
Selly berjalan santai di koridor sekolah dengan hoodie hitam yang melekat dibadannya, serta kaca mata hitam yang telah bertengger manis dihidung mancungnya. Tak lupa juga dengan rambut berwarna biru miliknya yang baru di cat subuh tadi.
Selly memakai hoodie milik Renal karena baju seragamnya kotor bekas bercak darahnya akibat luka kemarin malam, sedangkan kaca mata hitamnya untuk menutupi mata nya yang sembab.
Berbeda dengan biasanya, hari ini ia mewarnai rambutnya kesekolah. Walau peraturan sekolah tak mengijinkan murid untuk mewarnai rambut, tapi gadis itu tak perduli dan tetap mewarnainya.
Subuh tadi Selly manarik dan menyeret Renal untuk menemani nya ke salon yang sudah gadis itu pesan saat malam. Awalnya Renal menolak karna alasan masih mengantuk, tapi dengan sedikit paksaan dari Selly membuat laki-laki itu akhirnya mau tak mau harus menurutinya.
Ketika sudah sampai di kelas 11 IPA 1. Selly langsung duduk di bangkunya yang sudah terdapat banyak kertas berisi umpatan dan makian dilaci mejanya. Ia tau perbuatan siapa yang telah melakukan ini padanya, tapi tak dihiraukan oleh Selly karena akan membuang waktunya.
Selly menenggelamkan wajahnya diatas meja saat sudah membuang semua kertas itu dengan asal. Belum juga lama terpejam, lagi-lagi ia di buat sengsara dengan kedatangan temannya.
"SELLY KU SAYANGGGG"
"CINTAA KUUU"
"ISTRINYA TEHYUNGG"
Teriak Luna, Rara, dan Mila bergantian didepan pintu kelas. Manusia yang tak lain adalah teman Selly yang sudah membuat keributan di pagi hari yang cerah ini.
"Sel! Gue punya kabar gembira buat lo!" ujar Luna yang duduk sebangku dengan Selly.
"Kalau gak tentang Daffa, gue gak mau denger." ujar Selly yang masih dengan posisinya, tapi kali ini ia melihat Luna.
"Eh, tunggu dulu!"
"Lo warnai rambut?!" tanya Luna seraya membuka tudung hoodie yang Selly pakai.
Mendengar ucapan Luna membuat Rara dan Mila yang duduk didepan bangkunya lantas berbalik.
"Yang bener aja lo?" ucap Rara dengan tatapan tak percaya. Karena pasalnya Selly sama sekali tak pernah mewarnai rambutnya.
"Wah... Bagus banget." ucap Mila dengan mata yang berbinar-binar sambil memegangi rambut Selly.
"Rambut Renal kayaknya gini juga deh. Gue barusan liat dia nongkrong di warung Pak Nanang soalnya." jelas Rara pada temannya.
"Nah iya! Gue juga liat" sahut Luna
"Lo pacaran sama Renal? Bukannya lo suka Daffa, ya?" tanya Rara
"Selly bener pacaran sama Renal?"
"Jangan Selly. Dia ganteng tapi gak punya otak." ucap Milla meyakinkan Selly.
Pertanyaan dari teman-teman nya membuat Selly bingung harus menjelaskan apa tentang warna rambutnya dan Renal yang sama, karena teman-teman nya tidak ada yang tau kalau Ia dan Renal adalah teman dekat. Apalagi tentang masalahnya Selly, mereka bahkan tidak ada yang tau.
Selly mengangkat kepalanya dari meja. Ia kini duduk menyender dikursinya dan menghadap ketiga temannya.
"Mungkin warna rambut kayak gue lagi trend kali. Kata mbak yang nyalon gue, nih warna emang banyak yang pakek." bohong Selly.
"Dan satu lagi.." jeda Selly seraya melihat satu persatu temannya. "Gue sama dia gak pacaran." jelas Selly sambil menekankan dua kalimat terakhir.
"Lo gak bohong kan?" ucap Luna dengan mata menyelidik. Begitupun dengan tatapan Rara dan Mila.
Selly menghela nafas, kemudian berucap. "Lo semua kan tau gue itu sukanya sama Daffa, bukan Renal."
"Lagian Renal juga udah punya pacar." sambung Selly.
