SHADOW WIFE

SHADOW WIFE
Spesial Untuk Elang



Kusematkan untaian kata ini, karena aku yakin bahwa sedih dan bahagiaku adalah saat bersamamu. Karena itu, kuputuskan untuk terus perjuangkan hati dan cintamu, melalui selasar do'a dan kuatnya rasa yang ku punya


Meski mungkin...,


Cinta yang ku miliki hanya sebutir debu di tengah hamparan pasir yang maha luas, atau seperti buih saja jika dibandingkan dengan luasnya samudera


Tapi aku yakin,


Bahwa Tuhan tak pernah salah menyematkan rasa cinta kepada manusia, karena rasa itu datang pasti ada makna dan alasannya.


Terkadang berat memang. Tapi cinta itulah yang menghadirkan ketulusan untuk menyayangi tanpa syarat. Cinta itulah yang membuat kita rela berjuang untuk menghapus luka dan mendengarkan tanpa emosi, bahkan menghilangkan benci yang kadang menusuk sanubari. Dan cinta itu jugalah yang mampu membawa kesabaran menerima kekurangan, bahkan mungkin caci maki yang tak sengaja datang.


Meskipun, cinta tak bisa dijelaskan seberapa kadarnya. Cinta tak mungkin disandingkan dengan besarnya dunia, langit, juga samudera, karena cinta tak bisa ditakar seberapa kekuatannya dengan logika.


Jika kau tanya seberapa dalamnya, maka lihatlah sejauh mana pengorbanan yang ada, karena pengorbanan yang kita bangun itu akan membuktikan betapa kita sedang berada pada puncak kesejatian cinta.


Mungkin, awal cinta itu tumbuh karena sebuah kesamaan. Dimulai ketika melihat kesempurnaan, kemudian bersemi karena perbedaan tak lagi penting dalam sebuah hubungan.


Pun ketika bersepakat untuk membina sebuah ikatan, tak pernah terpikir bahwa ada jurang terjal yang harus dilewati dengan penuh misteri yang menghadang. Bahkan banyak rahasia yang akhirnya menguak, menyisakan guratan-guratan rasa yang kian terkoyak.


Ya. Karena cinta adalah keberanian atau pengorbanan. Dan aku sudah membuktikan itu. Bagaimana dengan kamu?


Diva



Diva menuliskan bait demi bait kata itu dengan linangan air mata. Biar bagaimanapun, Elang sudah menyulut rasa cinta mereka jauh sebelum Diva membalas dengan cinta yang sama. Lantas, apakah adil jika hanya Diva saja yang harus menanggung konsekwensi atas apa yang telah mereka bangun bersama?


Ya. Cinta memang tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian atau pengorbanan. Dan Diva selalu memegang itu, bahkan janji-janji yang mereka ukir sebelumnya tak pernah pudar dan akan selalu terpatri selamanya.


Bagaimana dengan Elang? Diva tak pernah tahu sejauh mana perasaan pria itu untuknya. Yang jelas, Diva hanya ingin Elang tahu bahwa saat ini, Diva telah berada pada puncak cinta dan pengorbanannya. Akankah Elang menghargai pengorbanan itu dan berjuang untuk cinta mereka? Yakinkah Elang bahwa ketika dua insan sepakat untuk menjadi satu, maka tidak ada penghalang yang bisa mematahkan semangat mereka untuk bersama?


Kini, Diva hanya berharap Elang mampu membuktikan, bahwa cinta mereka tak akan bisa dipisahkan meskipun banyak rintangan terjal yang menghadang. Walau sulit, seharusnya Elang mampu membuktikan itu. Bukankah kerugian terbesar adalah ketika kita menyerah pada perjalanan yang masih bisa diperjuangkan?


"Kupegang janjimu, Mas. Kau sudah memulainya, maka kau juga harus bertanggungjawab atas konsekuensinya," Diva terus bergumam dalam hati, sembari mengusap bulir-bulir bening yang terus mengalir di pipinya.


BERSAMBUNG