
"Ren, lo ngapain aja sih dari tadi mantengin hp mulu." ucap Sean pada temannya yang memang sedari tadi tiba hingga kini, pandangannya tak perna lepas dari benda pipih di tangannya.
"Lo gak minum?" tawar Egi, dia menyodorkan segelas alkohol ke Renal.
"Gak asik lo. Gak minum" timpal Athan.
Renal berdecak, kemudian menatap Egi dan Athan bergantian. "Sorry. Gue masih ada kerjaan." ia melanjutkan mengotak-atik ponselnya.
Yafi menepuk bahu Renal pelan, "Nih bocah pewaris tunggal Arga Group, banyak kerjaan nya." kemudian ia melihat satu persatu temannya, "Gak kayak lo, beban." ucapnya setelah itu tertawa renyah.
"Bangsat, lo!"
"Lo beban dunia njing!"
"Sini, gue timbuk pala lo, sial."
Yafi menggeleng, tangannya naik menampakkan kedua telapak tangannya. "Ok, maaf gue bercanda."
Mereka semua adalah anak dari para pengusaha sukses se-Asia, hobi nya menghambur-hamburkan uang orang tuanya. Yang dipikiran mereka hanya satu yaitu, menikmati masa muda yang tidak ingin diberatkan oleh suatu pekerjaan yang menurut mereka merepotkan.
Berbeda dengan Renal, laki-laki itu memang sudah harus mulai belajar mengembangkan bisnisnya seperti yang sudah di ajarkan oleh Dian, Papanya. Posisi nya saat ini memanglah baru wakil Ceo, tapi setelah lulus sekolah nanti ia akan langsung mengambil alih posisi Ceo diperusahaan Papanya yang menjalankan bisnis Pertambangan Batu Bara, yang juga sudah termasuk jajaran perusahan top global dunia.
"Gue belum siap, buat nerusin usaha bokap." ujar Egi, pandangan nya sedikit serius kali ini.
"Lebih enak ngabisin duit gak sih?" sambung Athan
Yafi menuang minuman di slokinya, "Tapi kita gak mungkin mau begini terus.." jeda Yafi, dia meneguk minumannya. "Banyak hal yang udah kita lewatin hanya cuma demi kesenangan sesaat." ia mengangkat gelas kosong yang baru dia tenggak isinya.
"Apa gue emang harus mulai dari sekarang, ya?" tanya Sean
Alis Yafi bertaut. "Apaan?"
"Apa gue harus mulai ngikutin jejak bokap gue?" jelas Sean lagi.
"Iya, harus. Gue juga udah mulai belajar juga." sahut Yafi kembali menenggak minumannya, entah sudah berapa botol yang sudah ia habiskan sejak beberapa jam tadi.
"Ngikut mokad juga kah?"
"BURRPP- UHUK-UHUK." Yafi tersedak hampir mati saat mendengar ucapan yang baru saja dilontarkan Athan.
"Gelap anying" ujar Egi terkekeh.
Renal yang sedari tadi menyimak pun kini ikut nimbrung, "Wah, sih Otan parah cok." ucap nya sengaja melesetkan nama panggilan untuk Athan.
"Lo, gue buat nyusul bokap gue, mau?" ucap Sean seraya melesatkan jitakan di kepala Athan.
"Gue salah kah ngomong gitu?" ucap Athan sambil mengusap kepalanya yang masih panas karena ulah Sean. "Gue kan tanya, lo mau ngikut mokad juga?" tanya Athan lagi pada Sean dengan wajah tak berdosa.
Sean tersenyum sumringah, "Gak dong. Nanti kalau ngikut bokap gue, yang jagain yayang Athan siapa?" ucapnya dengan nada lebay.
"Iya nih, ayang Athan masa gak peka sih." timpal Egi seraya mencoel dagu Athan.
Athan bergedik geli, ia menepis tangan Egi. "Najis!"
Tawa mereka pecah saat itu juga, berkumpul seperti ini bagi mereka adalah suatu kesenangan yang gak ingin mereka sudahi. Bercanda sampai tertawa hingga lupa jika mereka memiliki masalah yang tak dapat diceritakan masing-masing.
Tak berapa lama pandangan mereka teralihkan pada suara riuh dari orang sekitarnya, karena kedatangan segerombolan gadis cantik.
