Something Wrong With You

Something Wrong With You
Finish him!



Setelah melewati masa kritis karena hipertermia, Lizzie mengalami demam tinggi. Setiap malam Lizzie akan mengigau memanggil ibunya.


"Ibu..ibu.." Airmata membasahi pipi Lizzie.


Melihat itu Will menjadi kalang kabut. Lizzie tampak sangat menderita dalam tidurnya. Jika dia bisa memindahkan penyakit Lizzie ke dalam tubuh nya sendiri, pasti Will akan melakukannya.


"Cepat lakukan sesuatu!!" Will membentak dokter Martin. Ahkir ahkir ini emosi Will sangat tidak stabil.


Ini bukanlah seperti Will yang ia kenal. Biasanya Will sangat bersikap tenang dan cenderung tidak mengekspresikan emosinya. Hanya karena wanita yang di cintainya terluka, dapat merubah watak Will seketika.


"Bersikap tenang lah sedikit Will, aku sudah meminumkan obat penurun panas untuknya. Pastikan tubuhnya tetap hangat. Perawatku akan terus memantau keadaanya."


"Jika sampai demam nya tidak kunjung sembuh, kau akan tahu ahkibatnya."


"Kau juga harus menyiapkan makanan yang bergizi untuk kekasihmu agar dia cepat pulih."


Maka Will mendatang koki handal sekalipun ke mansionnya untuk menyiapkan makanan yang di perlukan Lizzie.


Kepala Lizzie terasa sangat berat, seperti ada beban seratus ton menimpa dirinya. Tubuhnya masih lemas untuk sekedar duduk.


Saat perawat sedang menyuapinya, Lizzie langsung memuntahkannya kembali. Mulut Lizzie terasa pahit untuk menelan makanan. Will tengah mengawasi dari ujung ruangan. Amarahnya timbul saat Lizzie menolak makanan yang diberikan.


"Keluarlah!" Perintah Will pada perawat. Setelah perawat itu pergi Will naik ke ranjang Lizzie.


"Makanlah agar kau cepat sembuh.." ujar Will pada Lizzie.


Lizzie menggelengkan kepalanya, ia terlalu lemah untuk banyak bicara. Will meraih tangan Lizzie dan menaruhnya di atas rahang Will. Ia menatap Lizzie dengan intens.


" Aku sangat tersiksa saat melihatmu seperti ini.."


Tangan Lizzie dapat merasakan janggut Will yang mulai tumbuh. Betapa Lizzie merindukan Will.


"Temani aku tidur sebentar.." ujar Lizzie lirih. Tanpa disuruh pun Will selalu menemani Lizzie.


Will merengkuh tubuh Lizzie, memberikan kehangatan tubuhnya. Lizzie merasa nyaman.


Peristiwa minggu lalu akan terus membekas diingatan Lizzie selamanya. Tetapi ia tidak takut lagi terhadap Will.


Untuk kesekian kalinya Will Turner menyelamatkan Lizzie. Walaupun ia pembunuh bayaran paling keji sekalipun , Lizzie sudah tidak peduli. Yang terpenting Will sekarang berada disampingnya.


Lizzie pun jatuh tertidur di pelukan Will.


***


Will harus segera membereskan Donn Berton, sebelum ia mengambil tindakan lagi. Will tidak ingin melibatkan Lizzie lebih jauh dari ini.


Selama pemulihan Lizzie, ia menyewa beberapa pengawal bersenjata untuk menjaga mansion dari kejauhan. Sedangkan Will harus pergi menyelesaikan misinya yang tertunda.


Kali ini Will meminta bantuan temannya yaitu seorang mafia yang juga berbisnis senjata ilegal dengan Donn Berton. Namanya Reiner.


Will memberikan imbalan yang cukup menarik berupa senjata langka yang akan sulit ditemukan pada pasaran beserta sebongkah batu Safir yang sedang ia cari.


Tawaran yang sulit ditolak bagi Reiner, ia pun menyetujui kerja sama dengan Will.


Will akan menyamar dan berpura pura menjadi kaki tangan Reiner untuk bertemu dengan Donn Berton membahas bisnis senjata ilegal. Ahkir pekan mereka ada janji temu di salah satu club malam di kota Westminster.


Pada saat itu club terlihat ramai, karena ini merupakan ahkir pekan. Banyak orang datang untuk bersenang senang setelah seminggu bekerja. Will menggunakan setelah jas dan memasang kumis tipis palsu. Rambutnya menjadi licin karena Will memakai pomade.


Saat memasuki club Will dan Reiner menjadi pusat perhatian. Mereka berdua bagaikan cassanova. Para wanita berebut mencuri perhatiannya. Will bersikap acuh tak acuh sedangkan Reiner memang lah playboy sejati.


