
Senyum Elang terus mengembang selama perjalanan pulang. Ingatannya akan apa yang beberapa saat lalu telah dia lakukan bersama Diva, membuat apa yang akan dia sampaikan kepada istrinya sesaat nanti pun belum dia pikirkan.
"Kok bisa ya?" Elang bergumam-gumam kecil sambil sesekali tersenyum lebar.
"Kok bisa apa?" sebuah suara yang tak asing di telinga, tiba-tiba terdengar entah dari mana.
"Suara dari mana sih? kok kayak suara ...," Elang menghentikan ucapannya secara tiba-tiba ketika menyadari bahwa dia sudah sampai di garasi rumahnya, dan telah memarkir mobilnya di tempat biasa.
Ya, perjalanan dari Cahaya Group ke rumahnya yang hanya butuh waktu tak lebih dari lima belas menit, membuat Elang latah hingga tak perlu berfikir jalan mana yang harus dia lewati saat menyetir. Apalagi riuh gemuruh rasa yang sedang menguasai jiwanya, membuat angannya melambung tinggi dalam lamunan indahnya, hingga waktu yang berjalan terlewati begitu saja tanpa dia rasa. Dan ternyata, tanpa sadar Elang sudah sampai di kediamannya.
"Ehh, Mama," Elang begitu kaget saat menoleh ke sumber suara dan menyadari bahwa Nada, yang tak lain adalah istri sahnya sudah berada di samping pintu mobilnya. Bahkan Elang yakin, istrinya itu benar-benar telah mendengar gumamannya dengan jelas, mengingat kaca mobil sengaja tak Elang tutup hingga dalam keadaan terbuka.
"Kok bisa apa, Pa?" Nada mengulangi pertanyaannya dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Banyak masalah di kantor, Ma. Kepikiran aja tadi," sahut Elang sekenanya.
Untung saja Nada tak ambil pusing dan tak menaruh curiga. Dia percaya saja dengan jawaban suaminya yang sebenarnya sedang berbohong, bahkan jantungnya pun berdetak dengan begitu kencangnya.
***
Elang diam terpaku. Dia masih saja terduduk diantara cahaya bulan dan sinar lampu teras depan yang tak cukup terang.
Elang mendongak ke atas, disana ada ribuan cahaya temaram yang setia menghiasi cakrawala yang mulai menghitam. Seindah langit di malam itulah hati Elang saat itu, meski nuansa penuh misteri masih saja menyelimuti jiwanya, bahkan kini rasa demi rasa datang silih berganti bagai slide yang terus berputar-putar menenuhi seluruh ruang hati.
"Ahhh," Elang mendesah syahdu, sesyahdu suasana rumahnya di malam itu.
Ya, sepi. Begitulah nuansa yang Elang rasakan saat itu, mengingat putri semata wayang dan istrinya sudah tertidur lebih dulu.
"Dia sedang apa ya?" gumam Elang sedikit gundah. Bahkan dia terlihat memandangi handphone-nya tanpa henti, dan terus menatap nomor Diva tanpa berani menghubungi seingin apapun gejolak yang meronta-ronta dalam hati.
Elang pun berjalan mondar-mandir berkali-kali sembari menyeberangi samudera pemikirannya tentang skenario takdir dalam hidupnya. Jarum jam dinding yang terus berputar hingga malam makin larut pun menambah kegelisahan hati yang semakin merindu.
"Aku hubungi atau enggak ya?" lirih Elang terdengar ragu.
"No. Terlalu berbahaya. Aku harus bisa menahannya," putus Elang, sambil menutup sebuah nomor bertuliskan Diva Cahaya Group dengan begitu terpaksa.
Begitu nama Diva tak lagi terlihat di benda pipih canggih miliknya, Elang beralih ke sebuah akun media sosialnya dan menuliskan sebuah status dengan perasaan membuncah yang sungguh sulit diartikan dengan kata-kata.
Klik.
