SELLY

SELLY
Dia Rumah



Ceklek


Pintu kamar terbuka, menampilkan sesosok laki-laki yang sedang membawa senampan makanan ditangannya.


"Selly" panggil laki-laki itu pelan, tak ada jawaban. Ia menelusuri setiap inci sudut kamarnya, pandangannya terhenti pada pintu balkon yang terbuka.


Laki-laki itu tersenyum. Ia menaruh nampan makanan itu di atas nakas di sebelah tempat tidurnya, kemudian berjalan mendekat ke arah balkon tempat Selly sedang berdiri membelakanginya.


"Sel, makan dulu." ajak laki-laki itu sudah berdiri didepan pintu balkon.


Selly diam tak menjawab. Matanya menatap indahnya langit malam yang hanya menampilkan beberapa bintang dengan sinarnya.


Laki-laki itu berjalan ke sisi samping kanan Selly. "Kali ini apa yang luka?" tanya nya, tapi masih tak dapat balasan juga. Membuat suasana hening sesaat.


"Renal.." panggil Selly, pandangannya masih fokus oleh langit diatas.


Gadis itu menarik nafas dalam-dalam, lalu membuangnya kasar. "Gue.. capek" Ia menunduk lalu menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya.


"Sini" panggil Renal kemudian meraih Selly ke dalam pelukannya.


Tangan Renal terulur mengusap lembut kepala Selly saat suara isakan mulai terdengar dari bawah, ia hanya diam sambil menunggu gadis itu yang sedang melampiaskan semua rasa sakitnya.


Selly memeluk erat tubuh Renal. Karena dia rumah sesungguhnya tempat gadis itu bisa melampiaskan semua perasaannya. Meski ia membenci Renal karena sikapnya yang tak perna serius, tapi saat Selly dalam kondisi seperti ini justru hanya Renal lah yang selalu ada untuknya. Tak ada rasa canggung meski sering bertengkar di antara keduanya.


"Lo bakal selalu ada buat gue, kan?" tanya Selly di selah-selah tangisnya.


Renal mangangguk. "Iyaa..."


"Gue bakal selalu ada buat lo." ujar nya seraya menepuk-nepuk pelan kepala gadis itu.


"Janji?"


"Gue janji."


"Gak boleh di ingkari ya"


"Iya"


Bohong kalau Selly tak memiliki perasaan terhadap Renal, meski hanya perasaan nyaman seorang gadis yang mendapat perlakuan baik dari lawan jenisnya.


Cinta? Selly bahkan langsung menepis perasaan itu jika muncul diantara dirinya dan Renal. Gadis itu takut kalau Renal akan seperti 'dia' yang pergi begitu saja meninggalkannya, saat dirinya telah menaruh semua rasa cinta untuknya.


Selly gak tau dan tidak mau tau seperti apa perasaan Renal padanya. Egois memang jika Selly meminta Renal untuk terus bersamanya, karena bagaimana pun hubungannya dengan Renal hanya sebatas teman.


Renal melonggarkan pelukannya kemudian sedikit menunduk. "Mana yang sakit?"


Selly mendongak dengan mata yang sembab, membuat Renal yang melihat itu tak bisa menahan tawa. "Pfftt.. Hahaha!"


Selly yang kesal lantas menjauhkan tubuhnya dari dekapan Renal. "Orang lagi sedih malah di ketawain!" ucap gadis itu mencak-mencak.


"Makannya jangan sedih, ntar cantik nya hilang" ucap Renal seraya mencolek dagu Selly yang langsung di tepis.


Selly mendengus kesal kemudian berjalan masuk.


"Sel, makan dulu baru tidur." ujar Renal yang melihat Selly sudah merebahkan tubuh di ranjang kesayangannya.


"Bodo amat. Gue gak laper!" sahut Selly yang sudah memejamkan matanya.


Renal berdecih. "Minimal mandi dulu kek. Ntar bantal gue kenak ingus lo semua."


Selly mendelik. "Apa lo bilang?!"


Tangan Selly meraih bantal disebelahnya. "Gue gak ingusan!" ucapnya tak terima, kemudian melempar bantal itu ke arah Renal yang berdiri disamping ranjang.


