
Liuxue menatap lurus langsung ke mata Yunmei walaupun tau Yunmei tidak akan bisa melihatnya.
"Yunmei, kau mau ikut denganku?"
Yunmei mundur sedikit.
"Huh???"
Diserang dengan pertanyaan yang begitu tiba-tiba itu, Yunmei diam sejenak. Kepalanya masih memproses apa yang barusan Liuxue katakan.
Melihatnya yang mematung itu, Liuxue tersenyum canggung.
"Ah, apa aku terlalu terburu-buru?"
"Biar bagaimanapun, ini tidak bisa di tunda lagi. Lukaku sudah jauh lebih baik berkat Yunmei, aku harus segera pergi dari sini, atau antek-antek Pangeran Kedua akan memanfaatkan kepergian ku dari Istana untuk kepentingan mereka. Tapi... mana mungkin aku pergi sendirian," batin Liuxue.
Yunmei menghela napas kecil, dia memiringkan sedikit kepalanya.
"Ehh... gak mau ah."
"Mama selalu mengingatkanku untuk tidak mengikuti orang asing sembarangan."
Liuxue, "¿?"
Mematung di tempat.
Sungguh, jawaban Yunmei jauh dari prediksi Liuxue.
"Kamu... menolak tawaranku karena alasan itu?" tanya Liuxue memastikan.
Yunmei mengangguk polos.
"Xiao Xue, hanya karena kita sudah kenalan, bukan berarti kamu udah bukan orang asing lagi."
"Cuuu!!"
Kelinci Xiao Yun bangun dan berlari ke pangkuan Yunmei, seolah-olah dia setuju dengan kata-kata Yunmei.
".....!"
Yunmei tersenyum ketika bola bulu itu terasa di pangkuannya. Tangan kecilnya pun mengelus kelinci itu dengan lembut.
Mata Liuxue sempat membulat sempurna sebelum akhirnya terpejam kembali dan tertawa agak keras.
"Hahahahahaha!!"
"Yang benar saja... hahahahaha..."
Liuxue memegangi perutnya.
"Kamu gak salah sih, tapi tetap saja... ternyata ada juga ya orang yang menolak tawaran orang lain karena alasan semacam itu," tawa Liuxue.
"Apanya yang alasan semacam itu? Ini penting, tahu..." ucap Yunmei.
"Iya, deh, iya..."
Liuxue berusaha menghentikan tawanya. Sudah sangat lama sejak ia tertawa sekeras itu.
Liuxue tersenyum.
"Enaknya gimana, ya..."
.......
.......
.......
.......
.......
.......
...\=\=\=\=\=OooooO\=\=\=\=\=...
Nama: Tang Yunmei
Usia: 6
Spesies: Half Spirit Beast
Level: 10
Martial Soul: Blue Starry Grass
Clear Sky Hammer
Bentuk Martial Soul: Rumput & Palu
Spirit Ring: 0
...\=\=\=\=\=OooooO\=\=\=\=\=...
Nama: Qing Liuxue
Usia: 11
Spesies: Manusia
Level: Unknown
Martial Soul: Unknown
Bentuk Martial Soul: Unknown
Spirit Ring: Unknown
...\=\=\=\=\=OooooO\=\=\=\=\=...
.......
.......
.......
.......
.......
Hari-hari pemulihan Liuxue berlalu dengan cepat. Selama sekitar 2 hari ini, Yunmei merawat Liuxue dengan hati-hati. Gadis itu juga mengamati Liuxue di saat yang sama. Dengan tampilan semewah itu, tidak mungkin Liuxue adalah orang biasa. Yunmei tidak memberitahu Liuxue, bahwa ia sedikit demi sedikit sudah memulihkan pengelihatannya. Walau masih terlihat kabur seperti orang minus berat.
Liuxue sendiri juga mengamati Yunmei. Melihat sejauh apa dia harus bertindak untuk mendapatkan Yunmei sebagai orangnya. Bagi Liuxue, pertemuannya dengan Yunmei sama dengan menemukan emas di tambang bara. Bukan hanya karena Yunmei memiliki Innate Full Soul Power, melainkan karena kepribadian Yunmei itu sendiri. Liuxue menilai Yunmei miliki kecerdasan dan kepribadian yang sangat bagus untuk seusianya. Dia juga memiliki banyak pengetahuan tentang Spirit Beast.
