
Dengan berbagai cara Tonny Elmer berusaha menuju alamat mansion Will Turner. Ia tidak memiliki cukup uang untuk sekedar naik transpotasi umum.
Maka Tonny menumpang mobil barang yang searah tujuan. Ia rela berdesakan dengan barang - barang muatan yang akan dikirim demi menemui Lizzie.
Awalnya Tonny merasa heran mengapa para pelayan di rumah Will Turner tampak menghormati Lizzie. Menurut Informasi yang ia dapat Lizzie juga bekerja sebagai budak Will. Tetapi penampilan anaknya tidak mencerminkan seperti itu.
Apakah Lizzie berhasil merayu Will Turner sehingga mau menikahinya atau mungkin Lizzie menjadi wanita simpanan Will Turner si investor kaya?
Rasa bangga meliputi Tonny apapun itu ini menguntung kan nya, tidak salah ia datang kemari. Tetapi perasaan senangnya hanya sesaat. Lizzie menolak keberadaan Tonny.
Anaknya tampak ketakutan saat melihat Tonny Elmer hingga memanggil para pelayan untuk mengusirnya.
"Maaf Tuan sepertinya Anda harus segera pergi." Bibi Lisa datang menolong Lizzie.
Raut wajah Tonny menjadi tidak ramah.
"Cih! Bang*at!! Bagaimana kalian bisa mengusirku !! Aku adalah ayah Lizzie!! " Tonny meludah menantang para pelayan yang ada disana. Sesaat semua terdiam.
Amarah Lizzie bangkit, walaupun air mata nya masih mengalir, Lizzie berusaha untuk berbicara melawan rasa traumanya.
"Ayahku tidak akan pernah menempatkan ku pada keadaan yang sulit! Kuanggap kau sudah tidak ada."
"Kurang ajar! Aku tau aku salah! Tetapi kau tetaplah anakku kita masih sedarah!"
Lizzie merasa sangat sakit hati, memang benar sebrengs*k apapun Tonny Elmer ada darah yang sama mengalir ditubuhnya. Tetapi bahkan permintaan maaf tidak di ucapkan oleh Ayah nya atas penderitaan yang ia buat. Hingga ibunya mati.
Apakah Tonny Elmer masih pantas disebut Ayah? Saat tersulit Tonny seolah membuang mereka.
Tidak peduli Lizzie menjadi anak yang durhaka. Melihat ayah nya selalu mengingatkan akan kejadian buruk yang menimpa Lizzie dan Ibunya.
"Aku tidak peduli lagi. Tolong segera pergi dari sini." Lizzie memalingkan mukanya.
Tonny menjadi gelap mata , dengan kasar ia menarik kalung pemberian ibunya hingga putus. Lizzie jatuh tersungkur dengan bunyi yang keras.
"Mark!! Usir orang ini!!" Bibi Lisa berteriak memanggil nama suaminya. Seorang pria bertubuh tinggi besar datang bersama pelayan lelaki lainnya, menyeret paksa Tonny Elmer keluar mansion.
Tonny Elmer memberontak dan berteriak mengancam tetapi ia kalah tenaga.
"Suatu saat, kau akan aku ingatkan kembali bahwa aku tetap Ayahmu!! Kau tidak bisa selamanya menyangkal dan menghindar Lizzie!! Ibumu di liang lahat pasti sangat kecewa karena kau tidak mau mengakui ayahmu sendiri!! Ia tidak akan tenang disana!"
Lizzie diam terpaku mengenggam erat kalung nya yang putus. Walaupun leher dan kaki nya memar ia tidak dapat merasakan itu.
"Nona Lizzie kau tidak apa apa?" Bibi Lisa memapah Lizzie agar duduk di sofa.
"Amily ambilkan kotak obat dan sediakan teh peppermint hangat!"
"Baik Ibu!" Amily segera menyiapkan apa yang diperlukan ibunya.
Dengan sigap Bibi Lisa mengobati luka memar Lizzie lalu menyeduhkan teh.
"Minumlah agar nona merasa lebih baik.. Dan tenang saja Nona, kalung anda bisa saya perbaiki seperti semula."
Lizzie menerima cangkir teh dengan tangan gemetaran menimbulkan riak kecil pada air teh itu. Kehangatan sikap Bibi Lisa mengingatkan akan Ibu Lizzie.
"Bibi Lisa..aku tidak tahu apakah tindakanku sudah benar..."
Kemudian Lizzie menceritakan semua hal yang telah ia alami hingga dapat datang kemari. Bibi Lisa mendengarkan dengan baik, bahkan ia ikut menangis membayangkan jika anaknya Amily berada di posisi yang sama.
