
Aku setengah tenang dan setengah panik. Dia bilang, Pergi bertemu teman nya, Tapi apa maksud dari "Shizzo dan Shiao ada di tempat anak anak lain seumuran mereka tinggal" dan "Nanti ibu akan kembali" Aneh saat di katakan dengan "Mungkin suatu saat" Aku termenung memikirkan itu sejenak.
Setelah memikirkan hal yang tidak ku temukan jalan keluar nya itu, Aku pergi ke rumah bibi Nakami. Setau ku, Bibi Nakami adalah satu satu nya teman yang di miliki ibu ku.
Setelah aku sampai di rumah bibi Nakami, Dia membuka kan ku pintu. Aku di persilahkan masuk dan duduk. Aku bertanya soal keberadaan ibu ku, namun jawabannya mengejutkan.
"Permisi, Maaf mengganggu waktunya, Apakah hari ini Ibu ku berkunjung ke sini? " - Shooko-Zevv Valerie (Aku)
"Dia tak pergi ke sini hari ini, Lagi pula, Sejak kelahiran Shiao, Ibumu tak pernah berkunjung" - Nakami Sawada
Aku pun terkejut, Lalu berterima kasih kepada Bibi Nakami dan kembali ke rumah dengan rasa bingung.
Saat aku sampai di rumah, Aku melihat ayah ku sudah sadar, Aku juga melihat salah satu teman nya sedang berjudi dengan nya. Aku diam saja, Karena sejak perusahaan ayah ku mulai bangkrut dan gajinya di turunkan, Dia selalu berjudi.
Aku pergi ke kamar ibu ku dan merenung sejenak, Berpikir tentang di mana keberadaan nya dan kedua adik ku.
Di tengah berpikir, Aku melihat laci ibu ku di penuhi dengan kertas sampai tak bisa di tutup, Aku pun menghampiri nya. Saat aku lihat, Surat surat itu hanyalah surat tanah, Asuransi, Akte kelahiran, Dan lain lain. Tapi saat aku merapihkan itu, Aku menemukan sesuatu yang tak terduga. Aku melihat sebuah surat di dalam map yang berwarna merah. Aku membuka map itu dan membaca surat di dalamnya.
Alangkah terkejut nya aku saat melihat surat itu. Itu adalah surat tentang penyerahan kedua adik ku ke panti asuhan. Aku sempat tercengang dan meneteskan air mata. Tertulis ibuku lah yang menitipkan mereka di sana, Aku pun membuka kertas yang ia tinggalkan di mejaku pagi itu. Aku sempat berpikir keras sampai akhirnya mengerti maksud dari "Tempat anak anak lain" Lalu aku mencoba memahami maksud dari "Mungkin suatu saat nanti ibu akan kembali" Saat itu, Aku membohongi diriku sendiri dengan pura pura tidak tahu maksud dari kata kata itu dan terus saja meneteskan air mata.
"Shooko! Ayah pergi ke bar di depan! Hanya sebentar, Jangan tinggalkan rumah, Diam dan duduk manis" - Esheo Zevv
Teriak ayahku dari ruang tengah. Setelah ayahku pergi, Aku menangis sekencang kencangnya. Tetap membohongi diriku bahwa aku tak mengerti maksud dari kata kata yang ada pada kertas itu. Sekarang aku mengerti kenapa ayahku terlihat sangat marah sampai menamparku saat aku bertanya pagi itu, Rupanya hal itu bukan karena mabuk.
Aku pergi ke ruang tengah sambil meneteskan air mata, Aku memutuskan untuk pergi ke rumah nenekku dan memberi tahu semua ini, Sampai akhirnya aku sadar bahwa pintu rumahku di kunci dari luar oleh ayahku. Aku pun tak putus asa dan keluar lewat jendela dapur. Entah apa yang aku pikirkan saat itu.
Aku berlari ke rumah nenekku. Hati ku saat itu sangat hancur. Setelah aku sampai di rumah nenekku, Aku menceritakan semuanya, Kecuali masalah ibuku yang pergi dari rumah, Aku hanya bilang bahwa Shizzo dan Shiao di taruh di panti asuhan karena kondisi ekonomi. Aku pun menunjukkan semua surat surat itu. Akhirnya kami meneteskan air mata bersama. Dia pun segera mengurus surat surat itu.
Hanya dalam dua hari, Pada suatu sore, Nenekku menyuruh ku menemaninya menjemput Shizzo dan Shiao di panti asuhan. Tentu aku sangat senang mendengar hal itu. Saat aku sampai di sana, Menunggu nenekku berbincang dengan kepala panti, Lalu melihat mata berbinar Shizzo yang masih belajar berjalan berusaha berlari ke arah ku dengan tawa yang gembira. Setelah aku bertemu dengan Shizzo, Kepala panti menyerahkan Shiao kepadaku.
Panti asuhan itu tak jauh letaknya dari rumahku, Berjalan kaki 20mnt, Aku sudah bisa sampai di rumah. Tapi saat itu, Hujan sangat deras. Meski tak ada petir ataupun angin, Hujannya lumayan deras.