Karena semua hal itu, kekaguman Liuxue pada anak itu menumpuk sampai di titik dimana dia tidak peduli Martial Soul apa yang Yunmei miliki. Yah, pemilik Innate Full Soul Power tidak mungkin memiliki Martial Soul sampah, bahkan ada beberapa kasus dimana pemilik Innate Full Soul Power terlahir dengan Twin Martial Soul, jadi dari awal Liuxue memang tidak pernah mengkhawatirkan itu.
Yang menjadi fokus Liuxue adalah bagaimana dia membujuk Yunmei mengikutinya dan menjadi orangnya. Sayangnya Yunmei adalah anak yang keras kepala. Sekali dia bilang tidak, maka tidak. Kecuali effort yang diberikan cukup kuat untuk menghancurkan pendiriannya, Yunmei tidak akan semudah itu terbujuk.
Anak-anak itu menghabiskan hari bersama dengan canggung. Meski sesekali mereka mengobrol, tak ada obrolan serius dan hanya sekedar basa basi. Rasanya ada jarak atau tembok tak terlihat di antara mereka. Dan Yunmei lah yang membangunnya. Liuxue sendiri sudah berusaha menghancurkan tembok itu. Tapi sepertinya itu tidak begitu berhasil. Dia yang selalu di dekati duluan, cukup kesulitan mendekati duluan. Untungnya sama seperti Yunmei, Liuxue juga keras kepala untuk hal yang aneh. Entah bagaimana ceritanya, dia tidak mau kalah dari kekeraskepalaan Yunmei. Begitulah, tanpa sadar mereka menghabiskan 2 hari bersama.
Karena keduanya tengah terluka, berburu menjadi cukup sulit. Sejauh ini mereka hanya makan buah-buahan yang Yunmei petik di sekitar Goa. Tentu saja itu tidak cukup. Tapi mereka tidak punya pilihan lain, jika sembarang berburu di kondisi seperti ini, mereka bisa menarik perhatian Spirit Beast atau Spirit Master yang mungkin menargetkan mereka.
Berkat tindakan yang penuh kehati-hatian itu, situasi mereka cukup stabil dan aman. Mereka tidak harus segera pergi sebelum pulih. Kalau saja...
"!"
Liuxue tidak menyadari sesuatu.
"Aura ini..."
Melirik ke luar goa.
"Tsk..."
Liuxue mendecak lidahnya. Dia bisa merasakan aura dari Spirit Master yang mengejarnya mulai mengarah ke goa.
"Sial... mereka sudah menemukanku? Atau cuma asal ngarah? Apapun itu... ini buruk," batin Liuxue.
"Aku harus segera pergi dari sini."
"Tapi Yunmei--"
Liuxue melirik gadis kecil yang sibuk mengulek tanaman herbal tak jauh darinya dengan di dampingi seekor kelinci yang duduk dengan tenang di sebelahnya.
"Sepertinya anak ini benar-benar tidak akan mengikutiku selama dia masih curiga."
"Haruskah kubeberkan identitasku sedikit untuk menghilangkan kecurigaannya?" pikir Liuxue.
Liuxue memejamkan matanya.
"Tidak, jangan. Tidak sekarang."
"Ini belum saatnya. Mengetahui itu terlalu cepat hanya akan membuatnya dalam bahaya atau merusak rencanaku kedepannya. Sampai aku benar-benar yakin Yunmei akan jadi orangku, aku tak boleh gegabah menempatkannya."
"Apa yang harus kulakukan padanya?"
Liuxue memutuskannya setelah pertimbangan matang (baginya). Anak itu bangkit dari duduknya. Meregangkan tubuhnya, dan memastikan tidak ada kesalahan yang mungkin mengganggu pergerakannya. Syukurlah, meskipun lukanya belum sepenuhnya pulih, setidaknya itu cukup untuknya bergerak keluar dari hutan.
Ia menoleh ke Yunmei, entah kenapa Yunmei merasakan hawa merinding.
"A-Apa?" tanya Yunmei curiga.
