
Chapter 11 : Penyakit Paru-Paru Sedang Trend
Ok Bit Na memandang wajahnya di cermin toilet kantor. Kantung matanya semakin besar, bedak yang dipakai asal-asalan, alis yang tak simetris.
Bit Na membenci pantulan wajahnya. Hari ini Bit Na yang perfeksionis banyak melakukan kesalahan di kantor.
"Apa pengaruh Jae Yoon terlalu kuat sampai aku melakukan banyak kesalahan hari ini?," tanyaku pada pantulan wajahku.
"Apa kau baik-baik saja?," tanya Bora yang diam-diam mengikutiku ke toilet.
"Wajahmu tampak kacau," ujar Bora meneliti riasanku.
"Entahlah, semalam aku mabuk berat. Apa menurutmu Jae Yoon membenci wanita agresif sepertiku?," tanyaku putus asa.
Bora memutar matanya kesal.
"Bit Na, hidup harus tetap berjalan. Kalau kau terus memikirkannya, sebentar lagi kau akan ditendang dari kantor ini dan jadi gelandangan," kata Bora.
Kalimat jahat Bora barusan tidak menggugah semangat sama sekali. Aku hanya ingin segera pulang.
"Hey, apa kalian sedang bergosip," Seola ikut bergabung.
"Apa yang kau lakukan? Manajer kita sedang bersedih," ketus Bora.
"Ya!, kencan buta terakhir sepertinya tidak berhasil. Kita harus pindah ke tempat kencan yang lain," kata Seola.
Kami bertiga saling berpandangan memikirkan usul Seola. Ada banyak tempat kencan di Seoul.
Sekarang banyak tempat kencan bertema internasional. Orang dari berbagai belahan dunia berkumpul dan berkencan. Jadi semua orang memiliki kesempatan kencan dengan non korea.
Aku merenungkan ide Seola.
Tidak buruk. Ku dengar orang-orang Eropa dan Amerika memiliki pandangan yang terbuka tentang pernikahan. Lagipula ada banyak keturunan Korea yang tinggal di luar negeri dan pergi ke kencan internasional.
"Apakah akhir-akhir ini penyakit paru-paru sedang trend?," sindir Nona Shin.
Kami bertiga segera menepi membiarkan Nona Shin Mirae lewat.
"Paru-paru anak muda memang kuat. Mereka bahkan tahan berlama-lama di toilet," kata Nona Shin lagi.
Kami bertiga segera berpamitan dan bubar dari toilet.
Tak terasa jam telah menunjukan pukul 7 malam. Sebagian kantor terasa kosong, ku lirik ke kubikel lain milik tim pemasaran. Bora belum kembali sejak pergi bersama Dan Gun Woo tadi siang, sedangkan Seola sedang meeting bersama klien.
Aku membereskan pekerjaanku, lalu turun menuju lobi. Kulihat Ahn Min Woo sedang duduk manis di lobi.
"Bit Na-Ssi," panggil Min Woo.
"Nee, Min Woo-Ssi," balasku sopan. Ingin rasanya aku segera pergi dari hadapan Min Woo.
"Aku ingin bertanya tentang tawaran mu waktu itu, tentang iklan furniture. Bisakah kita berbicara sambil makan malam?," tanya Min Woo
Bit Na mengerutkan keningnya.
Mengapa orang ini berbicara Banmal padaku?
Seolah mengetahui isi pikiran Bit Na, Min Woo lagi-lagi tertawa.
"Jangan tunjukan ekspresi itu, aku jadi merasa bersalah," kata Min Woo.
Bit Na tergagap.
"Hari ini aku cukup sibuk, bagaimana kalau kita bicarakan nanti," tawarku.
Wajah Min Woo tampak kecewa. Dilihat dari cangkir kopi dan tabloid yang ada di mejanya, mungkin saja pria itu sudah lama menungguku.
"Baiklah, tolong simpan nomorku dan hubungi aku kapan pun," ujar Min Woo pamit.
Aku tidak ingin terjebak rasa bersalah dan buru-buru menghilang dari lobi kantor.
Baru saja keluar pintu, sebuah mobil membunyikan klakson sambil menurunkan kaca, berhenti tepat di depan lobi.
Mobil itu milik Jae Yoon sialan. Lelaki itu hampir tiap hari muncul setiap jam pulang kerja. Padahal saat kami berpacaran dulu, dalam sebulan hanya tiga atau empat kali menjemputku dalam sebulan.
Aku melihat Jae Yoon tunduk membuka seat belt. Aku segera berbalik arah dan mengejar Min Woo yang baru selesai membayar kopinya di cafe yang ada di lobi kantor.
"Min Woo-Ssi, hari ini aku punya waktu luang. Ayo makan malam sambil membicarakan bisnis," ajakku sambil menggandeng lengan Min Woo.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...