"Gue liat tad---"
Kringgg!
Saat itu juga guru pelajaran pertama masuk ke kelas. Membuat Selly dan ketiga temannya harus menyudahi obrolannya.
"Pagi Bu" sahut sekelas serempak.
"Buka buku fisika kalian, saya akan memberikan catat---"
Ucapan guru itu terhenti saat matanya melihat pada gadis yang duduk dibangku belakang sudut ruangan.
"Selly! Apa-apaan rambutmu itu?" ucap Bu Lia -Wali kelas 11 IPA 1.
"Kenapa Bu?" tanya Selly sambil menaik turunkan alisnya.
"Kenapa kamu cat rambutmu?"
"Karna Selly suka." sahutnya santai.
"Selly! Bisa tidak kamu jangan membuat masalah terus?! Saya capek mengurusi siswi nakal seperti kamu!"
"Kalau gitu biarin aja Bu."
Bu Lia menghembuskan nafas kasar, entah bagaimana lagi ia harus mengurusi siswi nakal seperti Selly.
Semua guru sudah lelah dan lebih memilih memakluminya, mengingat Selly adalah putri dari Robert, salah satu donatur terbesar disekolahnya.
"Apa yang kalian tunggu?! Cepat buka buku kalian!" titah Bu Lia tak terbantahkan.
Semua murid pun langsung membuka buku mereka untuk mengikuti pelajaran Buk Lia. Tapi tidak dengan Selly, gadis itu lebih memilih tidur.
...***...
Tempat paling ricuh saat jam istirahat adalah ruangan kantin bagian pojok, yang merupakan daerah kekuasaan dari geng READSY.
Geng yang beranggotakan Renal, Egi, Athan, Daffa, Sean, dan Yafi itu tengah asik bersenandung ria dengan alunan lagu di iringi petikan gitar.
Semua penghuni kantin telah terbiasa menyaksikan keributan ini jika Renal dan komplotannya sudah menghuni kantin. Apalagi murid cewek Tupe Asia yang terkadang menatap kagum tanpa lupa mengedipkan mata.
Bagaimana tidak kagum, jika enam orang pentolan SMA Tupe Asia tengah berkumpul dengan semua kesempurnaan yang ada di diri mereka.
"Cewek sialan itu kenapa ganjen banget sih dekat-dekat Daffa." ucap Selly pada teman-temannya yang masih memperhatikan geng READSY yang terus bernyanyi.
"Sih Caca?" tanya Luna setelah mengalihkan pandangannya ke Selly. Karena ada 2 cewek yang duduk menyempil diantara mereka berenam.
"Caca mah mendingan, itu noh sih Nila cabe-cabean deket banget gak sih sama Renal, make nyender dibahunya segala lagi." cibir Rara.
"Rara... Nila kan pacarnya Renal." sahut Mila dengan polosnya.
Rara mendengus sebal. "Bodoh amat! Padahal cantikan juga gue, tapi kenapa Renal lebih milih tuh cabe-cabean sih. Masa iya gue kalah dari dia, ya gak terima lah gue. Coba liat tuh cabe deh, terus bandingin sama gue, jelas beda jauh. Pasti tuh cabe pakek pelet buat dapetin Renal." cerocos Rara panjang lebar karena gak terima dirinya perna ditolak oleh Renal cuma demi Nila.
"Yaelah Ra, mata lo buta hah?! Masa Caca lo bilang mendingan, tampangnya aja kayak tante girang gitu." kata Selly yang masih menatap tajam gadis itu.
"Samperin kek, bacot disini mulu perasaan." ujar Luna karena tak tahan mendengar mereka yang hanya bisa ngedumel gak jelas.
"Bakal gue samperin!" ucap Selly yang sudah bangun dari kursinya.
Baru juga melangkahkan kakinya, tapi ia kembali menghentikannya saat ada seorang gadis yang menghampiri arah meja Daffa dan teman-temannya.
Tangan Selly terkepal erat dikedua sisi tubuhnya. Hatinya memanas saat melihat siapa cewek yang datang-datang langsung merangkul pundak Daffa.
'Setelah semua yang lo udah ambil dari gue, sekarang lo mau ambil Daffa juga?' -Batin Selly
...🌸🌸🌸🌸🌸...