The 30'S Club

The 30'S Club
Chapter 6



Chapter 6 : Ayo Ikut Kencan Buta!


“Pstt, pstt” panggilan Bo Ra di tengah rapat yang membosankan, mengganggu konsentrasiku.


Aku menoleh, dia menunjuk ponselnya. Aku merogoh kantong blazerku dan melihat pesan yang dikirim Bo Ra.


Jung Bo Ra : Ayo pergi ke kencan buta!


Min Seola : Ikut 


Ok Bit Na : Kapan?


Jung Bo Ra : malam nanti di tempat biasa.


*****


Alunan musik saxofone menggema di cafe The 30’s club, kami bertiga duduk di meja nomor 9 yang dipesan Bo Ra. Ada tiga orang lelaki sudah menunggu di sana tampaknya mereka baru saja berkenalan ketika tiba.


“Ayo ke toilet” bisik Seola


Kami bertiga pergi ke toilet merapikan riasan kami. Rambut ungu Seola sudah berganti warna menjadi baby pink sedangkan rambut coklatku, sudah ku semir menjadi natural black hanya Bo Ra yang bertahan dengan rambut pirangnya.


Aku mengenakan floral dress berwarna coral dan sepatu boots hitam, Bo Ra mengenakan kemeja dan celana panjang berbahan satin sedangkan Seola mengenakan kemeja hitam, jeans dan sneakers.


“Anyonghaseo” sapa Bo Ra pada mereka bertiga.


Kami saling berkenalan dan memberi salam. Pria yang berkenalan denganku Ahn Min Woo, bekerja di bidang furniture. Obrolan kami sangat nyambung terutama tentang pekerjaan. Aku bahkan berbaik hati menawarkan desain iklan untuk perusahaan mereka, tentu dengan harga murah dan kualitas yang bagus. Kami bertukar nomor ponsel dan setelah dua kali jalan kami memutuskan untuk tidak melanjutkan kencan buta melainkan menjadi partner bisnis. Lumayanlah.


Setelah kencan buta pertama aku lebih sering ikut kencan buta di cafe 30’s kencan buta khusus usia 30 ke atas. Di kencan butaku yang ke empat belas aku bertemu pria yang baru saja merayakan ulang tahun ke-40. Dia tampaknya menikmati hidupnya dengan baik.


Kencan kami sangat kaku dan dia berulang kali minta maaf karena tak semenarik yang ditulis di profilnya. Aku harap tidak bertemunya lagi.


“Bagaimana kencan buta?” tanyaku pada Bo Ra.


Kami jarang berinteraksi sejak pegawai baru masuk ke divisi kami dan Bo Ra yang bertugas mengajarinya. Tampaknya dia tak menyukai tugas barunya, apa boleh buat anak baru itu cucu pemilik perusahaan dan dia sendiri yang menunjuk Bo Ra menjadi pendamping lapangannya.


“Tidak berhasil” ujar Bo Ra cepat.


“Kenapa?” tanyaku. Frekuensi kencan buta Bo Ra meningkat satu bulan ini, mungkin dia frustasi dengan anak baru dan melampiaskannya di kencan buta.


“Entahlah” jawab Bo Ra.


“Kau masih ikut kencan buta?” tanya Seola


Alisku terangkat curiga dengan pertanyaan Seola.


Pegawai divisiku sering melihat kau bersama cucu pemilik perusahaan.


“Kenapa kau tak mengajaknya kencan? Ku dengar kalian dari sekolah menengah pertama yang sama” ujarku.


Wajah Bo Ra tampak semakin bodoh.


“Kalau saja aku kencan dengan cucu presdir, aku akan langsung mengajaknya menikah” cibir Bo Ra. 


“Kenapa tak langsung mengajakku?” sebuah suara muncul di belakang mereka.


Seperti adegan film, mereka bergerak lambat melihat pemilik suara berat itu.


Tak perlu menoleh, Bo Ra hafal siapa pemilik suara itu.


Dan Gun Woo sialan, anak baru yang membuat pekerjaannya makin menumpuk.


Tunggu! Otak Bo Ra berpikir cepat. Dan Gun Woo - Dan Tae San. Ah, sialan dia adalah cucu presdir yang dimaksud.


“Kenapa diam” suara berat Dan Gun Woo mengintimidasi Bo Ra. 


Baru kali ini kulihat Jung Bo Ra ratu pecicilan menciut, rasa takut dan malu tergambar jelas di wajahnya.


“Kalian pernah berpacaran?” tanya Min Seola lancang, lalu menutup mulutnya.


Jung Bo Ra menatap Min Seola dengan tatapan ‘jangan berani-berani’


“Dia mengajaku pacaran saat SMP, dan aku menolaknya” ujar Gun Woo datar.


Ingin rasanya Bo Ra melompat dari jendela gedung itu.


“Permisi, kalian menghalangi pintu masuk” Nona Shin Mirae ketua Tim Pemasaran, menginterupsi kami. Ku lihat wajah lega Bo Ra segera menghilang dari tempat itu. Aku melihat pemandangan lain yang tampak hebat, Dan Gun Woo yang dingin itu tersenyum kecil.


*****


Dering ponsel menghentikan aktivitas membersihkan kamar.


“Eomma” sapaku saat mengangkat telepon.


“Natal nanti pulanglah ke rumah, ajak Jae Yoon juga. Ibu sudah lama tak bertemu dengannya,” ujar Ibuku.


“Tidak bisa. Pekerjaanku menumpuk. Aku dan Jae Yoon sudah putus,” ujarku dingin.


“Apa katamu?? Hentikan sikap keras kepalamu cepat minta maaf dan katakan kau tak berpikir saat mengucapkan putus. Pikirkan juga umurmu, sulit mencari pengganti seperti Jae Yoon!,” teriak ibuku untuk kedua kalinya.


Belum sempat aku membuat pembelaan ibuku sudah menutup telepon. 


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...