The Man Who Loves Pastry

The Man Who Loves Pastry
Sechs (6): Panic Disorder



Selamat membaca 😆


.


.


.


Lonceng di pintu Toko Rainbow Cakes berbunyi disusul dengan sebuah suara yang terdengar sangat akrab. "Selamat pagi, Bibi Farida. Apakah Aara ada?" itu suara milik Lucy, sahabat Aara di kampus.


...



...


"Ada. Dia sedang di kamar mandi. Sebentar lagi dia akan datang." Balas Bibi Farida sambil memeluk sahabat keponakannya itu.


Gadis berambut pirang itu mencium pipi Bibi Farida dan duduk di salah satu kursi di dlam toko. Lucy adalah gadis asal Berlin dan merupakan orang Jerman satu-satunya yang dekat dengan Aara. Dia sudah berteman dengan Aara sejak hari pertama mereka belajar di kampus. Sejak saat itu Lucy sangat rajin mengunjungi Aara di toko milik Bibi Farida. Lama kelamaan dia juga menjadi akrab dengan bibi sahabatnya itu.


Bibi Farida melangkah mendekat ke arah Lucy dengan sebuah piring tangannya. "Ayo. Kau bisa sarapan dulu sambil menunggu Aara." Katanya sambil menyodorkan sepiring kartoffelsalat di hadapan Lucy.


...



...


Kartoffelsalat adalah sejenis salad kentang yang merupakan salah satu hidangan sarapan wajib yang biasa dinikmati oleh kebanyakan penduduk Jerman. Biasanya disantap sebagai pendamping barbeque atau fillet ayam goreng tepung. Lucy menyendok salad itu dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Dia mendesah nikmat ketika rasa lezat dari salad itu memanjakan lidahnya. "Seperti biasa memang masakan bibi yang terbaik. Aku kagum sekali, bibi bahkan bukan orang Jerman asli tapi bisa membuat hidangan ini dengan rasa yang sangat pas." Dia tidak bisa menyembunyikan nada penuh kekaguman dalam suaranya.


Bibi Farida tertawa renyah mendengar pujian dari Lucy. "Aku sudah tua untuk mendengar pujian manis tersebut, tapi terima kasih banyak, Sayang." Katanya dengan nada tulus.


"Aku sudah siap." Tiba-tiba saja Aara sudah muncul di dekat mereka. Lucy segera menghabiskan saladnya dan bangkit dari duduknya. "Terima kasih atas sarapannya, Bibi. Kami berangkat dulu ya." Ujarnya sambil memeluk Bibi Farida lagi sebelum menghilang di balik pintu toko. Dia menunggu Aara di luar.


"Bibi, aku pergi dulu ya." Aara juga berpamitan sambil berjalan ke arah pintu.


"Kau sudah membawanya kan?" Seperti biasa bibinya mengingatkan hal penting yang harus selalu dibawanya saat bepergian.


Aara menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lebar. "Sampai jumpa nanti, Bibi."


"Kita harus bergegas. Aku tidak ingin kita terlambat di acara workshop ini." Ujar Lucy saat mereka sudah melangkahkan kaki berjalan di atas trotoar. Kampus mereka tidak terlalu jauh. Cukup berjalan selama 7 menit dan mereka akan segera sampai di gerbang kampus. Hari ini memang ada sebuah workshop penting yang para mahasiswa harus hadiri. Setiap dua kali setahun kampus mereka akan mengadakan workshop dan wawancara dengan orang-orang penting di negara ini. Entah bagaimana caranya pihak kampus mendatangkan orang-orang penting yang sudah pasti untuk makan saja mereka kesulitan mencari waktu saking sibuknya dengan perusahaan yang harus terus mereka kembangkan.


Minggu lalu sejak pengumuman workshop ini diadakan seluruh kampus seketika heboh. Pembicaraan tentang tamu penting yang akan menghadiri workshop in seketika menjadi topik paling hangat yang diperbincangkan di setiap sudut kampus. Para dosen dan mahasiswa tampak tidak sabar menyambut workshop kali ini. Tampaknya euphoria ini juga dirasakan oleh Lucy yang dia kenal sebagai orang yang cuek dengan workshop. Menurut Lucy, workshop dan wawancara bersama orang-orang sukses itu adalah hal yang membosankan. Setiap dua kali dalam setahun mereka akan mendengarkan hal yang sama terus menerus, tentang bagaimana perjalanan karir orang-orang tersebut dalam meraih kesuksesan. Semua inti pembicaraan adalah sama hanya saja pembicara yang diundang berbeda.


