The 30'S Club

The 30'S Club
Chapter 9



Chapter 9 : Ku Harap Tak Bertemu Pria Sepertinya Lagi!


Sebuah nomor baru mengirimku pesan “Boleh aku menelpon?” 


Nomor siapa ini batinku, ini jelas bukan nomor Jae Yoon. Meskipun telah menghapus kontaknya, nomornya masih kuingat dengan baik di otaku. Ponselku berdering terpaksa ku angkat.


Halo Bit Na ini aku Ahn Min Woo


Ah, Min Woo Ssi


Aku mendapat nomormu dari teman kantormu Jung Bo Ra. Aku ingin mengajakmu makan malam. Kalau kau tak keberatan temui aku di cafe 30’s pukul tujuh malam nanti


Ah, tentu saja. sampai bertemu di sana.


Malam itu aku bertemu Ahn Min Woo di tempat kencan. Pertemuan kedua kami jauh lebih hangat dari pertemuan pertama. Min Woo memberiku kado sebuah kalung emas lengkap dengan surat-suratnya. 


Dengan nada becanda Min Woo mengatakan aku bisa menjualnya kapan saja, harganya tak mungkin turun. 


Tentu saja aku menyambut tawaran Min Woo dengan baik. Aku mengatakan kalung ini pasti ku jual, ku lihat Min Woo tertawa keras. 


“Kau tidak basa-basi,” ujar Min Woo


“Tentu. Kalung ini emas murni, harganya pasti terus naik,” ujarku yakin.


“Kau punya pacar?,” tanya Min Woo


“Ah, aku baru saja putus,” ujarku jujur.


“Kenapa?,” tanya Min Woo serius.


“Aku mengajaknya menikah lalu dia hilang tanpa kabar,” ujarku.


Min Woo mengangguk mengerti. 


“Kau bertanya alasannya?,” kejar Min Woo lagi.


“Dia tak mau menjawab,” ujarku masih menatap kalung pemberian Min Woo.


Min Woo menebak ciri-ciri lelaki yang membuatku patah hati, secara mengejutkan ciri-ciri itu sama persis dengan Jae Yoon.


“Dari mana anda tahu?,” tanyaku kaget.


“Dia ada di belakangmu,” tunjuk Min Woo


Aku melihat ke arah yang ditunjuk Min Woo, Jae Yoon sedang menatapku ekspresinya tak mampu ku baca. 


Lebih dari pada itu, aku lebih penasaran kenapa Jae Yoon ada di tempat kencan. Aku mencari-cari pasangannya tidak ada, sedangkan Jae Yoon sudah meninggalkan cafe.


“Tak usah pedulikan dia,” ujarku.


“Kami sudah putus,” tambahku lagi.


Aku menyimpan kalung pemberian Min Woo dengan hati-hati, menjaga agar barang itu aman pada tempatnya.


“Makanannya sudah datang,” ujar Min Woo mengajakku makan.


“Apa pendapatmu tentang pernikahan?,” tanya Min Woo, ada rasa ingin tahu yang besar dibalik pertanyaannya.


“Melakukan semuanya bersama, selalu setia dalam untung dan malang, dan melewati semua masalah bersama. Intinya membangun masa depan bersama dan melanjutkan keturunan,” ujarku yakin.


Kulihat dahi Min Woo berkerut, tampaknya dia tak setuju atau kurang puas dengan jawabanku.


“Ada lagi, beritahu aku alasan yang lebih masuk akal,” ujar Min Woo sambil menyesap minumannya.


“Ku rasa alasanku cukup jelas, kalau dijabarkan akan panjang lebar,” ujarku lagi.


“Kalau jawabanmu seperti itu tentu saja laki-laki tidak akan berpikir untuk menikah. Tinggal serumah saja cukup, tanpa perlu ikatan pernikahan,” ujar Min Woo lambat.


“Tentu saja harus ada ikatan yang jelas jika ingin tinggal serumah, pacaran saja tak cukup,” balasku.


Alisku meninggi, mataku membelalak seolah pendapat Min Woo adalah pendapat paling salah yang pernah ku dengar.


“Kenapa wanita selalu membicarakan pernikahan tapi tak mampu menjelaskan alasannya. Sedangkan kami pria butuh lebih dari sekedar melewati untung dan malang bersama, kami perlu uang yang banyak untuk menafkahi istri kami. Sebelum memutuskan membawa orang lain hadir ke dunia, kami perlu mempersiapkan rencana yang matang dan tabungan yang banyak,” cecar Min Woo


“Tidakkah itu membuatmu khawatir?,” tanya Min Woo


“Tidak,” jawabku tegas. 


“Aku memiliki tabungan, rencana pernikahan, dan masa depan anakku bahkan aku telah mempersiapkan tabungan pensiun. Yang perlu pasangan kami lakukan adalah bertanya dan berdiskusi,” ujarku jengkel. 


Min Woo lagi-lagi tertawa keras. Sikapnya membuatku kebinggungan. Aku terus berbicara tentang pandanganku terhadap pernikahan, Min Woo tak berhenti tertawa setiap aku selesai berbicara. 


Pantas saja dia belum menikah, ternyata memang tak punya niat untuk serius batinku mencibir gaya Min Woo.


“Terima kasih untuk malam ini. Kita sebaiknya jangan bertemu lagi,” ujarku ketus. 


Lagi-lagi Min Woo tertawa. Dalam nada bercanda dia bilang dalam waktu dekat aku pasti menghubunginya.


Kami berpisah di halte bus, aku menolak melambaikan tangan padanya melainkan tunduk melihat ponselku saat Min Woo mengucapkan perpisahan. 


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hay semua, aku penulis pemula Artemis. Setelah sekian lama bermeditasi aku akhirnya melanjutkan novel ini. Ini novel tema Korea pertama yang ku buat, semoga kalian suka .... Terima kasih sudah mampir ...