
"Tunggu, Sayang! Sepertinya ada yang aneh," Cicit Daffin, membuat Diva mendadak menghentikan langkahnya.
"Aneh?" Diva mengerutkan dahinya, seolah tak paham dengan apa yang dimaksud suaminya.
"Ohh My God, jangan-jangan bau minyak wangi Mas Elang yang menempel di tubuhku," batin Diva dalam hati.
Daffin mengangguk, sambil menghampiri Diva dan mengendus-endus tubuh istrinya, seolah menemukan bau tak biasa di sana.
"Wangi apa ini? Bau tubuhmu tak seperti biasanya?"
Diva hanya berdiri mematung melihat suaminya terus mencari sumber bau yang menurutnya tak biasa itu di tubuh Diva. Jantungnya pun mendadak berdegup lebih kencang, bahkan hingga sepuluh kali lebih dasyat jika dibandingkan dengan biasanya.
Situasi ini membuat Diva terus berusaha memutar otak, dan mencari alasan paling logis yang bisa dia lontarkan jika memang bau yang dimaksud Daffin adalah bau harum maskulin minyak wangi Elang yang menempel di tubuhnya.
"Bau apa sih, Pa? Perasaan biasa aja deh. Setiap hari juga bau Mama kayak gini," Diva berpura-pura mencari sumber bau yang Daffin maksud, bahkan kini dia terlihat menciumi beberapa bagian tubuhnya agar terkesan alami dan tidak membuat Daffin curiga.
"Lagian kalau ada bau-bau lain yang menempel di tubuh Mama wajar bangetlah. Setiap hari kan Mama bertemu dengan banyak orang," lanjut Diva lagi, memberi alasan sekenanya.
"No. This is different. Baunya dominan banget," sambil berucap, Daffin beralih dari tubuh Diva ke arah mobil dan mencari-cari sesuatu di jok belakang pengemudi, membuat detak jantung Diva semakin terdengar kencang saja.
"Papa aneh-aneh aja. Ayo ahh," Diva mendekati suaminya dan menarik tangan kekar itu sebelum akhirnya mereka masuk ke dalam rumah, meninggalkan berjuta pertanyaan di kepala Daffin tanpa ada sesuatu hal pun yang bisa menjawabnya.
***
Diva langsung masuk kamar mandi untuk membersihkan diri, begitu Daffin tak tanya macam-macam lagi perihal bau tubuhnya yang tak biasa. Dia buru-buru mengunci pintu kamar mandi itu, mengisi bathtub dengan air hangat, dan langsung berendam begitu dia selesai membersihkan tubuhnya.
Diva menghirup nafas lebih dalam dan panjang, berusaha mengisi seisi relung dada yang kini penuh sesak dengan hal yang dia sendiri pun tak bisa menebak perasaan apa yang sedang dia rasakan sebenarnya. Antara takut, bahagia, dan entah rasa apalagi itu, kini sedang berkecamuk di dalam jiwanya.
"Ahh," Diva mendesah kasar.
Angannya mengembara. Apa yang siang tadi dia lakukan bersama Elang, benar-benar masih terasa tak habis pikir olehnya. Bagaimana tidak? Selama sebelas tahun Diva menjalani pernikahannya bersama Daffin, bisa dipastikan tak pernah terlintas sedikitpun di hatinya untuk mengkhianati suaminya. Apalagi rumah tangga mereka tergolong rumah tangga harmonis dan romantis yang nyaris tak pernah ada masalah di antara mereka berdua, membuat apa yang Diva lakukan bersama Elang hari itu benar-benar di luar logika.
"Kenapa dalam waktu sesingkat ini semuanya bisa berubah?" gumam Diva sambil menatap langit-langit kamar mandi dengan tatapan yang sungguh sulit diterjemahkan.