"Tampaknya kau sangat tertarik dengan acara workshop yang ini. Biasanya kau bahkan tidak melirik acara workshop apapun yang diadakan di kampus. Ada apa ini?" Tanya Aara dengan nada penuh menyelidik pada sahabatnya itu.


Tiba-tiba saja Lucy memegangi sebelah lengan Aara, membuat langkahnya menjadi terhenti. "Kau gila?! Bagaimana mungkin aku tidak tertarik dengan yang ini?" Lucy nyaris memekik saat mengucapkan kalimat tersebut. Beberapa pejalan kaki yang melewati mereka menoleh sekilas ke arah mereka tapi kemudian kembali tidak acuh. Mungkin mereka sedikit terkejut dengan suara Lucy tadi.


"Hei, apa yang kau lakukan? Orang-orang melirik kita." Ujar Aara dengan nada kesal. Lucy membuatnya malu.


Lucy mendecakkan lidahnya. Terlihat tidak peduli dengan keributan kecil yang tadi dia ciptakan. "Oke, maafkan aku. Tapi...astaga! Kau ini bodoh atau apa? Hari ini pembicara workshopnya ialah putra kedua pemilik perusahaan Mc Tech, Ikram Ibrahim Pasha. Dia adalah wakil direktur utama dari perusahaan itu. Perusahaan komputer dan software terbesar di dunia milik Keluarga Pasha yang berbasis di Berlin." Lucy mengeluarkan sebuah majalah dari dalam tasnya. Dia membukanya dengan terburu-buru. Aara tahu majalah itu. Golden Time Magazine, majalah bisnis yang terkenal di Amerika Serikat. Dia tahu majalah itu karena pernah menggunakannya sebagai referensi untuk tugas kuliahnya.


"Tahun lalu dia dinobatkan sebagai orang muda nomor dua paling berpengaruh di dunia bisnis menurut majalah Golden Time." Lucy menunjuk gambar seorang laki-laki muda berstelan formal sedang tersenyum kecil ke arah kamera. Aara melirik ke arah gambar yang ditunjuk oleh Lucy. Dahinya berkerut samar. Dia memang sama sekali tidak tahu Keluarga Pasha apalagi tentang putra kedua yang disebut sebagai wakil direktur itu. Aara yakin bahwa ini kali pertamanya dia melihat foto Ikram. Tapi kenapa rasanya wajah orang ini familiar bagi Aara? Rasanya ada seseorang yang memiliki wajah yang seperti ini. Dimana dia pernah melihatnya ya?


"Dia sangat tampan. Ayo, kita harus buru-buru. Aku sudah menyiapkan sebuah buku untuk meminta tanda tangannya nanti. Kau juga harus ikut." Ujar Lucy sambil menyentak tangan Aara untuk mempercepat langkah kaki mereka.


***


Diam-diam Aara meletakkan tangannya di mulut saat dia menguap. Dia memandang ke kanan dan kirinya. Termasuk kepada Lucy yang duduk di sebelahnya. Semua orang tampak serius mendengarkan pembicaraan Ikram Ibrahim Pasha, wakil direktur perusahaan Mc Tech. Entah memang perasaan Aara saja atau memang dia satu-satunya orang yang berharap workshop ini segera berakhir. Dia merasa lelah dan ingin mencuci muka. Semalam dia hanya tidur empat jam karena menyelesaikan tugas kuliahnya.


Tiba-tiba saja kedua telinganya mendengar tepuk tangan dari para hadirin workshop disertai dengan sorakan dari para mahasiswi yang memenuhi aula besar itu. Mereka sudah seperti menghadiri konser musik saja.


Apa yang terjadi?


Bersamaan dengan itu Aara mendengar suara moderator acara yang mengucapkan terima kasih pada sang pembicara disertai dengan kalimat penutup untuk mengakhiri workshop hari ini.


