SELLY

SELLY
BLACK ROSE



Pada jam 1 dini hari seperti ini, ibukota sudah pasti sepi. Walaupun malam ini cuaca tidak mendukung, tapi tak mengurangi sedikitpun semangat dari beberapa remaja mengendarain motor sportnya yang sedang melaju cepat membelah aspal kota Jakarta.


BLACK ROSE. Nama itu sudah tak asing lagi bagi seluruh penduduk kota Jakarta dan sekitarnya. Karena ulah mereka di jalanan yang kerap mengganggu ketenangan orang sekitar. Saat semua manusia tertidur, seluruh anggota geng BLACK ROSE justru tengah asik melakukan aksi balapan liar.


Deruman knalpot motor mereka yang sengaja di geber habis-habisan benar-benar mememakkan telinga, membuat para remaja itu jadi pusat perhatian pengendara yang tersisa.


Motor para remaja itu malaju cepat, nyaris menyamai kecepatan cahaya dan terlihat seperti bayangan hitam yang membelah aspal.


Seorang remaja yang berada digaris terdepan sesekali menoleh ke belakang melihat remaja lain yang tertinggal jauh sedang berusaha menyusul laju motornya. Tepat beberapa meter didepannya garis finish sudah terlihat.


Seringai tercetak di balik helm full face remaja itu, kala melihat kerumunan orang yang telah menunggu kedatangan mereka.


Suara sorakan dan tepuk tangan bergema di tengah keheningan malam, saat salah satu motor melewati garis finish.


"Gila, mantep banget ketua kita ini!" ujar seorang gadis mengenakan jaket kulit berwarna hitam dengan tulisan BLACK ROSE dibelakang punggungnya. Sandra, nama gadis tersebut.


Selly membuka helm full face yang dia kenakan lalu meletakkannya di atas tangki motor. Jemari gadis itu naik menyisir rambutnya ke belakang.


"Selly Alexsander gitu loh." kata Selly dengan senyum pongahnya.


Suara derum motor yang mendekat membuat mereka menolehkan kepala ke arah belakang, bisa dengan jelas ia lihat lawannya malam ini baru saja memasuki garis finish.


"Lo ngalah sekali gitu kek." ucap Luna yang baru saja tiba, ia memarkirkan motornya di sebelah motor Selly.


Selly terkekeh kecil mendengar ucapan Luna. Hingga pandangannya teralihkan lagi pada beberapa derum motor yang baru saja tiba memasuki garis finish lagi. Mereka semua turun dari motor sportnya dan berjalan mendekati Selly.


"Sial lo, Sel. Nih." ucap salah satu gadis lain seraya memberi amplop coklat yang berisi uang. Perlakuan ini dilakukan oleh mereka yang baru saja tiba.


Taruhan ini atas persetujuan dari mereka semua, tidak sering, tapi jika ingin maka mereka akan taruhan. Jika tidak, mereka akan balapan begitu saja.


Selly menerima amplop itu dengan senang hati. "Cair..." ujarnya sembari membuka amplop itu. Ia mengeluarkan isinya yang memang adalah uang, lalu menghitung jumlahnya.


Selly menarik sudut bibirnya saat telah menghitung isi dari amplopnya. Uang lembaran 100ribuan, sebanyak 30 lembar.


"Yang lain juga pas, kan? Kalau sampai kurang bakal gue hantuin, bahkan lo lagi berak sekalipun." ujar Selly dengan 10 amplop coklat ditangannya.


"Yaelah, pas itu." sahut seorang gadis setelah menyulut rokok diselah bibirnya. Adel, namanya.


Selly mengangguk, "Ok." Kemudian ia melihat Luna disebelah.


"Punya lo?"


Luna menautkan alisnya. "Apaan?"


"Taruhan lo ke gue 5 juta." Selly menodongkan tangannya ke hadapan Luna.


"Oh, itu.." Luna mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya, kemudian mengetikkan nominal angka disana. "Udah gue transfer tuh, jadi 8 juta sama minggu lalu. Gue gak ada uang cash."


Selly berdecak, "Lo gimana sih, nih duit rencana mau dibikin kita foya. Lo malah gak ngasih uang cash."


Kebiasaan Selly ketika menang taruhan dari balapan adalah uang tersebut akan di gunakan untuk kesengannya dan teman-temannya, bukan hanya untuk nya saja.


