
Selly menyelipkan rokok diselah bibirnya, lalu menyulutnya dengan korek api yang selalu ia bawa. Duduk dipinggiran rooftop sambil merokok hanya ditemani oleh angin rasanya tidak terlalu buruk, karena setiap hembusan dari rokoknya seakan ikut mengurangi beban pikirannya.
Selly berdecak, mengingat kembali kejadian di kantin barusan. Pria yang dicintai nya begitu jelas menujukan ketertarikan pada saudara tirinya. Sepertinya ia benar-benar sudah kalah, karena semuanya sudah diambil oleh wanita sialan itu.
Mengapa sesulit ini melupakan seseorang seperti Daffa yang bahkan tak pernah sekalipun mengingatnya. Pria itu yang perna menyelamatkan hidupnya dari pria brengsek yang hampir memperkosanya, dan sejak saat itu lah ia menaruh rasa padanya.
Selly melirik ke arah pintu menggunakan ekor matanya, saat mendengar suara langkah kaki yang sedang berjalan di tangga menuju rooftop.
"Kunci." ucap Selly pada seorang pria yang baru saja tiba. Pandangannya kembali fokus pada kendaraan lalu lalang dibawah, yang letaknya tepat dibelakang sekolahnya.
Setelah menutup pintu rooftop. Pria itu bersender di sisi pintu dengan tangan yang terlipat di depan dada. Ia hanya memandang tubuh gadis dihadapannya.
Renal mendengus melihat Selly yang masih tak menghiraukan kehadirannya. Ia mengambil rokok dari saku seragamnya, lalu merogoh saku lainnya saat tak menemukan koreknya. "Pinjem korek dong, Sel."
Selly menoleh kemudian berdecih, "Bangkrut lo? Sampe korek pun gak ada." Ia melempar korek itu ke Renal.
Renal menerimanya. Ia memiringkan kepalanya, menutup ujung rokok dengan telapak tangannya, saat api dari korek mulai membakar ujung rokoknya.
Renal menghembuskan asap rokoknya, "Ngapain lo sendiri disini? Sakit hati liat Daffa tadi deket sama adik tiri lo?"
Selly mendengus saat mendengar ucapan Renal barusan, mengapa dia selalu saja tau tentang perasaannya.
"Bukan urusan lo."
Renal terkekeh, "Yaelah, yang pasti-pasti aja ngapa."
"Bac---"
Ucapan Selly terputus saat ada suara panggilan masuk dari ponselnya. Ia merogoh saku roknya kemudian melihat nama penelpon yang tertera di ponselnya.
"Pulang. Papa ingin bicara."
Selly mendengus. Setelah hal yang sudah terjadi kemarin malam, kini Papa nya bahkan berbicara seperti tak pernah terjadi apa-apa. "Ngomong dari sini apa susahnya sih, Pa?"
"Papa tunggu hari ini." ucap Robert kemudian memutus telponnya.
Selly mengacak rambutnya kesal, ia membuang ngasal puntung rokok yang memang sudah habis, kemudian ia berbalik dan turun untuk kembali ke kelas.
"Mau kemana?" tanya Renal pada Selly dihadapannya.
Selly merotasikan bola matanya malas. "Minggir. Gue mau balik ke kelas."
"Oh. Oke."
Tak pakai lama Selly langsung pergi begitu saja saat Renal telah memberi nya jalan. Entah mengapa perasaannya tak enak setelah Papanya menelpon.
Renal menutup kembali pintu rooftop. Ia menarik rokok dari mulutnya, lalu menjatuhkannya, dan menginjak dengan sepatunya.
Renal terduduk, tangannya tergesa-gesa mengambil suatu benda dari saku celananya. Ia melepas tutup benda bernama inhaler itu kemudian menghirupnya dengan nafas yang sudah memburu.
Renal berdiam sejenak saat sensasi dari obat itu mulai bekerja ke paru-parunya. Ia menarik nafas dalam, lalu buang. "Gila. Hampir mati gue."
Setelah dirasa sudah lebih baik, Renal pun segera beranjak dari tempatnya. Ia ingin kembali ke kelasnya. Cukup mengesankan ia telah menyembunyikan ini dari semuanya, terutama Selly. Ia tak mau terlihat lemah dihadapan gadis itu.
...🌸🌸🌸🌸🌸...