
Episode ini mengandung konten dewasa (Rate 21+), mohon untuk pembaca menyikapi dengan bijak. Terimakasih.
###
Mobil Will terus melaju, menuju ke tempat yang lebih terpencil. Jalanan menjadi terjal karena banyaknya bebatuan. Kini pemandangan sekitar di kelilingi dengan pepohonan tinggi.
"Sebenarnya kita mau ke mana? Aku sedikit mual karena guncangan mobil.."
"Maafkan aku, sebentar lagi kita akan sampai.."
Beberapa menit kemudian Will menghentikan mobilnya. Di depan hanya terlihat semak belukar tetapi ada jalan setapak menuju ke suatu tempat . Will turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Lizzie.
"Aku akan menggendongmu.."
"Aku masih bisa jalan sendiri Will.."
"Tidak kau sedang memakai sepatu hak tinggi, akan sulit bagimu untuk berjalan di tempat seperti ini.."
Lizzie mengerutkan dahinya. Ahkirnya ia menyetujui. Will pun menggendong Lizzie ala bridal style.
Will menerobos ke semak semak dan berjalan sejauh sepuluh meter jaraknya. Barulah mulai terlihat sebuah rumah tepat berada di pinggir danau. Bayangan rumah itu terpantul pada permukaan air.
"Wow, sangat indah.."
"Kau menyukainya?"
"Sepertinya rumah yang nyaman untuk ditinggali.."
Will menaiki teras tangga rumah kemudian ia menurun kan Lizzie. Lalu Will menekan tombol untuk membuka kode pintu.
Pintu pun terbuka.
Segala sesuatunya di dalam rumah itu terlihat begitu menarik. Hampir seluruh bangunan nya terbuat dari bebatuan dan kayu. Lizzie mengagumi setiap desain interior rumah danau.
"Kau berisitirahat lah sebentar, kamar kita ada di lantai dua, aku akan mengambil kado pernikahan di dalam mobil.."
"Tolong serahkan kado dari Suzi untukku.."
Lizzie pun mulai berjalan menuju kamar. Apakah Will juga sering tinggal disini? Semua perlengkapan yang dibutuhkan sudah tersedia.
Pemandangan dari kamar sungguh indah. Lizzie dapat melihat danau yang beriak kecil karena tertimpa guguran daun.
Karena tidak adanya persiapan Lizzie lupa membawa baju ganti, tetapi Suzi mengatakan untuk menghabiskan malam bersama Will, ia harus mengenakan kado yang diberikan Suzi.
Will pun datang dengan setumpuk kado. Lalu ia menyerahkan kado pemberian dari Suzi.
"Ini kado dari Suzi, selagi kau mandi, aku akan menyiapkan makan malam untukmu.."
"Kau bisa memasak?"
"Hanya masakan sederhana, tidak sehebat dirimu.."
Satu hal kemampuan Will yang baru di ketahui Lizzie.
Lizzie pun membersihkan dirinya di kamar mandi. Suzi sudah mengajarkan beberapa hal, bagaimana caranya ia dapat menyenangkan seorang lelaki. Haruskah Lizzie melakukan nya?
Walaupun kini Will sudah menjadi suaminya dan mereka pernah bercinta, tetap saja Lizzie merasa gugup.
Lizzie mandi menggunakan wewangian, mencukur bulu bulu halus yang tumbuh di kaki tangannya, menggosok gigi serta keramas menggunakan sampo Will. Apakah Lizzie juga harus sedikit berias?
Lizzie melirik pada kado yang diberikan Suzi. Sebenarnya apa yang di kadonya?
Lizzie membuka kado itu. Ternyata isinya adalah beberapa set baju tidur dan pakaian dalam yang seksi. Lizzie memang membutuhkan pakaian ganti. Tapi baju ini begitu terbuka.
Terpaksa Lizzie harus mengenakan baju tidur itu karena tidak mungkin ia mengenakan kembali baju pengantin.
"Lizzie kau sudah selesai, waktunya makan malam.."
Aroma masakan Will tercium hingga ke kamar mandi. Lizzie pun segera bergegas keluar.
"Baiklah.."
Will sedang sibuk menghidangkan makanan di atas meja.
"Aku membuatkanmu fettucine carbonara dan segelas susu, dud.."
Perkataan Will terhenti saat melihat kearah Lizzie. Darimana Lizzie mendapatkan pakaian seperti itu? Apakah itu kado dari Suzi?
Rambut Lizzie sedikit basah sehabis keramas tubuhnya pun samar samar tercium bau wangi bunga lavender. Lizzie terlihat sangat menggoda.
"Apakah aku terlihat aneh mengenakan pakaian ini?"
