
"Kuhh... sialan..."
Seorang anak lelaki berambut pirang pendek terus mengumpat di tengah hutan. Pakaiannya yang terlihat mewah itu tergores di berbagai sisi dan ternodai darahnya sendiri. Dalam sekali lihat pun bisa diketahui bahwa dirinya tengah terluka. Terutama lengan kanan atasnya yang masih tertusuk anak panah.
Jalan anak itu tertatih-tatih. Dibanding disebut berjalan, mungkin lebih tepat kalau disebut menyeret dirinya sendiri.
"Antek-antek Pangeran Kedua itu..."
Dia baru saja berhasil melarikan diri dari kejaran beberapa Spirit Master yang mengincar nyawanya.
"Mereka bersikap baik di depan Kaisar, tapi di belakang mereka mencoba membunuhku..." marah anak itu sepanjang jalan.
"Sialan! Aku tidak akan melupakan ini! Aku pasti akan membunuh kalian semua nanti!!"
Anak itu terus bergerak dalam kondisi terluka. Padahal di lihat dari rupa dan fisiknya, anak itu bahkan belum berusia remaja. Mungkin sekitar 10-12 tahunan.
"Uhukk Uhukk!!"
Dirinya terhenti karena muntah darahnya.
Di usapnya dengan kasar darah di mulutnya dengan tangan kiri.
"......."
Anak itu mencoba menenangkan dirinya. Dia sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan situasi.
"...... Mereka mengincar momen ketika para paman tidak ada di sisiku."
"Ini pasti sudah direncanakan. Sepertinya ada pengkhianat disini," pikir anak itu.
"Untunglah Hutan Xing Dou tidak berada di bawah kekuasaan siapapun. Bahkan Titled Douluo bisa kesulitan di tempat ini."
Anak itu berhenti sejenak karena tidak merasakan adanya bahaya dan mengetahui dirinya sudah pergi cukup jauh.
Di tambah, secara fisik dia sudah lelah. Spirit Energinya pun sudah habis. Mau lari lagi, dia sudah tidak punya tenaga.
BUUUKK
Bersandarlah dirinya di pohon besar tak jauh dari sana.
"Hah... haah... hahh... hah..."
Anak itu melirik lukanya.
"........"
".... Ini buruk. Luka separah ini... aku harus segera mengobatinya..." lelah anak itu.
Sebelum kembali bergerak, anak itu menata pikirannya terlebih dahulu.
"......."
"Aku bahkan belum memulai rencanaku... tapi sudah menjadi seperti ini. Sepertinya aku terlalu meremehkan persaingan tahta di Kekaisaran," batin anak itu.
Anak itu menggenggam tangannya erat-erat.
"Aku harus lebih berhati-hati kedepannya. Kegagalan tak bisa di terima."
Rasanya dirinya ingin menangis sekarang. Itu wajar jika mengingat usianya sekarang adalah usia dimana seharusnya dirinya sibuk bermain, bukan sibuk bertahan hidup melawan para orang dewasa. Tapi dia tidak boleh menangis. Dia tidak boleh menjadi lemah. Terdapat aturan mutlak di dunia ini. Yang kuat akan memangsa yang lemah. Untuk bertahan hidup, dia harus menjadi kuat secepat mungkin.
"Kakek..."
Karena itulah, anak itu mati-matian berusaha menahan air matanya.
SSSRRRRRRRRRKKKKKK
"!!"
Anak itu menoleh cepat begitu mendengar suara gemerisik semak.
Dari yang tadinya duduk bersandar, dia seketika mengambil kuda-kuda waspada dan bersiap menyerang dengan pedang di tangan kirinya.
"Tidak mungkin! Aku yakin mereka tidak akan bisa menemukanku kalau aku lewat jalur itu."
Tatapannya meruncing. Berusaha tidak melewatkan pergerakan apapun.
"Lalu siapa itu!?" batinnya penuh kewaspadaan.
"Spirit Beast!? Spirit Master!?"
Namun yang keluar dari semak, sama sekali tidak seperti yang ia pikirkan.
"Cuu...?"
Anak itu, "!"
"Ke-Kelinci???"
Anak itu langsung terbengong di tempat begitu seekor kelinci keluar dari sana.
"Kenapa kelinci bisa ada disini? Apalagi dia kelihatannya belum berusia 10 tahun. Bukannya mereka harusnya ada di pinggiran hutan?" bingung anak itu.
Anak itu mengendurkan kewaspadaannya. Setidaknya, dia sudah tidak mengarahkan pedang pada semak.
"..... Tidak, aku tetap tak boleh lengah."
"Tak ada yang tau bahaya macam apa yang bisa ada di Hutan Xing Dou."
Anak itu kembali duduk setelah memastikan situasi kembali aman. Namun belum lama sejak ia duduk, kelinci itu berlari-lari memutarinya.
Anak itu, "?"
"Apa maumu?" tanya anak itu.
