The 30'S Club

The 30'S Club
Chapter 7



Chapter 7 : Jangan Muncul Dihadapanku Lagi.


Aku memandang jalanan yang dipenuhi salju, lagu natal bergema di mana-mana bahkan hiasan perusahan kami dipenuhi pernak-pernik natal. 


“Selamat natal” ujar Seola, dia mengenakan bando tanduk rusa.


“Haiss” cibir ku bosan.


Aku mengenakan topi sinterklas, sedangkan Bo Ra mengenakan hidung rusa. Seola yang jahil menggambar wajah Bo Ra dengan kumis rusa yang tampak seperti tikus di mataku.


“Malam ini siapa yang mau ikut aku ke perayaan Natal 30’s” ujar Bo Ra menyebut event yang diadakan cafe, tempat kami kencan buta. Natal resmi diadakan besok, mengingat banyak orang akan berlibur acaranya dimajukan satu hari lebih awal.


“Aku tidak ikut” ujarku menggerak-gerakan leher yang kaku mengejar target akhir tahun.


Seola memijat pelan bahuku. 


“Manajer kami harus ikut” ujar Bo Ra.


Aku menggeleng lemah, sudah waktunya aku bersantai sambil memikirkan resolusi untuk tahun depan.


“Baiklah, aku akan pulang lebih awal” ujar Seola berpamitan.


“Ck, apa senior copywriter sesantai itu?” cibir Bo Ra pada Min Seola yang melenggang santai meninggalkan kantor.


“Sekarang sudah jam pulang, kau juga pulanglah” ujarku mengusir Bo Ra.


“Bagaimana denganmu?” tanya Bo Ra.


“Aku akan pulang setelah membereskan tugasku. Selagi Dan Gun Woo tak ada, pulanglah” bisikku pada Bo Ra.


Bo Ra mengangguk lalu detik berikutnya menghilang dari ruangan itu.


Aku merapatkan jaket yang dikenakan sambil memeriksa file dan dokumen penting lainnya. Tak sampai sepuluh menit semua pekerjaanku sudah beres dan waktunya aku pulang.


“Ok Bit Na, aku meninggalkan sesuatu. Bantu aku mencarinya” teriak Bo Ra heboh.


Aku menurut saja dengan wajah heran. Kami mencari barang yang katanya tak sengaja ketinggalan atau terjatuh milik Bo Ra. Beberapa menit kemudian Bo Ra menerima telepon dari seseorang, dia menjauh dan aku tak mendengar jelas suaranya.


“Bit Na” ujar Bo Ra dengan nada senang.


“Ternyata aku meninggalkan flashdisk di tas yang satunya ada, sekarang tas itu ada di rumah” ujar Bo Ra jahil.


Aku memutar bola mataku malas.


Kami menuruni tangga menuju lobi kantor. Bo Ra menggandeng tanganku. Sesampainya di lobi ku lihat raut wajah Bo Ra berubah. 


“Kau bisa pulang sendiri kan? Sampai jumpa awal tahun” teriak Bo Ra meninggalkanku kebingungan di depan lobi.


Hari semakin sore dan cuaca semakin dingin. Aku merogoh kaus tangan dan memakainya.


“Bit Na” suara halus yang menegurku membuatku mendongak.


“Ayo kuantar pulang” ujarnya 


Aku masih terpaku menatapnya. Menatap wajah yang sudah tiga bulan tak muncul di hadapanku.


Tin, tinn… bunyi klakson mobil di belakang mobil milik Jae Yoon menyadarkanku. Refleks aku membuka pintu mobil Jae Yoon dan duduk di kursi depan.


Jae Yoon basa-basi mengomentari cuaca dan jalanan yang mulai macet. Dia juga berbicara tentang rencana liburan akhir tahun yang dihadiahkan perusahaannya. Wajahnya tampak berseri-seri, tak ada rasa bersalah, seolah tak pernah terjadi apapun antara kami.


Aku menutup mataku, mencoba menetralkan perasaan yang bercampur di dadaku. Kalau saja itu bukan di lobi kantor, aku pasti akan menghujaninya dengan banyak pertanyaan. Tetapi mengigat posisiku adalah manajer dan salah satu kriteria penilaian jabatan adalah etika, tak mungkin aku mengajaknya bertengkar di depan gedung tempatku bekerja. Aku memijat keningku, mengabaikan ocehan tak penting Jae Yoon. 


“Dari mana saja kau?” ujarku dingin.


“Mewujudkan masa depan” ujar Jae Yoon sambil tertawa.


Dia menanggapi pertanyaanku dengan lelucon? Apa aku yang bertanya ini terkesan membuat candaan konyol? Aku diam seribu bahasa, sebaiknya tak menanggapi ucapannya terlalu jauh biar saja dia menikmati kebahagiaannya.


“Aku turun di sini, kau tak perlu ikut” ujarku menghentikan Jae Yoon yang akan membuka seatbeltnya.


Tok tok tok sebuah ketukan di kaca mobil mengalihkan pandangan kami. Jae Yoon menurunkan kacanya yang tampak kabur karena salju.


“Jae Yoon? benar kau Jae Yoon” ujar ibuku gembira.


Ku lihat wajah Jae Yoon berseri. Dia segera turun dan memeluk ibuku.


“Syukurlah kalian baik-baik saja. Aku membawakan oleh-oleh natal untuk Bit Na katanya dia tak ingin pulang tahun ini. Karena aku sudah bertemu kalian, besok datanglah ke rumah. Ibu akan memasak makanan kesukaanmu” ujar ibuku pada Jae Yoon.


“Eoma, dia tak akan datang ke rumah. Kami sudah putus” ujarku menekan kata putus.


Jae Yoon mengerutkan dahinya meminta penjelasan dari kata putus yang ku maksud.


“Aigoo, hentikan sikap keras kepalamu. Jae Yoon, jangan pedulikan sikapnya. Sejak kecil Bit Na memang suka merajuk” ujar Ibuku tertawa kecil.


“Sepertinya badai akan datang, aku harus segera pulang” ibuku pamit pulang.


Jarak rumah dan apartemenku empat jam perjalanan akses ke sana sangat lancar. Jadi aku tak khawatir saat ibu bilang langsung pulang.


“Putus? Apa maksudmu” tanya Jae Yoon.


“Kau menghilang selama tiga bulan tanpa kabar. Lalu datang ke kantorku seolah tak terjadi apa-apa” ujarku berusaha tegar.


Jae Yoon diam, tak ada suara yang keluar. 


“Pergilah, jangan muncul dihadapanku lagi” ujarku setelah tak mendengar jawaban apapun dari Jae Yoon.


Malam itu, jadi malam Natal paling menyedihkan selama tiga puluh dua tahun  hidupku.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...