
Mode kecemasan Diva kini hidup, membuat irama kekhawatiran di hatinya terus berhembus bagai hembusan angin yang berkelebat, membawanya berlari menuju ke lembah kegalauan yang kini tak berbatas.
Diva mencoba meraba bagian dadanya, ternyata detak jantungnya pun semakin berpacu, begitu tahu bahwa Elang meninggalkan jejak pada sebuah foto yang dia posting atas permintaan Daffin beberapa jam yang lalu.
"Astaga, apa yang dia pikirkan ketika melihat foto itu?" tanya Diva dalam hati.
Bahkan, ingin sekali waktu itu Diva langsung mengangkat telphon dan berbicara dengan kekasih gelapnya itu, namun apalah daya. Mereka sudah terikat dengan sebuah perjanjian bahwa mereka tak akan saling menghubungi jika jam kerja sudah berlalu. Hingga mau tak mau, perasaan tak nyaman itupun harus tetap ditahan Diva, hingga waktu memungkinkan mereka untuk bertemu.
Namun baru beberapa saat Diva mengatur melodi hatinya, tiba-tiba netranya menangkap sesuatu yang membuat irama kecemasan itu berubah menjadi sebuah deretan nada yang terasa pilu.
"Tega banget kamu posting foto-foto mesramu bersama dia, Mas," pekik Diva lirih, sambil berusaha dengan keras menahan tangis saat melihat foto Elang dan Nada yang terpampang nyata di beranda akun media sosialnya.
Klik.
Tak tahan melihat pemandangan itu, Diva langsung mengunci layar ponselnya dan menghempaskan benda pipih canggih itu begitu saja. Derai air mata yang sedari tadi ditahannya pun, kini lolos hingga bulir-bulir bening itu mampu membasahi pipinya dengan begitu sempurna.
"Nggak boleh nangis. Nggak boleh nangis. Nggak boleh nangis," Diva berkata untuk dirinya sendiri sambil menyeka air matanya, tapi semua sia-sia. Semakin Diva ingin menghentikan tangisnya, semakin deras pula kristal-kristal bening itu keluar dari ujung matanya.
Kini, Diva bersimpuh seorang diri di kamarnya, meratapi nasib cintanya yang membeku dan kesakitan yang menderu, berharap tak ada yang terlambat untuk memenangkan kembali hati Elang yang kini masih juga menggenggam erat cinta istrinya itu.
Sungguh, Diva takut kisah cintanya hanya akan menjadi debu kering, yang beterbangan ditiup angin. Bahkan kini ketakutannya semakin menjadi, saat berpikir bahwa cinta itu tak lagi hinggap di hati pria yang sungguh akan selalu dia cintai sepenuh hati.
Sedih, hanya itu yang dia rasa saat ini. Salahkah jika dia ingin menjadi kekasih takdir walau waktu tak lagi berpihak untuk mengukur kisah asmara yang happy ending?
Bahkan kini, suara jarum jam yang berdetak pun seolah menikam detik demi detik waktu di kamar itu. Bayangan kelam di hati Diva, menambah hancur keberaniannya untuk bisa menatap banyaknya kemungkinan yang akan hadir di depan mata.
“Apakah dia hanya mempermainkan hatiku dan sepenuhnya ingin kembali padanya ?” tanya Diva dalam hati.
Jika saja waktu dapat terulang dan kembali, tentu saja Diva akan meminta. Semoga Allah sudi mendengar satu saja permintaannya, agar dia dapat bertemu dengan Elang di waktu yang tepat, dan bersatu merajut asa bersama pria yang dia cinta.
"Ahhh," Diva mendesah sendu.
Diva masih saja bersimpuh di tempatnya dengan linangan air mata yang membanjiri pipinya. Matanya pun kini terlihat begitu sembab, sampai tak ada lagi yang bisa menutupi betapa pedih rasa di hatinya.
Hingga tiba-tiba...,
"Sayank...," suara Daffin terdengar, seiring dengan terbukanya handel pintu kamar.
