Soul Land: Change In Destiny

Soul Land: Change In Destiny
Chapter 8 [ Kakak Pirang (2) ]



Berkat Divine Power yang diberikan anak itu, Yunmei mampu memulihkan sedikit energinya. Setidaknya cukup untuk menjaga kesadarannya. Karena dirinya sudah sadar dan sudah ada di tempat yang sekiranya aman di tambah Xiao Yun tidur tak jauh darinya, Yunmei akhirnya bisa fokus memulihkan dirinya.


"Dasar..."


"Padahal kondisimu sendiri tidak baik-baik saja. Bisa-bisanya memaksakan diri menolong orang lain," hela Yunmei.


Dibandingkan orang lain, Yunmei mampu memulihkan energinya lebih cepat. Terutama di malam hari ketika bintang bersinar terang. Sebagai Goddess of the Starry Sea atau Goddess of the Constellation, dia bisa menyerap Divine Power dari cahaya bintang.


Untuk kali ini, Yunmei memfokuskan Divine Powernya untuk memulihkan dirinya. Jika ia sendirian, mungkin dia akan langsung menggunakan seluruh energinya untuk membawa Xiao Yun pergi, dan baru menyembuhkan diri di kota nanti. Tapi sekarang ada orang lain disisinya. Mana mungkin dia meninggalkan anak yang sudah menyelamatkannya.


Untuk menolong orang lain, pertama dia harus menolong dirinya sendiri dulu.


"Maaf Mama, tolong tunggu sebentar."


"Sepertinya Yunmei harus menunda dulu rencana untuk keluar hutan."


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...\=\=\=\=\=OooooO\=\=\=\=\=...



Nama: Tang Yunmei


Usia: 6


Spesies: Half Spirit Beast


Level: 10


Martial Soul: Blue Starry Grass


Clear Sky Hammer


Bentuk Martial Soul: Rumput & Palu


Spirit Ring: 0


...\=\=\=\=\=OooooO\=\=\=\=\=...


.......


.......


.......


.......


.......


.......


"........"


Anak berambut pirang yang tergeletak di alas goa mulai menggerakkan jarinya.


Setelah nyawanya terkumpul sepenuhnya, anak itu mulai bangun.


"Oh iya... aku pingsan..."


"Sudah berapa lama?" tanyanya pada dirinya sendiri.


Mata anak itu tadinya hanya bisa melihat sekitar dengan kabur. Semakin dirinya tersadar, kekaburan itu semakin terlihat jelas. Barulah anak itu menyadari hari sudah siang beberapa detik kemudian.


"Hei, jangan bangun dulu. Lukamu cukup parah, tau."


Betapa terkejutnya anak itu setelah mendengar suara seorang gadis secara tiba-tiba. Dirinya menoleh cepat pada asal suara tadi. Disaat yang sama...


NYUUUUUUTTTTTT


Nyeri di lengan kanan atasnya membuat pikirannya terpecah.


"Ugghhh..." rintihnya.


Gadis di sebelahnya, Tang Yunmei, hanya menghela napas kecil.


"Nah kan. Akukan sudah bilang, jangan bangun dulu."


Mengabaikan rasa sakitnya, anak itu sontak menanyakan sesuatu.


"Loh, kamu!! Kok kamu sudah bangun!?"


"Itu yang pertama mau kamu tanyakan?"


Yunmei bertanya balik.


Yunmei yang sibuk mengelus-elus kelinci di pangkuannya dengan mata terpejam, menyindir anak itu tepat di depannya.


"Kamu itu... bodoh, ya?"


Anak itu, "Hahh!?💢"


Anak itu berusaha mempertahankan ekspresi tenangnya.


"Kenapa kamu bilang begitu?"


"Kalau mau menolong orang lain, pertama-tama, tolonglah dirimu sendiri dulu. Bagaimana bisa kamu menolongku padahal lukamu saja belum di obati," sindir Yunmei.