"Santailah sedikit Will, kita bisa bersenang senang sebentar disini" Reiner mengedipkan sebelah mata pada wanita disampingnya.


"Aku tak cukup banyak waktu seperti mu."


Donn Berton telah menyewa ruang VIP. Ada dua pengawal menjaga ketat di depan pintu. Reiner memperlihatkan kartu identitasnya. Penjaga itu segera mempersilahkan Reiner dan Will masuk ke dalam ruangan karena Donn Berton telah menunggu.


Dengan ditemani beberapa wanita Donn Berton duduk bersandar di sofa yang nyaman dan sangat empuk. Terdapat dua orang penjaga lagi menunggu di samping Donn Berton layaknya seekor anj*ng.


"Keluarlah.." Perintah Donn Berton pada wanita penghibur saat melihat tamunya telah datang. Ia memicingkan mata saat melihat Will Turner.


Will balas menatapnya. Tangannya mencengkram erat pegangan koper yang sedang ia bawa. Ingin rasanya Will melompat ke tubuh pria gempal di hadapannya ini lalu mencekiknya hingga mati.


"Hai Donn, aku kemari bersama 'kaki tanganku'. Bisakah kita segera mulai.." jelas Reiner.


Will membungkuk kan badan saat diperkenalkan. Ia harus bersabar.


"Silahkan duduk.."


Mereka membahas transaksi senjata yang akan di beli Reiner. Setelah tawar menawar senjata dengan cukup alot, ahkirnya mereka saling sepakat dengan harga yang telah ditentukan bersama. Reiner menyuruh Will membuka koper berisikan ratusan juta dollar. Donn Berton pun memperlihatkan senjata keluaran terbaru yang di bawanya.


"Senang bertransaksi dengan mu Tuan Reiner."


Suara pintu dibuka.


Ini yang ditunggu tunggu ahkirnya datang. Seorang pelayan masuk ke ruangan mengantarkan dua botol anggur yang cukup mahal. Will tersenyum tipis.


Pelayan yang mengantarkan anggur adalah suruhan Will.


Dua botol anggur itu sudah diberi racun. Salah satunya racun berdosis tinggi yang akan diberikan oleh Donn Berton. Lalu anggur satunya lagi diberi racun bedosis kecil yang akan diminum Will dan Reiner.


Mereka harus ikut bermain peran agar tidak menimbulkan kecurigaan. Walaupun jika Donn Berton mati sama saja Will membantu para polisi mengungkap bisnis senjata ilegal. Tetapi meracuni orang dengan sengaja merupakan tindakan kriminal.


Will sudah menandai masing masing botol anggur. Ini memanglah sangat beresiko untuk nyawanya sendiri. Jika Will salah perhitungan dirinya yang akan mati. Tetapi Will sudah bersiap untuk memanggil dokter Martin agar segera menolong. Dia akan membawakan penawar racunnya.


"Mari kita rayakan dengan meminum anggur."


Will menuangkan anggur pada gelas bertangkai untuk Donn Berton. Cairan merah kental beraroma manis ini sangat menggiurkan. Tidak hanya Donn Berton para penjaganya di persilahkan untuk ikut meminum anggur.


"Mari bersulang!"


Will menyaksikan Donn Berton meminum anggurnya dalam sekali teguk.


"Anggur yang sangat nikmat." Donn menuangkan anggur pada gelasnya sendiri. Gelas kedua ia minum tanpa disuruh.


Tunggu sampai lima menit dan lihat reaksinya. Will menghitung di dalam hati.


Keringat dingin mulai keluar dari pori pori Donn Berton. Ia tidak mengerti apa yang sedang dialami tubuhnya.


Tiba tiba tubuhnya gemetar hebat, bahkan kini Donn tak sanggup mengangkat gelas yang ringan.


PRANG!


Gelas jatuh berderai di lantai. Perut Donn Berton terasa melilit. Ususnya seperti di pilin menggunakan mesin gilas. Tanpa sadar Donn mengeluarkan air seni. Lalu Ia jatuh tersungkur di hadapan Will sambil memegangi tenggorokannya yang seperti tercekik.


"To..lo..ng.." Tangannya meraih kaki Will. Mata Donn Berton melotot merah seolah akan keluar dari kelopak matanya.


Will hanya diam. Tepatnya ia menikmati pemandangan di depannya, Donn Berton yang tengah kesakitan.


"Pergilah ke neraka.." Will menyeringai.


Barulah Donn Berton menyadari dirinya di jebak. Terlalu terlambat untuk melawan. Para penjaganya sudah terkapar.


Donn Berton berusaha berteriak memanggil penjaga di depan pintu. Tetapi percuma saja, ruangan ini kedap suara.


Tubuh Donn Berton tersentak, mulutnya mulai mengeluarkan busa cukup banyak. Ajal menghampirinya.