"Yunmei, mau ikut denganku?" tanya Liuxue.
"Aku sudah bilang berkali-kali. Gak mau ya gak mau," jawab Yunmei ketus.
Liuxue menghela napas kecil.
"Sudah kuduga."
"Yasudahlah. Karena sudah begini--"
Liuxue tersenyum, dia berjalan mendekati Yunmei, lalu menggendongnya di depan.
Yunmei, "!!??"
"KYAAA-- APA YANG KAU LAKUKAN!!???" kaget Yunmei di gendong tiba-tiba.
Masih dengan senyuman itu, Liuxue berjalan keluar goa.
"Membawamu ke tempat aman."
"Aku kan udah bilang gak mau!! Turunin aku!!!" berontak Yunmei, disertai tarikan kecil dari gigitan kelinci Xiao Yun di celana Liuxue.
Liuxue nampak tak begitu peduli.
"Dengar, Yunmei. Aku harus segera keluar dari hutan. Kan tidak mungkin aku meninggalkanmu disini sendirian. Aku akan membawamu ke kota terdekat, jangan khawatir."
"Mana mungkin aku gak khawatir!!" Jerit Yunmei, masih mencoba memberontak.
"Sial, andai saja Spirit Power atau Divine Power ku sudah pulih!"
"Seseorang tolong!! Ada penculik!!"
Liuxue agak panik, takut orang-orang yang mengejarnya mendengar Yunmei. Dia pun refleks menutup mulut Yunmei dengan tangannya.
"Jangan berisik!"
"Apa kau mau menarik perhatian Spirit Beast!?"
Yunmei melepaskan tangan Liuxue.
"Makanya lepasin aku!!!"
Liuxue menghela napas berat.
"Kamu ini keras kepala sekali, ya..."
"Aku gak tau gimana caramu mulihin diri secepat itu. Tapi kamu sadar, kan? Kondisi tubuhmu gak sebaik itu untuk bertahan di hutan ini sendirian. Jadilah anak baik dan menurutlah."
"Menurut ke orang asing itu namanya bukan anak baik, tapi anak bodoh! Turunin aku!!"
Yunmei tak berhasil di bujuk.
Biar bagaimanapun, Yunmei tidak bodoh ataupun tidak peka. Di dunia ini, orang yang bisa menggunakan Divine Power, kemungkinan 90% orang itu berasal dari Spirit Hall. 10% sisanya mungkin berasal dari tempat-tempat hebat tersembunyi yang pernah dikunjungi atau di kuasai Dewa. Selama Yunmei belum yakin Liuxue bukan dari Spirit Hall, dia tidak akan sepenuhnya mempercayai Liuxue.
Yah, walau Yunmei juga tidak sejahat itu untuk langsung memusuhi siapapun yang berasal dari Spirit Hall tanpa melihat karakter orang itu sebelumnya. Setidaknya Yunmei tau sampai sekarang Liuxue tidak bermaksud menyakitinya.
"........"
Liuxue mengerutkan keningnya. Gadis kecil di gendongannya ini terlalu keras kepala.
Di satu sisi Liuxue ingin pelan-pelan mendekati Yunmei, karena ia tau, pendekatan yang terburu-buru tidak akan berhasil baik. Disisi lain dia tidak punya waktu untuk itu. Sepertinya dia sudah pingsan terlalu lama. Akan gawat jadinya jika Spirit Master yang mengejarnya menemukan mereka.
Sepertinya tidak ada cara lain, Liuxue merogoh kantungnya. Ada dua token di kantung Liuxue, setelah menimbang-nimbang, Liuxue memilih mengeluarkan token yang memiliki simbol paling sedikit. Kedua token itu mewakili dua identitas yang berbeda. Dan tentunya, keduanya adalah miliknya.
Di berikanlah token itu pada Yunmei.
"Ambil ini."
Yunmei, "Huh????"
Rasanya seolah ada tanda tanya besar di atas kepala Yunmei.
Yunmei meraba benda yang Liuxue berikan.
"Apa ini?"
"Itu Token Spirit Hall. Semua Spirit Master memiliknya. Bisa dibilang itu simbol dan bukti otoritas Spirit Master. Kau juga akan punya itu kalau sudah terdaftar secara resmi sebagai Spirit Master nanti," jawab Liuxue.