Diva yang tak siap dengan kedatangan suaminya pun segera menghapus air matanya, meskipun semua yang dia lakukan tentulah sia-sia. Ya, karena matanya yang terlihat begitu sembab sudah pasti tak akan bisa menyembunyikan suasana hatinya yang sungguh sedang tidak baik-baik saja.
"Sayank kenapa?" Daffin langsung menghampiri istrinya, begitu netranya menangkap bahwa ada yang tak beres pada Diva.
Merasakan gelagat negatif dari istrinya, Daffin pun menarik nafas panjang.
"Kenapa lagi ini? Aku berbuat salah apa lagi sih sampai dia ngambek kayak gini?" batin Daffin sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Sayang," panggil Daffin sekali lagi. Dia terus berjalan mendekati Diva, yang belum juga bergeming dari posisinya.
Daffin pun naik ke atas tempat tidur, kemudian memberingsut ke sisi ranjang dimana Diva masih berbaring membelakanginya.
"Mama marah sama Papa?" tutur Daffin lembut sambil memeluk Diva dari belakang.
Diva masih tak bergeming.
"Papa mohon, jangan seperti ini, Sayank. Bilang apa kesalahan Papa, tapi jangan menangis seperti ini. Papa sungguh tak tahan kau diamkan, apalagi melihat tangismu itu sungguh sangat menyakitkan," meski tak tahu kenapa Diva menangis sampai matanya sesembab itu, tapi Daffin masih yakin kalau dia berbuat kesalahan.
"Sayang, katakan sesuatu. Marahi aku kalau perlu. Bahkan kau boleh hukum aku sesuka hatimu jika itu bisa membuatmu tak mendiamkan aku seperti ini," Daffin terus memeluk tubuh istrinya dengan erat.
Diva masih terdiam. Hanya tubuhnya saja yang semakin berguncang, seiring dengan isakan tangis yang kian terdengar. Antara bingung harus menjawab apa, juga merasa kasihan karena harus membuat suaminya merasa bersalah terhadap kondisi dirinya, membuat diam menjadi pilihan yang paling aman untuknya, meski air mata itu tetap saja masih mengalir dengan begitu derasnya.
"Jangan menangis, aku mohon!" Daffin berusaha membalikkan tubuh Diva, agar menghadap ke arahnya. Namun lagi-lagi gagal. Diva berusaha dengan keras menahan tubuhnya agar tak berhadapan dengan suami yang sebenarnya sudah dia hianati itu.
"Aku menikahimu untuk membuatmu bahagia, Sayang. Bukan membuatmu hidup penuh dengan air mata. Berbicaralah kepadaku, kita bicarakan baik-baik apa yang sekarang menjadi keinginanmu," cicit Daffin lagi.
Diva mencoba menata hati, dan bertekad untuk meyakinkan dirinya sekali lagi. Ya, meski ada Daffin yang begitu baik dan mencintainya, tapi entah kenapa justru kepada Elanglah kerinduan itu selalu bermuara. Hanya kepada Elang khayalan itu selalu meraba. Dan hanya bersama Elang jugalah Diva ingin merangkai cerita cinta. Sayangnya, mereka tak akan pernah bisa untuk bersama, kecuali takdir melukis cerita lain untuk mereka.
"Pa ...," sambil mengatur nafasnya, Diva pun membalikkan badan dan memberanikan diri untuk berbicara kepada suaminya.
"Iya...," Daffin menunggu Diva mengeluarkan kata-kata.
"Sebenarnya..., sebenarnya Mama...," ucap Diva masih bingung harus berkata apa.
"Sebenarnya apa? Katakan...," tanya Daffin, dengan berjuta pertanyaan dalam benaknya.
"Sebenarnya Mama menangis karena Mama...,"
BERSAMBUNG
Like, comment positif dan rate 5 ya guys 🥰🥰🥰
Jangan lupa favoritkan juga cerita ini, biar teman-teman langsung dapat notifikasi begitu author up episode baru. Semakin banyak yang klik favorit, semakin semangat juga author nulisnya. Berasa ada yang nunggu kelanjutan ceritaku gitu. Hehehe... Oke? Thank you.