The Man Who Loves Pastry

The Man Who Loves Pastry
Fünf (5): Nama Kakak Siapa?



Selamat Membaca 😆


.


.


.


"Nama kakak siapa?" Tanya Daleela dengan pelan. Dia masih sibuk menikmati pastry di tangannya. Mulutnya berlepotan yogurt membuat siapa saja yang melihatnya merasa gemas.


Nabil tersenyum "Panggil kakak, Kak Nabil."


"Kak Nabil kenapa bisa mengerti bahasaku? Kakak juga datang dari Syria? Apakah kakak juga diadopsi sama sepertiku?" Tanya Daleela lagi tanpa mengalihkan pandangannya dari makanannya.


Keheningan segera menyelimuti ruang tamu rumah tersebut. Pertanyaan terakhir Daleela berhasil menciptakan keheningan yang mencekam.


Nabil memutuskan untuk hanya menjawab pertanyaan pertama Daleela. "Karena nenek dan kakek kakak berasal dari ElMaghrib," gadis kecil itu hanya mengangguk-angguk tanda mengerti.


"Apakah Daleela suka tinggal di sini?" Kali ini giliran Nabil yang bertanya. Dia harus bisa memancing Daleela untuk mengatakan apa ketakutan terbesar gadis kecil itu, agar tidak ada lagi nantinya ketakutan apapun yang terpendam dalam dirinya yang menyebabkan traumanya menjadi semakin mendalam. Sejauh ini Daleela masih bisa diajak berkomunikasi dengan mudah. Terima kasih untuk strawberry parfait lezat dari Toko Rainbow Cakes yang sudah berhasil mengalihkan perhatian Daleela.


"Suka. Daleela suka tinggal di sini. Di kamp Daleela tidak punya siapa-siapa. Daleela sendirian. Di sini Daleela senang bisa bersama papa dan mama. Papa dan mama sangat baik dan sayang pada Daleela. Tapi Daleela juga rindu rumah. Rindu ayah dan ibu...."


Ting.


Sendok yang tadi digunakan Daleela untuk menikmati strawberry parfait nya jatuh ke lantai. Disusul dengan bunyi pastry itu yang kini sudah terlihat menyedihkan karena jatuh berserakan di lantai.


Tiba-tiba saja Daleela berteriak histeris sambil menutup kedua telinganya. "Ayaaaahhh....ibuuuuu." Gadis kecil itu luruh dari pangkuan Nabil ke lantai dan terbaring. Bunyi ledakan bom dan letusan senjata api seolah terdengar keras, seperti ada yang memutarnya berulang ulang di kepala dan telinganya. Dia berteriak-teriak meminta tolong. Kedua tangannya yang mungil menggapai-gapai ke atas, seolah berharap seseorang menariknya keluar dari reruntuhan yang menimpanya. Peperangan dan ledakan itu...seperti dia dipaksa kembali untuk melihatnya. Kedua mata bulatnya yang lucu basah oleh air mata yang mengalir deras. Pandangannya dipenuhi oleh teror ketakutan yang luar biasa. Pandangan itu tepat mengarah pada Nabil yang sedang duduk di kursi di depannya.


Zeyneb sudah menangis dalam pelukan Deniz. Dia menenggelamkan kepalanya ke dada suaminya. Tidak sanggup melihat penderitaan putri kecilnya yang malang.


Deniz yang melihat Daleela sudah jatuh tertidur segera bergerak dan menggendong putrinya itu ke kamarnya. Zeyneb melangkah di depannya untuk menyiapkan kamar Daleela, sementara Nabil menyusul di belakang mereka.


"Apakah dia akan baik-baik saja?" Tanya Zeyneb ketika selesai menyelimuti Daleela. Kedua mata perempuan itu masih basah dan hidungnya memerah karena sisa tangisnya tadi. Deniz merangkulnya, berusaha menenangkannya.


Nabil mengangguk. "Dia akan baik-baik saja. Tuan dan Nyonya tidak perlu khawatir. Ini hal yang normal. Daleela masih sangat kecil. Sulit baginya untuk mengontrol emosi dan pikirannya. Cepat atau lambat dia akan bisa melewati masa-masa ini. Dia akan bisa menerima dan mengatasi rasa takutnya dengan perlahan." Nabil berhenti sejenak, menatap ke arah Daleela yang sudah tertidur dengan tenang. Dia kemudian melanjutkan kalimatnya.


"Selama cinta dan kasih sayang selalu tercurahkan untuknya dia akan bisa menerima masa lalunya dengan baik. Karena dia akan sadar bahwa dia tidak sendirian. Dia mempunyai orang tuanya yang akan selalu bersama-sama dengannya untuk melewati masa-masa berat ini. Saran saya, tolong Tuan dan Nyonya bimbing dia untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang positif setiap harinya. Itu akan sangat membantu memulihkan luka psikisnya."


"Terima kasih banyak, Dokter. Kami akan melakukan saran dari dokter dengan sebaik mungkin." Ujar Deniz.


Nabil menganggukkan kepalanya "Di sesi terapi selanjutnya, saya akan pastikan dia tidak akan menjerit histeris lagi seperti tadi." Nabil mengakhiri kalimatnya sebelum akhirnya dia berpamitan untuk pulang.


Ketika sampai di dalam mobilnya, Nabil menyandarkan kepalanya di kemudi kendaraan itu. Dia menghela napas panjang. Tiba-tiba saja dia merasakan lelah yang luar biasa di tubuhnya. Yang barusan itu lebih banyak menguras emosinya sehingga otaknya menjadi cepat letih membuat tubuhnya mau tak mau merasakan hal yang sama. Laki-laki itu meraba-raba tasnya tanpa mengangkat kepalanya dari kemudi. Tangannya kemudian meraih sebungkus permen karamel yang segera di masukkan ke dalam mulutnya. Efek manis permen itu membuatnya menjadi sedikit rileks.


Daleela adalah pasien pertamanya yang masih di bawah umur. Sebagian diri Nabil merasa frustasi dan khawatir. Frustasi karena tadi dia tidak bisa melakukan apapun untuk mengurangi ketakutan gadis kecil itu, dan khawatir kalau-kalau dia tidak bisa membantu Daleela untuk pulih.


Nabil menarik napas dalam-dalam dan membuangnya dengan perlahan. Dia menghidupkan mesin mobilnya dan melajukan menjauhi kediaman Daniz dan keluarganya. Malam ini dia akan berolahraga di gym.


Dia perlu menenangkan dirinya.


Bersambung


*El Maghrib: Sebutan bagi Negara Maroko (Bahasa Arab)


Jangan lupa like dan komennya yaa, biar aku makin semangat buat update ^^


Terima kasih sudah membaca :D