Meskipun tangannya mencoba mengusir kelinci itu, tapi kelinci itu sama sekali tidak ada niatan pergi. Malahan, kelinci itu semakin bersemangat.
"???"
"Kelinci ini kenapa??" bingung anak itu.
Sang kelinci mengigit bajunya dan menarik-narik kainnya.
"Kamu mau aku mengikutimu?"
"Kenapa? Aku gak punya makanan, pergi saja sana," usir anak itu.
Sang kelinci tetap gigih. Tak peduli berapa kali anak itu mengusirnya, kelinci itu terus saja menarik kain bajunya. Tentunya, hal ini lama kelamaan membuat anak itu jadi kesal sekaligus penasaran.
"Ah, aku mengerti!"
"Kau mau aku mengikutimu, kan? Baiklah, baiklah! Berhenti menarik bajuku!" ucap anak itu pada akhirnya.
"Apa-apaan kelinci ini? Tingkahnya aneh."
Anak itu mulai berdiri dan mengikuti kelinci itu.
"Padahal dia cuma Spirit Beast -10 tahun... kenapa bisa sepintar ini? Kalau dia punya kecerdasan seperti itu untuk membawa manusia, apa dia mutasi Spirit Beast? Atau dia Spirit Beast peliharaan?"
Anak itu menanyakan hal itu pada dirinya sepanjang jalan.
"Ya sudahlah, aku akan mengetahuinya nanti."
"Setidaknya aku tidak merasakan niat jahat dari kelinci ini," lelah anak itu.
Begitu dirinya sampai di lokasi yang dimaksud sang kelinci. Dia langsung bisa memahami alasan kelinci itu membawanya kesana.
"......"
Anak itu terdiam di tempat. Tidak tau harus melakukan apa atau berkata apa sekarang. Karena bagaimanapun dia melihatnya, sepertinya kelinci itu membawanya ke mari untuk mencari bantuan untuk tuannya yang pingsan penuh luka.
"Hei, aku juga sedang terluka, loh..." ucapnya pada sang kelinci.
"Cuu...?"
Anak itu, "......."
Helaan napas yang singkat terdengar. Jika bukan dalam situasi seperti ini, sudah pasti dia akan menolong dengan senang hati. Tapi dia yang sekarang saja kesulitan menolong dirinya sendiri. Apalagi menolong orang lain. Meski begitu...
"Mana mungkin aku meninggalkan anak kecil yang terluka di tengah hutan begini, kan?" batinnya seraya mengacak rambutnya.
Anak itu tidak punya pilihan lain.
"Dia pasti mati kalau kutinggal."
.......
.......
.......
.......
.......
.......
...\=\=\=\=\=OooooO\=\=\=\=\=...
Nama: Tang Yunmei
Usia: 6
Level: 10
Martial Soul: Blue Starry Grass
Clear Sky Hammer
Bentuk Martial Soul: Rumput & Palu
Spirit Ring: 0
...\=\=\=\=\=OooooO\=\=\=\=\=...
Nama: Unknown
Usia: Unknown
Spesies: Manusia
Level: Unknown
Martial Soul: Unknown
Bentuk Martial Soul: Unknown
Spirit Ring: Unknown
...\=\=\=\=\=OooooO\=\=\=\=\=...
.......
.......
.......
.......
.......
"Nghh..."
Walaupun kesadaran Yunmei telah kembali, dia tidak bisa dibilang sudah bangun. Seluruh tubuhnya terasa sakit dan tak dapat digerakkan. Yunmei mungkin bisa dibilang tidur sadar.
Beberapa saat setelah dirinya bangun dan melihat Xiao Yun menjadi kelinci, Yunmei mengumpulkan sisa energinya untuk membawa Xiao Yun pergi sejauh mungkin dari sana. Sudah sekitar 2 hari Yunmei berjalan di hutan tertatih-tatih karena lukanya. Energi Yunmei habis dengan cepat yang mana membuat proses penyembuhannya sangat terhambat.
Padahal Yunmei berniat meninggalkan hutan dalam 2 hari dengan seluruh energinya yang tersisa, barulah setelah itu dia akan istirahat dan menggunakan energinya untuk penyembuhan. Namun ternyata kondisi Yunmei dari awal jauh lebih parah dari dugaannya. Yunmei tidak berhasil keluar dari hutan dalam 2 hari dan berakhir pingsan setelah tak ada lagi tenaga untuk bergerak.
"Begitu, ya... aku pingsan..." batin Yunmei di dunia yang gelap itu.
"Agak dingin... sekarang sudah malam?"
Yunmei mencoba menganalisa situasinya.
"Ini buruk. Hutan di malam hari sangat berbahaya. Aku harus segera pergi dari sini!"
Gadis itu mencoba yang terbaik untuk menggerakkan dirinya.
Tapi, jangankan bergerak, Yunmei hanya bisa sedikit gemetar saja.
"Uhhh..."
"Bergeraklah Tang Yunmei! Kamu masih harus membawa Mama ke tempat aman!!!"
