatap Nabil sejenak dan sedetik kemudian beliau memukul lengan Nabil dengan pelan.


“Dasar anak nakal! Berani sekali kau datang kemari lagi. Kau membuatku jantungan.” Omel Bibi Farida pada Nabil sambil terus memukul pelan lengan Nabil. Sementara Nabil hanya mengerutkan dahinya, bingung karena tidak pernah melihat Bibi Farida mengomel seperti ini padanya. Sebelum dia sempat bertanya Bibi Farida sudah lebih dulu menyahutinya. “Mengapa kau tidak memberitahuku identitasmu yang sebenarnya. Ya Tuhan, bagaimana kalau waktu itu berbicara hal buruk tentang keluargamu. Anak-anak muda zaman sekarang sungguh aneh.”


Sebuah pemahaman baru masuk ke dalam benak Nabil, membuatnya sadar dan kemudian dia terbahak. Bibi Farida melotot ke arahnya dan kemudian melanjutkan mengelap meja-meja di sana.


“Apa yang kau tertawakan, anak muda?”


Nabil masih tertawa. “Bibi, aku sama sekali tidak berniat menyembunyikannya dari bibi, lagipula bibi tidak pernah bertanya padaku makanya aku tidak pernah membahas tentang hal itu. Aku tidak keberatan jika bibi bercerita hal buruk tentang keluarga kami. Itu bisa jadi bahan masukan bagi kami.” Kali ini Nabil tersenyum lebar memamerkan deretan gigi putih bersihnya.


“Apa saja, Bi. Tolong siapkan dua cangkir ya.” Balas Nabil sambil memutar kepalanya mengamati seluruh isi toko. Toko mungil yang selalu memancarkan kehangatan dan kenyamanan setiap kali dia menghabiskan waktunya duduk di dalam sini. Hmm rasanya- tunggu dulu. Nabil menyipitkan matanya saat tanpa sengaja pandangannya jatuh pada sebuah pajangan di dinding. Di sana ada selembar kertas yang diberi bingkai dan…dan Nabil sangat mengenali tanda tangan yang ada di kertas itu. Perasaannya seketika menjadi tidak enak.


“Wow! Tidak kusangka pemilik toko ini ternyata adalah penggemarku. Dia bahkan memajang tanda tanganku di dinding.”


Tiba-tiba saja Ikram sudah muncul dan mengambil tempat duduk di depan Nabil. Adiknya itu ikut memandang ke arah pajangan di dinding itu dengan tatapan puas membuat Nabil merasa jengah entah kenapa.



“Oh Ya Tuhan, bukan hanya satu, ternyata ada dua putra Pasha di sini. Mimpi apa aku semalam hingga kedatangan dua tamu istimewa di tokoku hari ini.” Bibi Farida muncul dengan dua cangkir minuman di atas nampan.


Ikram tertawa dan kemudian menganggukkan kepalanya dengan sopan untuk menyapa Bibi Farida. Nabil hanya terdiam, masih sibuk dengan pikiran-pikiran yang tiba-tiba saja memenuhi benaknya.


“Apa bibi adalah penggemarku?” Tanya Ikram dengan nada bercanda sambil menunjuk ke arah pajangan yang tergantung di dinding.


Bibi Farida tahu apa yang dimaksud oleh Ikram, beliau kemudian terkekeh sambil menggelengkan kepalanya, “aku terlalu tua untuk memiliki idola. Itu bukan milikku, itu milik Aara dan Lucy yang memaksanya untuk memajangnya di sini. Mereka mendapatkannya dari acara yang kau isi di universitas tempat Aara belajar minggu lalu. Kata Lucy anggap saja kau pernah datang ke sini.”


Ikram tertawa renyah. Sama sekali tidak menyadari raut wajah Nabil yang tiba-tiba saja berubah menjadi mendung.


“Kau ingin makan apa?” Tanya Bibi Farida sambil melangkah ke arah etalase toko. Ikram menyusul di belakangnya sambil menyebutkan nama cream cheese yang sangat ingin dicicipinya sejak lama.


Suara percakapan Ikram dan Bibi Farida tenggelam begitu saja karena Nabil sibuk dengan pikirannya sendiri. Berarti Aara dan Ikram sudah pernah saling bertemu satu sama lain? Nabil mengernyitkan dahinya, menyadari sebersit perasaan tidak suka muncul di hatinya.


