The 30'S Club

The 30'S Club
Chapter 15



Chapter 15 : Kisah Min Seola


Menjelang malam aku pamit dari rumah Bit Na. Tempat tinggal kami hanya berjarak beberapa blok perumahan, kuputuskan untuk berjalan kaki menuju rumahku. Sepanjang jalan aku terus memikirkan pertanyaan Bit Na. Aku hampir lupa kalau aku pernah menikah selama dua tahun, dan ditendang dengan sadisnya dari rumah mantan suamiku.


Baiklah ku ceritakan sedikit tentang kisahku.


Aku adalah Min Seola gadis kecil dari panti asuhan yang diasuh saat berumur 4 tahun. Saat aku berumur 16 tahun bisnis orang tua angkatku bangkrut. Ibuku menceraikan ayahku, dan menikahi kekasih masa lalunya sedangkan ayahku mengakhiri hidupnya. 


Setelah itu aku memutuskan untuk berhenti sekolah dan bekerja paruh waktu di kedai kaki lima. Tempatku bekerja dekat dengan pabrik tekstil, hampir tiap bulan warga setempat mengeluh tentang limbah pabrik yang mencemari lingkungan mereka. Sebagai kompensasi, perusahaan bersedia menyekolahkan anak-anak dari keluarga yang terkena dampak pabrik.


“Pergilah, bawa ini dan daftarkan dirimu,” ujar Song Pil Ju, menyerahkan sebuah surat.


Song Pil Ju, majikan di kedai. Wanita itu setiap hari berdandan menor dan bergaya seronok.


“Cepat pergilah!,” bentaknya sambil mendorongku ke luar kedai.


Ternyata itu adalah kartu keluarga dan surat pernyataan dari Song Pil Ju bahwa aku adalah anak keluarganya dan Pil Ju wali sah yang mengurusku. Tentu saja perusahaan tidak ambil pusing dan meloloskan ku begitu saja sebagai penerima bantuan sekolah.


Tahun-tahun selanjutnya, Pil Ju semakin kasar dan serakah. Dia satu-satunya yang menuntut perusahaan agar menguliahkanku.


“Jangan macam-macam dan luluslah tepat waktu. Setelah kau bekerja, sebagian gajimu akan dipotong untuk perusahaan,” katanya kesal sambil melemparkan formulir pendaftaran kuliah.


Aku memutuskan untuk kuliah sambil bekerja. Setiap bulan aku sempatkan diri untuk menengok Pil Ju. Keadaan Pil Ju kian lama membuatku khawatir. Kedainya tutup, dia tinggal bersama seorang pria yang tidak ku kenal. Pria itu katanya bekerja di luar kota dan hanya pulang sesekali. 


Sekujur tubuh Pil Ju dipenuhi lebam. Tanpa banyak bertanya, aku merawatnya. Sekalipun aku tidak suka sifat kasar Pil Ju, tapi aku berhutang budi padanya.


“Jangan kembali lagi,” ujar Pil Ju.


Aku yang sedang mengompres tubuhnya diam saja.


Hening ...


“Seola ya ...,” panggil Pil Ju pelan.


“Saat aku seusiamu tidak ada yang peduli untuk menyekolahkanku. Semua orang sibuk dengan kesenangannya masing-masing. Bahkan saat aku pergi dari rumah hingga hari ini, tidak ada yang mencariku. Tetapi kenapa orang lain yang bukan keluargaku selalu datang,” tanya Pil Ju putus asa.


Pil Ju menarik selimut menutupi badannya. Aku membersihkan sisa air yang menetes di sekitar kasur Pil Ju.


“Tidak ada orang yang membantumu dengan tulus, mereka menginginkan imbalan yang lebih. Apa kau akan diam saja saat orang lain menyentuhmu? Saat itu aku melihatmu tidak bereaksi saat samchon-samchon kurang ajar itu menyentuh bokongmu. Karena itu aku memperlakukanmu secara kasar agar kau juga memperlihatkan kemarahanmu,” kata Pil Ju.


“Aku tidak bereaksi bukan karena aku takut, aku memilih untuk tidak marah hari itu, karena kita membutuhkan uang dari mereka,” jawabku.


“Pil Ju-Ssi, tolong jangan menyalahkan dirimu,” ujarku menutup pintu kamar.


Setelah hari itu, Pil Ju selalu menolak bertemu dengan ku. Pil Ju akhirnya meninggal karena sakit parah. Petugas kesehatan tak mengizinkanku membuka kantong jenazah, proses pembakaran mayatnya dilaksanakan secara tertutup.


***


Udara semakin dingin, aku berjalan cepat agar segera tiba.


Hampir saja aku menabrak seseorang karena terburu-buru.


“Kita jumpa lagi Min Seola, istriku,” sebuah suara menyapa Seola sinis.  


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...