"Kalau kurang minta ke Sandra." ujar Luna seraya merebut rokok yang sedang Adel hisap.


"Lo kira gue gudang duit." sahut Sandra


Luna menghisap rokok yang baru ia rebut, lalu menghembuskan perlahan. "Bokap lo, gudang duit."


"Sial, lo. Rokok gue itu kenapa lo ambil." pandangan Adel menatap nanar rokoknya yang sedang Luna hisap.


"Justru itu gue ambil." sahut Luna santai.


"Udah mau jam 2 nih." ucap Selly setelah melihat jam dipergelangan tangan nya. "Mau lanjut atau balik?"


"Club, gih." jawab Sandra seraya memperlihatkan foto dari Rara, pengirimnya. Di grub chat mereka.


Adel menaiki motornya, "Lanjutlah, pantang balik sebelum tumbang." Ia tersenyum saat sebelum memakai helm nya.


Selly memasukan semua amplop itu didalam saku hoodie nya, kemudian ia memakai helm dan menyalakan motor sportnya. "Kuy." ajak Selly. Mereka siap menuju tempat Rara berada.


"Gue sama siapa?"


Mereka semua seketika menatap Sandra. Lupa, gadis itu kaki nya kan sedang cedera akibat kecelakaan karena kebodohannya, yaitu berkendara dibelakang ras terkuat di bumi ketika mengendarai motornya. Emak-emak yang suka pasang lampu sein kanan tapi belok ke kiri, dan Sandra adalah korbannya. Sandra terjatuh sehingga membuat tulang pergelangan kaki kirinya retak karena tertimpa motornya.


"Lo yakin? Dengan kondisi kaki lo sekarang ikut kita?" tanya Adel. Ia melihat kaki Sandra yang masih terbalut perban, tak lupa pula dengan tongkat ditangannya. Adel menggeleng. "Ck, hebat lo."


"Gakpapa, yuk buru. Ntar keburu pagi." ajak Sandra yang sudah duduk di jok belakang motor Selly. "Gas, Sel."


Selly berdecak, "Gas gas bapak lo. Gue ngeri anjir bawa lo dalam kondisi begini." ucap Selly sedikit takut. Karena jika terjadi apa-apa dengan Sandra maka yang disalahkan sudah pasti dirinya, mengingat bokapnya Sandra adalah kepala kepolisian benar-benar membuat Selly takut. Mau se-nakal apapun dirinya, ia tak mau masuk penjara.


"Gak, buruan. Ntar kita kehabisan stock cowok ganteng disana, kalau lama-lama disini." ujar Sandra.


Selly mengerjap saat mendengar tutur Sandra. "Wop, tidak boleh dibiarkan." lalu ia melajukan motornya, tapi dengan kecepatan rata-rata karena sedang membawa Sandra.


Semua anggota geng BLACK ROSE yang diketuai oleh Selly itu bergerak menuju lokasi tempat Rara berada. Malam ini mereka akan bermain sepuasnya.


Dentuman musik begitu kencang, serta kerlap-kerlip lampu malam yang mengiringi setiap insan yang tengah asyik menari di atas dancefloor.


Selly beserta 12 temannya berjalan masuk ke dalam sebuah Club tersebut, mencari keberadaan temannya yang menyuruh mereka untuk kemari.


Berpasang-pasang mata tak henti-hentinya memandang mereka, bagaimana tidak. Karena mereka memiliki kecantikkan di batas kewajaran seorang manusia. Mereka tidak mengenakan pakaian minim, hanya mengenakan celana jeans dan juga jaket kulit kebanggaan mereka. Cuma Selly yang mengenakan hoodie.


"Sel!" panggil Rara sambil melambaikan tangannya.


"Lama banget" ujar Rara, saat Selly dan yang lain telah duduk di sofa panjang yang ada disana, sebagian ada yang mengambil kursi disekitarnya karena tidak cukup jika semua ingin duduk di sofa.


Selly melempar semua amplop yang ia dapat tadi ke meja depan Rara. "Malam ini gue yang bayar."


"Gila. Lo lagi yang menang?" tanya Rara tak percaya, setelah menghitung semua uang yang dibawa Selly adalah 30 juta.


Selly menarik turunkan alisnya, "Menurut lo?"


"Lo menang." ucap Rara kemudian bertos ria dengan Selly.


