
Ditengah keramaian kantin sekolah, seorang gadis tengah duduk melamun dengan semangkok bakso dihadapannya, gadis itu adalah Selly Alexsander.
Selly merupakan anak kedua dari pasangan Robert dan Nadia. Profesi Ayahnya adalah Direktur dari sebuah Perusahaan Entertainment, sedangkan Ibunya hanya seorang Ibu rumah tangga.
Satu tarikan nafas lalu buang, Selly kembali menyuapi dirinya.
"SELLY!!"
Gadis yang namanya tengah dipanggil itu pun segera menutup kedua telinganya, saat suara seorang gadis yang sudah pasti ia kenali itu kian jalan mendekat.
"Sel! Lo liat deh, nih cowok ganteng banget. Badan nya bagus, orkay lagi. Gila, dia tipe lo banget."
Gadis yang tadi sempat menutup telingannya itu pun dengan sigap menoleh. "Mana?! Jomblo gak?" tanya nya antusias.
"Heh! giliran tentang cowok aja lo maju paling depan!" ucap gadis itu seraya menoyor kepala Selly. "Lo di panggil Bu Lia, disuruh ke ruang Osis." sambungnya, kemudian duduk di kursi sebelah Selly.
Gadis disebelahnya ini adalah Luna -sahabatnya. Mereka berteman sejak pertama masuk SMA, saat ini mereka masih duduk di bangku kelas 2. Keduanya bisa menjadi dekat karena memiliki cita-cita yang sama, yaitu menggaet duda kaya.
Gadis itu menggeser mangkuk baksonya, kemudian ia menelungkup kan kepalanya di tangan atas meja. "Kenapa sih Bu Lia gak jengah juga sama gue?"
"Lo gak usah dateng aja." ujar Luna sambil memakan bakso milik Selly.
"Luna" panggil Selly, ia sudah duduk kembali tegak. Luna diam sejenak, kemudian menatap Selly seolah bertanya. Kenapa?
Selly memukul kuat permukaan meja dihadapannya, yang membuat seisi kantin terkejut. "Gue lupa! bukan nya bentar lagi ada tanding basket?!" ujar Selly panik, bisa-bisanya ia lupa kalau habis jam istirahat nanti ada tontonan favoritnya yaitu surga, cowok bermain basket.
Alasan mereka bersekolah disini juga karena dapat informasi yang telah beredar bahwa terdapat banyak cogan dari anak-anak para pejabat, tapi meski sudah lama bersekolah pun mereka masih belum mendapatkan sama sekali.
Terkadang mereka sempat berkeinginan menjalankan oplas, mungkin mirip Rose blackpink? Dengan begitu sepertinya mereka bisa langsung mendapatkan lima ataupun lebih. Tapi sayang mereka sudah terlahir cantik, jadi tak perlu oplas. Mungkin memang mata para cowok disekitarnya yang buta, gak bisa melihat kecantikan mereka.
Jangan bimbang dan jangan ragu. Tenang, mereka ini tidak malu-malu seperti cewek pada umumnya, tapi mereka hanya malu-maluin.
Luna menepuk jidatnya. "Astaga! Untung lo ingetin. Yuk kita buruan gerak ke lapangan basket, disini lama-lama pun percuma, gak ada yang ganteng." ucap Luna dengan entengnya.
"Iya, muka mereka kayak kanebo gak sih?" ujar Selly sambil menilai orang sekitarnya.
Luna mengangguk setuju, "Bener." Ia mengangkat jempol tangannya.
Para siswa pria yang mendengar hanya bisa menatap Selly dan Luna secara sinis. Jika ingin melawan pun percuma, mereka akan tetap kalah dengan ocehan mulut wanita.
Padahal yang dikatakan Selly dan Luna tidak lah salah, karena jika ingin masuk standar ganteng dimata mereka, pria itu harus setara dengan kegantengan Angga Yunanda, itulah yang sering mereka katakan.
"Apa liat-liat!" ucap Selly tak terima dilihat dengan tatapan sinis. Dia masih tak sadar juga alasan tatapan sinis yang diterima juga karena perbuataanya.
"Udah yuk, ntar keburu mulai." ucap Luna buru-buru menarik Selly untuk pergi mengikutinya menuju lapangan basket.
...🌸🌸🌸🌸🌸...