SELLY

SELLY
Everclear



Renal keluar dari kamar mandi sembari menggosok-gosok rambutnya yang basah. Ia beralih membuka pintu lemari pakaiannya untuk memilih baju yang akan di pakai, tapi ponselnya yang berdering telah menghentikan kegiatannya.


Renal mengambil ponselnya, ia melihat nama penelponnya, Yafi. "Hallo. Apaan?" ucapnya setelah mengangkat telpon.


Yafi diam sesaat, setelah itu dengan ragu ia berbicara. "Itu, Ren.."


Renal berdecak, mengapa Yafi begitu bertele-tele. "Apaan, ngomong yang jelas."


"B-bokap sama nyokap lo dirumah?"


Alis Renal bertaut. Ia bingung, untuk apa Yafi bertanya. "Iya, Ortu gue baru balik, kenapa?"


Terdengar Yafi yang baru saja membuang nafas kasar di sebrang sana, membuat Renal yang mendengar pun bertanya. "Ngapain lo nanya? Kangen sama nyokap gue?"


"Ck, bukan. Lo bisa kemari gak?"


"Kemana?"


"Club, tempat biasa."


"Oke"


"Jang---"


Tut


Renal memutus panggilannya, ia sudah tau jelas apa yang akan di bicarakan Yafi, pasti dia memintanya untuk tidak berlama-lama.


Dengan cepat Renal memakai pakaiannya, menyemprotkan parfum di bagian leher dan di pergelangan tangannya, lalu memakai jam tangan favoritnya, setelah menyisir rambut menggunakan jemarinya, ia bergegas mengambil kunci mobil yang tergeletak di atas nakas yang ada di samping kasur kamarnya.


Renal melangkah keluar kamar, kemudian menurunin tangga. Ia melihat Papa dan Mamanya yang sedang duduk di sofa depan tv, yang seperti sedang menampilkan adegan lucu, karena sampai membuat kedua orang itu tak henti tertawa.


Renal berjalan lebih dekat ke orang tuanya. "Pa, Ma." panggilnya, membuat kedua orang tua itu sedikit terkejut oleh kehadirannya.


"Sayang... Kamu ini bikin mama kaget saja." ucap Marni, kemudian menarik lengan putra semata wayang nya itu untuk ikut duduk disebelahnya, dan Renal pun menurut.


Marni mengusap lembut kepala putranya. "Anak kesayangan Mama, mau kemana udah wangi gini, hm?"


Renal menggigit bibir bawahnya, dia tampak bingung harus bicara bagaimana ingin mendapat izin dari Mama dan Papanya, apalagi mereka baru saja pulang dari Business trip di Bali. Ditambah lagi kini sudah jam 11 malam, sudah pasti tak dapat izin.


Renal menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal, "Ini Ma.. anu- Renal mau kerumah Daffa, mau nanya tugas sekolah. Boleh?" bohong Renal, ia tak mungkin bilang ingin ke club kan.


"Jangan bohong kamu." ucap Dian yang duduk disebelah Marni. Pandangannya menatap datar Renal, menelisik gerak-gerik putranya.


Renal menatap mata Papanya meyakinkan. "Beneran Pa. Papa telpon Daffa aja kalau gak percaya." ucap Renal seyakin mungkin, supaya Papanya percaya. Tapi di lubuk hatinya juga takut, jika Papanya sungguh menelpon Daffa dan dia mengatakan tidak bagaimana? Bisa mampus dirinya karena berbohong. Apalagi Daffa tak pernah mau di ajak ke club.


Masih tampak ragu, Dian pun meraih ponselnya yang diatas meja untuk menelpon Daffa. "Akan Papa telpon."


Mampus -batin Renal.


"Sayang.." panggil Mirna, ia mengambil ponsel suaminya, kemudian menaruhnya kembali. "Anak kita kan sudah bilang mau kerumah Daffa, Izinin dong."


Renal hanya tersenyum senang disana, untung ada Mamanya.


"Tapi sayang, sudah jam berapa ini.." Dian melihat jam tangannya sekilas, "Sudah malam, kenapa Renal gak kerumah Daffa dari tadi jika memang penting."