Anak itu tersentak. Dia baru saja menyadari, lukanya sudah di oles tanaman herbal dan di perban dengan kain pakaian Yunmei. Sebagai Spirit Beast yang hidup di hutan selama 6 tahun, Yunmei memiliki pengetahuan dasar tentang jenis-jenis tanaman di Hutan Xing Dou. Tidak sulit untuk menemukan yang berguna.


"Kamu yang mengobatiku, ya. Terima kasih..." ucap anak itu.


Yunmei entah kenapa jadi diserang sedikit rasa bersalah.


"......."


"Tidak, aku yang lebih dulu harus bilang terima kasih," ucap Yunmei.


"Terima kasih sudah menolongku dan membawaku kemari."


Anak itu tersenyum ramah, tapi Yunmei bisa melihat bahwa itu hanyalah senyuman yang dibuat-buat.


"Tidak masalah. Mana mungkin aku meninggalkanmu disana."


"Lagipula, kenapa juga kamu bisa ada disana? Tak mungkin kan kau datang sendirian."


Yunmei sudah memikirkan alasannya.


"Banyak yang terjadi."


"Tadinya aku datang bersama guruku untuk mencari Spirit Ring pertamaku. Tapi untuk beberapa alasan... guru dan aku terpisah," jawab Yunmei dengan wajah sendu.


Kurang lebih anak itu memahami situasinya. Jika melihat dari Yunmei yang terluka parah di tengah hutan dan dari ceritanya. Mungkin saja Yunmei dan gurunya bertemu Spirit Beast kuat dan terpaksa melawannya. Lalu karena hanya ada Yunmei disini, sang guru mungkin sudah...


"Sebaiknya aku tidak bertanya lebih jauh..." batin anak itu.


"Kamu sendiri?" tanya Yunmei.


"Lukamu bukan ulah Spirit Beast. Kamu pasti diserang manusia, kan? Pasti merepotkan ya terlibat dengan masalah seperti itu."


Anak itu, "......."


Anak itu tidak tau bagaimana cara menjelaskan perasaannya sekarang. Dia merasa sedih, tersindir, marah, tidak terima tapi juga tidak bisa menyangkal, dan berbagai emosi rumit lainnya sekaligus.


"......."


Entahlah ya. Dia memang tidak menyukai situasinya sekarang. Namun rasa tanggung jawabnya memaksanya memikul semua itu.


"Kamu, berapa umurmu?" tanya anak itu.


Yunmei dengan tatapan kosongnya (karena masih buta), terdiam sejenak.


"Mengalihkan pembicaraan, ya..."


"Terserahlah."


Tak lama, Yunmei meletakkan Xiao Yun ke sebelahnya dengan hati-hati, lalu berdiri untuk mendekati anak itu.


"Bukan kamu."


"Yunmei. Namaku Xiao Yunmei. Bukan kamu."


"Aku 6 tahun," ucap gadis itu seraya mendudukkan dirinya ke sebelah anak itu, menghadap arah yang sama.


"........"


Anak itu mematung di tempat.


"Pfftt... ahahahaha."


Dan tertawa beberapa saat kemudian.


Tangannya menyeka air mata yang tak sengaja keluar di tengah tawa itu.


"Benar juga. Kita melewatkan banyak hal, ya."


"Xiao Yunmei, kan? Aku--"


Anak itu berpikir dengan cepat. Dia sama sekali tak ada niatan memberitahu Yunmei nama aslinya.


"--Qing Liuxue."


Yunmei, "Qing? Marganya agak gak asing... dimana aku pernah mendengarnya, ya?"


"Aku 11 tahun. Jadi kamu harus memanggilku kōkō," senyum anak itu.


Yunmei memasang wajah tertekuk.


"Gak mau."


"Aku hanya punya 2 kōkō dan 1 Jie-jie. Aku takkan memanggil orang lain selain mereka dengan panggilan itu," jawab Yunmei jujur.