Beberapa menit kemudian setelah Ikram kembali ke tempat duduknya dengan dua piring kecil di tangannya, mereka berdua kemudian mendengar suara terkesiap dari arah depan. Nabil mengangkat kepalanya dan mendapati seorang gadis berambut pirang yang sedang menatap kaget ke arah Ikram yang duduk membelakangi pintu, sementara Aara yang berdiri di belakangnya sedang mengusap-ngusap dahinya yang terasa sakit karena menabrak punggung gadis berambut pirang itu. Ikram sendiri sudah berbalik dan menatap ke arah sumber suara. “Oh!” Nabil yakin dia baru saja mendengar suara terkejut dari mulut Ikram walaupun pelan.


Sedetik kemudian gadis berambut pirang itu melangkah cepat ke arah meja Nabil dan Ikram sambil menyeret Aara yang berjalan terseok-seok, berusaha menyamakan langkahnya dengan temannya.


“Astaga, Tuan Ikram. Sungguh suatu kebetulan bertemu dengan Anda di sini. Nama saya Lucy dan saya datang menghadiri acara Anda minggu lalu di kampus bersama teman saya ini. Namanya Aara.” Ujar gadis bernama Lucy itu sambil merangkul pundak Aara yang saat ini terlihat tidak nyaman dengan situasi di depannya. Nabil bisa merasakan Aara memandangnya untuk menegurnya dengan sebuah senyuman malu-malu. Nabil berusaha memaksakan sebuah senyuman di bibirnya. Entah kenapa untuk tersenyum saja saat ini sangat sulit baginya. Padahal hal ini sudah sangat sering dilakukannya.


“Ah ya! Aku mengingat kalian berdua.” Ujar Ikram, dia kemudian menatap penuh minat ke arah Aara sambil berkata, “Selamat datang.” Yang hanya dibalas dengan anggukan kepala oleh Aara. Kali ini Nabil menatap penuh tanda tanya ke arah Ikram dan Aara. Adiknya itu tiba-tiba saja berbicara dalam bahasa negara asal nenek moyang mereka. Ada apa ini? Jangan bilang kalau…


Ikram membungkukkan badannya ke arah depan dan berbisik dengan nada rendah pada Nabil, “Kak, dia Gadis Libanon yang aku maksud.” Kemudian Ikram kembali memasang senyum manis di bibirnya.


Nabil membuang pandangannya ke arah luar kaca toko.



Untuk pertama kalinya dalam hidupnya Nabil menyesali keputusannya untuk membawa adiknya berkunjung ke toko ini.


Nabil tidak menyukai kenyataan bahwa Ikram telah bertemu dengan Aara tanpa dia ketahui. Nabil tidak menyukai kenyataan bahwa Ikram lebih mengetahui negara asal Aara lebih dulu darinya. Dia saja bahkan sudah mengenal Aara lebih dulu daripada Ikram tapi dia bahkan tidak mengetahui apa-apa tentang Aara. Dia tidak menyukai kenyataan bahwa Aara adalah gadis yang sudah menarik perhatian Ikram.


Nabil membenci kenyataan bahwa dia dan Ikram ternyata menyukai gadis yang sama.


Apakah itu artinya dia sekarang harus bersaing dengan adiknya sendiri?


Tiba-tiba saja Nabil mengingat perkataan Jihan waktu itu. Jika dia tidak cepat-cepat mengambil tindakan pada Aara, gadis itu akan direbut oleh orang lain.


“Apa yang Anda lakukan di sini?” Lamunan Nabil buyar saat mendengar Lucy yang bertanya pada Ikram.


Ikram tersenyum kecil sambil menatap ke arah Nabil, “Aku datang ke sini bersama kakakku. Aku sudah lama ingin menyicipi cream cheese lezat yang dibawa oleh adikku beberapa hari yang lalu dan kakakku bilang cream cheese di sini sangat lezat.”


Kali ini Nabil merasakan Aara yang melemparkan tatapan bingung ke arahnya.


Seolah baru tersadar Lucy menoleh dan menatap ke arah Nabil. “Ah, ini pasti Tuan Nabil. Senang bertemu dengan Anda. Saya hampir tidak mengenali Anda karena Anda jarang sekali muncul di muka umum.” Ujarnya sambil tersenyum lebar dan antusias.


Nabil hanya menganggukkan kepalanya sopan dengan rahang yang mengetat keras. Tidak ada senyuman di bibirnya. Nabil yakin dia tidak memiliki masalah dengan pernapasannya tapi situasi sekarang benar-benar membuatnya sesak dan dia sungguh tidak menyukai dengan apa yang dia rasakan sekarang.


“Kalau begitu, kami ke belakang dulu, Tuan-tuan. Selamat menikmati hidangannya.” Kali ini Aara bersuara dan tanpa menunggu jawaban, dia menarik lengan Lucy meninggalkan Ikram dan Nabil dalam suasana yang hening.


