
Rasa itu adalah ironi yang menelusup di seluruh dimensi hati. Kadang sesak, bahkan tak jarang ada sesuatu yang seolah mencekat, namun semakin lama justru mampu mengubah bait-bait nadi menjadi cinta yang tak bisa terkendali.
Seperti siang itu, baik Elang maupun Diva sudah tidak bisa berkonsentrasi melakukan aktivitas masing-masing, hingga selepas shalat dhuhur tangan Elang sudah tak sabar untuk menghubungi Diva kembali.
Elang : Udah selesai meeting-nya?
Diva : Udah
Elang : Habis ini mau kemana?
Diva : Mau ngopi sebentar
Elang : Yuk
Diva : Basement
Elang : Oke
Dan akhirnya, keberanian mereka sama-sama muncul untuk yang pertama kalinya. Ya, setelah beberapa hari terakhir hanya bisa bercumbu melalui pesan udara, kini mereka tak bisa menahan diri untuk bisa bertemu dan saling meyakinkan rasa cinta.
Elang pun keluar dengan tergesa begitu sebuah pesan masuk dan nama Diva terpampang dengan nyata di sana. Dia terlihat begitu tak sabar, ingin segera menumpahkan segala rasa pada perempuan yang kini sudah menjadi pemilik hatinya, meski dia sendiri sadar sepenuhnya bahwa hati Diva tak hanya miliknya dan hatinya tak hanya menjadi milik Diva sepenuhnya.
Dan detik-detik menegangkan itu akhirnya tiba. Tepat di hadapan Elanglah sekarang Diva berada, membuat Elang berdiri mematung di belakangnya selama beberapa lama. Namun, hujan turun tiba-tiba, membuat keheningan yang menggenang selama beberapa lama pecah seketika, hasrat Elang untuk memeluk Diva dari belakang pun ikut sirna dan mengalir mengukir jejak, seiring dengan tubuhnya yang ikut bergerak membiarkan rasa itu menyeruak.
"Mana kunci mobilnya? Biar Mas yang bawa," suara Elang membuyarkan pikiran Diva yang mengembara.
Diva pun menyerahkan kunci di tangannya, dan mengambil gerakan memutar untuk masuk ke dalam mobilnya.
"Kemana kita?" Elang membuka suara untuk memecahkan kecanggungan di antara mereka.
"Ngukur jalan aja," sahut Diva tanpa berani menatap pria pujaan yang kini telah duduk tepat di sampingnya.
Cukup lama mereka berputar-putar, mengelilingi setiap inchi jalanan kota. Obrolan-obrolan ringan pun mewarnai pertemuan pertama mereka, mulai dari cerita tentang diri masing-masing, hingga cerita tentang pekerjaan yang membuat mereka melewati waktu hingga sore tiba begitu saja tanpa terasa.
"Sudah waktunya tuan putri pulang. Di rumah pasti sudah ada yang menunggu kedatangan istri tercinta," cicit Elang, dengan rasa aneh yang tetiba menusuk-nusuk di dalam dada.
Ya, walaupun dari awal pertemuan mereka Elang sadar sepenuhnya bahwa wanita yang dia cintai itu sudah ada pemiliknya, tapi entah kenapa rasa cemburu itu selalu muncul jika ingat bahwa selain dirinya, ada pria lain di samping Diva.
Mendengar ocehan Elang, Diva hanya mampu mendesah kasar, seolah berat untuk melepas pria di sampingnya dan kembali pulang. Bahkan, begitu Elang berhasil memarkir mobilnya di tempat semula dan berusaha meraih tangannya, Diva membiarkan semua berjalan begitu saja.
"Masih kangen," hanya kata manja itu yang keluar dari mulut Diva.
Elang tersenyum bahagia mendengar Diva begitu jujur mengatakan isi hatinya. Digenggamnya lebih erat tangan Diva menggunakan dua tangannya, dikecupnya berkali-kali punggung tangan itu, sebelum akhirnya Elang memberanikan diri untuk mencium pipi Diva dan berbisik, "I love you,".
"Me too," sahutan singkat Diva pun menutup pertemuan mereka di sore itu.
Setelah pertemuan pertama yang begitu mengesankan, mereka kembali beraktivitas biasa bersama masing-masing pasangan mereka seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Berhubungan melalui pesan udara pun mereka batasi saat mereka berada di rumah, agar terbongkarnya perselingkuhan mereka bisa terhindari.
Dua hari setelahnya, baru mereka bertemu kembali dengan cara yang sama, sekedar mengobrol di dalam mobil sambil berkeliling kota.
"Ngukur jalan yuk," begitulah kode yang disepakati mereka berdua.
Baru di hari ketiga, keinginan Elang untuk bisa memiliki Diva sepenuhnya sudah tidak mampu lagi dia halau, sebesar apapun dia sudah berusaha untuk membuang jauh-jauh pikiran kotornya.
Pesan demi pesan yang mengarah pada hubungan intim pun akhirnya tak terelakkan juga. Apalagi ketika Diva bercerita bahwa sejak Elang masuk dalam kehidupannya beberapa hari terakhir ini dia tidak bisa melayani suaminya, tak Elang sia-siakan kesempatan yang kini sudah hadir di depan mata.
"Jalan aja yuk," sebuah pesan melayang indah dan mendarat sempurna di ponsel Diva.
Rasa rindu yang tak bisa dihalau pun membuat Diva tak mampu menolak ajakan Elang yang selama beberapa hari ini begitu memenuhi seluruh ruang dalam hatinya. Hingga siang itu, mereka bertemu untuk yang ketiga kalinya.
