
Tak tahan rasanya bagiku dan ingin menangis sekencang kencangnya. Seketika aku meneteskan air mata tanpa henti, Ingin berteriak tanpa alasan. Aku pun pergi ke bagian belakang rumahku, Ke tempat yang agak mengerikan dengan dinding serba hitam, "Ruang bermain" Saat usiaku masih 4 tahun, Saat keluargaku benar benar baru pindah ke sini, Kamar ini kosong dan tak di gunakan sampai akhirnya orang tuaku mengizinkanku untuk menggunakannya sebagai ruang bermain. Tadinya, Ruang itu terbengkalai karena aku tak lagi menggunakan mainan mainan di dalamnya, Tapi tanpa sepengetahuan orang tuaku, Aku sudah memindahkan semua mainan itu ke gudang rumah nenekku dan mengisi nya dengan "Mainan" Lain. Baiklah maksudku senjata yang aku gunakan untuk menghabisi target ku. Mulai dari pistol saku, Hingga penusuk yang bisa mencongkel urat nadi manusia. Hanya aku yang memiliki kunci ruangan itu, Orang tuaku juga tak peduli dengan hal itu.
Aku pergi ke bagian belakang rumahku, Memasuki ruangan itu, Menangis dan berteriak sekencang kencangnya. Saat itu, Rasanya aku ingin mati saja. Kakiku mati rasa karena semua perasaan yang campur aduk itu. Air mataku terus menetes, Hingga lebih dari 2 jam sampai aku mendengar suara tangis adikku yang terbangun dari dalam kamarnya. Saat sore hari, Aku tak berhenti menangis sambil melakukan semua aktivitas ku. Saat aku membereskan kamarku, Aku baru menyadari bahwa semua uang yang aku hasilkan dari pekerjaan ku hilang entah kemana. Tak tersisa sepeser pun di laci kamarku. Aku menemukan tulisan kecil yang berisi
"Ayah pinjam sebentar, Jika kita bisa bertemu suatu saat nanti, Pasti akan ayah kembalikan"
-Esheo Zevv-
Tangisan ku yang tadinya tak bersuara seketika berubah. Aku menangis dengan sangat kencang dengan banyak sekali teriakan. Berkali kali berteriak dan mengoceh tidak jelas sambil menangis sampai Shizzo dan Shiao terbangun. Rasanya aku ingin benar benar mati saat itu. Untuk bertahan, Aku beberapa kali meminjam uang dari tetangga tetanggaku. Saat misi baruku sudah datang, Aku pasti akan segara menghabisi target ku demi uang itu. Aku mulai lebih sering membunuh, Meski tak separah sekarang, Karena saat itu, Nenek ku tau keadaanku. Maksudku benar benar semuanya, Tapi aku sedikit berbohong pada nya. Meski dia tau kalau ayahku pergi dari rumah, Dia tak tau dengan benar soal ibuku. Aku bilang padanya bahwa semenjak ayah pergi, Dia bekerja di luar kota dan sesekali pulang. Aku juga bilang padanya bahwa ibuku juga sering mengirimi ku uang. Aku bilang begitu karena aku yakin dia khawatir. Bahkan dia memberikan sebagian uang pensiun nya padaku.
Kesedihanku tak berhenti sampai di situ. Berberapa minggu setelah kejadian itu, Nenek ku pergi meninggalkan kami. Kejadian itu di mulai saat aku sedang memandikan adikku di pagi pagi buta. Setelah mereka mandi, Aku pun menyisir rambut Shizzo. Tak lama kemudian, Tetangga ku datang dan memberitahu kalau nenek ku sakit parah dan di bawa ke rumah sakit oleh warga sekitar. Seingatku dia bilang bahwa di pagi hari, Nenek ku sedang menyirami tanaman di halaman depan rumah nya dan mengobrol dengan tetangga nya yang ada di luar pagar. Tak lama kemudian, Dia jatuh pingsan. Tetangga nya itulah yang melihat kejadian itu pertama kali.
