
Detik itu,
adalah detik bersejarah dimana seseorang sebentar lagi akan bertambah satu tahun usianya. Ya, seharusnya ini menjadi moment bahagia buat Diva dan Elang, apalagi tanggal ulang tahun mereka hanya berselang tujuh hari saja.
Sayangnya, Diva harus segera tersadar dan menerima kenyataan. Karena di detik bahagia itu, lagi-lagi Elang lebih memilih untuk bersama istrinya dari pada menghabiskan moment bahagia bersama Diva.
"Ahh," Diva mendesah kasar. Hatinya sungguh tak tenang memikirkan sang pria pujaan yang kini entah sedang berada dimana dan sedang berbuat apa bersama perempuan yang selalu Elang bangga-banggakan, tanpa memikirkan betapa sakitnya hati Diva setiap Elang membicarakannya dengan sorot mata penuh cinta.
"Apalagi di hari ulang tahunmu, Mas. Di hari ulang tahunku saja, hari yang spesial untukku, kau menolak untuk menemaniku dan lebih memilih bersama dia," omel Diva, sambil mengusap air mata yang tak lagi mampu di tahannya.
Bahkan, kini bulir-bulir bening itu terus mengalir deras hingga Isak tangis yang sedari tadi tertahanpun kini pecah begitu saja.
"Aku sudah melakukan banyak hal demi bisa menjaga hatimu, Mas. Di hari ulang tahun suamiku, di hari ulang tahun anakku, dan di hari ulang tahunku sendiri, aku rela membuat seribu alasan agar tidak ada liburan seperti apa yang biasa kami lakukan. Tapi ternyata, cintamu padaku tidak sebesar aku mencintaimu. Bagaimana kau menjaga hatiku, tak seperti aku yang sangat berusaha untuk menjaga hatimu. Tega-teganya kau atur liburanmu dengan dia dengan rencana yang begitu indahnya, sedangkan aku? Hiks...," Diva semakin tergugu, di samping suami dan putranya yang kini telah tertidur pulas di sampingnya.
***
Falshback
"Mas ke kamar kecil dulu ya, Sayank," ucap Elang di suatu sore, saat mereka berada di sebuah kafe.
Diva hanya mengangguk, sebelum akhirnya Elang tak nampak dari pandangan.
Dari arah Elang, kini pandangan Diva beralih pada benda pipih canggih yang Elang letakkan di atas meja. Tanpa pikir panjang pun Diva segera meraih benda itu dan menyematkan enam digit angka untuk membuka kunci layar benda yang kini berada di tangannya.
Naik turun, mata Diva membaca nama demi nama yang tertera di layar WA. Hingga akhirnya, satu nama teratas yang mencolok mata akhirnya Diva buka.
"Tanggal 1 kita jadi liburan ya, Pah," satu kalimat dari istri sang pria pujaan yang Diva baca membuat dada Diva seketika bergemuruh.
Bukan karena Diva tidak tahu diri hingga merasa punya hak untuk melarang Elang bersama istri tercintanya. Tapi karena Diva merasa apa yang selama ini dia lakukan hanya demi menjaga hati Elang, tak terbalaskan dengan hal yang sama.
"Huuuh," Diva mengambil nafas panjang agar hatinya tetap tenang
Tak lama berselang, Diva pun segera menutup ponsel Elang begitu menyadari bahwa pria yang sesaat lalu meninggalkannya untuk ke kamar kecil itu tiba-tiba muncul kembali di hadapan.
"Tadi ada telphon," cicit Diva sembari menyerahkan benda pipih canggih milik Elang, sambil tetap tersenyum manis dan seolah tidak membaca apa-apa. Diva justru beralih merogoh ponselnya sendiri dari dalam tasnya, kemudian menuliskan sebuah pesan kepada Daffin.
Diva : Pap, tanggal 1 Mama mau liburan.
Daffin: Kok mendadak? Tumben biasanya nggak mau.