Lizzie tampak malu, ia menarik ujung baju tidur kebawah.
"Lupakan tentang makan malam!"
Will berjalan mendekat. Tangannya langsung meremas dada Lizzie yang terbalut dengan kain sutra tipis.
Will mengangkat tubuh Lizzie dan membaringkan nya di atas ranjang.
"Aku tidak bisa menunggu lagi sayang.."
Will mulai membuka ikatan tali pada piyama Lizzie. Ia pun segera melepaskan baju dan merenggang kan gesper celana.
Tiba-tiba tangan Lizzie mencengkram lengan Will sehingga menghentikan kegiatannya.
"Tunggu Will, kali ini aku yang ingin memuaskanmu.."
Dengan perlahan Lizzie menelusuri celana Will lalu membukanya lebih lebar. Bukti gairah Will telah mengeras dan berdiri menyembul keluar.
Lizzie pun mulai memegang nya dengan lembut.
Sialan Suzi!! Apa yang telah kau ajarkan pada Lizzie!
Dan tak di sangka bibir Lizzie yang indah telah melingkupi miliknya.
"Oh.. Lizzie.."
Lidah Lizzie menari-nari. Jemarinya memainkan pangkal miliknya. Walaupun Lizzie masih belum begitu mahir melakukannya, tetap saja Lizzie membuatnya hampir melayang.
Will tidak akan membiarkan tindakan Lizzie lebih lama, meskipun ia sendiri menikmatinya.
Will menggenggam erat pergelangan tangan Lizzie.
"Berhenti Lizzie.." terdengar suara serak Will.
Lizzie berhenti, ia menatap Will dengan pandangan khawatir.
"Apa aku menyakiti mu?"
"Tidak. Aku suka dan kau berhasil membuatku gila.."
Will merubah posisi. Kini Lizzie berada di bawah dekapannya.
"Tetapi aku ingin kita mencapai kenikmatan bersama.."
Will mencium Lizzie. Sembari tangannya melucuti setiap pakaian Lizzie. Beberapa menit berlalu mereka sudah telanjang bulat.
Will memasuki Lizzie dengan perlahan dan ia melakukan nya dengan ritme yang lembut karena Lizzie sedang mengandung.
Will tidak pernah merasa bosan bercinta dengan Lizzie. Tubuh Lizzie begitu sangat pas dengan miliknya. Seolah Tuhan menciptakan Lizzie memang untuknya.
Hingga mereka mencapai kenikmatan bersama. Lizzie berpegangan erat pada lengan Will yang kokoh. Kakinya di kaitkan ke pinggul Will.
Will pun mengerang keras memanggil nama Lizzie saat pelepasan nya.
***
Masakan Will sudah berubah menjadi dingin. Tetapi mereka tetap memakannya untuk sekedar mengisi perut. Ternyata rasanya cukup enak. Lizzie ingin tahu lebih dalam lagi mengenai Will Turner.
"Kau ingin tinggal disini?" tanya Will.
Lizzie tampak sedang berpikir.
"Mungkin menyenangkan tinggal disini, tempatnya begitu tenang, tetapi aku memilih tinggal di mansion.."
"Mengapa?"
"Karena mansion penuh akan kenangan kita, walaupun juga terdapat kenangan buruk. Tapi disana ada Bibi Lisa dan pelayan lainnya aku sudah begitu dekat dengan mereka.."
"Kalau itu yang kau mau, aku akan turuti.."
Lizzie melihat ke sekeliling ruangan. Sepertinya Will sangat menyukai rumah danau ini.
"Tapi sesekali aku mau menginap disini, jika kita ingin bersenang-senang hanya berdua saja.."
Tiba-tiba Will memandang Lizzie dengan tatapan serius.
"Asal kau tahu, kau wanita pertama yang ku ajak datang kemari.."
Will memang tidak pernah mengajak seorang wanita manapun datang kemari. Hanya beberapa orang penting termasuk Albert yang mengetahui rumah danau ini. Lizzie merasa tersanjung dengan pernyataan Will.
"Sepertinya rumah ini cukup berarti untukmu.."
"Ya.."
Will pun mulai menceritakan masa lalunya yang kelam bersama Albert hingga ia menjadi seorang pembunuh bayaran.
Bukankah sebenarnya Will dan Lizzie begitu mirip. Mereka sama sama memiliki kehidupan masa lalu yang rumit dan kelam.
Lizzie dapat mengerti perasaan Will. Ia pun ikut bercerita mengenai hubungannya dengan kedua orang tua Lizzie. Walaupun sebagian besar Will sudah mengetahui nya.
Mereka selangkah lebih mengenal satu sama lain.