SELLY

SELLY
Perebut



Di meja pojok kantin.


"DIA UNTUK KU, BUKAN UNTUK MU." Egi bernyanyi dengan nada yang melow, di iringi oleh petikan gitar dari Sean.


"DIA MILIK KU, BUKAN MILIKMU" sambung Athan yang tak kalah melow. Dan setelah ini giliran Yafi pula yang nyanyi.


"PERGI LAH KAMU, JANGAN KAU GANGGU.."


Ini saatnya Daffa. Ia pun mengarahkan gelas plastik kosong bekas minumnya didepan mulutnya yang sudah dari tadi dipegangnya dengan ekspresi yang dibuat semelow mungkin.


"BIARKAN AKU MENDEKA---" belum juga menyelesaikan liriknya, ia sudah dibuat terkejut dengan salah satu tingkah temannya.


Brak!


Renal menggebrak meja kemudian berdiri dengan satu kaki diatas kursi.


"DASAR KAU KEONG RACUN.. BARU KENAL SUDAH NGAJAK TIDUR... KAU RAYU DIRIKU, KAU GODA DIRIKU, KAU COLEK DIRIKU..."


"HEY!! KU TAKUT SEKA---"


"Salah anjing! Bukan itu lirik nya!" sewot Egi setelah menimbuk kepala Renal.


Daffa yang duduk didepan Renal pun ikut berdiri menimbuk kepala Renal. "Emang anak setan! Lo sehari anteng gak bisa hah?!"


Renal memegangi kepalanya yang terasa nyeri karena ulah Egi dan Daffa barusan, lalu nyengir dengan menunjukan deretan giginya. "Hehe... Salah ya." ucapnya seraya kembali duduk dengan tampang tak berdosanya.


"Heha hehe pala Bapak lo!" ucap Sean sedikit kesal, ia menaruh gitarnya diatas meja, lalu tangan nya merogo saku celananya, setelah itu mengeluarkan ponsel miliknya. "Kuy Mabar, Yaf."


Renal mengerucutkan bibirnya. "Yayang Sean, atchu ndak di ajak? Atchu kan pengen main jujak." ucap Renal dengan nada yang dibuat-buat seperti anak kecil.


Sean bergedik geli. "Najis!"


"Ih kok yayang gitchuu" ucap Renal seraya mencoel dagu Sean.


Sean memegang kedua pipinya, memandang Renal takut, kemudian bergeser guna memberi jarak antara dia dan Renal. "Arrgh tolong, akyuu mau di nodai.." ujar Sean sedrama mungkin.


Renal mendengus geli melihat Sean yang mengikutinya. "Huh, najis!" ucap Renal membuang muka.


Athan merangkul pundak Renal disebelah. Tangannya naik mencoel dagu Renal, mencontoh percis yang dilakukan Renal pada Sean. "Unch ayang jangan galak-galak."


Renal menepis tangan Athan. "Minggir lo!" ujarnya, kemudian meminum jus jeruk punya Yafi.


Yafi berdecak. "Emang anak haram. Sumpah, pengen gue karungin, terus gue jual organnya." ujar Yafi. Tak lama tangannya merampas ponsel milik Athan yang berada di atas meja. "Pinjem bentar."


Athan yang tak terima ponselnya telah di ambil itu pun berusaha mengambil kembali dari Yafi didepannya. "Balikin woi! Yealah ngapain sih lo?!"


"Hotspot" sahut Yafi seraya menjauhkan ponsel Athan dari pemiliknya agar tak dapat meraihnya.


Athan mendengus kesal. "Yaelah sini dulu, ntar baru gue hotspot."


"Wih gila, cewek cakep nih." ujar Yafi yang telah melihat layar ponsel Athan yang tengah menunjukan akun sosmed seorang cewek. Ia menggelengkan kepalanya tak percaya. "Gila-gila gue kenal deh kayaknya sama nih cewek."


"Siapa?" tanya Daffa. Ia duduk mendekat ke Yafi guna melihat siapa cewek yang sedang di kepoin Athan.


Yafi menunjukan layar ponsel Athan. "Nih, lo liat."


Mata Daffa memicing sejenak sebelum akhirnya membulat lebar. Ia beralih melihat Yafi. "Selly?" tanya Daffa memastikan, dan Yafi manggut-manggut.


Renal yang mendengar nama Selly telah disebut seketika itu menyemburkan minumnya. "BURRRP... UHUK-UHUK."