"Apa-apaan itu? Hahahaha..." tawa Liuxue.


"Ya sudah deh, terserah kamu mau memanggilku apa. Tapi itu tidak akan merubah fakta kamu lebih muda dariku, ya."


Yunmei memikirkan nama panggilan lain.


"........"


"Lalu..."


Walaupun tidak bisa melihat, Yunmei masih bisa menyadari beberapa hal. Seperti, anak itu sudah mulai mengendurkan kewaspadaannya pada Yunmei dan bahwa anak itu sepertinya meremehkannya.


".... Xiao Xue?" tanya Yunmei, seakan meminta izin memanggilnya begitu.


DEGG


Liuxue seketika membeku di tempat. Memang benar dia menambahkan "xue" ke dalam namanya. Tapi dia tidak menduga, alih-alih Xiao Liu atau Liu-kō, dsb. Yunmei akan memilih memanggilnya Xiao Xue.


Tentu, diamnya dia membuat Yunmei bingung.


"Ah, apa tidak boleh?"


Liuxue, "........"


Yunmei tak bisa melihatnya. Ekspresi Liuxue sempat berubah horror dan sendu untuk beberapa detik sebelum akhirnya kembali normal dan ramah lagi.


"Gak apa-apa."


"Hanya saja--"


Dia pun tersenyum masam.


"--rasanya sudah lama aku tidak dipanggil begitu."


Yunmei, "........"


"Apa ini panggilan khusus untuk keluarga atau semacamnya? Haruskah kuganti saja?" batin Yunmei tidak enak. Mungkin dia tidak sengaja menyentuh masa lalu yang tak ingin Liuxue umbar.


Menyadari Yunmei memasang muka tidak enak, Liuxue tersenyum tipis dan menepuk kepala Yunmei.


"Sudah, gak papa."


"Hitung-hitung ganti suasana. Selama ini, hanya 2 orang yang memanggilku begitu. Kau kuizinkan jadi orang ketiga yang boleh," senyumnya.


Yunmei menepis tangan Liuxue.


"Apa-apaan. Memangnya kamu siapa sampai butuh izinmu untuk itu."


"Pfftt..."


Liuxue terkikik. Yunmei sungguh mengingatkannya dengan adik perempuannya yang ceria dan agak manja.


"Dia mirip Xue Ke."


"Karena marga mu sudah 'Xiao', rasanya kalau memanggilmu Xiao jadi biasa saja. Yunmei? Yun Yun? Yun'er? Mana yang kamu mau?" tanya Liuxue.


Semua itu adalah bagaimana cara orang-orang terdekatnya memanggilnya. Yah, di Tionghoa, cara memanggil perempuan akrab memang dengan memanggil nama langsung, menambahkan Xiao di awal atau mei di akhir, mengulang nama (jika pendek) atau menambahkan 'er.


"Terserah Xiao Xue. Karena aku juga milih sendiri mau manggil apa," jawab Yunmei.


"Hahahaha, baiklah. Untuk saat ini, aku akan memanggilmu Yunmei saja," tawa Liuxue.


Yunmei mengangkat sebelah alisnya, "Untuk saat ini?"


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...\=\=\=\=\=OooooO\=\=\=\=\=...



Nama: Qing Liuxue


Usia: 11


Spesies: Manusia


Level: Unknown


Martial Soul: Unknown


Bentuk Martial Soul: Unknown


Spirit Ring: Unknown


...\=\=\=\=\=OooooO\=\=\=\=\=...


.......


.......


.......


.......


.......


.......


"Baiklah, Yunmei. Kau bilang umurmu 6 tahun, kan?"


Liuxue kembali ke topik awal.


"Dan di umur itu kau mau mengambil Spirit Ring pertama? Yunmei, kau--"


Entah kenapa Yunmei jadi agak tegang. Rasanya, Liuxue yang sekarang berbeda dari yang sebelumnya.