"Mas, Diva belum siap," tolak Diva sambil meraih tangan pria yang saat ini sedang menyetir di sebelahnya.
"Ya udah," Elang menyahut dengan nada setengah kecewa.
"Mas marah?" tanya Diva sambil menatap Elang dengan intens.
"Enggak,"
"Nggak marah kok gitu?"
"Enggak, Mas nggak marah,"
"Enggak marah kok jadi cuekin Diva gitu,"
"Makanya ayuk, Yank. Ya?" Elang tak pantang menyerah. Siang itu dia benar-benar berusaha membuat Diva menyerahkan dirinya hingga bisa menjadi miliknya sepenuhnya.
Dan ternyata kegigihannya tak sia-sia. Rasa takut bahwa Elang akan kecewa jika siang itu Diva menolak ajakannya, membuat Diva akhirnya mengiyakan permintaan Elang tanpa berpikir panjang.
"Mas masuk dulu, baru Sayank susul Mas ke dalam," ucap Elang sambil menyerahkan kunci mobilnya kepada Diva, sebelum akhirnya keluar. Baru setelah Elang memberi kode aman melalui sebuah pesan, Diva turun dan menyusul pria pujaannya masuk ke dalam.
Tak berapa lama, Diva pun masuk dalam sebuah kamar hotel mewah dengan nomor yang telah Elang beritahukan melalui pesannya. Sejenak, Diva menyempatkan mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruang, hingga netranya mampu menangkap tempat tidur mewah perpaduan warna coklat tua dan coklat muda dengan sprey dan selimut warna putih bersih, dipercantik dengan lampu tidur di samping kanan dan samping kiri ranjang.
Di atas ranjang terdapat lukisan pemandangan alam yang memukau, yang dipadukan dengan aksen kayu yang mendominasi seluruh dinding kamar itu, hingga benar-benar mampu menambah kesan elegan yang begitu memanjakan pandangan.
Di samping kanan tempat tidur ada meja kerja, di sebelahnya ada sofa dengan warna senada. Di depan ada sofa yang menempel dengan tempat tidur, dan di seberangnya ada TV besar dengan meja TV yang digantung pada dinding.
Di bawah TV ada rak-rak masih dengan aksen kayu dan disampingnya ada semi minibar yang lengkap dengan kulkas plus minuman dingin.
Pencahayaannya yang lembut, membuat suasana kamar itu terkesan lebih mewah, tenang, dan nyaman. Warna lampu kuning yang terpancar dengan sumber cahaya yang disembunyikan di balik plafon dan headboard pun membuat kesan romantis sangat menonjol. Seluruh permukaan lantai juga tertutup dengan karpet untuk menyempurnakan kesan hangat yang sengaja ditunjukkan.
Meja rias dibuat menyatu dengan kabinet, ditambah detail seperti cermin dan pencahayaan sebagai sentuhan akhir menciptakan pantulan cahaya lampu yang membuat kamar itu lebih lapang bagaikan suite mewah.
"Yank, ayo sini!" suara Elang membuat fokus pandangan mata Diva tertuju pada sumber suara.
Elang yang sudah menunggu Diva di tepi ranjang pun ingin segera memeluk Diva dengan tak sabar.
Diva tak menjawab perkataan Elang. Dia justru masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, baru beberapa menit kemudian dia mendekati Elang dengan rasa gelisah dan terlihat gusar.
Elang yang bisa menangkap ada keraguan di hati Diva pun mengulurkan tangan dan membuat tubuh wanitanya semakin mendekat. Digelarnya begitu saja tubuh Diva di atas kasur yang sudah penuh dengan taburan mawar merah berbentuk hati, membuat hasrat keduanya tak mampu mereka kendalikan lagi.
Elang segera melepas seluruh pakaian yang dikenakan Diva, bahkan hingga dua kain berenda terakhir yang tersisa dengan hasratnya yang menyala-nyala, dan melemparkannya ke sembarang arah hingga tubuh polos itu tak punya sehelai benang pun yang tersisa.
"Sempurna," ujar Elang sambil menatap setiap lekuk tubuh Diva.
"Mas, jangan liat Diva kayak gitu ahh. malu," cicit Diva sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada, hingga bukit indahnya bisa dia tutupi dari pria yang kini sudah berada di atasnya.
"Kamu ini lucu, Sayank. Mas kan sudah melihatnya. Bukan hanya lihat malah. sebentar lagi Mas akan memiliki dan menikmatinya," oceh Elang sambil melepas tangan Diva dan meletakkan dua tangan Diva di atas kepalanya sendiri.
Elang memegang dua tangan Diva dengan tangan kirinya agar tak berpindah posisi, sementara tangan kanannya aktif melepas helaian kain yang masih juga menutupi tubuhnya. Tak sampai satu menit, seluruh pakaiannya itu pun bernasip sama dengan pakaian Diva yang lainnya, dan segera terhempas ke lantai begitu saja.
Elang mulai merayap dan membuat stempel kepemilikannya di beberapa tempat. Mendapat perlakuan Elang yang begitu menggelora, Diva pun mulai mendesah, hingga ceracau tak jelas pun lolos dari mulutnya begitu saja. Setelah puas bermain-main di area favoritnya, baru mereka melakukan atraksi yang sesungguhnya, hingga sebuah erangan kenikmatan benar-benar tak bisa tertahankan, seiring dengan lelehan hangat yang mengalir deras di bawah sana yang menjadi bukti penyatuan mereka untuk yang pertama kalinya.
End Off Flashback
BERSAMBUNG
Like, comment dan rate 5 ya guys 🥰🥰🥰