Diva : Pokoknya di tanggal itu Mama mau nginep di hotel A
Elang yang tidak melihat gelagat aneh Diva pun segera meraih ponselnya tanpa berpikir panjang, dan tidak membahas apapun soal isi dari benda itu hingga akhirnya mereka selesai makan dan mereka pulang.
End of falshback
***
Dan di sinilah Diva sekarang. Di sebuah hotel yang sempat Elang sebutkan dalam pembicaraannya dengan Nada, istri sahnya yang selalu sukses membuat cemburu hati Diva. Karena percakapan suami istri itu pulalah yang membuat Diva cemburu buta dan bertekad akan membalas setiap apa yang Elang lakukan, termasuk acara liburan mendadak yang sebelumnya tidak pernah Diva rencanakan.
Lantas, apakah Diva bahagia dengan liburan mereka? Tentu saja tidak. Karena liburan mendadak itu hanya dia jadikan sebagai pelampiasan atas kemarahannya saja. Alih-alih menikmati perjalanannya bersama Daffin dan putra semata wayangnya, yang ada justru nama Elang dan bayang-bayang pria itu sedang bermesraan dengan Nada saja yang terus mengotori benak Diva.
Namun seperti apapun gejolak rasa yang bergemuruh di hati Diva, malam itu Diva tetap terjaga dan menunggu hingga waktu yang ditunggu-tunggunya akhirnya tiba. Ya, rasa cintanya kepada Elang lebih besar dari pada amarah dan rasa cemburunya, hingga tepat jam 00.00, Diva tetap menjalankan rencana yang telah dia siapkan jauh-jauh hari sebagai hadiah ulang tahun Elang, meski Diva benar-benar sadar bahwa detik itu pria pujaannya lebih memilih menghabiskan waktunya bersama sang istri tercinta.
"Jika boleh mengganggu waktu Mas bersama dia sebentar saja, tolong tonton video ini sampai selesai. Hanya empat menit. Jauh kan, jika dibanding dengan waktu Mas bersama dia seharian ini?" Diva mengirimkan sebuah kalimat melalui status WA, di sertai sebuah link akun YouTube-nya.
Ya, Diva memang telah mempersiapkan video itu di sela-sela kesibukannya yang begitu luar biasa. Sebuah Video dimana Diva mengcover sebuah lagu ulang tahun, diselipi sebuah puisi yang dia buat sendiri khusus untuk Elang dengan ungkapan rasa yang benar-benar mendalam.
Satu jam, dua jam, dan beberapa jam setelah itu tak ada pergerakan. Status WA yang sengaja Diva setting hanya bisa dibaca oleh Elang pun tak kunjung Elang buka.
"Seasyik itu bersamanya, sampai-sampai membuka statusku saja kau tak bisa, Mas?" Diva ingin berteriak sekencang-kencangnya, tapi harus dia tahan mengingat putra dan suaminya kini berada di sampingnya.
Merasa tak ada harapan, Diva langsung menutup ponselnya dengan rasa kesal yang bahkan sulit digambarkan dengan kata-kata.
Angan Diva pun mengembara. Meski pada akhirnya Elang membaca pesan yang sengaja Diva kirim untuknya, namun sama sekali tak ada tanda bahwa Elang akan berkomentar atau sekedar berucap bahwa dia suka dengan video yang sengaja Diva persembahkan untuknya. Hanya beberapa pesan yang mengabarkan bahwa Elang sedang bersama Nada saja yang diterima Diva, itupun hanya sebentar saja dan selalu berakhir dengan rasa sedih di hati Diva.
Hingga hari ulang tahun Elang pun Diva lewatkan begitu saja. Entah apa yang Nada berikan kepada Elang hingga pria itu sama sekali tak menggubris Diva di hari ulang tahunnya, yang jelas Diva sangat tertekan dan merasa hampir gila.
***
"Kemarin kemana?" satu pesan dari Elang yang Diva terima satu hari setelah ulang tahun Elang terlewatkan pun Diva baca dengan hati berdebar-debar.
"Tidak kemana-mana," jawab Diva singkat.