"Lihat deh, cowok yang duduk sendiri disana ganteng banget gak sih?" tanya Luna sambil menunjuk seorang lelaki dengan setelan jasnya yang tengah duduk dan minum sendiri.


"Seksi banget loh." sahut Adel dengan mata yang berbinar menginginkan pria itu.


"Umurnya berapa ya?" imbuh Sandra.


"24 tahun, mungkin?" jawab Rara.


Weni yang sedari tadi diam kini angkat bicara, "Mata lo pada kenapa kalau liat beginian jernih, tapi sekali liat mata pelajaran malah turu.


"Seger gitu, kan sayang kalau gak di pandang." ujar Luna, lalu terkekeh kecil. "Yakan, Sel?" Luna menyikut Selly disebelah.


Selly yang tengah meminum minumannya sontak menaruh gelas sloki itu di atas meja. "Apaan?" tanya Selly bingung. Karena gadis itu tak begitu mendengarkan ucapan para temannya, sebab sedari tadi ia kalut dengan pikirannya sendiri perihal perdebatannya tadi dengan Papanya.


Luna mendengus sebal, bisa-bisanya Selly tak mendengarkan. "Lo liat deh cowok yang disana.." tangan Luna terangat menujukan cowok yang dia maksud, "Ganteng kan?"


Selly memperhatikan lelaki itu sekilas, kemudian ia kembali menuangkan alkohol pada slokinya. Menatap lelaki itu lagi, sebelum akhirnya meminumnya dalam sekali tegukan. Selly memejamkan matanya, meringis saat cairan itu menghangati tenggorokan nya.


"Biasa aja." ujar Selly acuh, yang membuat semua temannya seketika melotot mendengar pengakuannya. Entah mengapa lelaki itu tak semenarik itu dimatanya.


Berbeda, tak seperti Selly biasanya yang setiap melihat cowok ganteng dia akan langsung antusias ingin mendapatkannya. Tapi pengakuannya barusan benar-benar membuat semua temannya terkejut seakan tak percaya.


Luna menatap Selly bingung. "Lo sakit?"


Selly menatap malas Luna, lalu ia berkata. "Lo Gila?"


Rara meraup wajah Selly menggunakan kedua tangannya, mengarahkannya agar menatap dirinya. "Sel, lo beneran gakpapa kan?"


"Kok lo beda?"


"Lo gak sakit kan?"


"Lo ada masalah?"


Pertanyaan terakhir Rara membuat Selly tersadar atas dirinya. Apakah begitu kelihatan diwajahnya jika ia memiliki masalah? Ia tidak ingin membuat temannya curiga padanya.


"Rokok?" ucap Adel menawarkan.


Selly menggeleng. "Gak dulu."


"Lo aneh, asli." ujar Sandra.


Selly menggigit bibir bawahnya, tampak berpikir. Tapi kemudian ia mengisi gelasnya lagi, lalu setelah itu beranjak dari tempatnya.


"Mau kemana, lo?" tanya Weni saat melihat pergerakan Selly


Selly menoleh, menatap semua temananya. Sebuah senyum tersirat diwajahnya, ia menunjuk lelaki tadi menggunakan ekor matanya.


Semua temannya mengangguk paham, mereka tau apa yang akan Selly perbuat kali ini. Seperti biasanya, Selly akan mendekatinya, meminta nomornya, saat lawannya sudah terpancing ia akan menguras uangnya dalam jumlah yang besar. Kemudian ia tinggalkan. Gak ada yang perlu di khawatirkan, ternyata saat ini Selly masih seperti biasanya.


Selly meminta uang pada para lelaki yang didekatinya bukan karena ia tak memiliki uang, melainkan itu sebuah kesenangan baginya saat para lelaki itu dengan mudah dibodohinya hanya dengan kata manis dan rayuan yang ia berikan.


"Semangat!" ucap Rara seraya memberi jempol tangannya pada Selly.


"Wah, seru nih." ujar Luna


Adel menggeleng dengan senyumnya. "Gini baru gue suka."


Weni memijat pelipisnya, ia benar-benar tak lagi sanggup melihat tingkah temannya. "Hadeh, kalian ini."


Selly mengedipkan mata pada temannya. Gadis itu berjalan santai dengan segelas sloki ditangannya dan menghampiri pria tersebut. Sepertinya ia akan mengajak pria itu minum sampai mabuk sebelum ingin membodohinya.


...🌸🌸🌸🌸🌸...