
Chapter 8 : Sudah Ku Bilang Jangan Muncul lagi!
Aku melihat benda-benda pemberian Jae Yoon dan mengumpulkannya menjadi satu. Semua benda itu sangat bernilai harganya mulai dari sneakers Charles and keith, hingga anting Channel. Aku mengacak-acak rambutku, benda ini tak bisa sembarangan ku buang.
Aku mengusap anting Channel dan mengingat kembali malam itu. Aku menghitung pengeluaran Jae Yoon merayakan ulang tahunku. Dibanding perayaan ulang tahun itu, mengapa dia tak menyimpan uangnya untuk sebuah lamaran sederhana. Memikirkannya seribu kali pun jawabannya cuma satu, Jae Yoon tak berniat melamarku.
Sebuah ketukan halus terdengar di pintu kamarku. Aku segera membukanya, tak ada siapa-siapa hanya bunga kumal yang mulai layu tergeletak di depan pintu apartemenku. Di sana tergantung sebuah notes kecil. The next one. Buket bunga milik Jeon Sul Yeon sudah tak menarik lagi di mataku, lagi pula karena bunga itu Jae Yeon lari ketakutan dan sekarang dia mengirim malapetaka itu kembali padaku.
Aku membuang bunga kumal itu di tong sampah. Siang hari aku menemukan bento berisi satu set makanan jepang yang masih hangat dengan surat permintaan maaf yang ditulis kecil-kecil.
Malam harinya aku lihat SNS Jae Yoon memposting foto bersama keluarga besarku.
“Halo, Ibu apa Jae Yoon sudah pulang?” tanyaku saat ibu menjawab teleponku.
“Kenapa baru bertanya?,” balas ibuku cuek.
“Ibu, kami benar-benar sudah putus,” ujarku dengan nada memelas.
“Kenapa kau membuat keputusan tanpa mempertimbangkan perasaan Jae Yoon. Dia pemuda yang baik,” ujar ibuku.
“Sudahlah, Jae Yoon bisa datang kapanpun dia mau. Kalau bukan denganmu, dengan Ok Soo Jin pun ibu akan merestui." Ibu langsung mematikan telepon sebelum aku sempat bereaksi.
Ok Soo Jin??? Apa ibu sudah gila? Soo Jin adikku satu-satunya baru berumur 23 tahun perbedaan usia mereka terlalu jauh.
“Ah kepalaku!” ujarku memijat kepalaku yang semakin sakit. Migrain ku kambuh, aku mencari ergotamin di kotak obatku. Lalu menegaknya dengan air putih. Perlahan rasa kantuk menyerangku, efek obat ini lumayan kuat. Sakit kepalaku berkurang, tetapi mataku terasa berat.
Prangggg bunyi benda jatuh membangunkanku. Aku segera beranjak dari tempat tidur menuju dapur.
“Sedang apa kau di sini,” tanyaku saat mendapati Jae Yoon menjatuhkan kotak makan aluminium milikku.
“Duduklah, sedikit lagi sup nya matang,”
Aku duduk memperhatikan punggung Jae Yoon.
“Kenapa kau muncul disini?,” tanyaku
“Kenapa kau mengatakan kita sudah putus,” Jae Yoon balik bertanya.
Aku tak suka mengulang kata-kata. Kuputuskan untuk diam. Kalau Jae Yoon merasa hubungan kami penting untuk dipertimbangkan, dia tidak akan bersikap santai dan tidak akan menghindar dariku.
“Nah ini sudah jadi, makanlah yang banyak dan nikmati liburanmu. Aku langsung pulang,” kata Jae Yoon sambil tersenyum ceria.
Setelah kepergian Jae Yoon aku tak memiliki nafsu makan, namun harus ku paksakan. Sup semangkuk besar itu, ku habiskan sambil berderai air mata.
Line
Bunyi nada pesan Line.
Barang-barang itu tidak perlu dikembalikan, buang saja jika tidak dipakai.
Pesan masuk dari Jae Yoon membuatku semakin menderita, ditambah lagi foto profilnya adalah buket bunga kumal yang ku buang ke tong sampah.
Ujung jariku gemetar, sesaat aku ragu, menghapus, blokir atau ganti nomor. Setelah mempertimbangkan secara matang kuputuskan untuk menghapus semua kontak Jae Yoon dan mengeluarkannya dari list pertemanan SNS ku.
“All it’s over now,” tulisku di profile Line ku dan foto profilku ku ganti dengan foto jari tengah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...