Sissy As A Killer

Sissy As A Killer
Tak Sengaja Membunuh Ayahku Sendiri



Saat aku sampai di sana, Aku melihat ada dua penjaga di depan kantor perusahaan itu. Saat itu, Jam menunjukkan jam 7 malam. Kantor itu juga sudah sepi dan mungkin hanya tersisa beberapa karyawan saja di gedung itu. Aku juga sudah membaca denah gedung itu, Dan semua karyawan bekerja di lantai dua.


"Permisi, Saya client pak Zheo, Boleh saya masuk? " - Shooko-Zevv Valerie (Aku)


"Maaf apakah sudah membuat janji? Kalau sudah tolong tunjukan kartu Identitas anda ya" - Midori Hamasaka


Untuk mengurangi orang yang mengganggu, Aku menembakkan peluru kecil ke arah leher mereka, Tenang aku tak akan membuat mereka mati kok, Itu hanya obat tidur, Efek nya kurang lebih bisa bertahan sampai 4 jam, Lagi pula kalau aku membunuh mereka, Pasti akan semakin banyak korban yang harus aku bersihkan kan?


Setelah mereka berdua tertidur, Aku membawa mereka ke toilet dan menguncinya dari dalam, Lalu memanjat keluar. Setelah itu, Aku pergi ke toilet wanita dan berpura pura merapihkan rambutku. Tepat sekali ada seorang karyawan di sana, Aku langsung berpura pura merapihkan rambutku di cermin toilet.


"Eh, Anak magang ya? Dapet bagian mana?" - Reumi Shora


"Iya nih, Magang untuk mentikam kepalamu" - Shooko-Zevv Valerie (Aku)


Aku berkata seperti itu sambil mendekatinya, Awalnya aku hanya ingin memberikannya obat tidur, Tapi dia malah lari ke salah satu toilet di situ dan menguncinya dari dalam. Aku pun masuk ke toilet di sebelahnya dan memanjat dinding toilet itu. Mungkin kalian kaget, Tapi aku sudah di ajari teknik ini sejak usia ku 10 tahun. Aku sudah tak mungkin lagi memberinya obat tidur karena dia sudah melihat aku memanjat dengan pisau di tanganku. Aku segera melemparkan pisau ku ke arahnya, Lalu mengambil penusuk baja ku dan menusuk lehernya. Dia sempat berteriak, Tapi untung nya toilet itu kedap suara. Lagi pula, Hampir tak ada orang di lantai satu. Untung saja bagian pakaian yang terkena darah nya tak banyak, Aku pun mengganti pakaianku dengan miliknya, Lalu menutupi bagian yang terkena darah dengan syal ku. Aku juga mengambil semua kartu Identitas nya, Terdapat, Dia adalah sekretaris, Ck padahal aku mengincar manager nya. Ya sudahlah, Lagipula aku hanya mencari orang dengan rambut yang sama denganku. Aku menutupi wajahku dengan masker agar tak ada orang yang menyadari nya.


Aku menaiki lift yang ada di sana, Bersama dua orang. Lalu aku menyadari salah satu dari mereka adalah manager. Dari name tag nya, Seperti nya dia adalah manager, Awalnya aku ingin langsung menikam nya, Lalu aku berpikir kembali dan menghitung ulang. Ada orang lain di lift itu, Artinya aku juga harus menikamnya kan? Kalau di hitung bersama target ku, Sudah ada 4 mayat yang harus aku bersihkan. Belum lagi mengurus dua penjaga itu.


Saat sampai di lantai dua, Aku melihat beberapa karyawan lembur di sana. Aku pun bertanya pada salah satu karyawan di sana.


"Permisi, Ruang ceo Zheo di mana ya? " - Shooko-Zevv Valerie (Aku)


"Hahahahaha, Kamu kan tiap hari bolak balik mengambil file di ruangan ceo, Bagaimana bisa lupa? " - Miyako Sahara


Beberapa karyawan di sana menertawakan ku dan menganggap itu sebagai lelucon. Akhirnya aku pun berpura pura kalau aku memang membuat lelucon karena aku yakin kalau aku bilang serius, Mereka takkan percaya dan malah akan mencurigai ku.


Aku pun berkeliling ruangan itu dan menemukan denah gedung. Aku membacanya tapi ya, Tau sendiri kinerja otakku seperti apa. Aku menghabiskan lebih dari 15 menit hanya untuk memahami itu sampai akhirnya ada siswa magang yang mendatangiku.


