SHADOW WIFE

SHADOW WIFE
Rahasia Besar



Semburat jingga yang indah di sore itu terpaksa hilang seiring dengan gumpalan kapas hitam berarak yang menutup batas cakrawala. Tetes demi tetes kehidupan yang tiba-tiba jatuh serentak, memborbardir jutaan meter tanah kering yang berada di bawah rintik-rintik nikmat Sang Maha Pencipta.


"Aggght," pekik Elang Leksana Pradana, menambah syahdu irama hujan dan decitan ranjang di sore itu.


Ya, sebuah erangan kenikmatan benar-benar tak bisa tertahankan, seiring dengan lelehan hangat yang mengalir deras di bawah sana yang menjadi bukti penyatuan mereka untuk yang pertama kalinya.


Elang pun langsung turun dari tubuh Diva. Dia tumbang seketika, setelah hasrat yang dia tahan sekian lama akhirnya bisa tersalurkan juga.


"Terima kasih, Sayangku. I love you," Elang menciumi setiap inchi wajah Diva, kemudian membersihkan sisa-sisa cairan mereka dan menarik selimut yang sudah berserakan di lantai, sebelum akhirnya menutupi tubuh polos mereka berdua.


Diva hanya tersenyum malu sambil mengeratkan pelukannya, dan menenggelamkan diri dalam dada bidang pria yang telah berhasil membuat dia melakukan pelepasan berkali-kali sesaat yang lalu.


"Ini adalah yang pertama untukku, Sayang. Setelah aku menikah, sebelum ini aku tak pernah melakukannya dengan orang lain selain dengan istriku," ucap Elang sambil mengelus kepala Meldiva Aurora, salah seorang CEO dari 45 perusahaan di bawah sebuah perusahaan raksasa bernama Cahaya Group itu.


"Ini juga yang pertama untukku, selain dengan suamiku," sahut Diva, sambil terus memeluk pria di sampingnya.


Sesaat, mereka saling tatap. Menikmati denyar-denyar rasa yang menyala-nyala tanpa ada seorang pun yang bisa menghalanginya. Dan entah siapa yang memulai, hari itu mereka sama-sama menginginkannya dan tak bisa menolak hasrat yang terus meronta. Bahkan, baru beberapa saat mereka selesai melakukannya, gejolak itu kembali menguasai alam bawah sadar mereka, hingga candu dunia tak mampu lagi mereka halau untuk memenuhi keinginan mereka walau senja hampir hilang seiring warna jingga yang kian memudar.


Namun di saat mereka hampir sampai pada puncaknya, tiba-tiba ....


Ndret-ndret..., ndret-ndret..., ndret-ndret...


"Sial," Elang sedikit menggeser tubuhnya dan meraih sebuah benda pipih canggih miliknya yang terletak di atas nakas samping tempat tidur mereka.


"Siapa?" tanya Diva sambil sedikit mengerutkan dahinya.


"Istriku," jawab Elang sedikit ragu. Bahkan dia terus memandang ponselnya yang masih terus berdering dan wajah Diva secara bergantian, seolah bingung dengan apa yang harus dia lakukan.


"Angkatlah," cicit Diva sambil memalingkan mukanya. Rasa cemburu tiba-tiba saja menyeruak dari lubuk hatinya, menyadari bahwa situasi semacam itu akan terus membayangi kisah cinta mereka berdua.


Elang pun mengakhiri begitu saja penyatuan mereka tanpa menyelesaikan tugas terakhirnya. Tak dia hiraukan lagi bagaimana raut kecewa di wajah Diva dan hasrat mereka berdua, karena yang ada di benak Elang hanya bagaimana caranya agar rahasia besar mereka tak terbongkar saat itu juga.


***


Diva menginjak pedal gas mobilnya dengan kencang, begitu Elang turun dan berpindah ke mobil miliknya yang masih terparkir cantik di halaman Cahaya Group sejak mereka pergi bersama. Puluhan mobil pun Diva balap, agar dia bisa segera sampai rumah tanpa suaminya pulang mendahuluinya.


Namun ternyata ...,


"Sayang, kok pulang malam nggak bilang-bilang?" sebuah suara langsung terdengar, seiring dengan pintu mobil Diva yang dibuka dari luar.


"Ehh, Papa sudah pulang?" meski begitu kaget, Diva berusaha menjawab pertanyaan Daffin, sang Wali Kota muda yang tak lain adalah suaminya sesantai mungkin.


"Kok kaget gitu?" Daffin menatap Diva penuh selidik, namun tetap membantu istri cantiknya itu turun dari mobilnya.


"Kagetlah. Tiba-tiba Papa buka pintu mobil gitu aja," sahut Diva asal, sambil mencoba berlalu dari hadapan suaminya.


"Tunggu, Sayang! Sepertinya ada yang aneh,"


"Aneh?"


Daffin mengangguk, sambil menghampiri Diva dan mengendus-endus tubuh istrinya, seolah menemukan bau tak biasa di sana.


"Wangi apa ini? Bau tubuhmu tak seperti biasanya?"


BERSAMBUNG