"--terlahir dengan Innate Full Soul Power?" tanya Liuxue.


Yunmei menelan ludah. Dia bisa menebak identitas asli Liuxue pasti tidak biasa, mengingat, tidak mungkin ada anak biasa yang ada di tengah Hutan sendirian sepertinya. Terlebih, tidak mungkin orang yang bisa menggunakan Divine Power adalah orang biasa.


Jadi Liuxue pasti antara anak bangsawan, keluarga Kerajaan, murid sekte besar atau... Spirit Master dari Spirit Hall.


Yunmei harus berhati-hati dengan kata-katanya.


"Iya."


"Kalau gak salah, guru memang menyebutnya seperti itu," jawab Yunmei dengan polosnya.


Liuxue mengangguk paham, "Hmm..."


"Terlahir dengan Innate Full Soul Power. Punya kemampuan medis. Sifatnya juga tidak naif. Dari marganya... dia bukan dari keluarga bangsawan, Kekaisaran ataupun Sekte besar."


"Tapi gurunya bukan jenis yang mampu mengembangkan bakat. Dia pasti dari pedesaan. Sungguh sia-sia. Mengikutiku akan jauh lebih baik untuk masa depannya," pikir Liuxue.


Liuxue memikirkan banyak hal. Pertemuan mereka berdua mungkin saja bukanlah kebetulan, melainkan takdir. Dia mungkin bisa memanfaatkan gadis itu. Bisa terlahir dengan Innate Full Soul Power saja sudah menjelaskan bahwa gadis itu berbakat. Tidak sia-sia Liuxue menyelamatkannya.


Tapi ada satu hal yang mengganjal.


"Yunmei, matamu tidak kehilangan warnanya. Kamu bukan buta sedari lahir, kan?"


"Apa yang terjadi pada matamu?" tanya Liuxue, seolah-olah dia khawatir.


"........"


Yunmei bisa melihat niat anak itu hanya dari getaran kecil dalam nada suaranya.


"..... ini karena racun..." jawab Yunmei. Tentu, bohong.


"Racun?"


"Emm..."


Yunmei mengangguk.


"Ada laba-laba aneh... dan besar... menyerang ku dan guru... laba-laba itu menembakkan racun... dan mataku... terciprat sedikit..."


"Racun laba-laba? Laba-laba jenis apa itu?" Liuxue mendengarkan dengan baik.


"Yah, apapun itu... aku yakin paman racun tidak akan kesulitan menyembuhkannya."


Liuxue menatap lurus langsung ke mata Yunmei walaupun tau dia tidak akan bisa melihatnya.


"Yunmei, kau mau ikut denganku?"


Yunmei mundur sedikit.


"Huh???"


"Tiba-tiba!? Apa yang bocah gila ini bicarakan!???"


"Apa dia langsung tertarik karena aku punya Innate Full Soul Power?? Padahal dia aja belum tau Martial Soul ku apa."


Yunmei tidak percaya ini.


Tapi, walau sulit dipercaya. Alasan kenapa Liuxue mengajak Yunmei, 30% memang karena dia tertarik dengan bakat Yunmei. Dia menyukai orang yang kuat dan berbakat. Terutama kalau orang itu suatu saat nanti bisa menjadi orangnya. Untuk yang 70% lagi, itu mungkin datang dari rasa tanggung jawabnya.


Kalau mau menolong orang lain, dia harus menolong hingga akhir. Tidak boleh setengah-setengah. Kakeknya selalu mengajarkan padanya untuk membalas perbuatan orang padanya. Baik ataupun buruk.


Teman ataupun musuh, Liuxue akan menghargai mereka jika mereka adalah orang dengan prinsip, tanggung jawab dan keadilan yang bagus.


"Ehh... gak mau ah," jawab Yunmei.


"Mama selalu mengingatkanku untuk tidak mengikuti orang asing sembarangan."