SELLY

SELLY
Bukan Rumah



Mobil Selly telah memasuki perkarangan rumahnya. Bangunan berlantai dua yang cukup megah dengan nuansa putih dan gold bergaya eropa klasik itu bahkan bukan terlihat seperti rumah, melainkan kastil.


Jika bukan karena Papanya yang memintanya kembali ke rumah karena ada hal yang ingin di bicarakan, mungkin malam ini ia tidak akan mau kembali.


Setelah memarkirkan mobilnya, Selly pun segera memasuki rumahnya yang langsung disambut oleh seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah pembantu rumah tangga di keluarganya.


"Silakan, Non."


Selly sedikit terkejut kemudian mengerutkan alisnya pada seseorang yang kini sedang menyambutnya. "Bi Sima, udah sehat?"


Bi Sima mengangguk, "Alhamdulillah, sudah Non."


Sebuah senyum tersirat diwajah Selly, lalu ia mengangguk. "Kalau capek istirahat ya Bi, jangan terlalu di paksa." ucapnya seraya mengusap lembut bahu Bi Sima.


Bi Sima meraih tangan Selly dipundaknya, kemudian ia balas mengusapnya lembut. "Iya Non, terima kasih."


Wanita paruh baya dihadapan Selly saat ini adalah orang terdekatnya selain Mamanya dirumah ini. Bi Sima sudah mengabdi untuk keluarganya selama 25 tahun, ia sudah seperti seorang Ibu pengganti bagi Selly, karena hanya Bi Sima lah yang tetap perduli padanya di rumah ini setelah Mamanya tiada.


Sudah 2 minggu yang lalu Bi Sima izin tidak bisa masuk kerja karena sakit yang dideritanya. Hari ini dia sudah membaik dan kembali masuk, membuat Selly yang sudah lama tidak melihatnya kini benar-benar merasa senang.


"Papa dimana, Bi?" ucap Selly setelah melihat sekelilingnya tampak sepi, karena biasa Papanya akan menunggunya di sofa ruang tamu.


"Di meja makan Non, sudah ada Mas Luis, Nyonya Linda, Nona Tiara juga. Mereka sudah menunggu Non Selly." jelas Bi Sima.


Selly mengerutkan alisnya. Luis? Apa-apaan orang itu berada disini? Bukannya dia sedang menjalankan bisnis di London? Lalu untuk apa pula dua wanita tolol itu berada dirumahnya? Linda seorang Mama tiri yang rakus akan harta dan Tiara seorang saudara tiri yang suka merebut hak miliknya.


Tangan Selly terkepal erat. "Sial" umpatnya tertahan.


Tak perlu berlama-lama Selly pun segera menghampiri mereka yang kehadirannya sudah membuat nya merasa muak.


Prokk prok prok prok


Selly bertepuk tangan di depan meja makan saat baru saja tiba sudah disuguhi pemandangan yang membuatnya kehabisan kata. Tiara yang sedang berbicara sok lembut didepan Papanya, dan Linda yang sedang menyediakan makanan di piring Luis, setelah selesai menyediakan makanan suaminya.


Kalau Papanya sih Selly sudah tak heran. Tapi ini Luis, Abangnya yang terkesan tak memperdulikan sekitar itu bahkan tersenyum sambil mengucapkan terima kasih pada Linda.


Selly tak habis pikir dengan apa yang baru saja dilihatnya, mereka bahkan sudah terlihat seperti keluarga bahagia tanpa dirinya. Padahal Mamanya baru 2 tahun pergi, tapi mengapa sudah begitu cepat tergantikan oleh wanita sialan itu.


Selly menggeleng, "Ck, manusia sialan." ucap Selly dengan santai.


"Selly!" bentak Robert yang tak tahan melihat tingkah laku putrinya.


Selly bersandar di tiang penyanggah rumahnya dengan tangan yang sudah bersedekap dada. "Kenapa, Pa? Salah?"


Tangan Selly naik memegang dagu, ditambah dengan raut wajah berpikir yang ia buat-buat. "Sekarang rumah ini jadi tempat para hama ya Pa?" imbuhnya sambil menelisik manusia dihadapannya.


"Cukup!" bentak Robert lagi, bahkan kali ini wajahnya sudah memerah karena menahan amarah.


"It's okay."