"Ada ayang tuh" ucap Athan, ia telah bangkit dari tempatnya. "Nyusul ah"
"Bapak lo nyusul!" Egi menarik tangan Athan untuk duduk kembali, "Lo gak liat ada Adel disana, hah?"
"Mau dihajar tuh cewek lagi?" jelas Egi
Mata Athan memicing, mencari keberadaan cewek bernama Adel yang perna menghajarnya hanya karna ingin mendekati Selly. "Mana?"
Sean menarik tengkuk leher Athan, mengarahkannya pada seseorang yang berjalan di belakang Selly. "Noh, lo liat pake mata kepala. Jangan mata kaki."
Mata Athan membulat lebar, "Hiiyy.." seketika itu bahunya bergedik ngeri. "Gak lagi-lagi deh."
"Hubungan lo sama Luna gimana?" tanya Sean, kini pandangan mereka semua tertuju pada seseorang yang ditanya, menunggu jawabannya.
"Biasa aja." sahut Yafi datar.
Egi meraih pundak Yafi, menyampirkan tangannya disana. "Gak papa ya ganteng, kalau dia gak bisa ngasih kebahagiaan, diriku ini bisa kok."
"Minggir lo, sial!" ujar Yafi sembari mendorong Egi untuk menjauh.
"Masih sama dia?" tanya Athan, dan Yafi hanya mengangguk. "Kirain dah berakhir."
"Lo sendiri ngejar Selly dapet gak?" satu pertanyaan dari Sean yang membuat Athan tertohok.
"Ehem!" Athan menegakkan posisi duduknya. "Kita itu sebagai lelaki tidak usah terlalu buru-buru untuk mengejar seorang wanita, karena mereka ak---"
"Halah, bacot." potong Egi dengan cepat, ia sedikit geli mendengar ucapan Athan yang sudah seperti bapak-bapak. "Bilang aja lo kurang ganteng."
"What?! Kurang ganteng lo bilang?" Athan menatap Egi tak percaya dan kemudian beralih melihat Yafi, "Gue ganteng kan?"
Yafi meraup muka Athan memakai jari jemari tangannya, "Iya, mirip monyet."
"Anjing!" Athan membuang mukanya, enggan memandang temannya yang menyebalkan itu.
"Iya, lo ganteng," gumam Yafi. "Mending lo temenin gue kesana." tunjuk Yafi menggunakan dagunya, mengarah pada tempat Selly dan temannya.
Athan mengerutkan alisnya, "Gak mau! Ngapain lo ngajak gue"
"Udah ayo buruan!" ajak Yafi. "Tapi kita ke toilet dulu." ia menarik tubuh temannya. Mereka pun berjalan manjauh.
"Lo, Ren?" tanya Sean pada Renal. Ia dari tadi memperhatikan Renal yang fokus nya terpecah pada beberapa gadis itu saat mereka baru tiba tadi.
Renal terkesiap saat mendengar ucapan Sean. "Hah? Apa?"
Renal menggeleng. "Gak lah, ngapain." ia kembali melanjutkan perkerjaannya.
"Lo kira kita gak tau? Kalau lo deket sama Selly." ujar Egi, membuat Renal kembali menatapnya bingung. "Maksud lo?"
"Selly sama lo, deket kan." sahut Sean
Renal menggeleng cepat "Enggak, gue kan pacaran sama Nila."
"Rambut kalian membuktikan semuanya." jelas Egi.
"Ram---"
"Eh- Selly mau kemana tuh." ucap Sean, membuat Renal dan Egi ikut melihat arah matanya memandang.
Mata Renal memicing sebelum akhirnya membulat sempurna. Hatinya memanas, dan tangannya terkepal erat saat melihat Selly yang duduk bersebelahan dengan seorang pria asing.
"Wah, dikasarin gila." ujar Egi saat melihat penolakan dari pria itu.
"Minum apaan tuh, Selly?" tanya Sean yang terus memperhatikan.
"Kamu nanya?" ucap Egi.
"Babi"
Renal tak bisa menyembunyikan kekesalan di wajahnya, ia tampak gusar melihat Selly yang sedang dekat dengan pria lain. Ia masih gak tau jelas mengapa harus sampai seperti ini ketika melihat Selly yang sedang dekat sama seorang pria selain dirinya.
"Berhenti" Renal menghentikan seorang pelayan wanita yang sedang membawa segelas minuman.
Renal mengambil minuman itu, setelahnya memberi uang 10 lembar seratus ribu pada wanita itu. "Minumnya buat gue ya."
