The 30'S Club

The 30'S Club
Chapter 10



Chapter 10 : Akulah yang Terlalu Mendominasi.


Sepanjang liburan Jae Yoon terus bersikap manis padaku. Mengirimku pesan sebelum  dan saat bangun tidur, diam-diam mengirimkan makanan dan camilan. 


Pagi ini aku melihat Roti kacang hangat dan segelas kopi hangat di depan pintu apartemenku.


Bagaimana mungkin aku membenci pria semanis ini, tapi dia tak menjelaskan alasannya menghilang.


Siang ini aku beranikan diri mengundangnya makan malam di apartemenku, namun dia menolak dengan alasan tak ingin merusak liburanku. Padahal sudah ku jelaskan aku hanya punya banyak waktu luang ketika libur, dan aku ingin berbicara banyak hal dengannya. 


Tampaknya ajakkanku yang tulus ini tak berhasil. Jae Yoon bilang dia dua kali lebih sibuk dariku sekarang.


Aku melewati hari terakhir liburanku dengan bermalas-malasan. Setelah semua film bagus ku tonton aku tak punya alasan duduk di depan televisi. Tak ada buku baru yang bisa ku baca, yang kulakukan adalah membuka sosial media dari tablet miliku.


Apa ini? Jae Yoon menguggah foto makan malam bersam teman-teman kantornya. Si brengsek itu benar-benar...,


Aku kehilangan kata-kata. Sepertinya hubungan ini memang tak bisa di selamatkan. 


Aku mengutak atik ponselku, bosan melihat youtube, melihat galeri ponsel. Kulihat foto-foto kami saat berpacaran. Foto ini punya banyak kenangan, karena itu kubiarkan saja tersimpan di galeri ponselku meskipun peringatan memori penuh terus muncul, aku lebih memilih menghapus fotoku dengan teman-temanku.


Aku melihat postingan Line yang muncul di beranda akunku. Ramalan zodiakku mengatakan minggu ini aku dihadapkan pada keputusan yang besar dan jangan sampai salah langkah sedangkan ramalan zodiak Jae Yoon mengatakan minggu ini dia mendapatkan kebahagiaan besar. 


Aku cepat-cepat mengcapture unggahan terakhirnya, dia berdiri di samping seorang gadis imut, yang usinya sekitar pertengahan dua puluh sedang tersenyum centil ke arah kamera dengan dua jari membentuk huruf V.


Pikiranku semakin overtingking ketika ku tahu gadis itu yang menautkan akun Jae Yoon ke postingannya. Ku intip profile gadis imut itu, namanya Jung Yeorum. 


Hah! Pikiranku saja yang berlebihan, gadis itu juga mengunggah banyak foto dengan teman kantor dan teman perempuannya.


Aku memutuskan minum-minum sendiri di The 30’s club cafe. Memoriku mengulang pertemuan pertamaku dengan Choi Jae Yoon. 


Saat itu dia mengenakan coat coklat dipadu sweater putih sebagai dalaman dan celan bahan kain berwarna hitam. Penampilannya rapi dan klimis dia membuat beberapa kesalahan di pertemuan pertama kami, tapi hal itu tak membuatku mundur. 


Kami mulai sering bertemu meskipun hanya sekedar minum kopi ataupun jalan ke taman. Setelah itu aku menyatakan perasaanku dan ternyata Jae Yoon pun punya perasaan yang sama. Kami memutuskan untuk berpacaran.


Kalau di ingat kembali, aku yang selalu mengambil langkah pertama dalam hubungan kami. Aku tak canggung membuat keputusan, juga tak malu mengucapkan maaf jika salah. 


Apa aku terlalu dominan dan agresive?


Kadang aku bertanya pada teman-temanku, pendapat mereka sifatku seperti itu karena posisiku di pekerjaan mengharuskan aku mengambil keputusan yang tegas dalam waktu 6 detik, dan berani menjadi yang pertama mengambil inisiatif. 


Sekarang aku mulai berpikir, akulah yang bermasalah di hubungan kami. Jae Yoon mungkin saja takut dengan wanita sepertiku. Kesan dominasiku terlalu kuat, dan aku tampaknya bukan tipe penurut yang cocok untuk dijadikan istri.


Aku menengak soju untuk kesekian kalinya, mengusir gelisah yang mulai hinggap di hatiku. 


Aku menuangkan soju di gelasku, kepalaku mulai berat. Tubuhku terasa hangat. Meskipun perutku terasa mula dan berputar, namun aku masih memiliki sedikit kesadaran saat melihat wajah Jae Yoon meminum soju terakhir yang ku tuang lalu memesan taxi dan mengantarku pulang.


Saat terbangun aku mendapati sebuah sup hangover di meja dapurku.


Jangan lupa dimakan sebelum berangkat kerja


Pesan itu membuatku merasa semakin buruk.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...