"Permisi, Saya siswa magang, Maaf ruangan Nona Shena di mana ya? " - Aoi Hinami


Aku pun panik dan dengan asal memberikan jalan


"Ehh, Nona Shena, Itu, Lurus ke depan, Lalu belok ke dekat arah lift" - Shooko-Zevv Valerie (Aku)


"Ahh, Baiklah Terima kasih" - Aoi Hinama


"Ehh maaf, Kalau ruangan ceo Zheo di mana ya? Saya juga karyawan baru" - Shooko-Zevv Valerie (Aku)


"Ahh, iya aku baru saja dari sana, Di dekat pintu tangga evakuasi, lalu belok agak serong ke arah toilet" - Aoi Hinami


"Ahh iya Terima kasih " - Shooko-Zevv Valerie (Aku)


Aku pun segera pergi ke sana dan melihat sebuah ruangan dengan pintu tertutup. Aku agak ragu ragu untuk memasuki ruangan itu, Tapi hal janggal mulai terjadi.


*Selamat malam untuk seluruh karyawan EZ yang telah bekerja keras selama ini, Malam ini akan di adakan penyebaran obat nyamuk dikarenakan banyak nya nyamuk demam berdarah yang beredar. Di mohon untuk semua karyawan EZ untuk segera kembali ke rumah masing masing*


Aku panik dan kaget sampai akhirnya aku pergi ke toilet paling dekat yang aku temukan di situ. Aku berdiam sejenak untuk menghindari kecurigaan karena pasti banyak karyawan yang akan bersiap pulang. Aku berdiam lalu terpikirkan sesuatu. Pasti akan mudah jika di saja hanya ada 2 orang kan? Hanya aku dan terget ku. Jadi, Setelah aku selesai, Akan lebih mudah jika ceo dan sekretaris nya itu terduga kehilangan nyawa karena obat nyamuk itu kan?


Aku menunggu selama lebih dari setengah jam, Tapi aku sama sekali tak mendengar suara penyemprotan obat nyamuk. Aku pun keluar dan bersiap memasuki ruangan ceo itu dengan membawa penusuk baja dan beberapa senjata lain. Setelah bersiap, Aku memasuki ruangan itu dan oh ya Tuhan, Aku melihat hal yang benar benar membuatku merinding...........................


Aku melihat seorang pria yang sedang berdiri dan melihat ke arah jendela gedung itu. Lalu tiba tiba dia berbalik.


"Halo sayangku, Lama tak bertemu bukan? " - Esheo Zevv


Aku benar benar terkejut melihat wajah ayahku. Maksud ku benar benar wajah ayahku. Dia menatapku dengan senyuman yang mengerikan. Aku tanpa sadar mengambil vas bunga yang ada di situ dan melemparkan itu ke arahnya. Seperti kejadian beberapa tahun yang lalu saat aku tau bahwa ayahku lah yang telah membunuh nenekku.


"Woww santai, Aku tahu kamu terkejut, Tapi sepertinya, Sekarang kau sukses ya? Sebagai, Pembunuh bayaran" - Esheo Zevv


Aku terdiam dan tak bisa mengatakan apa apa.


"Hey ayolah, Bicara lah sedikit untuk ayahmu ini" - Esheo Zevv


Dia mendekatiku dengan wajah mengerikan itu. Dan saat dia hampir dekat, Aku mengeluarkan sebuah tongkat kecil lalu memutarnya. Itu adalah tongkat pemukul "Ajaib" yang selalu aku bawa dalam misiku. Tongkat itu berubah menjadi setinggi tubuhnya. Aku memegang ujung tongkat itu dengan tangan kiriku dan bagian tengah tongkat itu dengan tangan kananku. Aku menyodorkan tongkat itu ke arah wajahnya.


"Diam di sana! Maksudmu apa hah!? " - Shooko-Zevv Valerie (Aku)


"Wow, Santai sayang, Aku ini ayahmu bukan? " - Esheo Zevv


"Seorang ayah tak akan meninggalkan anaknya di dalam kesusahan kan!? " - Shooko-Zevv Valerie (Aku)


"AKU BEKERJA UNTUK KALIAN! MENGERJAKAN SEMUANYA UNTUK KALIAN! HANYA DEMI KALIAN! MENYAMAR SEBAGAI ORANG YANG BERNAMA ZHEO DEMI SEMUA INI! " - Esheo Zevv


"Ibu bahkan di perlakukan seperti babi hutan hingga dia benar benar menjadi babi hutan............ " - Shooko-Zevv Valerie


