
"RENAALL!!" teriak para penonton saat cowok bernama Renal sang ketua basket itu hampir memasukan bola ke ring.
"RENAL!"
"Kyaaa.. RENAALL!"
Teriakan semakin menjadi-jadi saat cowok itu telah berhasil mencetak poin di ring lawan. Suasana semakin gemuruh karena waktu yang tersisa hanya tinggal 5 menit.
"RENAL!! SEMANGAT SAYANG!!"
"Apaan sih lo! Alay banget dari tadi teriak-teriak disamping telinga gue!" ucap Selly kesal. Ia melirik cewek disampingnya. Di banding para penonton lainnya, cewek disebelah lah yang paling heboh.
Dia Nila, cewek centil dari kelas 10 yang berdiri dengan dua temannya. Mereka berteriak dari tadi tak ada hentinya, benar-benar membuat telinga Selly seakan mau pecah.
Selly dari tadi hanya diam menahan, tapi kini cukup sudah. Telinga nya tak lagi kuat menahan teriakan cewek disamping yang seperti sedang menggunakan Toa. Suaranya bahkan menyaring hingga menusuk telinga.
"Lo, kalau gak mau berisik pergi aja ke tengah hutan!" sahut gadis itu melengos.
"Heboh banget perasaan." timpal teman Nila yang tak sadar diri bahwa mereka lah yang dari tadi sudah heboh.
Selly menelisik penampilan mereka. Kok ada ya manusia muka nya putih lehernya hitam. Ck, mana pakai kalung seperti anj*ng peliharan yang dirumah gue lagi.. Batinnya terus mencaci.
"Kenapa lo geleng-geleng kepala? Gila?!" sinis Nila.
"Diem lo! Mulut lo bau sampah!" cetus Selly, pandangannya kembali fokus ke depan. Ia sudah males menanggapi manusia disebelah, mending ia melihat surganya dari pada melihat wajah badut mereka yang bedaknya setebal harapan Selly pada cowok diluar sana.
Nila mendorong kasar Selly ke samping, tapi untungnya Selly sudah lebih dulu sigap menyeimbangkan tubuhnya membuatnya hanya menyenggol orang disebelah kirinya. Orang yang disenggol hanya mendengus kesal dan Selly segera mengucapkan maaf.
Selly berdiri menghadap Nila. "Apaan sih. Gila lo?!" ucap Selly tak terima telah didorong, terlebih lagi oleh adik kelasnya.
"Kenapa?! Kan lo duluan yang nyari ribut sama gue!" sahut Nila seraya menunjuk Selly menggunakan jari telunjuknya.
Selly diam sesaat guna melirik sekitar, mata nya mendapati bahwa pertengkaran nya dengan para cabe-cabean ini telah menjadi pusat perhatian orang.
Selly manarik nafas dalam, lalu buang. "Sabar.. Selly harus bisa menjaga image. Karena Selly yang cantik ini gak sepantesnya melawan gundik seperti dia." ucapnya sambil mengelus dada.
Jika suasana sekitar nya tak ramai mungkin ia sudah mencakar wajah Nila, tapi ia tahan itu semua. Terutama disini sedang banyak cogan dari sekolahnya dan juga sekolah lawan, maka ia harus menjaga sikapnya supaya tetap terlihat slay dan anggunly.
Nila menggertakkan gigi gerahamnya, kepalan gadis itu mengeras di sisi tubuhnya. Bisa Selly tebak kalau gadis itu tengah menahan amarah. "Awas lo!" ucapnya berlalu pergi menjauh dari Selly, mungkin dia malu.
"Kyaaa!! Daffaaa!!" teriak Selly nyaring ketika melihat Daffa, cowok pujaan hatinya. Persetan dengan anggunly, ia bahkan seperti sedang kerasukan ketika sudah dipertemukan oleh Daffa.
Daffa adalah murid dari kelas 12 IPA 1, nama lengkapnya adalah Daffa Ragela, sih ketua Osis yang memiliki wajah tampan. Selain itu ia juga memiliki otak yang pintar, dan termasuk murid paling aktif di sekolah karena sering memenangkan perlombaan akademik ataupun non-akademik.