“Bibi itu tadi bilang pastry yang ini dibuat oleh Aara. Pantas saja rasanya sangat lezat.” Ikram terkekeh sendiri sambil menyuap sesendok cream cheese ke dalam mulutnya.


Memangnya kenapa kalau Aara yang membuatnya? Nabil mendengus kasar. Kali ini Ikram menyadari ada yang aneh dengan Nabil.


“Ada apa, Kak? Kau baik-baik saja? Hari ini kau lebih pendiam dari biasanya.”


Nabil memejamkan matanya dan menghela napas dengan pelan, berusaha meredam emosi dalam dadanya. “Aku tidak apa-apa.” Katanya dengan tenang. Tangannya meraih cangkir berisi teh beraroma apel dan menyesapnya dengan pelan.


Ikram berdiri kemudian mengeluarkan botol obat kemarin dari dalam saku coat-nya dan meletakkannya di atas meja. “Kau saja yang simpan obat ini, Kak. Tidak ada gunanya aku menyimpannya. Ngomong-ngomong aku harus segera kembali ke Berlin sekarang. Ada banyak pekerjaan yang menungguku.”


Nabil menganggukkan kepalanya, “hati-hati di jalan. Sampaikan salamku pada ayah dan ibu.”


“Pasti, Kak. Kau juga hati-hati. Aku pergi dulu.” Ikram melangkah ke arah etalase toko dan mengambil sebuah plastik berisi cream cheese pesanannya tadi untuk dibawa pulang.


Nabil menghembuskan napas sambil menatap tanpa minat pada botol obat yang ditinggalkan oleh Ikram tadi. Dia kemudian menyadari Aara muncul dari arah dapur menggunakan apron merah mudanya dengan senampan cookie di tangannya. Gadis itu juga tampak menyadari Nabil yang kini duduk sendirian.


“Eh, Tuan Ikram sudah pulang?” Tanya Aara pelan. Pertanyaan itu berhasil membangkitkan rasa kesal dalam diri Nabil. Mengapa Aara harus peduli tentang Ikram padahal Nabil yang ada di sini, sedang duduk dan mengawasinya?


“Sudah.” Balas Nabil dengan nada datar. Dia tidak peduli jika Aara barusan menatapnya dengan pandangan bingung mendengar nada suaranya yang tidak terdengar ramah sedikitpun.


Nabil kemudian teringat sesuatu.


“Aara, kemarilah dan duduk di sini. Ada yang ingin aku tanyakan padamu.” Katanya dengan nada serius. Aara masih menatap ke arahnya dengan pandangan bingung. Tapi kemudian gadis itu memutuskan untuk meletakkan nampan yang tadi dipegangnya dan melangkah ke meja Nabil.


Nabil hanya diam sambil menatap ke wajah Aara dengan pandangan meneliti, sama sekali tidak menyadari perbuatannya yang membuat Aara menjadi salah tingkah.


“Bagaimana keadaanmu? Kau sudah merasa baikan?” Tanya Nabil.


“Aku baik-baik saja.” Balas Aara sambil menundukkan kepalanya.


Masih jelas di ingatannya pertemuannya dengan gadis itu kemarin di mal. Ketika sedang berjalan ke arah sebuah toko sepatu, Nabil tanpa sengaja menatap ke arah seorang gadis yang hampir ambruk di tengah keramaian. Tanpa pikir panjang dia segera menghampiri gadis itu dan menahan lengannya. Jantung Nabil terasa mencelos ketika mengetahui bahwa gadis yang hampir ambruk itu adalah Aara. Wajah Aara sangat pucat dan tubuhnya bergetar. Gadis itu tampak kesakitan. Membuat Nabil juga seolah ikut merasakan kesakitan itu. Dia belum pernah melihat Aara dalam keadaan sangat lemah begini. Jika saja Nabil terlambat datang, tubuh mungil Aara mungkin benar-benar sudah jatuh terkulai sendirian, tenggelam di antara kerumunan itu tanpa ada yang menyadarinya. Nabil tidak sanggup memikirkan kemungkinan-kemungkinan itu. Yang membuatnya merasa aneh adalah perkataan Aara tentang betapa sering dia menghadapi keadaan menyakitkan seperti itu. Apakah Aara mengidap suatu penyakit yang serius?


Nabil mengarahkan kembali pandangannya ke arah Aara dan mendapati gadis itu sedang mengamati botol obat di depannya tanpa henti. Lagi-lagi perasaan tidak enak menjalar dalam diri Nabil.


