The 30'S Club

The 30'S Club
Chapter 14



Chapter 14 : Jejak Jae Yoon


(Keesokan harinya)


Pukul 08.00 KST Ponselku berdering nada pesan masuk di grup Line.


Seola : Hey apa kau baik-baik saja?


Bora : Nona Shin bilang kau cuti haid


Seola : Perlu ku kirimkan pain killer, pembalut, dan vitamin?


Bora : Kau harus makan yang manis-manis, aku akan belikan pie susu, mocca latte, dan Taro Milk Tea favoritmu. 


Bitna : Kami putus tadi malam


"HAH?!," teriak Jung Bora heboh. Semua orang di divisi pemasaran menatap Bora kesal.


"Jung Bora, ke ruanganku sebentar," panggil Nona Shin.


"Nona Shin, saya dan Bora harus mengerjakan laporan keuangan untuk presentasi siang nanti," ujar Dan Gun Woo yang tiba-tiba berdiri di samping kubikel Bora.


"Huft ada untungnya juga jadi cucu pemilik perusahaan," batin Bora lega.


*****


Aku berbaring ditempat tidur, enggan membuka jendela kamar, enggan beranjak dari ranjang. Cuaca hari ini sangat cerah, tetapi tidak dengan hatiku. Setelah aku dan Jae Yoon berakhir, aku merasa kesepian yang luar biasa. Lebih sepi bahkan kosong dari saat-saat Jae Yoon menghilang.


Aku sengaja mengatakan cuti, beruntung perusahaanku tidak mewajibkan surat sakit saat cuti menstruasi. 


Aku kembali mengingat kata-kata Jae Yoon semalam, mengulang-ulang mantra bahwa Jae Yoon lah yang egois dalam hubungan kami. Lelaki itu bahkan tak minta maaf ataupun mengirimkanku pesan setelah malam tadi. 


Waktu menunjukan pukul 11.00 KST, aku duduk di ranjang mengabaikan rasa pusing dan pegal di seluruh badanku. Aku beranjak ke dapur, biasanya aku semangat mengingat aku akan mendedikasikan tahun-tahun pertama pernikahan untuk mengurus keluarga. Aku berdecak sinis memikirkan masa depan yang ku rancang sendiri. Apa ini rasanya patah hati? 


Aku membuka kulkas melihat bahan apa saja yang ada di sana. Ramen kesukaan Jae Yoon, wortel terakhir yang Jae Yoon gunakan untuk membuat sup, tumbler milik Jae Yoon. 


"Hhh," aku mendesah pelan. Semua hal di rumah ini penuh jejak Jae Yoon. Kuputuskan untuk memesan bulgogi sambil mencari-cari drama yang cocok untuk ditonton.


"Ah … Yumi Cells season dua," gumamku.


Seola : Pulang kerja nanti aku akan mampir ke tempatmu


Pesan dari Seola terpampang di layar ponselku. 


(sore hari)


"Masuklah," ujarku pada Seola.


Seola melepas coatnya dan tasnya di gantungan khusus yang ada di dekat pintu masuk.


Aku dan Seola duduk di sofa, ditemani soda, soju, dan macam-macam camila.


"Bora pergi bersama Dan Gun Woo," ujar Seola.


Aku menceritakan pertemuanku dengan Jae Yoon tadi malam. Seola mendengarkan dengan saksama. Di akhir cerita aku memeluk Seola, rasanya sesak berpisah dengan pria yang selalu ada selama 4 tahun.


"Aku rasa komunikasi di antara kalian terlalu buruk. Tenangkan hati dan pikiranmu, setelah itu bicaralah lagi dengan Jae Yoon. Kau beruntung sainganmu bukan orang ketiga," kata Seola.


Aku menghentikan tangisku lalu menatap wajah serius Seola.


Benar. 


Seola pernah menikah, setelah pernikahan suaminya pergi ke luar negeri mengurus bisnis keluarga. Ketika kembali ke Korea, dia menceraikan Seola dan mengusirnya begitu saja.


Seola tipe yang tertutup. Meskipun kesal, marah, bahkan ingin mati sekalipun, dia tetap berusaha mengendalikan perasaannya. Tidak ada yang tahu kisahnya seperti apa, tapi ku dengar keluarga mantan suaminya cukup kaya dan laki-laki itu selalu terlihat bersama banyak wanita.


"Bagaimana dengan kisahmu," aku bertanya balik.


"Tidak ada yang menarik," ujarnya datar.


"Ada orang ketiga," tanyaku.


Seola menggeleng.


"Aku tidak tahu."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...