"Eiitss.." Renal dengan sigap menangkap bantal yang hampir saja mengenai wajahnya.


Di detik berikutnya, Renal dengan ekspresi wajah tengilnya muncul dari balik bantal. "Tidak kena..." ucapnya dengan lidah yang terulur guna mengejek Selly.


"Ish! Renal!!"


Renal terkekeh geli karena lagi-lagi telah berhasil membuat gadis itu marah. Entah mengapa ia begitu senang melihat ekspresi wajah Selly yang sedang kesal dibanding sedih seperti sebelumnya.


Renal melihat sekilas wajah Selly yang sudah cemberut melihat arah lain. Ia menghela nafas, lalu berucap. "Iya-iya, gue minta maaf."


Tak ada jawaban, Selly tetap diam.


Kini Renal duduk ditepi ranjang. Tangannya terulur mengusap puncak kepala Selly. "Gue minta maaf.."


"Sekarang Mana yang sakit?" tanya Renal khawatir.


Selly bangun dan duduk membelakangi Renal, tak lama tangannya turun membuka satu persatu kancing baju seragam sekolah yang masih melekat ditubuhnya.


Mata Renal membulat sempurna dan kepalanya menggeleng seakan tak percaya, saat Selly sudah menurunkan baju seragamnya. Disana, ia melihat tubuh gadis yang ia kenal terdapat luka baru yang masih basah, artinya luka itu belum lama.


Renal menghela nafas pelan kemudian mengambil kotak P3K yang ada di dalam laci nakasnya.


Renal membuka kotak itu, ia mulai mengambil kapas, ia tuangkan sedikit obat merah, lalu setelah itu ia usapkan perlahan ke tubuh Selly yang luka.


"Ssshh..." ringis Selly, saat kapas itu menyentuh kulit punggungnya.


"Lebay banget, ke senggol dikit doang padahal." sahut Renal yang masih fokus mengobati.


"Ya tetep aja sakit!"


Renal hanya diam fokus mengobati. Suasana kembali hening, yang terdengar hanya suara ringisan bahkan makian Selly pada Renal.


...***...


Selly menurunin satu persatu anak tangga rumah Renal dengan membawa turun piring kotor bekas makannya tadi untuk dicuci didapur.


Selly langsung mematikan kran wastafel ketika selesai membilas semua piring, setelah itu menyusun piring-piring itu pada tempatnya.


Setelah selesai dengan urusan piring. Gadis itu pun duduk dikursi bar. Tangannya tampak mengaduk-aduk jus mangga yang tadi dibuatnya, tatapan matanya kosong mengingat kembali kejadian yang terjadi beberapa jam lalu saat dirumahnya.


Beberapa jam lalu...


Jam sudah menunjukan pukul sembilan malam dan Selly baru saja memasuki pintu rumahnya. Sangking asiknya main dari pulang sekolah bersama Luna, membuatnya lupa bahwa ada seseorang yang akan pulang kerumah hari ini.


"Dari mana saja kamu jam segini baru pulang" ucapan seseorang yang tengah duduk di salah satu sofa ruang tamu rumahnya itu membuatnya diam mematung.


"Papa?" tanya Selly terkejut.


Selly mengutuki dirinya sendiri karena lupa bahwa Papanya Robert akan pulang dari dinas luar negeri hari ini. Tapi dirinya malah keasikan main hingga lupa.


"Seperti ini kah kelakuan kamu kalau Papa tidak ada dirumah?"


Gadis itu hanya diam. Pandangannya menunduk tak berani menatap mata Papanya.


"Apa kamu tidak bisa sedikit saja mencontoh adikmu? Dia adalah anak yang rajin dan juga berprestasi." ucap pria itu mulai membanding-bandingkan.


"Selly gak pernah punya Adik!"


"CUKUP!!" bentak pria itu, tangannya dengan enteng mengambil vas bunga kaca dari atas meja lalu melemparkannya langsung ke arah Selly.


Prang!


Vas itu melesat dan hancur mengenai pintu dibelakang tubuh Selly.