"Sayank mau jujur atau mau Mas cari tahu sendiri?" cicit Elang, membuat Diva tiba-tiba merasa tegang.
"Iya," tulis Diva
"Kemana?" Elang terus mengejar.
Merasa tidak ada pilihan lain, Diva pun mulai bercerita tentang bagaimana dirinya membaca pesan demi pesan yang Elang dan Nada kirimkan melalui sebuah percakapan WA. Diva juga secara detail bercerita kemana dirinya dan alasan kenapa dia melakukan itu.
"Oya, makasih," sahut Elang dalam pesannya, membuat hati Diva semakin bergemuruh.
"Mas jangan marah," Diva menjadi panik dengan reaksi Elang dalam pesan singkatnya.
"Enggak. Mas masih bisa tersenyum," jawaban yang membuat Diva semakin takut pun benar-benar Elang kirimkan.
"Mas juga tahu kalau video yang Sayank kirimkan di YouTube itu adalah video ucapan ulang tahun Sayang untuknya, terus dikirim ke Mas lagi. Tapi nggak papa kok. Mas suka," lanjut Elang dalam pesan singkatnya, yang membuat bulir bening di pipi Diva meleleh begitu saja.
Seketika, pertahanan Diva saat itu pun benar-benar runtuh. Bayangan bagaimana dia dengan begitu seriusnya menyiapkan apa saja yang bisa dia persembahkan untuk Elang di hari ulang tahunnya, kini bermunculan di benaknya bagai slide yang terus berputar-putar di depan mata.
"Aku kecewa mas mengatakan ini, Mas," Diva tak bisa menyembunyikan kemarahannya.
"Lah, benar kan? Itu video yang Sayank berikan untuk Daffin di hari ulang tahunnya, lalu Sayank berikan di hari ulang tahunku?" Elang sungguh tak tahu bahwa ketika Diva membaca kalimatnya, tubuh Diva sudah terguncang.
"Aku kecewa, Mas bilang gitu," sebuah kalimat yang begitu berat Diva tuliskan, akhirnya terkirim juga.
Setelah itu pun Diva mengirimkan beberapa foto yang dia ambil beberapa kali mulai dari saat dia rekaman lagu yang dia kirim itu, hingga proses shooting yang bertanggalkan waktu pengambilan video rekaman.
"Lihat tanggal aku rekaman, Mas," ucap Diva melalui pesannya.
Entah apa yang Elang pikirkan, tapi hanya emoji hati yang dia kirimkan.
"Aku bikin video itu khusus untukmu, Mas. Disela-sela kesibukan kantor aku siapkan video itu. Bahkan beberapa kali aku harus rekaman lagu dan ambil video hingga aku pulang dini hari. Aku bikin video itu bukan tanpa perjuangan. Bahkan aku rela berbohong pada suami dan anakku demi bisa menyelesaikan video untukmu. Tapi apa yang aku dapat? sebuah tuduhan yang menyakitkan darimu. Astaghfirullah, sakit rasanya, Mas," Diva tak lagi bisa menahan emosinya. Dia menuliskan pesan itu sambil terus tergugu.
Sakit, kesal, kecewa. Kini bercampur jadi satu. Bagaimana tidak? Diva yang sudah sedemikian rapi nya menyiapkan detail hadiah untuk pria pujaannya, hanya ditanggapi dengan tuduhan bahwa video yang dia persembahkan hanyalah video sisa hadiah untuk Daffin. Siapa yang tidak sakit?
"Maaf. Mas juga tidak tahu kenapa Mas menulis seperti itu. Yang jelas Mas sudah terlalu sering membuat Sayank sakit dan menangis. Tapi untuk saat ini, Mas butuh sendiri. Tidak usah tanya Mas mau kemana, karena Mas hanya butuh tenang saja. Bye," pesan terakhir Elang yang Diva baca, sebelum Diva berteriak kencang dan membuang ponselnya begitu saja.
BERSAMBUNG
Hallo guys, ini adalah episode spesial yang author tulis dengan linangan air mata. Entah kenapa, baper banget pas nulis ini. Semoga kalian suka ya...