Cewek mana yang tidak menginginkan pasangan sempurna seperti Daffa? Selly bahkan sangat tergila-gila padanya, karena selain pinter dan ganteng Daffa ini lahir di keluarga kaya. Kalau kata Selly sih, "Sempurna."
Disana Selly melihat para pemain lain sedang berkumpul mengerubungi Daffa yang lagi membawa bola mengarah ke ring lawan. Daffa terus mendribble bola dan bersiap mengambil ancang-ancang ingin melompat. Tak pakai lama bola pun berhasil masuk di ring dengan tubuh Daffa yang bergelantung disana.
Pritttt...
Tiupan panjang pluit dari wasit yang menandakan pertandingan telah berakhir. Sorakan kemenangan dan tepukan riuh dari para menonton pun menggelegar memenuhi sekitar lapangan. Sekolah Tupe Asia telah menang melawan sekolah Harapan Bangsa dengan skor tertinggi 11 - 04.
Selly melirik jam tangannya, sudah 20 menit ia menunggu Luna yang belum kembali juga dari toilet. Ia mendengus gusar, lalu berbalik pergi ingin meninggalkan lapangan.
Bugh
Selly mundur selangkah saat ia gak sengaja menabrak dada bidang seseorang. "Aww" lirih Selly mengusap batang hidungnya yang sudah memerah.
Orang yang ditabrak hanya diam tak merespon, membuat Selly mendongak guna melihat siapa cowok tinggi yang telah ia tabrak. Semoga ganteng.. Batinnya
Wajah Selly yang semula ceria kini telah berubah menjadi masam saat tahu siapa yang telah ia tabrak. "Ck, kok lo sih?!" ujar nya tak terima karena tak sesuai harapan.
Cowok itu berdecih, "Gak sopan."
Selly mengangkat jari tengahnya, kemudian lidahnya terulur tanda mengejek. "Bacot, Minggir! Gue mau lewat"
"Gak" bantah cowok itu sambil menghadang jalan Selly menggunakan tangannya.
Selly terdiam sejenak guna menekan berbagai umpatan yang telah siap keluar dari mulutnya. "Minggir! Renal!!" pekik Selly seraya mencubit perut lawan bicaranya.
Sedangkan yang dicubit hanya tertawa, "Gue menang nih, hadiah gue mana?" ucap Renal penuh minat, tangannya bergerak merangkul pundak Selly.
Selly benar-benar dibuat kesal jika sudah berhadapan dengan Darenal Kenneth. Siswa kelas 12 IPA 1, sekaligus ketua basket yang kerap dipanggil Renal.
Selly dan Renal sudah berteman sejak kecil hingga kini, karena kedua orangtua mereka yang sudah lebih dulu berteman baik. Usia mereka hanya terpaut 1 tahun, Selly berumur 17 tahun dan Renal 18 tahun.
Jika Daffa mencerminkan seorang murid teladan, maka Renal adalah kebalikannya. Suatu hal yang selalu membuat Selly bingung, kenapa manusia sempurna seperti Daffa mau berteman baik dengan orang beloon seperti Renal. Selly saja kini menyesal telah memiliki teman sepertinya.
Padahal Renal dulunya adalah anak yang pintar dan juga rajin belajar, tapi semenjak masuk SMA ia berubah menjadi bodoh, entah karena alasan apa yang membuat Renal bisa langsung berubah menjadi cowok berandalan seperti saat ini.
Apalagi kini Renal sedang berpacaran dengan Nila sih cabe-cabean yang suka cosplay jadi badut itu. Ia tahu kalau Renal itu bodoh, tapi ia masih tak menyangka kalau selera Renal begitu rendah. Cih, mengingat wajah Nila saja sudah membuat nya mual.
Selly tersenyum manis sebelum melayangkan tinjunya. "Nih, hadiah lo!" saat itu juga Renal mundur meringis sambil mengusap-usap perutnya. "Gila, tenaga lo kuat banget."
"Mampus!"
"Tunggu gue woi!" panggil Renal sedikit berteriak pada Selly yang kian menjauh.
Selly tak menghiraukan Renal lagi, ia berlalu pergi untuk mencari Luna yang dirasa sedang memancing para buaya. Selly pun tak mau rugi untuk melewati itu semua, kali ini ia harus mendapat satu.
...🌸🌸🌸🌸🌸...