"Mungkin anak kita lupa, Pa." Marni beralih melihat Renal, "Iyakan sayang?"


Renal tersenyum, "Iya Pa, bener yang Mama bilang, Renal lupa. Tadi baru aja di ingetin Daffa dari telpon."


"Papa kan tau, anak Papa ini geblek, jadi masih butuh Daffa." lanjut Renal.


"Sayang ini... Kalau nanti anak kita gak lulus bagaimana?" ucap Marni cemas, dia sungguh khawatir oleh putranya.


Renal tersenyum, ia sudah yakin dengan jawaban yang akan diberikan Papanya. Mana mungkin Papanya bisa menolak ucapan wanita yang begitu dicintainya.


Dian menggeleng, lalu membuang nafas. "Kamu ini jangan main terus makannya. Ya sudah sana, hati-hati."


Lihat, Papanya tak dapat menolak jika Mamanya yang berbicara. Menjadi anak tunggal tak begitu buruk juga baginya, karena selain hanya kesepian, ia tak harus berbagi kasih sayang oleh saudara nya yang lain.


"Yauda Renal pamit Pa, Ma." pamit Renal sembari menyalim tangan kedua orang tuanya.


"Kalau kemaleman nginap saja ya, sayang. Mama takut ada apa-apa kalau kamu pulang terlalu malam nantinya." pintah Mirna.


"Iya, Ma."


Laki-laki yang mengenakan kaus hitam oblong dengan celana training abu-abu itu buru-buru pergi meninggalkan rumahnya, ia berjalan cepat menuju garasi rumahnya.


Renal memasuki mobil dua pintu miliknya, dengan kemahirannya ia pun mengeluarkan mobilnya dan mengendarainya dengan kecepatan tinggi.


...***...


"Hai"


Laki-laki itu menoleh sekilas tanpa ekspresi pada gadis disebelah yang baru saja menyapa, kemudian beralih kembali pada minumannya. Dia tampak tak begitu peduli pada sekitarnya.


"Ada masalah?"


Laki-laki itu tetap diam tak menghiraukan, jari telunjuknya bergerak naik turun mengetuk meja, pandangan nya fokus pada berbagai jenis minuman haram didepan yang tersusun rapi di raknya.


Selly meremas ujung hoodienya, baru kali ini ia diabaikan oleh seseorang yang didekatinya dengan sengaja. Biasa tak ada seorang pun yang menolak tawarannya untuk di ajak bicara terlebih dulu.


Kesempatan, Selly mengambil perlahan gelas kosong yang isi nya telah diteguk habis oleh laki-laki itu. Ia menuang minuman yang dibawanya pada gelas itu, kemudian memberi kembali pada laki-laki dihadapannya.


"Nih, minum?"


Bukannya menerima gelas yang di beri Selly. Laki-laki itu justru meremas erat pergelangan tangan gadis itu, "Jangan ikut campur." ucapnya dengan sorot mata yang menusuk. Lalu ia menghempaskan tangan Selly kasar, agar menjauhi dirinya.


Gelas itu pecah tak beraturan di lantai. Jari telunjuk Selly menujuk seorang pelayan untuk membersihkan gelas tersebut, dan pelayan itu langsung melaksanakannya. Gadis itu menatap laki-laki itu dengan senyum miringnya, menarik.


Bukannya menjauh, Selly justru menarik kursi yang di duduki nya untuk semakin dekat dengan laki-laki itu. Tangannya naik menopang dagu nya dan terus menatap lekat laki-laki dingin yang telah menolaknya.


"Gue suka cowok sok jual mahal kayak lo."


Laki-laki itu tertawa mengejek, sembari menuangkan minuman alkohol pada slokinya. Ia tidak menyangka akan berhadapan dengan bocah ingusan yang menurutnya baru memasuki kenakalan remaja, yang berbicara begitu lancang padanya.


Laki-laki itu memutar kursinya menghadap Selly, tangan kirinya bersender dimeja menopang kepalanya. "Dan gue tertarik sama cewek murah kayak lo." ucapnya seraya memberi gelas slokinya pada Selly.