Bisikku pada diriku sendiri


"HEY! JANGAN SEENAKNYA YA! IBUMU ITU ADALAH SEORANG YANG HEBAT, RAJIN, BERKARISMA DAN TAK PERNAH MENYAKITI ORANG LAIN! DIA MENINGGALKAN KITA HANYA UNTUK KEBAIKAN MU" - Esheo Zevv


"DIA PERGI TANPA ALASAN BUKAN!? AKULAH YANG SELAMA INI MENJAGA MU! SAAT ITU USIA KU MASIH 9 TAHUN! 9 DAN MENJAGA MU! MENJAGA SEMUA BAGIAN DARI KELUARGA KITA! SATU HARI SEBELUM AKU BERHENTI SEKOLAH, AKU MENYERET BOKONG MU DARI BAR DALAM KEADAAN SETENGAH SADAR AGAR PENAGIH HUTANG JUDIMU TAK DATANG DAN MENGGANTIKANKU MENYERET BOKONG MU! BEGADANG SEMALAMAN SAAT SHIZZO SAKIT KARENA KAMU MEMBIARKANNYA DI TENGAH HUJAN! AKU YANG MENGGANTI POPOK SHIAO! AKU BEKERJA MATI MATIAN AGAR MEREKA BISA SEKOLAH DI TEMPAT TERBAIK DI KOTA KITA! DAN SEKARANG KAMU BILANG KAMU YANG MELAKUKAN SEMUA ITU!? AKU! AKU YANG MELAKUKAN SEMUA ITU!" - Shooko-Zevv Valerie (Aku)


"Ayo kita kembali tinggal bersama....... Berhentilah menjadi pembunuh bayaran........... Aku akan bekerja keras untuk kita" - Esheo Zevv


"KALAU KAMU MEMANG BEKERJA DAN MEMBANGUN PERUSAHAAN INI KARENA KAMI, KENAPA KAMU TAK PERNAH MENGIRIMIKU UANG SAMA SEKALI!? KAMU BAHKAN MENGAMBIL SEMUA UANGKU DI SAAT SAAT TERSULIT KU! KAMU BILANG AKAN MENGEMBALIKANNYA KEPADAKU SAAT BERTEMU DENGANKU BUKAN!? - Shooko-Zevv Valerie (Aku)


Air mataku semakin deras seperti air mata yang turun setelah tak pernah turun selama bertahun tahun. "Ayahku" ikut meneteskan air mata tanpa suara dan mengeluarkan segenggam uang dari kantong nya.


"Ini, Uang yang aku pinjam saat itu, Dan aku bisa memberikanmu lebih banyak dari ini, Jadi berhentilah sebagai pembunuh bayaran dan bawalah keluarga kita untuk tinggal bersama" - Esheo Zevv


"KAMU PIKIR SEMUANYA BISA KAU PERBAIKI DENGAN UANG!? " - Shooko-Zevv Valerie (Aku)


Aku menikam dadanya dengan tongkat ku ke arah meja. Dia hanya bisa terdiam dan menyeimbangkan dirinya. Aku segera mengeluarkan "Sesuatu" dari kantongku.


*DUARR*


Aku menembaknya di bagian kaki agar dia tak bisa bergerak.


"AKU TAK BUTUH SEMUA UANG ITU! AKU MENCINTAI PEKERJAANKU SEBAGAI PEMBUNUH BAYARAN! AKU TAK BUTUH ORANG YANG MEMASUKKAN DIRINYA KE SUATU SITUASI, LALU MEMINTA AGAR DI PUNGUT KEMBALI DARI SITUASI ITU!" - Shooko-Zevv Valerie (Aku)


"Dengarkan ayah dulu Shoo..... " - Esheo Zevv


"Maaf, Tapi aku kesini untuk menghabisi mu" - Shooko-Zevv Valerie


*DUARR*


Aku menembaknya di bagian dada dan membiarkannya mati secara perlahan


"T-tolon....... T-tolong jaga Shizzo dan Shiao dengan baik...... " - Esheo Zevv


Setelah dia tak bernyawa, Aku menangis sekencang kencang nya. Aku bahkan tak tau dengan apa yang aku lakukan. Setelah lebih dari setengah jam menangis, Aku pun berdiri dan memutuskan untuk membereskan semua masalah itu. Aku menaruh pistol ku di sebelahnya dan menulis sesuatu di kertas


"Maaf, Tapi sepertinya kalian perlu mencari penggantiku, Aku tak kuat"


-Esheo Zevv-


Aku menulis kata kata itu dan menaruh kertas tulisan nya di sebelah pistol itu. Setelah meletakkan itu, Aku segera berlari ke bawah dan pergi ke toilet. Aku menukar kembali bajuku dengan milik sekretaris tadi lalu menyeretnya ke lantai atas lalu menembak lehernya dengan pistol meski dia sudah tak bernyawa agar saat polisi menemukannya, Deduksinya bisa saja mengarah ke ayahku sebagai orang yang stress karena hidupnya sampai akhirnya membunuh karyawannya. Untuk para penjaga yang ada di kamar mandi, Aku menyeret mereka masuk ke ruang santai.


