
Chapter 13 : Mari Kita Akhiri Hubungan Ini
"Wah Choi Jae Yoo, kau benar-benar membuatku putus asa," batinku sambil membaca pesan tersebut.
"Pesan dari Jae Yoon?," tanya Min Woo.
"Apa katanya?," tanya Min Woo ingin tahu.
"Katanya sudah larut, harus segera pulang," ujarku sambil menghembus nafas kesal.
Kalau Jae Yoon peduli seharusnya dia datang menjemputku, atau meneleponku bukan mengirim pesan singkat.
Aku menenggak sebotol soju, rasa asam soju memenuhi tenggorokanku. Hari ini aku merasa lelah. Pekerjaan, Jae Yoon, Ibuku semua masalah berputar di kepalaku.
Harus kuakui beribu kali memikirkannya pun, hatiku belum rela melepaskan Jae Yoon. Tetapi sikap Jae Yoon membuatku ragu.
Selama ini aku selalu mendengar kisah sedih Seola yang ditinggalkan mantan suaminya Im Hyunseong, dan cinta bertepuk sebelah tangannya Bora. Aku selalu pamer, bahwa Jae Yoon adalah jenis laki-laki langkah yang lahir satu kali dalam satu generasi.
Empat tahun bagiku cukup untuk saling mengenal. Empat tahun bagiku cukup untuk merencanakkan masa depan bersama Jae Yoon.
Setelah menenggak soju terakhir aku pamit pada Min Woo.
"Jangan khawatir, aku memiliki toleransi yang bagus terhadap alkohol satu botol soju belum cukup untuk membuatku mabuk," tawaku.
Min Woo terlihat khawatir, dia memesankan taxi untukku dan menutupkan pintu taxi untukku. Aku turun di depan lobi apartemenku dan naik lift menuju lantai tempat kamarku berada.
Sampai di depan kamarku, ku lihat Jae Yoon tampak berantakan. Dia mengenakan training dan hoodie berwarna abu-abu.
"Aku ingin bicara," ujar Jae Yoon.
Perasaanku tak karuan. Sejak muncul kembali Jae Yoon belum pernah mengajakku bicara duluan. Hari ini suara seraknya sukses membuatku mual.
Aku membukakan pintu dan membiarkannya masuk. Jae Yoon melepas sepatunya, dia menatap ruang apartemenku.
Aku mengisyaratkan agar Jae Yoon duduk di kursi yang ada di meja makan, dan aku menyimpan tasku di kamar. Aku menarik kursi di hadapan Jae Yoon, lalu duduk sambil memandang wajah Jae Yoon. Lelaki itu tampak kurus, lehernya semakin jenjang dan matanya tampak layu.
Aku diam menunggu Jae Yoon. Jae Yoon tampak gusar, dia mengusap wajah dan rambutnya. Jae Yoon menatapku, dan aku balas menatapnya.
"Apa kau baik-baik saja," tanya Jae Yoon.
Aku mencibir.
"Aku belum ingin menikah," ujar Jae Yoon cepat sembari mencegahku berdiri.
"Kenapa?," tanyaku penasaran.
"Ada hal yang harus aku capai sebelum memutuskan untuk menikah, selain itu aku baru saja mendapat promosi jabatan," kata Jae Yoon.
"Baiklah, kita putus," ujarku dingin.
Aku lihat wajah Jae Yoon tampak terkejut.
"Belum ingin menikah bukan berarti hubungan kita berakhir. Kita sudah menjalaninya selama 4 tahun. Yang perlu kita lakukan adalah bersabar. Aku juga harus mengumpulkan uang untuk biaya pernikahan dan kebutuhan kita," jelas Jae Yoon. Wajahnya tampak memelas.
"Jae Yoon, mari kita akhiri hubungan ini. Kita fokus dengan apa yang sedang kita lakukan. Silahkan kejar karirmu dan aku dengan kehidupanku. Aku tidak ingin berdebat Jae Yoon, kau menghilang berbulan-bulan dan muncul dengan santainya. Apa kau pernah memikirkan perasaan ku atau keluargaku?," aku menatap Jae Yoon sinis.
"Saat kau mengajakku menikah aku sedang mengikuti ujian kenaikan jabatan. Selain rekomendasi atasan, kenaikan jabatan di kantorku harus melewati serangkaian tes. Aku harus bersaing dengan kandidat lainnya. Saat aku dinyatakan lulus di tahap awal, aku masih harus melakukan tes psikologi karena itu kuputuskan untuk menonaktifkan sosial media dan mempersiapkan diri," jelas Jae Yoon.
Aku menatap Jae Yoon dalam, mencari kebohongan di matanya. Kulihat mata itu penuh rasa bersalah.
"Baguslah! selamat untuk kenaikan jabatanmu. Kalau saja waktu itu kau tidak pergi begitu saja, tidak mungkin ada kesalahpahaman antara kita. Kau tau? setiap hari aku bertanya-tanya tentang kabarmu. Dadaku sesak sampai rasanya ingin mati. Melihatmu muncul tanpa rasa bersalah, membuatku marah, kau berbohong. Minggu lalu, kau pergi bersama teman-temanmu," kataku kesal. Mataku memanas, air mataku ingin tumpah tapi aku terlalu gengsi untuk menanggis dihadapan si pengecut ini.
Aku memandang langit-langit apartemenku, menyembunyikan mata ku yang berair.
"Itu pesta penyambutanku di divisi baru, sekaligus kenaikan pangkat. Hubungan kita sedang tidak baik-baik saja saat, itu jadi kuputuskan untuk tidak memberitahu mu dulu," jawab Jae Yoon lirih, ada nada sesal dalam suaranya.
Aku memijat kepalaku pelan.
Sadarlah Ok Bit Na, kau yang duluan menyatakan putus. Wajar kalau Jae Yoon tidak mengajak mu ke acara kantornya.
Batinku terus bertarung.
"Terima kasih selama 4 tahun sudah ada di sampingku. Aku harap kau dapat mengejar impianmu," ujarku dengan suara bergetar.
Jae Yoon pamit setelah aku menolak ajakannya untuk kembali berpacaran. Aku lelah selama berbulan-bulan berkutat dengan pikiran dan perasaanku.
Malam itu ku habiskan dengan derai air mata.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...