
Chapter 16 : Min Seola - Flashback
Sejak bertemu dengan Im Hyun Seong, dua hari yang lalu perasaan was-was selalu muncul. Hyun Seong mantan suamiku, entahlah bajingan itu tidak pantas disebut sebagai manusia.
Aku menikahi Im Hyun Seong karena kencan buta di Cafe 30's. Bukan pertemuan yang menyenangkan, bukan juga pertemuan yang dingin. Komunikasi kami terbatas.
Usiaku saat itu 29 tahun, dan dia 2 tahun lebih tua dariku. Hyun Seong dengan gaya flamboyannya memikatku pada pandangan pertama. Aku suka gayanya yang tanpa basa-basi mengajakku menikah dan memperkenalkanku pada keluarganya. Seperti mendapat harta karun, aku gadis miskin menikahi pria dari keluarga pebisnis, Chaebol generasi ke-7 keluarga Im.
Aku kira akan ditolak oleh keluarganya saat aku bilang dari panti asuhan dan bekerja di tempat kumuh saat usiaku belum genap 15 tahun. Diluar dugaan, keluarganya tampak biasa saja. Tidak ada cemooh ataupun pujian, keluarga seperti apa ini? Pikirku saat itu.
"Aku tidak ingin berpacaran dan semacamnya, usiaku cukup matang untuk segera menikah. Besok aku akan mengutus orang untuk memindahkan barang-barangmu ke apartemenku," ujarnya.
Sesuai keinginan Hyun Seong, keesokan harinya orang-orang suruhannya mengosongkan tempat tinggalku dan pindah ke rumah Hyun Seong.
"Aku hanya mengundang 100 orang untuk pernikahan kita, tulislah nama teman-temanmu sisanya akan kutuliskan untuk kerabatku," Hyun meletakan setumpuk undangan cantik berwarna white dove.
Saat pernikahan dilangsungkan, Bitna dan Bora tak henti-hentinya mengatakan mereka iri padaku. Bitna dan Bora adalah teman masa kuliahku, kami sama-sama mengambil kelas karyawan agar bisa kuliah sambil bekerja.
"Selamat Seola-ya, hmmm kau menikah sebelum menginjak usia 30. Aku benar-benar iri padamu," ujar Jung Bora.
"Wahh, padahal menikah di usia sekarang adalah impianku," ujar Ok Bitna berkaca-kaca.
Aku tidak tahu apakah harus senang atau sedih. Pernikahan ini berlangsung cepat, sampai rasanya terlalu mudah bagiku. Apakah ini imbalan dari kemalangan ku selama ini?
"Ini kartu kredit, gunakanlah untuk membeli kebutuhanmu," kata Hyun Seong.
Pria itu gila kerja, dan hampir setiap saat dikelilingi oleh wanita-wanita cantik. Dari mana aku tahu? Tentu saja dari acara yang sering digelar kalangan pebisnis dan aku yang malang ini tidak bisa mencegah wanita-wanita itu. Pernikahan kami hanya diketahui oleh kalangan pebisnis dan aku tidak menuntut lebih dari itu.
Sejak kecil aku cukup puas dengan sedikit kebaikan dan perhatian. Saat ini aku pun sama. Aku takut jika terlalu serakah, Hyun Seong akan pergi.
Dua bulan setelah menikah, Hyun Seong membagun bisnis baru di Jerman dan pindah begitu saja.
"Aku akan menjalankan bisnis selama enam bulan hingga satu tahun percobaan. Ini pilot project, jadi aku akan tinggal di Jerman selama project ini berjalan. Kalau kau bosan ajaklah teman-temanmu tinggal di rumah," ujar Hyun Seong.
Kata-katanya jelas menunjukan bahwa dia tidak ingin aku mengganggu bisnisnya. Selama satu tahun aku terus mendengar kabar burung bahwa dia mengencani gadis-gadis Asia yang tinggal di sana.
Kalau dipikir-pikir, hubungan kami tidak masuk akal. Hyun Seong hanya dua kali berkencan denganku, tidak ada yang istimewa. Hanya makan di restoran mewah dan membicarakan tentang pernikahan. Lebih tepatnya Hyunseong berbicara sendiri tanpa menanyakan pendapatku.
Setelah menikah, aku pindah ke JBTV salah satu perusahaan iklan terbesar di Korea sebagai copywriter.
Waktu terus berjalan hingga akhirnya aku mendapati Im Hyun Seong duduk di ruang televisi apartemen kami.
"Kau sudah pulang?," tanyaku.
Setelah satu tahun minim kabar, Hyun muncul bagai hantu tentu saja sulit bagiku untuk bersikap biasa-biasa saja.
"Ini berkas perceraian. Kembalikan berkas itu setelah kau tanda tangan," ujarnya dingin.
Aku tampak seperti orang bodoh. Ekspresiku mengeras, menahan sedih dan kecewa. Ku ambil berkas itu dan melihat-lihatnya sekilas.
"Apa ada orang ketiga?," tanyaku pelan.
"Tidak ada," jawabnya dingin.
"Lalu," balasku lagi.
"Tanda tanganlah dan aku akan memberimu banyak harta," ujarnya cepat.
Entahlah. Isi berkas perceraian itu tidak bisa ku mengerti, aku ingat seseorang pernah berkata padaku pernikahan dan perceraian hanya terjadi jika laki-laki menginginkannya. Lalu di mana keadilan untuk perempuan?
Aku memandang Hyun Seong, matanya menatapku tajam. Kelihatannya laki-laki itu tidak merasa bersalah. Tanpa banyak tanya ku putuskan untuk menandatangani berkas itu dan meninggalkan Hyun Seong sendirian di ruangan itu.
Sepanjang malam aku terus memikirkan kesalahanku selama satu tahun ini dan segala kekuranganku. Pikiranku menarikku kembali menyelami latar belakangku hingga pernikahan kami.
Sejak awal ini memang dongeng pengantar tidur.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...