Aara mengipas-ngipas dirinya dengan buku yang ada di tangannya. Hampir sekitar dua puluh menit mereka berdua berdiri menunggu giliran. Aara sudah mulai merasa tidak nyaman dan keramaian ini. Dia tidak pernah menyukai keramaian dan selalu berusaha menghindarinya kalau benar-benar tidak perlu. Tapi dia juga tidak tega untuk menolak Lucy. Dia tidak ingin membuat sahabatnya yang sangat baik padanya itu kecewa karena dirinya. Aara meringis menyadari bahwa dirinya adalah satu-satunya orang yang tidak tertarik untuk mendapatkan tanda tangan di sini. Untunglah beberapa saat kemudian tibalah giliran mereka berdua. Lucy berdiri tepat di hadapan meja Ikram. Seketika saja entah kenapa Aara seolah merasa bahwa Ikram tampak berusaha menyembunyikan lelahnya dan seolah ingin cepat-cepat keluar dari keramaian yang memuakkan ini. Aara bisa membayangkan seberapa lelah tangan dan bibir pengusaha muda itu untuk menanda tangani ratusan kertas yang disodorkan ke arahnya diiringi dengan senyuman ramahnya. Mungkin Ikram bersedia melakukan ini demi menjaga citranya sebagai pengusaha yang ramah dan tidak sombong.



"Senang bertemu dengan Anda, Tuan. Anda keren sekali." Ujar Lucy dengan bersemangat. Tangannya menyodorkan sebuah buku untuk ditanda tangani oleh Ikram.


Mata Aara melihat Ikram yang tersenyum ramah dan mengambil buku yang disodorkan ke arahnya "Terima kasih banyak, Nona." Tangannya mulai bergerak menggoreskan sebuah coretan.


"Dari Ikram untuk..." Tangan Ikram terhenti saat dia tidak mengetahui nama Lucy.


"Lucy. Namaku Lucy." Ujar sahabat Aara itu dengan cepat dengan mata yang berbinar-binar. Kali ini tangan Ikram bergerak menuliskan nama Lucy. Setelah selesai, dia mengembalikan buku itu ke tangan pemiliknya.


"Baiklah ini dia. Senang bertemu denganmu, Nona Lucy." Ujar Ikram lagi sambil tersenyum ramah. Lucy mengangguk sambil tersenyum lebar, dia melangkah maju dan sekarang giliran Aara yang berada di depan Ikram. Gadis itu menyodorkan bukunya sambil tersenyum penuh formalitas. Sejenak laki-laki itu menatap ke arahnya sambil mengangkat salah satu alisnya. Tapi kemudian bibirnya mengulas sebuah senyum lebar yang diyakini Aara sebagai sebuah senyuman yang benar-benar ingin dilakukan Ikram.


Ikram tidak langsung menanda tangani buku Aara. "Dari ElMaghrib?" Tanya Ikram tiba-tiba. Membuat Aara terperangah saat menemukan fakta bahwa laki-laki itu bisa berbicara bahasa ibunya dengan lancar. Tapi Aara berusaha menyembunyikan ekspresinya. Dia menggelengkan kepalanya. "Lubnan," katanya dengan nada tenang.


Ikram tersenyum lebar seolah mendapatkan sebuah hiburan di antara kegiatannya yang melelahkan ini. Terlihat sangat senang seolah baru bertemu dengan teman lamanya.


"Kakek dan nenekku berasal dari Maroko. Kami... Amazigh." Ujarnya tanpa perlu repot-repot menyembunyikan nada bangga dalam suaranya.


Aara tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Senang bertemu dengan Anda. Namaku Aara." Dia senang bertemu dengan orang yang sebangsa dengannya. Tapi sepertinya fakta itu tidak cukup berhasil untuk menutupi keinginannya untuk segera cepat-cepat keluar dari ruangan ini. Aara mulai merasakan rasa pusing di kepalanya.


Ikram menggoreskan penanya dari arah kanan untuk pertama kalinya. Membubuhkan sebuah tanda tangan dan menuliskan sebuah kalimat dengan tulisan yang tampak seperti sebuah kaligrafi arab. Sebuah senyum puas tercetak di bibirnya. "Aku senang mengetahui setelah sekian lama aku masih tidak lupa bagaimana cara menuliskan huruf-huruf ini. Semoga harimu menyenangkan." Ujarnya sambil menyerahkan buku itu kembali pada Aara.