Selly seketika diam, ia pikir pria ini adalah target yang tepat. Selain tampan, ia tampak memiliki banyak uang, tapi siapa yang tau kalau pria ini memiliki mulut yang pedas.


Lagi-lagi Selly meremas ujung hoodienya. Ia menatap ragu gelas berisi alkohol di depannya. Jika menolak, maka ia akan semakin direndahkan pria ini, itulah pikirnya.


Selly menggeleng, "Lo aja yang minum" tolaknya. Ia tak mau menerima minuman seseorang yang baru di temuinya, siapa yang tau kalau minuman itu mungkin sudah diberi sesuatu. Terserah jika pria ini ingin berbicara apa, lagi pula ia mendekati pria ini cuma karena sedang bosan.


Laki-laki itu berdecak. "Bocah, mending lo pulang. Kasian orangtua lo noh, nungguin." ujarnya, lalu ingin menenggak minumannya.


Selly merampas minuman pria itu dan meminumnya dalam sekali tegukkan. Ia kembali kesal saat pria itu mengungkit soal orangtua dihadapannya, padahal pria itu tidak tau apa-apa tentang hidupnya. Persetan dengan orangtua, dirinya mati di luar pun mungkin Papanya tak akan peduli.


Laki-laki itu menatap Selly tak percaya, dan tak berapa lama bibirnya menyunggingkan sebuah senyum. "Gimana?"


Selly meringis saat cairan itu terasa panas ditenggorokannya. "Apa ini?"


"Everclear" jawab laki-laki itu santai.


"Sial." umpat Selly.


Selly sudah meminum banyak jenis minuman alkohol saat memenuhi undangan di berbagai acara bersama Papa dan Mamanya, dan ia pernah meminum Everclear sekali yang membuatnya langsung mabuk karena kadar alkohol nya yang terlalu tinggi. Kini dirinya meminumnya lagi, bahkan dengan seseorang yang baru di temuinya.


Selly mendengus, "Dari mana lo dapet minuman ini? Gak sembarang orang punya minuman ini, bahkan club ini sekalipun."


Laki-laki itu menatap Selly tanpa ekspresi. "Buat gue gak ada yang gak bisa. Dan.."


"Club ini milik gue." sambungnya, ia kembali menuang minuman itu pada slokinya.


Selly menggeleng lambat, ia menyentuh kepalanya yang terasa pusing, ini pasti karena minuman sial itu barusan. "Uhhk"


Laki-laki itu tersenyum satu sisi, melihat Selly yang perlahan kehilangan konsentrasi. "Mau tidur bareng?"


Walaupun kesadarannya mulai menurun, tapi Selly masih bisa mencerna apa yang barusan dikatakan laki-laki itu. "Sialan! Jangan mimpi!"


Selly berusaha berdiri, bahkan disaat kesadarannya akan menghilang. Ia masih bisa berpikir harus pergi menjauh dari pria ini. Saat sudah mabuk seperti ini, baru ia menyadari kalau laki-laki dihadapannya ini adalah seseorang yang berbahaya.


Laki-laki itu berdiri, menangkap tubuh Selly yang sempoyongan hampir terjatuh. Ia menatap mata Selly dalam, dan muncul sebuah hasrat saat ia beralih melihat bibirnya.


Selly mendorong laki-laki itu, "Minggir!" dan ia kembali ingin pergi.


Laki-laki itu menggeram. Ia mencekal tangan Selly, lalu menariknya. "Lo, menarik." suara laki-laki itu tiba-tiba serak, ia semakin mengikis jarak wajah antara mereka.


Selly yang merasa pria ini semakin mendekat reflek mendongak, dan benar saja ketika ia sudah mendongak, bibir pria ini sudah menempel pada bibirnya. Ia meronta, berusaha melepaskan diri, tapi lehernya ditahan oleh pria ini.


Bugh!


Saat itu juga Selly mundur beberapa langkah, ketika ada seseorang yang menarik dirinya, membuatnya terlepas dari ciuman laki-laki itu.


Mata Selly memicing sebelum akhirnya terbuka lebar, saat melihat seseorang yang dia kenal menduduki perut laki-laki itu dan terus memukul wajahnya tanpa henti.


Renal?


...🌸🌸🌸🌸🌸...