Ya, Diva masih tak habis pikir dengan keputusan dirinya yang tergolong nekat dan begitu tiba-tiba. Mengingat bahwa selama setahun terakhir mengenal Elang di Cahaya Group karena satu proyek yang mereka kerjakan bersama tak ada rasa ketertarikan sedikitpun di hatinya pada pria itu, rasanya mustahil jika sejak tiga hari lalu di hatinya sudah ada rasa yang baru.
"Rasa apa ini?" Diva bertanya dalam hati.
Slide demi slide ingatannya pun kini seolah terus berputar di depan mata, mengajak angannya kembali mengingat bagaimana seminggu terakhir ini Diva bisa sedekat itu dengan Elang, yang berujung pada sebuah komitmen tanpa kata yang mereka buat tiga hari lalu dalam posisi mereka sudah sama-sama ada pasangannya.
Semua berawal dari sebuah perjalanan kerja ke luar kota dalam agenda peninjauan mega proyek Cahaya Group yang dimenangkan oleh Diva dan beberapa rekannya. Walaupun mereka pergi ke luar kota tidak hanya berdua saja, namun tiga hari selalu beraktivitas bersama dengan komunikasi sangat intens baik secara langsung maupun melalui WA rupanya sama-sama memunculkan kenyamanan di antara mereka. Bahkan dari chatting-an yang awalnya serius dan sekedar basa-basi pun akhirnya berubah menjadi obrolan romantis tanpa mereka sadari.
"Tiga hari begitu cepat terlewati, ya? Kita harus segera pulang," sebuah pesan Elang kirim, seolah berat sekali hatinya untuk melepaskan.
"Iya," jawab Diva melalui pesan yang sama, disertai emoji menangis di bawah kata singkatnya.
Mereka pun terus berbalas pesan, mengungkapkan kesedihan akan perpisahan mereka di hari itu, yang akhirnya berujung pada sebuah pengungkapan perasaan hati masing-masing hingga komitmen itupun terjadi.
"I love you," Elang mengirim pesan terakhir sebelum dia pulang ke rumahnya.
Diva yang waktu itu langsung membaca pesan Elang pun langsung membalasnya dengan emoji hati berwarna merah menyala, yang membuat status hubungan mereka berdua di hari itu menjadi berubah seketika.
Tok-tok-tok.
Saat Diva masih asik dengan lamunannya, tiba-tiba terdengar suara ketukan dari arah luar pintu kamar mandi.
"Sayang, kamu mandi atau ketiduran? kenapa kamu lama sekali di dalam?" suara Daffin benar-benar membuat Diva harus mengakhiri satu episode ceritanya bersama Elang saat mereka memutuskan untuk bersama dan menjalin hubungan diam-diam.
"Ma..., Mama...," panggil Daffin sekali lagi, menyadari istrinya belum juga memberi sahutan.
"I..., iya..," dengan terbata, akhirnya Diva bersuara dan segera mengakhiri mandinya.
***
Senyum Elang terus mengembang selama perjalanan pulang. Ingatannya akan apa yang beberapa saat lalu telah dia lakukan bersama Diva, membuat apa yang akan dia sampaikan kepada istrinya sesaat nanti pun belum dia pikirkan.
"Kok bisa ya?" Elang bergumam-gumam kecil sambil sesekali tersenyum lebar.
"Kok bisa apa?" sebuah suara yang tak asing di telinga, tiba-tiba terdengar entah dari mana.
"Suara dari mana sih? kok kayak suara ...," Elang menghentikan ucapannya secara tiba-tiba ketika menyadari bahwa ...
BERSAMBUNG
Hallo guys...
Alhamdulillah author bisa up episode ke dua cerita ini. Jika boleh, minta like dan Comment-nya dong. Biar semangat gitu. Klik tanda love juga, favoritkan cerita ini biar author selalu termotivasi untuk bisa update setiap hari. Semakin banyak yang klik favorit, semakin semangat juga author nulisnya. Berasa ada yang nunggu kelanjutan ceritaku gitu. Hehehe...
jangan lupa like, comment, love dan klik bintang 5. Oke? terima kasih...