SHADOW WIFE

SHADOW WIFE
Air Mata Tertahan



Malam kian larut, namun indahnya rembulan seolah enggan menemani awan yang semakin pekat menghitam. Di atas sana, kejora pun tak ada yang gemerlap dengan menawan. Mungkin karena mereka tahu, bahwa detik itu ada hati dua insan yang seolah terhempas taufan, membuat rasa cinta itu semakin menggila di pusaran badai yang siap berpusar.


"Hiks..., hiks...," Diva masih tergugu di sudut kamar. Tak peduli bagaimana suaminya akan mencecarnya kembali dengan ribuan pertanyaan, yang jelas malam itu Diva hanya ingin menangis untuk menghilangkan segala kesedihan yang dia rasakan.


Kecewa? Tentu saja. Bahkan kini, hatinya benar-benar sakit mengingat kata demi kata Elang yang begitu tak menghargai perjuangannya.


Dan tanpa Diva tahu, di sudut bumi yang lain seorang pria sedang merasa hampir gila. Ya, malam ini Elang pun merasakan hal yang sama dan tak bisa memejamkan mata. Perasaan bersalah karena di hatinya telah penuh prasangka hingga harus menyakiti Diva, kini menyeruak dan mengalahkan rasa cemburunya saat membayangkan moment liburan Diva bersama suaminya.


Hingga malam itu, mereka berdua larut dalam kesedihan mereka masing-masing. Tak ada kata, tak ada berbalas pesan seperti biasanya.


"Apakah kau akan memaafkanku, Sayank?" cibik Elang dalam hati. Ingin rasanya dia menghubungi Diva saat itu juga, apalagi ketika beberapa kali membaca curahan hati Diva melalui story WA-nya. Namun Elang benar-benar tak punya keberanian, menghubungi Diva yang kini sedang penuh dengan kemarahan. Hingga malam itu, akhirnya mereka lewatkan dengan kesedihan syahdu yang harus mereka rasakan.


***


"Mas akan terima apapun keputusan Sayank. Jika Sayank memang terganggu dengan sikap Mas dan tak mau memaafkan, apapun keputusan Sayank akan Mas terima dengan hati lapang," sebuah pesan yang Diva terima dari Elang ketika pagi akhirnya datang, sukses membuat hati Diva kembali terguncang.


"Mas udah nggak sayang sama aku?" balas Diva singkat. Kini hanya sebuah ketakutan akan kata perpisahan saja yang ada di benaknya, mengalahkan rasa marahnya kepada Elang yang berhasil membuat dirinya menangis semalaman.


"Sayang banget, Yank. Tapi Mas bisa berbuat apa? Mas sudah minta maaf berkali-kali tapi Sayank nggak mau maafin juga. Mas sudah mentok, tak ada ide lagi bagaimana caranya membuat Sayank memaafkan Mas," sahut Elang masih dalam pesan WhatsApp-nya.


"Mas nggak mau berjuang untukku?" cecar Diva.


"Apapun akan Mas lakukan untuk Sayank. I love you more,"


Pesan demi pesan pun mereka kirimkan, hingga rasa takut akan kehilangan kini lebih besar dari pada rasa marah dan kecewa yang semalaman ini Diva rasakan.


"Aku tak akan pernah melepasmu," sebuah pesan yang Diva kirimkan saat itu, membuat Elang bisa mengembangkan bibirnya. Rasa lapar yang hampir dua hari ini hilang pun tiba-tiba muncul, seiring dengan hati mereka yang kini sudah kembali berselimut cinta.


Dan detik demi detik waktu pun kian bergulir, seiring dengan perasaan rindu yang kini membuncah pada dua hati yang cintanya tak lagi bisa digoyah. Ya, perasaan ingin bertemu dan melampiaskan rindu setelah kemarahan demi kemarahan itu mampu mereka kesampingkan pun kini tak lagi bisa tertahankan.


Sayangnya, sang waktu seolah tak memihak hingga mereka masih harus menahan rindu sampai waktu tak lagi bisa mengelak untuk mereka bisa bertemu.


***


"Jalan yuk," sebuah pesan yang selalu sukses membuat Diva mengembangkan senyumnya. Tentu saja, karena moment bisa bersama Elang selalu menjadi moment yang ditunggu-tunggu Diva.


"Kita makan dan ngukur jalan," Elang kembali mengirim pesan.


"Oke. Habis makan, mau kemana aja aku yang tentukan," sahut Diva masih dengan perasaan yang berbunga-bunga.


"Tapi Mas tidak bisa lama-lama ya, Sayank. Sebelum jam empat sore Mas harus sudah pulang," jawab Elang lagi


"Nggak mau," semangat Diva yang menggelora pun tiba-tiba hilang begitu saja.


Ya, satu kalimat itu mampu menghadirkan kembali seluruh kekecewaan yang ada di dalam hati Diva. Apalagi kata-kata semacam itu selalu menjadi perdebatan mereka saat mereka berjanji akan berjumpa.


"Belum juga ketemu, Mas udah membatasi waktuku untuk bisa melepas rindu? Tega ya, Mas?" gumam Diva dalam hati. Perasaan tidak dicintai, perasaan tidak dirindukan, perasaan demi perasaan lain pun kini kembali menyeruak di hati Diva, membuat bulir-bulir bening pun lolos lagi dari ujung matanya.


Hmmm, selalu seperti ini. Elang selalu bilang mencintai dan merindukan Diva, tapi selalu menempatkannya pada posisi ke dua. Kendatipun memang posisi sebenarnya memang seperti itu, namun harusnya Elang tidak semakin memperjelas posisi yang bagi Diva begitu sangat menyakitkan itu, bukan?


"Huh," Diva mengambil nafas dengan kasar.


Disekanya air mata yang kian deras mengalir dari ujung matanya, dan berusaha sekuat tenaga dia tahan agar bulir-bulir bening itupun tak lagi lolos dan membasahi pipinya.


"Senyum. Senyum. Senyum," teriak Diva dalam hati, sambil memaksakan senyumnya berkali-kali.


Ya, rasa cinta Diva mampu mengalahkan segala kegalauan dan rasa kecewanya. Meski ingin sekali dia marah karena sekali lagi Elang berlaku tak adil terhadap cintanya, tapi Diva berusaha menahan agar tak ada kemarahan lagi di antara mereka berdua.


Hingga hari itu, Diva berusaha menahan rasa kecewa dan tangisnya dengan sekuat tenaga. Menemui Elang dengan senyum yang tetap mengembang, dan menikmati waktu sesaat yang Elang berikan.


Ya, sesaat saja. Karena Elang hanya punya sedikit waktu untuknya. Dan Diva tak mampu berbuat apa-apa selain menahan keinginannya untuk bisa berdua lebih lama. Meski dia berkali-kali harus berusaha menahan bulir bening itu dari ujung matanya, tapi Diva tetap bertahan dengan senyumnya.


Apakah Diva bahagia? Tentu saja tidak ada kebahagiaan lain selain bisa bersama dengan Elang, orang yang dia cinta. Bahkan hari itu dia berusaha menekan egonya demi menunjukkan rasa cintanya. Meski di dalam hatinya, rasa kecewa itu tetaplah ada. Rasa tertolak, rasa tidak dirindukan, rasa tidak dicintai, kini saling berkecamuk dan sangat menekannya.


"Aku bisa buktikan kalau aku mencintaimu, Mas. Bisakah kau buktikan bahwa kau mencintaiku? Buktikan bahwa kau memang milikku!"


BERSAMBUNG


Dan tetap saja air mata itu harus mengalir deras di penghujung pertemuan mereka. Mengapa? Baca next episode ya...