Dan karena itu, Yunmei menarik perhatian seorang anak yang duduk tak jauh darinya.
"?"
Anak itu mendekati Yunmei dengan wajah khawatir.
"Ada apa? Apa dia kedinginan??"
Dia sudah berusaha memberikan Yunmei pertolongan pertama. Namun luka Yunmei memang terlalu parah. Tak banyak yang bisa anak itu lakukan. Meski begitu, dia tidak mau Yunmei mati di depannya.
Tangan anak itupun menyentuh kening Yunmei. Tentu saja, hal ini membuat batin Yunmei terperanjat.
"SIAPA!??"
"Uhh... kamu agak demam... ternyata memang kedinginan, ya..." ucap anak itu tak tertuju pada siapapun.
"Eh!? Suara anak-anak??" bingung Yunmei.
"Kenapa ada anak-anak disini!?"
Karena indera Yunmei menumpul, dia tidak bisa menebak apa yang terjadi. Dia hanya bisa merasakan sesuatu yang menyentuh kulitnya. Seperti suhu udara, sentuhan, dsb.
"Tunggu, aku dimana!?"
"Ini masih di hutan, kan!?"
Anak itu terdiam selama beberapa saat. Dia yang tak tahu Yunmei telah sadar, berbicara pada dirinya sendiri.
"Maafkan aku, aku tidak bisa menyalakan api unggun karena bisa saja itu akan menarik perhatian Spirit Beast tingkat tinggi."
"Kamu pasti kedinginan, kan. Tunggu sebentar..." ucap anak itu.
"Huh???"
Batin Yunmei masih kebingungan.
"Ini bener masih di hutan kok. Tapi kenapa ada anak-anak disini?? Lalu... siapa dia??"
NYUUUUUUTTT
"Awwh..."
Di tengah kebingungan itu, anak itu melakukan sesuatu yang cukup mengejutkan Yunmei.
SWEEEEERRRRRRRRR
Yunmei, "!"
Walau agak samar-samar, tidak salah lagi, ada sesuatu yang di selimutkan pada Yunmei. Kain yang lembut tapi berbau darah, dengan ukuran yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Setidaknya cukup untuk menutupi seluruh tubuh Yunmei.
Tak hanya itu, anak itu duduk tepat disebelah Yunmei dan meletakkan tangannya ke kening Yunmei.
Dia ragu untuk beberapa saat tentang sesuatu.
"Apa tak apa menggunakan ini?"
"Ini bisa membantunya... tapi bisa jadi masalah kalau ada yang tahu..." batinnya ragu.
Perdebatan kecil muncul di pikirannya. Dan hasilnya adalah kemenangan untuk hati nuraninya. Dia tidak bisa membiarkan Yunmei mati kedinginan, kan? Padahal dia sudah susah-susah membawanya ke mari.
CRIIIIIINGGG
Dari tangan anak itu, muncul cahaya emas yang hangat. Dia tetap tidak bisa menggunakannya terlalu besar. Takut ada Spirit Beast yang tertarik atau Spirit Master yang melihat. Setidaknya anak itu berusaha menyalurkan sedikit energinya pada Yunmei agar Yunmei merasa baikan. Dia berpikir, toh Yunmei tidak sadar dan dia tidak mungkin tau jenis energi apa ini.
Tanpa menyadari, bahwa dibandingkan siapapun, Yunmei adalah orang yang paling mengetahui itu.
"Eh??"
"Inikan... Divine Power!?"
Ya, energi yang di salurkan anak itu untuk sedikit membantu Yunmei tidak salah lagi adalah Divine Power.
"Kenapa manusia bisa menggunakan Divine Power!!?"
"Aku sedang bersama siapa sekarang!!?"
NGGUUUUUUUNGGGGGG
Yunmei yang sibuk dengan pikirannya sendiri, tidak menyadari anak itu mulai oleng.
"Sial..."
"Apa ini... batasanku?"
Dia bisa merasakan kesadarannya mulai menghilang.
Rasanya dunia agak berputar sekarang. Kepalanya yang dari awal sudah sangat pusing, jadi semakin pusing sejak dia memaksa menggunakan Divine Power di kondisi tubuhnya yang sekarang.
Sama seperti Yunmei, anak itu juga sedang cedera dan harus segera melarikan diri. Dia tidak sempat menyembuhkan dirinya sendiri karena fokus untuk kabur. Sudah berhasil kaburpun, dia tidak bisa langsung istirahat karena menolong Yunmei.
Sekarang tubuhnya tidak kuat lagi.
BRUUUUUUGGHHH
Anak itu ambruk di sebelah Yunmei.
"Loh?? Hehh????"
Tentunya, hal ini membuat Yunmei panik.
"Dia pingsan???"
"Tunggu!! Apa yang sebenarnya terjadi????"
"Seseorang! Tolong jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi saat ini!!!"
"Hei nak!! Jangan pingsan dulu!! Kamu belum jelasin situasinya padaku!!!"