"Dan kenapa kamu memberikan benda sepenting ini padaku?" bingung Yunmei.
Liuxue menjelaskan sembari bergerak, ke luar hutan.
"Spirit Master akan kesulitan kalau tidak memiliki itu. Dan akan lebih kesulitan lagi kalau tokennya dipegang orang lain."
"Anggap saja itu jaminan keselamatan mu."
"Aku sungguh akan mengantarmu ke Kota terdekat. Aku juga gak bisa lama-lama menemanimu disana. Gunakan token itu untuk mendapatkan bantuan Spirit Master dari cabang Spirit Hall di kota itu. Aku akan mengambilnya kembali setelah urusanku selesai."
Perasaan Yunmei campur aduk. Bukan baper atau apalah itu. Hanya saja--
"........."
"Orang-orang di dunia ini... mereka ini apa-apaan sih..." gerutu Yunmei dalam hati.
"Bukannya mereka semua terlalu mudah mempercayai orang lain dan terlalu setia? Apa kesetiaan dan kepercayaan adalah syarat paling dasar yang harus dimiliki semua orang di dunia ini? Gak Tang San, gak Xiao Wu-jie, gak Mama, gak orang tua kandungku, gak para villain, semuanya gitu."
"Sungguh dunia yang terlalu lurus."
Masih dalam gendongan Liuxue, Yunmei menyodorkan kembali token itu ke Liuxue.
"Xiao Xue."
"Kamu itu... sudah gila, ya?" tanya Yunmei dengan tatapan menusuk.
Liuxue, "!"
Liuxue terdiam seketika. Ah, tapi kakinya masih bergerak.
"Bisa-bisanya memberikan benda sepenting ini padaku. Ambil lagi!" sodor Yunmei.
Liuxue tertawa kecil.
"Haha... tapikan kamu yang bilang gak mau ngikutin orang asing."
"Ini ya ini, itu ya itu. Mauku itu cuma kamu nurunin aku aja. Aku bisa jalan sendiri keluar dari sini," tolak Yunmei.
Liuxue tersenyum membingungkan.
"Hmm..."
"Kurasa meninggalkan anak 6 tahun yang bahkan belum punya Spirit Ring di hutan Spirit Beast bukanlah ide bagus."
"Aku bisa menjaga diriku sendiri!" protes Yunmei.
"Baiklah, anggap saja kau bisa. Ini hanyalah keinginan egoisku saja. Aku tidak mau, saat sampai di kota nanti, saat ada di tempat aman nanti, rasa bersalah dan cemas karena meninggalkan penyelamatku sendiri akan menggangguku," balas Liuxue.
"Ini bukan demi dirimu, Yunmei. Ini kulakukan untukku sendiri."
"Uhhh..."
Yunmei kehabisan kata-kata.
Memanfaatkan momentum itu, Liuxue melanjutkan kata-katanya.
"Tokenku, ambil saja. Itu caraku memastikan identitasku. Sudah kubilang, itu jaminan bahwa aku tidak akan melakukan apapun yang mungkin menyakitimu."
Yunmei masih mengerutkan keningnya.
"........"
Gadis itu berhenti menyodorkan token di tangannya ke Liuxue. Dia juga berhenti memberontak dan menoleh ke samping.
"Benar-benar..."
"Xiao Xue, aku cuma sedikit mengobati lukamu pakai tanaman herbal. Kenapa sampai sejauh ini cuma untuk membalas itu?"
"Dari awal yang kulakukan itu balas budi karena kau sudah menyelamatkanku duluan," ucap Yunmei.
"Tingkat kepercayaanmu pada orang lain cukup rendah, ya?" jawab Liuxue.
Anu... Liuxue, kamu tidak pantas berkata begitu. Kamu kan sama saja :")
Bedanya sekarang belum separah masa depan nanti.
Yunmei menghela napas berat.
"Haaaahh..."
"Baiklah. Aku mengerti. Tolong antarkan aku ke kota terdekat," lelah Yunmei.
"Aku akan membalas ini saat mengembalikan tokennya nanti."
"Hahaha... aku akan menantikan balasanmu," senyum Liuxue ramah.