Selly beranjak dari posisinya, kemudian berdiri dengan badan yang bertopang pada kursi yang berhadapan langsung dengan Papanya yang duduk di kursi ujung, yang letaknya di kepala meja. "Jadi... Papa nyuruh Selly pulang hanya untuk melihat ini?"


Selly berdecak, bahkan Papa nya sama sekali tak bertanya dirinya kemarin bermalam dimana. Berbeda, sungguh berbeda dengan Papanya yang dulu, ketika Mamanya masih hidup Papanya akan mencari nya jika belum juga kunjung pulang kerumah.


Selly memandang mereka acuh, "Gak mau."


Brakk


Robert menggebrak meja dihadapannya, membuat mereka yang disekitarnya kaget dan ikut bangun saat ia bangun. Berbeda dengan Selly dan Luis mereka tetap diam, gadis itu hanya menatap tak menujukan ekspresi, sedangkan Luis masih menyantap santai hidangannya.


"Selly! Apa-apaan kamu seperti itu terhadap Papamu." ucap Linda yang berdiri di samping Robert.


Linda mengusap punggung tangan suaminya, dan tak berapa lama Robert pun kembali duduk. "Papa sabar ya.. Jangan marah-marah terus, nanti bisa mempengaruhi kesehatan Papa."


"Iya Pa.. Maafin Selly ya Pa." timpal Tiara.


Lihat, manusia tolol ini bahkan sudah mulai memerankan perannya sebagai Ibu dan Adik tiri yang baik. Bersikap seolah-olah membela padahal hanya ingin memojokan. Melihatnya saja sudah ingin membuatnya muntah.


Selly masih menatap datar semua makhluk dihadapannya ini, ingin tahu sejauh mana Ibu dan Anak itu memainkan perannya, serta sedalam mana kebodohan Papanya yang di buta kan oleh mereka.


"Sudah cukup sabar Papa ngadepin kamu Selly, kenapa kamu terus selalu bersikap seperti ini." ucap Robert selembut mungkin.


"Jadi alasan Papa menyuruh Selly pulang untuk apa?" ujar Selly tak menghiraukan ucapan Robert.


Robert menarik nafas, lalu menatap Selly dalam. "Sebagian saham kamu akan Papa berikan pada Tiara."


"HAHA- HAHAHA." Selly tak lagi dapat menahan tawa karena ucapan Papanya yang membuat perutnya seakan tergelitik. Ia tak lagi kaget atas ucapan Papanya barusan karena sudah lama menduganya, tapi ia masih tak menyangka akan secepat ini mendengarnya.


Selly berdecih, kemudian menatap sinis Tiara. "Papa, kasih sayang semua orang, mobil gue, dan sekarang saham? Nanti apa lagi yang bakal lo ambil dari gue?"


"Haha, gue jadi penasaran, apa sifat perebut milik Nyokap lo bakal nurun semua ke lo?" ucap Selly sarkas.


"Selly!"


"APA?!! Kenapa Papa selalu saja membela dia!" jari telunjuk Selly terangkat mengarah ke Tiara. "Dia! Dia! Dia terus!! Selly udah muak Pa! Apa Selly bukan anak Papa?!"


"Bicara apa kamu Selly! Papa gak pernah membela siapa pun disini, Kalian berdua sama-sama anak Papa!"


"Bohong! Papa bahkan tak menunjukan sikap seorang ayah yang adil!"


Selly udah capek menghadapin Papanya, kemudian ia pergi meninggalkan ruangan makan yang sudah membuatnya muak karena mereka. "Keluarga sialan!"


"Berhenti kamu Selly!" teriak Robert pada Selly yang sudah berjalan menjauh.


"Sudah Pa, mungkin Selly butuh waktu." ucap Linda menenangkan Robert.


Selly menutup pintu rumahnya dengan keras. Rumah yang dulunya tempat paling nyaman bagi nya untuk pulang kini tak lagi seperti rumah, tapi hanya seperti ruangan tak berudara yang membuat nya sesak seakan mau mati rasanya.


Selly mengeluarkan motor sport miliknya dari garasi, kemudian melajukannya meninggalkan rumah. Jika tadi membawa mobil, ia kini pergi membawa motor dengan tujuan akan melampiaskan semua kekesalannya di jalanan.


...🌸🌸🌸🌸🌸...