Nona Lizzie yang malang..ia harus menanggung semua ini sendirian.
Jika Tonny Elmer datang kemari lagi, ia pastikan akan melindungi Lizzie seperti anaknya sendiri.
***
Saat Will kembali ke mansion, ia tidak melihat keberadaan Lizzie dimana pun. Lalu Lisa memberitahukan bahwa Lizzie sedang tidur di kamarnya.
"Nona Lizzie sedang tidak enak badan tuan..'' Bibi Lisa tampak gelisah, ia ingin menceritakan kejadian kemarin tetapi ia masih ragu. Apakah Lizzie tidak akan keberatan jika ia menceritakannya pada Will?
Will menangkap gelagat aneh pada Lisa. Ia segera tahu ada satu perihal yang disembunyikan Lisa.
"Ada kejadian apa kemarin saat aku tak ada?"
"Mmm..Sebenarnya Tuan, Nona Lizzie.." Bibi Lisa bingung antara tetap diam atau menceritakan pada Tuan Will Turner. Karena ini masalah pribadi Lizzie.
"Apa kau berani menyembunyikannya padaku?" suara Will mengintimidasi membuat Lisa takut. Bagaimana pun juga mansion ini milik Will Turner, ia berhak tahu segala hal yang telah terjadi disini.
Lisa menceritakan kedatangan Tonny Elmer serta menjelaskan pertengkaran yang terjadi antara Tonny dan Lizzie.
Will merasa geram. Tentu ia tahu siapa Tonny Elmer itu. Sebelumnya Will pernah menyelidiki latar belakang Lizzie setelah ia membawa nya ke mansion.
Dengan langkah lebarnya Will segera berjalan menuju kamar Lizzie.
Semoga keputusannya tepat dengan menceritakan kejadian itu kepada tuannya.
Dilihatnya tubuh mungil kekasihnya meringkuk pada ranjang yang besar. Mata Lizzie terpejam, ia tampak pucat dan ada cekungan hitam di bawah matanya.
Apakah Lizzie tidak bisa tidur setiap malam?
"Lizzie.." Will berbisik ditelinganya. Gadis itu tetap diam.
Baru di sadari Lizzie mengenakan pakaian tidur tipis sehingga sedikit memperlihatkan lekuk tubuh Lizzie.
Sial!! Ini bukan saat yang tepat menikmati pemandangan tubuh Lizzie!
Sedetik kemudian Lizzie mengiggau karena mimpi buruk.
"Ibu maafkan aku.." airmatanya menetes membasahi pipi Lizzie. Dengan sigap Will mengusapnya.
Lalu Will mencium lembut bibir Lizzie hingga terbangun. Lizzie membuka matanya perlahan dan mendapati Will sudah berada di depannya. Ia tidak merasa sendirian lagi dalam kamarnya yang terlalu besar ini.
"Will.."
Lizzie memeluk tubuh Will yang terasa hangat dan memberikan kenyamanan untuknya. Will membalas pelukannya. Ia naik ke ranjang. Lizzie tidak memprotes.
"Temani aku sebentar, aku merasa takut.." kata Lizzie lirih.
Apakah ini ajakan yang tersirat? Apakah Lizzie sadar akan ucapannya? Will dan dirinya bukan lagi anak anak tetapi Pria dan Wanita dewasa berada dalam satu kamar bahkan ranjang.
Will mencium Lizzie lagi, kali ini ciuman mereka lebih dalam, dengan perlahan Will membaringkan tubuh Lizzie takut jika melukainya. Tangan Will mencari tali pada baju tidur Lizzie dan merenggangkannya.
Will menciumi tengkuk Lizzie.
"Will.." Lizzie memanggil namanya, ia segera memandang Lizzie. Mata hazelnya tampak kebingungan.
****! gadis ini benar benar polos!
Will menghentikan tindakannya dan memeluk erat Lizzie. Ia dapat merasakan detak jantung Lizzie yang mengeras. Biasanya ia akan mengambil kesempatan ini, tetapi tidak dengan Lizzie. Will memang sangat menginginkannya sekaligus juga ingin menjaga nya.
Will yang dulu sudah sedikit jinak dengan gadis ini.
Will mentertawakan diri nya sendiri.
Sedangkan Lizzie tidak mengerti dengan apa yang ia rasakan saat Will menciuminya, ia ingin menarik tubuh Will agar lebih dekat dan ingin terus memanggil namanya. Lizzie memandang Will bingung saat ia menghentikannya.
Mereka pun larut dalam pikiran masing masing hingga Lizzie tertidur dalam pelukan Will.