"Tapi mas---"
"Udah sana, gak ada tapi-tapian."
Wanita itu membuang nafas gusar, sebelum akhirnya melenggang pergi. Renal ingin meminumnya, tapi sebelum itu ia melihat kedua temannya yang sedang menatapnya tanpa ekspresi. "Apa liat-liat?"
"Itu alkohol." tunjuk Egi pada segelas minuman yang dipegang Renal.
Renal mengerutkan alisnya, "Trus kenapa?" setelah itu ia meneguk minuman tersebut hingga tersisa setengah.
"Lo bisa mabuk bego," ujar Sean. "Masih ada kerjaan lo kan?"
Renal mengangkat kedua bahunya, "Gue haus."
"Kerjaan gue juga uda kelar." imbuhnya
"Liat! Liat woi!" Egi memukul bahu Sean, "Selly di cium cok."
Sean yang mengobrol sama Renal seketika melihat ke arah Selly berada. "Wah gila!" pekik Sean tak percaya. "Liat Ren, Selly noh di ci---"
Sean bengong sesaat saat tak mendapati Renal disebelahnya, padahal barusan ia masih disini. "Kemana tuh bocah?" ia menggaruk pipinya bingung.
"Woi! Mau kemana lo?!" panggil Egi pada Renal yang berjalan memburu ke arah Selly.
Renal berjalan cepat menghampiri Selly. Cukup sudah, ia tak lagi tahan melihat Selly yang diperlakukan seperti itu oleh pria sialan disebelahnya.
Renal menarik paksa Selly hingga membuat tubuh gadis itu sedikit terhuyung, kemudian ia melesatkan tinjunya tepat pada wajah pria itu. "Sialan!"
Bugh!
Pria itu jatuh tersungkur, membuat kesempatan bagi Renal untuk terus menghajarnya. Ia terus memukul wajah pria itu membabi buta, melampiaskan semua rasa kesalnya.
"Cukup Renal"
Renal diam tak mendengar, ia sedang diselimuti amarah di tubuhnya.
"Berhenti, Ren!"
"RENAL!!"
Renal terkejap, ia melihat seorang gadis disebelahnya yang sedang menahan lengannya, kemudian beralih melihat seseorang dibawahnya yang sudah tak sadarkan diri dengan wajah yang sudah berlumuran darah.
Renal bangkit dari posisinya, ia melihat tangan yang sudah berlumur darah habis dipakai untuk memukul wajah pria itu. "Gue ngapain?" gumam Renal pada dirinya sendiri.
Plak!
Wajah Renal tertoleh ke samping, saat sebuah tamparan mendarat di pipi kirinya. Ia menatap seseorang yang telah menamparnya, "Sel?"
"Apa lo udah gila?!" teriak Selly kesal. "Sini!" Selly menarik Renal menuju sebuah ruangan tertutup. Meninggalkan pria itu dan keramaian karena ulah Renal.
"Ngapain lo barusan?" ucap Selly setelah menutup pintu.
"Gue kelepasan Sel..." Renal memegang kedua sisi bahu Selly. "Gue gak bohong. Tolong percaya sama gue."
Selly menepis tangan Renal. "Gue gak suka lo kayak tadi Ren! Gue benci sama sikap kasar lo barusan!" ucap Selly sedikit meninggikan intonasi suaranya, dan Renal hanya diam.
Selly membuang nafas kasar saat melihat Renal dengan ekspresi murungnya. Ia mendekat kemudian mengelus pipi Renal dengan lembut. "Jangan seperti dulu Ren..."
Renal menatap wajah cantik Selly, ia menggenggam tangan Selly diwajahnya, kemudian mencium telapak tangan gadis itu singkat. "Maaf, gue gak sengaja. Tadi beneran kelepasan, Sel."
Selly membalas tatapan Renal dan lanjut berbicara dengan lancar. "Gue mau lo jangan kayak tadi. Lo kan udah janji sama gue gak bakal kasar lagi, Ren. Gue gak suk--- emphh!"
Ucapan Selly terhenti, matanya membulat sempurna saat merasakan benda kenyal dan dingin menempel sempurna di bibirnya. Gadis itu terdiam kaku dengan jantung yang berdebar cepat, pikirannya masih belum mencerna apa yang kini sedang Renal perbuat.
Renal... menciumnya?
...🌸🌸🌸🌸🌸...