Something Wrong With You

Something Wrong With You
Ibu bunuh diri



Awan hitam menggulung diatas langit. Angin mulai berhembus menerbangkan beberapa daun dan ranting kering. Ini sudah masuk musim dingin.



Lizzie Elmer merapatkan sweater nya agar merasa lebih hangat. Ia harus bergegas pulang sebelum hujan turun.


Sudah menjadi rutinitasnya mengantar roti pesanan dari satu desa ke desa lain. Roti itu buatan Ibu dan dirinya.


Tetesan air hujan mulai terasa.


"Ah..aku harus cepat." Lizzie berlari kecil sebelum tubuhnya basah kuyup, rumah kecilnya sudah terlihat di depan.


Tepat sesampai dirumah, hujan turun lebat. Teras rumah tampak gelap. Aneh biasanya Ibu akan menghidupkan lampunya.


Lizzie menyibakan bajunya yang sedikit terkena tetesan hujan dan menaruh sepatu di dalam rak.


"Ibu aku sudah pulang.." kata Lizzie Elmer masuk kedalam rumah. Tapi Ibunya tidak menyahut.


"Ibu?" Lizzie berjalan ke dapur untuk mengambil air minum, tidak ada orang. Apakah Ibunya sedang pergi?


Dilihat kamar Ibunya yang terbuka, pencahayaan yang minim menimbulkan sebuah bayangan. Lizzie terperanjat tidak ingin mempercayai apa yg dilihat bayangan itu. Hampir saja ia menjatuhkan gelas yang ia bawa. Lizzie melangkah pelan, tubuhnya mulai gemetar saat memasuki kamar ibunya.


Dan dilihatnya kaki Ibu melayang tidak menyentuh tanah. Ibunya tergantung diatas langit kamar tidak bergerak sama sekali.


"To..tolong.."suara Lizzie hilang entah kemana, rasanya sesak seperti tercekik. Pandangan nya mulai kabur. Ia berpegangan erat pada tepian meja.


Sebelum ia benar benar pingsan, Lizzie melihat wajah ibunya yang tampak menderita.


Mengapa Ibu meninggalkanku?


***


Suara bising membangunkan Lizzie. Apakah ia sedang mimpi buruk?


"Kau sudah bangun nak.." ujar Bibi Helen tetangga samping rumahnya. Bibi Helen menyodorkan teh hangat pada Lizzie.


Tidak hanya Bibi Helen, ada beberapa tetangga lainnya yang juga berada dirumah dan juga aparat kepolisian.


Lizzie teringat akan Ibunya.


"Ibu.." ujarnya lirih. Bibi Helen menatapnya dengan iba.


"Aku ingin melihat Ibu.." Lizzie beranjak dari ranjangnya.


Bibi Helen mendampingi Lizzie. Langkahnya semakin berat melihat tubuh seseorang yang terbaring. Kerumunan orang menyibakan diri memberi jalan. Lizzie mulai menangis. Tubuh ini benar milik ibunya.


Digenggamnya tangan Ibu yang mulai mendingin.


Mengapa Ibu meninggalkanku seperti ini? Mengapa ibu tidak bercerita?


Seseorang menepuk pundaknya pelan.


"Selamat sore nona, Saya selaku aparat ingin menjelaskan bahwa Ibu Anda melakukan percobaan bunuh diri dengan menggunakan selimut yang ia lilitkan pada rangka atap, dan memanjat lemari kecil. Tidak ada luka penganiayaan lainnya. Ini murni korban melakukanya sendiri." kata aparat kepolisian.


Kemudian polisi itu menyodorkan beberapa lembar kertas surat untuk Lizzie.


" Dan ini kami temukan di atas Mejanya."


Lizzie menerima surat itu dengan tangan gemetaran.


"Terimakasih.." kata Lizzie. Ia tidak ingin segera membacanya, nanti jika Lizzie sudah cukup kuat menerima kenyataan ini.


"Apakah Ayah anda dapat kami hubungi nona.." tanya aparat kepolisian.


"Tidak." tandas Lizzie cepat.


Ayahnya telah pergi sudah hampir setahun lalu meninggalkan Lizzie dan Ibunya. Ia tak pernah sekalipun mendengar kabar dari ayahnya.


Lizzie sudah tidak begitu peduli dengan ayahnya. Ia dan Ibunya berjuang menghidupi diri sendiri dengan berjualan roti.


"Baiklah, jika ada informasi lebih lanjut mohon hubungi kami." kata aparat kepolisian.


Lizzie hanya menganggukan kepalanya. Mayat ibunya dibawa menggunakan mobil jenazah menuju rumah duka.


Selamat tinggal Ibu.


Beberapa tetangga silih berganti memberikan ucapan berbela sungkawa. Lizzie merasa sangat lelah. Ingin rasanya mengurung diri di kamar dan menangis seharian.


Tetapi masih banyak tamu berdatangan dan Lizzie juga harus segera mengabari kerabat lain untuk mengurus proses pemakaman ibunya.


Ia harus kuat dan bersabar.


Lizzie Elmer tidak akan pernah mengira bahwa ini adalah sebuah awal pemula penderitaanya.