Aku panik dan langsung bergegas pergi ke rumah sakit itu. Aku menitipkan Shizzo dan Shiao ke tempat penitipan anak, Tak peduli berapa besar biaya nya, Karena saat itu, Aku sudah tak memikirkan apapun selain hal itu. Aku pergi ke rumah sakit tempat nenek ku di rawat dengan penuh kecemasan. Saat aku sampai, Dokter bilang, Itu hanya serangan tiba tiba karena penyakit umur, Saat memasuki usia lansia, Banyak penyakit yang lebih mudah menyerang mereka, Dan tentunya, Penyakit setiap orang berbeda beda. Penyakit yang di idap nenek ku hanyalah diabetes ringan. Mungkin karena tubuhnya sedang tidak fit. Meski begitu, Dokter bilang harus tetap ada di rumah sakit untuk beberapa hari untuk bejaga jaga.
Hari ke-2 nenek ku di rumah sakit, Aku mulai memasuki salah satu masa masa yang paling mengerikan dari hidupku. Dokter bilang, 2 hari ini, Nenek ku sedang memasuki masa pengecekan karena banyak dokter di rumah sakit itu yang merasa janggal dengan kondisi kesehatan nenek ku. Ternyata, Nenek ku mengalami pembusukan tumor di dadanya. Tumor itu, Sebenarnya bisa di angkat dengan oprasi. Tapi karena usia nenek ku yang sudah rentan, Risiko dalam oprasinya sangat lah besar.
Semua keputusan, Bergantung padaku. Selama dua minggu penuh, Nenek ku di rawat di rumah sakit untuk pengecekan lebih lanjut. Dan ternyata, Hari itu adalah hari terakhirnya di rumah sakit, Maksudku bukan sembuh, Tapi benar benar hari terakhirnya. Aku baru dari rumah menuju ke rumah sakit bersama Shizzo dan Shiao.
Saat aku sampai di rumah sakit, Nenek ku masih baik baik saja. Tapi kejanggalan mulai muncul. Ada orang aneh yang memakai masker, topi dan berjaket coklat terus berdiri di depan kamar nenek ku. Awalnya aku tak memiliki rasa curiga apapun, Aku ke kamar nenek ku bersama Shizzo dan Shiao, Berbincang sebentar, Dan menyuruh nenek ku untuk meminum obat harian nya. Setelah beberapa menit, Aku pergi ke area bermain yang ada di rumah sakit untuk menitipkan Shizzo dan Shiao.
Saat aku keluar kamar, Pria aneh itu masih berdiri di samping kamar nenek ku. Aku pikir, Dia hanya menunggu dokter datang, Jadi aku diam saja. Aku menemani Shizzo dan Shiao bermain di area bermain itu sekitar 30 menit dan memutuskan untuk kembali. Saat aku kembali ke kamar nenek ku, Pria aneh itu sudah tidak ada. Aku memasuki kamar nenek ku dan oh ya ampun. Aku tau nenek ku adalah orang yang tak mudah untuk tidur apalagi hanya dalam waktu 30 menit. Saat aku mulai memanggilnya dari pintu sambil meletakan jantungku di sofa kamar itu, Dia tak menjawab dan diam saja. Aku meletakkan tangan ku di hidung nya dan oh ya Tuhan. Dia tak bernapas sama sekali.
Aku panik dan memanggil dokter untuk memastikan. Aku menekan tombol bantuan di kamar itu, Namun rasa panik ku mulai muncul sampai akhirnya berlari ke meja konsultasi dan membawa perawat yang ada si situ. Saat sampai di kamar, Dia pun mengatakan hal yang mengerikan. Dia bilang, Seperti nya nenek ku sudah tak bernyawa, Tapi dia kurang yakin dan memanggil dokter yang kebetulan lewat di depan kamar nenek ku.
Awalnya aku tidak memikirkan apa apa sampai aku menyadari sesuatu. Ada bungkus obat yang sudah di buka dan seperti nya baru di minum nenek ku. Bungkus obat dan nama obat itu, Berbeda dari obat yang biasa di minum nenek ku. Meski bungkusnya mirip, Masih terlihat sedikit perbedaan dari yang biasa di minum nenek ku. Aku mulai merasa tak asing dengan bungkus obat itu, Dan karena rasa penasaran ku, Aku membawa nya pulang.