“Apakah botol obat ini milikmu?” Tanya Nabil langsung, membuat Aara terperanjat mendengar perkataannya. Gadis itu tidak menjawab. Tapi itu sudah cukup membuat Nabil yakin bahwa botol obat itu benar-benar milik Aara.


Nabil memejamkan kedua matanya. Hatinya terasa sakit. Ya Tuhan, apakah Aara-nya sedang menderita suatu penyakit? Bagaimana jika itu penyakit yang serius dan Nabil terlambat mengetahuinya? Atau apakah Aara sedang menderita depresi yang berat?


Nabil kemudian mengambil botol obat itu dan mencengkramnya dengan erat, “Aku akan mengembalikannya padamu asal kau memberitahuku tentang penyakitmu.” Katanya dengan nada menuntut.


Aara menatapnya dengan pandangan datar. Terlihat jelas bahwa gadis itu tidak tertarik untuk membicarakan tentang penyakitnya pada Nabil.


“Aara.” Panggil Nabil saat dia melihat Aara masih tidak bergeming di tempatnya.


“Aara, the apple of my eyes…” Kata Nabil lagi dengan nada lembut yang mengantung. Dia tersenyum kecil saat menyadari kedua pipi gadis itu merona mendengar panggilan yang baru diberikan oleh Nabil barusan.


“Aku berhak tau tentang dirimu. Sekarang beritahu aku tentang penyakitmu.” Nabil menatap dengan pandangan menunggu pada Aara yang kini tengah menundukkan kepalanya, menatap ke arah meja.


“Aku mengalami gangguan kecemasan.” Ujar Aara dengan perlahan.


Nabil kini merasa sedikit lega. Setidaknya Aara tidak mengalami depresi seperti yang dipikirkannya barusan. “Sudah sejak kapan?”


“Empat tahun yang lalu. Tapi belakangan ini aku lebih sering mengalaminya. Dokter bilang aku mengalami sedikit gangguan pada system syaraf tapi itu tidak berbahaya. Hanya saja, yah aku harus mengalami kesakitan setiap kali serangan panik melandaku.”


Untuk beberapa saat Nabil tidak segera menjawab. Dengan isyarat dia meminta Bibi Farida mendekati meja mereka. Bibi Farida yang terlihat bingung hanya menurut dan kini berdiri di samping meja Nabil. Aara tidak menyadarinya karena gadis itu masih menundukkan kepalanya.


“Aara. Tatap aku.” Panggil Nabil dengan penuh perasaan. Dia menyukai memanggil nama Aara dan hanya dia satu-satunya yang boleh memanggil nama gadis itu dengan cara begitu.


Aara mendongakkan kepalanya dan menatap ke arah Nabil dengan pandangan penuh tanda tanya.


“Menikah denganku ya?”


Aara tampak terperangah mendengar kalimatnya barusan. Termasuk Bibi Farida yang menjadi saksi lamaran Nabil yang serba cepat dan mendadak itu.


“Apa kau bilang?” Tanya Aara untuk memastikan pendengarannya.


“Aku memintamu untuk menikah denganku dengan Bibi Farida yang menjadi saksi atas lamaranku padamu.” Balas Nabil dengan nada santai.


Sedetik kemudian dia terperanjat saat Aara tiba-tiba saja bangkit dengan gerakan cepat dari kursinya dan menatap penuh marah pada Nabil. Wajahnya memerah karena merasa sangat terhina. “Apa kau sudah gila? Kalau kau menikahiku hanya karena kau merasa kasihan pada penyakitku, maka sebaiknya kita tidak usah bertemu lagi. Lagipula penyakitku tidak separah itu hingga kau perlu untuk mengasihaniku dan menikahiku. Pergilah. Aku tidak ingin melihatmu di sini. Jangan pernah lagi muncul di hadapanku.”


Nabil terpana ketika mendapati kedua mata Aara yang indah berkaca-kaca dan siap jatuh menetes di pipinya. Aara menangis dan itu karena dirinya. Tiba-tiba saja Nabil merasa sangat brengsek dan membenci dirinya sendiri. Dia membuka mulutnya, ingin membalas Aaraa dan mengatakan bahwa dia serius dengan perkataannya untuk menikahi Aara. Tapi sialnya tidak ada satupun kalimat yang berhasil keluar dari mulutnya.


Aara berlari ke arah belakang meninggalkan Nabil yang menatap punggungnya dengan pandangan nanar.


Sungguh, menyakiti Aara adalah hal terakhir yang akan dilakukannya dalam hidupnya.


[1] Kira-kira Rp. 1.739.407 (bergantung pada kurs yang berbeda setiap hari)