Aku memegang payung sambil menggendong Shiao dengn tangan kanan ku dan menggandeng Shizzo dengan tangan kiriku. Saat aku sampai di rumah, Aku berusaha membuka pagar rumahku. Karena tanganku sudah penuh, Aku tak tau lagi harus bagaimana. Aku meletakkan Shiao di trotoar dan menaruh selimut sebagai alasnya lalu menaruh payung di sampingnya agar dia dan Shizzo tak kehujanan. Aku baru berhasil membuka pagar dengan keadaan basah kuyup. Saat aku mengangkat kembali Shiao dan payungku, tiba tiba ayahku datang dan menamparku di tengah hujan.
*PLAAAKK
Aku bahkan belum sempat menginjakkan kakiku di halaman rumahku sendiri. Ayahku menarik dan menyeret tanganku sambil menggendong Shizzo. Dia menyeret ku ke halaman belakang dan terus memukuli ku sambil berkata kasar. Yang aku khawatirkan saat itu hanyalah Shizzo dan Shiao yang kehujanan.
"BAGAIMANA OTAK MU BISA SEBODOH INI HAH!? KITA SUDAH TAK PUNYA UANG LAGI, MEREKA HANYALAH PENAMBAH BEBAN, IBUMU JUGA MENYETUJUI NYA" - Esheo Zevv
Aku kehabisan akal karena Shizzo dan Shiao yang basah kuyup sampai akhirnya aku memberanikan diri untuk membentak nya.
"IBUKU!? IBUKU!? MEMANGNYA KAMU TAU DI MANA DIA SEKARANG!? KAMU TAU!? DIA MENARUH SURAT KECIL DI MEJA KU PAGU INI, SAAT DIA HILANG DAN TAK PERNAH KEMBALI! AKU BAHKAN TIDAK MEMBERI TAHU NENEK. DIA PERGI KARENA LELAH DENGANMU KAN!? KAMU MASIH MENGANGGAP MEREKA BEBAN!? YANG AKU LIHAT, DI SINI KAMULAH BEBANNYA, KEPARAT! " - Shooko-Zevv Valerie
Dia tak berkata apa apa dan pergi masuk ke rumah. Aku pun segera membawa Shizzo dan Shiao ke dalam. Aku pergi ke kamar, Mengeringkan mereka dengan handuk dan memberi mereka susu lalu menidurkan mereka.
Sebenarnya, Saat itu, Aku juga sudah mulai menjadi pembunuh bayaran. Tapi tak separah sekarang, Aku hanya membunuh paling banyak 2 orang dalam sebulan karena tujuan ku saat itu, hanya memberi makan keluargaku. Aku juga menutupi hal itu dengan menjual kue di pasar seperti biasa, Agar ayahku tak curiga dengan uang yang aku miliki.
Waktu pun berlalu, Beberapa hari setelah kejadian itu, Perusahaan ayahku benar benar bangkrut total sampai akhirnya dia kehilangan pekerjaannya. Uang pensiun nya juga hanya turun sekali dan tak pernah turun lagi. Dia menghabiskan 80% dari uangnya hanya untuk minum minum dan berjudi. Dia tak pernah memberikanku uang sepeser pun bahkan untuk menafkahi adik adikku. Bahkan tak jarang dia meminta uang dariku.
Suatu hari, tibalah hari di mana aku benar benar merasa kosong. Sekitar dua bulan setelah dia kehilangan pekerjaan nya, Di pagi hari itu, Aku melihat ayahku mengemasi barang barangnya, Aku pikir, Dia akan pergi ke rumah temannya untuk berjudi dan menginap seperti biasanya. Tapi saat itu, Jumlah barang yang ia kemasi jauh dari kata sedikit.
Dia tak bicara sedikit pun dan saat aku sedang menggendong Shiao, Dia membawa koper itu ke dekat pintu rumah dan memanggilku.
"Shooko, Kesini sebentar" - Esheo Zevv
Aku pun datang sambil menggendong Shiao dan menggandeng Shizzo. Saat aku ada di hadapan nya, Dia tiba tiba memberiku beberapa lembar kertas lalu pergi.
"Ayah akan kembali nanti malam, Hanya menyumbangkan beberapa barang tak terpakai ke orang yang membutuhkan" - Esheo Zevv
Awalnya aku biasa saja, Lalu aku pun menidurkan Shizzo dan Shiao. Setelah mereka tertidur, Aku dengan penasaran membaca kertas kertas itu.
Oh Tuhan, Aku sangat ingin berteriak dan menangis di tengah hujan. Ada banyak sekali surat surat tagihan. Dari tagihan listrik, pinjaman uang, sampai tagihan judi judi ayahku. Lalu aku baru menyadari ada catatan kecil di bawah salah satu surat itu.
"Kembali suatu saat nanti, Jangan percaya dengan apa yang ayah katakan, Ayah tak tega mengatakannya padamu, Jadi ayah tuliskan di kertas ini, Kamu urus adik adikmu. Kalau boleh jujur, Sebenarnya ayah membenci mu, ibumu, dan adik adikmu, Ayah harap kamu mengerti. "
- Esheo Zevv -