"Afaantuh" ucap Athan terkekeh geli.


"Hujan" sahut Sean yang ikut terkekeh. Sedangkan Egi hanya menutup mulutnya dan menggeleng melihat tingkah temannya yang satu selalu saja membuat ulah.


Daffa dan Yafi yang berada didepan pun menatap datar Renal. Mereka bangun menarik paksa Renal untuk mendekat ke arah mereka.


"Sini lo! Dasar bocah kurang ajar!" tarik Yafi pada kerah baju Renal, kemudian ia mengunci kepala Renal diantara ketiak dan badannya.


"Anjing lo! Mukak gue kena jigong lo semua!" ujar Daffa seraya manarik telinga Renal.


"Gak sengaja Bap---"


"Selly siapa?" ucap Caca yang memotong pembiacaran Daffa. Gadis yang sedari tadi diam karena fokus pada ponselnya itu seketika angkat bicara saat mendengar nama cewek lain tengah disebut.


"Lo gak kenal?" tanya Yafi.


Caca mengedikkan bahunya. "Enggak"


"Masa lo bener gak kenal?" kini Egi yang bertanya.


Caca berdecak. "Gue bilang enggak ya enggak." sahutnya kesal.


"Yang suka buat onar." ucap Nila


"Mentang-mentang bokapnya kaya, seenak dia aja. Gue sih malu lah ya kalau punya saudara kayak dia." imbuhnya


Athan mengambil ponselnya kembali yang telah dianggurin Yafi. "Gue sih lebih malu kalau punya cewek kayak boneka mampang." sindir Athan, tangannya mengotak-atik ponselnya.


"Kalau ayang Selly mah badas." ujar Athan lagi seraya menunjukan foto Selly yang sedang berdiri santai di sebelah motor sport berwarna hitam.


Sean menggeleng kagum. "Wih, cakep nih adek kelas." tangan Sean menyikut Renal disebelah. Sedangkan Renal hanya menyengir.


"Dih, kayak pelacur gitu." cibir Caca


"Bener banget." sambung Nila


"Adeknya Selly lebih kalem gak, sih?" ujar Daffa pada temannya.


"Lah? Selly punya adek?!" tanya Athan tak percaya.


"Adek tiri" jelas Egi.


"Bang Daffaa.." panggil seorang gadis menghampiri meja mereka. Ia datang tiba-tiba merangkul pundak Daffa. Membuat orang yang disitu melongo melihatnya.


"Panjang umur" ujar Yafi.


"Kenapa?" tanya Daffa pada gadis didepan yang memiliki tinggi hanya sedadanya.


Gadis itu membersihkan baju Daffa yang terkena semburan jus jeruk dari Renal dengan mengusap menggunakan sapu tangannya. "Bang Daffa disuruh ke ruangan kepala sekolah."


Caca menipis kasar tangan gadis itu dari tubuh Daffa hingga menatap meja. "Minggir! Ngapain lo pegang-pegang Daffa!"


"Aww.. Kak Caca kok gitu." ringis gadis itu seraya mengusap punggung tangannya.


"Caca!" sentak Daffa karena melihat perlakuan Caca barusan.


Caca menyondongkan tubuhnya dan mendongak menantang Daffa yang baru membentaknya. "Apa?! Lo ngebela dia?"


Daffa mendengus tak menghiraukan, kemudian beralih pada gadis itu. "Tiara, yuk. Katanya gue disuruh ke ruang kepala sekolah kan." ucap Daffa seraya menarik pergi gadis yang bernama Tiara.


"Daffa!" teriak Caca kesal karena melihat Daffa pergi begitu saja.


"Udah nih dramanya?" ucap Sean.


"Cabut-cabut." ajak Yafi pada semua temannya.


Renal menatap punggung Daffa yang membawa pergi gadis itu. 'Dasar cewek ular ' -Batinnya.


Semua orang tidak tau siapa Tiara. Tapi Renal dan Selly mengetahui siapa sebenernya Tiara yang sedang berperan sebagai gadis lugu dan polos itu.


Padahal dia adalah gadis perusak kebahagiaan dan juga perebut hak milik orang lain dengan menyamar dibalik topeng busuknya.


Selly dan Renal membencinya, karena dia adalah gadis pembawa bencana bagi keluarga Selly dan keluarga Renal.


Renal bahkan ingin membunuhnya, karena Tiara lah alasan Selly harus mengalami nasib menyedihkan seperti sekarang.


...🌸🌸🌸🌸🌸...