Dua hari setelah hari pemakaman nenek ku, Aku benar benar merasa seperti dedaunan yang jatuh dari atas pohon dan di injak injak. Semua tetanggaku, Mulai menyebar gosip tentang ku. Aku juga mulai mengalami krisis ekonomi karena acara pemakaman nenek ku dan biaya rumah sakitnya
Aku baru ingat dengan bungkus obat yang aku bawa dari rumah sakit saat itu. Aku benar benar merasa bahwa aku pernah melihat itu. Seperti aku pernah melihatnya berkali kali, Tapi aku tak tau di mana. Aku pergi ke "ruang bermain" ku. Lalu aku mulai membongkar semua barangku dan menyadari sesuatu. Saat aku membongkar tas peralatan senjata ku, Aku menemukan obat dengan bungkus yang sama persis dengan bungkus obat yang aku bawa pulang.
Akhirnya aku ingat, Itu adalah obat yang di berikan oleh temanku yang juga seorang pembunuh bayaran. Aku berusaha mengingat jenis obat itu, Dan akhirnya aku ingat. Itu adalah obat racun yang bahkan bisa membunuh gajah. Dia memberikan ku obat itu untuk berjaga jaga jika target ku mengenal ku. Aku pun kaget saat mengingat hal itu. Berusaha memikirkan orang yang tega meletakkan obat itu di kamar nenekku. Aku mulai menganalisa semua orang yang ada di rumah sakit itu.
Aku meminta temanku yang juga seorang pembunuh bayaran itu untuk mengirimkan ku semua foto tentang orang yang ada di rumah sakit itu karena seingat ku, Dua minggu yang lalu dia memiliki target pembunuhan di rumah sakit yang sama. Dia adalah orang yang amat sangat teliti. Sebelum menerima misi, Dia selalu meneliti tempat nya dengan rinci. Dia juga pandai dalam ilmu komputer, Jadi dia pasti bisa membobol cctv yang ada di rumah sakit itu.
Aku menghubunginya dan dia dengan senang hati membantu ku melihat semua orang yang ada pada hari itu. Aku terus melihat semua rekaman cctv yang dia kirim berulang kali selama berhari hari. Bahkan aku rela tak tidur semalaman untuk mencari pelakunya.
Aku sudah hampir menyerah sampai pada suatu malam, Aku baru selesai menidurkan Shizzo yang sedang sakit. Tubuhnya demam karena kekurangan nutrisi. Mungkin karena saat itu, Kondisi ekonomi kami sedang kurang bagus. Sebagian besar uang hasil semua misiku, Ku gunakan untuk membayar biaya rumah sakit nenek ku yang lumayan mahal. Sekitar jam 11 malam aku menidurkannya. Setelah itu, Aku bersiap untuk "bermain" dengan targetku malam itu. Di saat aku hendak pergi, Shizzo terbangun kembali dengan kondisi tubuh yang panas. Aku pun menghubungi client ku dan bilang untuk menghabisinya di lain waktu.
Tak lama kemudian, Shizzo kembali tertidur dan aku pun pergi ke kamar ku dan membuka laptop ku. Aku terus melihat semua rekaman cctv rumah sakit itu pada 2 hari selama nenek ku di sana. Saat itu juga, Aku menyadari suatu kejanggalan. Ingat pria aneh yang ada di rumah sakit pada hari kematian nenek ku? Aku menyadari bahwa dia mengenakan cincin pernikahan ayahku. Yang membuatku lebih yakin, Dia juga memiliki tatto yang di miliki ayahku. Sebuah naga kecil yang ada di jarinya. Hal yang lebih jelas lagi, Aku melihatnya membawa obat yang sama. Aku lumayan kaget dan sempat tercengang. Aku pun terus melihat rekaman itu. Dia terlihat seperti sedang memantau jendela kamar nenek ku.
Awalnya aku berpikir bahwa dia mendengar kabar tentang nenek ku yang masuk rumah sakit. Dia pasti khawatir dengan keadaan ibunya sendiri bukan? Oh tentu tidak dugaanku saat itu salah total. Aku bergegas mencari semua rekaman selama nenek ku ada di rumah sakit itu. Lalu aku menyadari hal yang menyedihkan. Pria itu selalu datang dan berdiri di depan kamar nenek ku sejak dari awal nenek ku dirawat di rumah sakit. Aku pun mencari lebih dalam rekaman saat nenek ku pertama kali di bawa ke rumah sakit.
Aku menyesal telah melihat semua rekaman itu.......................................................................