Suara kunci layar pun terdengar, setelah Elang memutuskan untuk menutup pengembaraannya. Dia lantas merebahkan diri di atas sofa panjang tempat duduknya, kemudian berusaha memejamkan mata. Bisakah dia tertidur? Tentu saja tidak. Kini ingatan Elang justru terus mengembara, kisahnya bersama Diva beberapa hari ini pun tak bisa menghilang dari kepalanya.
"Ya Allah, rasa apa ini?" cicit Elang lirih, sambil meraba bagian dadanya berkali-kali.
"Bahkan jantung ini masih saja berdebar kencang, walau kami sudah menjalani komitmen itu beberapa hari ini," lanjutnya, sambil menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan.
Dan saat-saat dimana Elang bisa menggenggam tangan Diva untuk pertama kalinya hingga mereka bisa bercinta siang tadi pun, kini menari-nari dalam ingatan.
flashback
Elang memutuskan tetap berangkat ke kantor meski sebenarnya rasa capek masih menghinggapi raganya lepas pulang dari luar kota bersama Diva dan tim yang lainnya.
Hal ini Elang lakukan bukannya tanpa alasan. Ya, hari itu dia tahu bahwa Diva ada jadwal rapat bersama klien, sehingga dia pikir ada kesempatan untuk bertemu dengan Diva langsung bukan hanya melalui pesan udara.
Dan ternyata apa yang dia lakukan tak sia-sia. Pagi itu, saat Elang masuk ke Gedung Cahaya Group dan berniat menuju ruangannya, tiba-tiba pintu lift yang dia naiki terbuka kembali sebelum tertutup sempurna. Hal yang membuat dia ingin meloncat seketika adalah ketika dia menyadari bahwa perempuan yang sedang ingin sekali dia temui tiba-tiba ada di depan mata dan ikut masuk dalam lift yang sedang dia naiki.
"Duluan," suara khas Diva membuyarkan gejolak rasa yang sedang menguasai hatinya. Bahkan Elang dibuat tak bisa menjawab apapun sapaan Diva, saking kaget dan berdebarnya dia saat bertemu dengan pujaan hatinya.
Hingga akhirnya, Diva pun berlalu menuju ruangannya, tanpa berani saling tatap ataupun menyapa dengan santai seperti biasanya. Menyadari sang bidadari telah pergi dari hadapannya, Elang langsung masuk ke ruang kerjanya dan merogoh sebuah ponsel dari saku kanan celananya.
Tak berapa lama, sebuah icon hijau langsung dia sentuh dan dia ketik nama Diva.
Elang : Kaget tadi (emoji tertawa)
Elang : Tiba-tiba ada bidadari (emoji love)
Diva : Ada-ada aja. Aku juga deg-degan.
Elang : Aku dari kemarin deg-degannya.
Diva : (tiga emoji tertawa)
Elang : Kok bisa gini ya?
Diva : Iya
Elang : Ya Allah, rasa apa ini? Kayak ABG aja.
Diva : Aku juga bingung. Kok bisa ya?
Elang : Kita jalani aja ya...
Diva : Iya
Elang : I Love you (emoji love)
Diva : Me too
Elang : Ya udah, situ kalau mau rapat.
Diva : Ok.
Elang : Nanti aku hubungi lagi (emoji love)
Diva : Iyaa (tiga emoji love)
Keduanya pun sudah tidak konsentrasi melakukan aktivitas masing-masing, hingga selepas shalat dhuhur tangan Elang sudah tak sabar untuk menghubungi Diva kembali.
Elang : Udah selesai meeting-nya?
Diva : Udah
Elang : Habis ini mau kemana?
Diva : Mau ngopi sebentar
Elang : Yuk
Diva : Basement
Elang : Oke
Dan akhirnya...,
BERSAMBUNG
Hallo guys...
Jangan lupa kasih like dan Comment-nya ya. Biar semangat gitu. Klik tanda love juga, favoritkan cerita ini biar author selalu termotivasi untuk bisa update setiap hari. Semakin banyak yang klik favorit, semakin semangat juga author nulisnya. Berasa ada yang nunggu kelanjutan ceritaku... Hehehe...
Jangan lupa like, comment, love dan klik bintang 5. Oke? terima kasih... bye bye
🥰🥰🥰🥰