Aku melakukan semua itu dengan air mata. Tak tahan rasanya aku ingin berteriak. Saat selesai melakukan itu semua, Aku menangis sekencang kencang nya dan dengan gelisah pergi ke lantai 2. Aku pergi ke ruangan ayahku dan menangis di sebelahnya. Rasanya seperti aku yang sekarang bukanlah aku yang telah membunuh ayahku sendiri. Aku berteriak sekencang kencang nya. Lalu tiba tiba, Hujan deras datang. Aku langsung menangis lebih kencang karena merasa bahwa dunia ini melihatku menangis. Aku menangis sambil menggeledah semua barang di situ.


Aku menemukan ponsel ayahku yang sudah berlumuran darah dari kantong nya. Aku kebingungan karena setelah aku mencoba password nya dengan tanggal lahir ibuku, Ponselnya tidak terbuka, Padahal dari password laptopnya, Dan kunci kamarnya dulu bahkan menggunakan tanggal lahir ibuku. Aku pun mencoba dengan menggunakan tanggal lahir ibuku bersamaan dengan tanggal lahirku. Dan oh ya Tuhan, Itu terbuka begitu saja. Aku menangis semakin kencang di tengah hujan petit itu. Tak ku sangka akan menangis sekencang ini di hari ulang tahunku.


Aku membuka ponsel ayahku dan menemukan sesuatu...........................................................................


Ternyata "Client" yang menghubungiku untuk menghabisinya adalah dia sendiri............ Dia sengaja memanggilku agar dia bisa melihat wajah ku lalu aku menghabisinya? Aku sadar, Bahwa orang paling bodoh di dunia ini adalah aku.


Aku menggeledah barang barang lain, Dan membuka laci yang ada di mejanya. Oh ya Tuhan, Aku menemukan banyak sekali foto ku saat kecil, Foto Shiao saat baru lahir, Foto Shizzo yang sedang belajar berjalan, Bahkan foto ibu dan ayahku saat masih muda. Aku benar benar menangis melihat itu.


Aku mengemasi semua foto itu beserta ponsel ayahku lalu pulang di tengah hujan sambil menangis. Keuntungannya, Saat aku sampai di rumah, Shizzo dan Shiao tak akan sadar kalau aku menangis.


Saat aku sampai di rumah, Aku menemukan hal yang mengharukan, Aku baru saja membuka pagar halaman rumah, Lalu aku mendengar suara Shizzo dan Shiao bertengkar. Aku pun segera membuka pintu rumah dan oh ya Tuhan


"Kakak, Selamat ulang tahun ya, Cuma ini yang bisa kami berikan padamu" - Shiao-Zo Valerie


"Iya nih, Coklatnya di makan terus sama Shiao" - Shizzo-Ko Valerie


"Ih, Abang juga makan! " - Shiao-Zo Valerie


Aku tak bisa berkata kata karena terharu. Mereka menyusun coklat batang di lantai sesuai dengan namaku dengan angka 16! Aku benar benar terpaku dan terharu. Aku pun menangis karena terharu, Ya agak campur aduk sama rasa setelah menghabisi ayahku sendiri sih.


"Aih? Kakak nangis? " - Shizzo-Ko Valerie


"Kakak basah kuyup loh, Sebentar aku ambil handuk" - Shiao-Zo Valerie


"Ao! Cepat mana handuknya! Lama banget sih " - Shizzo-Ko Valerie


"Ih, Coba sana abang yang ambil, Aku ga nyampe" - Shiao-Zo Valerie


"Dih, Udah pendek, Lama lagi" - Shizzo-Ko Valerie


"Yaudah cepat sana" - Shiao-Zo Valerie


"Sudah, Jangan bertengkar terus" - Shooko-Zevv Valerie (Aku)


Aku tak bisa menahan tangisku dan ya, Begitulah


Aku merasa sangat hancur setelah menghabisi ayahku sendiri. Aku menangis hampir setiap malam dan menyesali semua itu. Sampai sekarang bahkan aku masih mencari tau di mana tempat dia di makamkan. Berita nya saja sudah masuk di koran. Meski berita itu tak populer, Aku masih terus mencari tau tempat di mana ia di kubur.