Selly hanya tersenyum miris, semakin hari ternyata Papanya semakin berubah.


"Kenapa Papa selalu banding-bandingkan Selly dengan dia terus?" ucap Selly mencoba memberanikan diri.


"Karena dia putri yang selalu membanggakanku, tidak sepertimu yang selalu membuat masalah dan mempermalukanku." penjelasan Robert membuat jantung Selly mencelos.


"DIA CUMA ANAK HARAM PAPA!!" teriak Selly muak.


"SEORANG ANAK HARAM!! DIA ANAK HARAM YANG TELAH MERENGGUT NYAWA MAMA PA!! TAPI KENAPA PAPA SELALU NGEBELA DIA?!! PAPA BAHKAN MENYEMBUNYIKAN KEMATIAN MAMA DARI MEDIA CUMA UNTUK MELINDUNGI ANAK HARAM ITU!!" ucap Selly frustasi.


"DIAM KAMU!!" teriak Robert, Ia jalan mendekat ke arah Selly dengan cambuk di tangannya.


"BICARA APA KAMU BARUSAN?!!" bentak Robert dihadapan Selly.


"BICARA APA?!!"


Cetas!


"Akh!" pekik Selly saat benda bernama cambuk itu mendarat di tubuhnya.


"ANAK KURANG AJAR!! COBA BICARA LAGI APA YANG KAMU UCAPKAN BARUSAN!!" teriak Robert seperti orang kesetanan, seraya terus memukul tubuh Selly dengan cambuk.


Selly hanya bisa diam sambil meringkuk dibawah, menahan itu semua sambil berharap kematiannya datang menjemput hari ini. Tak ada siapapun yang menolong, semua pelayan dirumahnya bahkan hanya menoton dengan ekspresi takut. Sungguh, ia tak lagi tahan oleh ini semua.


"ANAK TIDAK TAU DIRI! KAMU BAHKAN LEBIH BURUK DARI SEEKOR ANJ*NG YANG TELAH KU BERI MAKAN!! KENAPA KAMU TIDAK IKUT MATI SAJA DENGAN MAMAMU!!"


"P-papa yang s-salah" lirih Selly pelan tapi masih terdengar di telinga Papanya.


Robert menghentikan kegiatannya yang sedari tadi mencambuk anaknya, kemudian ia berjongkok dihadapan Selly. "Apa kamu bilang?"


"Selly bilang.." gadis itu menjeda kalimatnya mengumpulkan semua tenaga yang tersisa, kemudian ia duduk menghadap Robert.


"... SEMUA INI SALAH PAPA!!" ucapnya kemudian mendorong tubuh Robet sekuat tenaga.


Robert langsung terjungkal kebelakang dan tak percaya atas apa yang baru saja telah Selly lakukan.


Setelah membuat Robert terjatuh, Selly pun segera berlari keluar rumah dengan sekuat tenaga yang tersisa, tak lupa juga ia telah mengunci pintu rumahnya. Dirinya tak perduli jika di anggap anak durhaka yang telah mendorong Papanya. Dia hanya berfikir untuk melepaskan diri karena ia tak mau mati di tangan Robert.


Selly tadi sempat menyerah, tapi tiba-tiba ia teringat janjinya pada Mamanya, yang akan terus tetap hidup meski Mamanya tiada. Tangan Selly naik guna mengusap kasar pipinya yang basah akibat cairan bening mengalir dari pelupuk matanya, ia tak tahan jika sudah mengingat tentang Mamanya.


"Minggir!!" teriak Selly didalam mobilnya, saat para pelayan ingin menghadang jalannya.


Selly melajukan mobilnya dihalaman rumahnya dengan kecepatan tinggi, membuat pintu gerbang besi yang semulanya telah ditutup setengah itu kembali di dorong terbuka habis oleh satpam rumahnya. Sepertinya mereka benar-benar takut kalau Selly akan menabrak gerbang itu.


"Gila!" ucap Selly seraya memukul stir kemudinya saat telah keluar dari perkarangan rumahnya.


Selly menghela nafas gusar kemudian ia segera mengemudikan mobilnya menuju rumah Renal.


...🌸🌸🌸🌸🌸...