"Terima kasih banyak, Tuan." Aara menerimanya dan melangkah ke arah sahabatnya. Dia bisa merasakan Lucy yang berdiri agak jauh di depannya sedang menatap ke arahnya dengan pandangan bingung.


"Kenapa kau lama sekali? Mana, aku ingin melihat milikmu." Ujar Lucy sambil merebut buku Aara tepat ketika sahabatnya itu sudah di sampingnya. Mereka kemudian berjalan keluar dari aula besar tersebut.


Aara hanya mengangkat kedua bahunya melihat tingkah laku Lucy. Dia tidak terlalu peduli dengan hal itu. Rasa pusing di kepalanya semakin menjadi dan sekarang disertai dengan rasa mual yang mengaduk-ngaduk perutnya.


"Kenapa punyamu berbeda denganku. Huruf apa ini? Aku sama sekali tidak mengerti." Tanya Lucy dengan dahi berkerut sambil melihat tanda tangan Ikram di buku Aara.


Aara tidak menjawab. Dia terlalu fokus dengan rasa sakit yang sekarang dirasakannya.


"Kau ingin bertukar buku denganku? Aku ingin memiliki yang satu ini. Meskipun kau tidak mengerti arti tulisan ini tapi tanda tangan yang ini lain dari yang lain." Ujar Lucy sambil menyeringai.


"Kau bahkan tidak mengerti tulisan itu. Kalau kau mengambilnya apa gunanya bagimu?" balas Aara dengan senyum mengejek. Lucy menghela napas dan berkata dengan nada menyerah. "Baiklah, kau benar. Aku tidak bisa membacanya berulang kali. Kalau begitu kau harus memajang ini di toko Bibi Farida. Anggap saja Tuan Ikram memang benar-benar mengunjungi toko itu." Lucy terkikik, merasa geli dengan kalimatnya sendiri. Dia melirik ke arah Aara di sampingnya yang hanya diam dan tampak kesakitan.


"Hei, kau baik-baik saja? Wajahmu pucat sekali." Tanyanya dengan nada khawatir. Aara memaksakan sebuah senyuman di bibirnya. "Aku baik-baik saja. Kau pulang lah duluan. Masih ada urusan yang harus aku selesaikan di sini."


"Kau yakin tidak apa-apa?" Tanya Lucy dengan nada ragu. Aara benar-benar tampak kesakitan, mana mungkin dia tega meninggalkan sahabatnya itu sendirian. Tapi Aara bersikeras dan mengatakan bahwa dia baik-baik saja. Akhirnya Lucy mengalah dan berpamitan padanya sambil berpesan agar Aara berhati-hati di jalan dan menghubunginya jika terjadi sesuatu padanya.


Ketika Lucy melangkah menjauh darinya, Aara membalikkan badannya mencari kamar mandi dan segera menghampiri sebuah wastafel di sana. Dorongan untuk muntah dan mengeluarkan isi perutnya membanjiri dirinya. Tetapi hanya cairan bening yang keluar dari mulutnya. Jantungnya berdebar-debar tak terkendali dan seluruh tubuhnya bergemetar. Aara jatuh merosot di lantai kamar mandi sambil memegangi dada kirinya yang terasa nyeri. Dengan sisa tenaganya dia menggapai tasnya, mencari-cari obat yang biasa dia gunakan jika dia berada dalam situasi seperti ini. Dalam waktu tertentu, ketika dia mengalami situasi ini tubuhnya terasa seperti mati rasa dan melayang. Bagi penderita gangguan serangan panic seperti dirinya, obat antidepres sangat membantu untuk mengurangi serangan paniknya.


Kosong. Dia tidak menemukan obatnya. Dimana benda itu? Dia yakin dia telah memasukkannya ke dalam tasnya tadi pagi.


Napas Aara terputus-putus, seolah dia kehabisan udara untuk bernapas. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Tidak ada siapa-siapa yang bisa menolong.


Perlahan Aara merasakan sekelilingnya menjadi gelap dan kesadarannya makin menipis. Kedua matanya mulai tertutup. Tubuhnya terasa ditelan oleh kegelapan.


Inikah waktunya? Apakah dia akan mati?


Bersambung


Bonus gambar Abang Ikram :D



Jangan lupa like dan komennya biar aku makin semangat buat update 😃


Terima kasih sudah membaca 😆